Waktu tahun 1986 kami ke Tiongkok pertama kali dengan rombongan Vereniging Nederland-China, waktu itu masih ada toko Friendship untuk foreigners. Kami belanja minyak, beras dll. untuk bantu tante di sana. Hotel di Pekingnya bintang lima, lengkap dengan kolam renang. Ini sumbangan orang kaya Hong Kong, agar Tiongkok dapat devisa dari luar, dengan mengusahaj=kan hotel yang sudah lengkap dibangun. Makan paginya hebat sekali, bisa pilih makanan Tiongkok, makanan Jepang dan makanan Barat, dengan banyak sekali buah2an. Kota penuh dengan orang bersepeda, ada satu dua orang tidur siang dengan kasur di luar, kelihatan dari jalan. Saya beli tiket untuk cukur, murah sekali. Ku Lu Yuk satu porsi lebih murah dp. satu kaleng Coca Cola di Tiongkok, dan Coca Colanya tidak enak, terlalu masam. Telpon ke luar negeri waktu itu mahal. Makanan, pakaian waktu itu murah sekali. Barang borduran murah sekali. Di Kanton, restaurantnya besar sekali. Ada kursi untuk 2000 tamu sekaligus makan. Saya tanya kelnernya, sehari bisa terima berapa tamu. Dia bilang rata2 10.000 tamu. Saya kepingin lihat dapurnya dan berapa orang yang kerja kok bisa. Dapurnya besar sekali, dengan jendela2 besar terbuka. Ada yang siapkan daging dan sayuran. Ada yang langsung masukkan daging dalam wajan besar panas. Lalu dioperkan ke sebelahnya. Dibumbui, dimasak dengan api masuk dalam wajan, ditambah sayur. Lalu dioperkan ke sebelahnya yang taruh dalam piring panjang, dengan rapi. Terus dioperkan ke jendela ke arah restaurant, langsung diambil dibawa ke tamu. Panci2nya mengkilap dari Stainless Steel. Waktu sampai di Chengdu, lihat dapurnya. Wah, bakmi ditaruh di lantai dalam baskom. Panci2 lama, masakannya juga ya lumayan saja. Tetapi semua yang tidak karuan sepewrti WC nya, 20 tahun kemudian kok ya beres, tiap kali dibersihkan salah satu pekerjanya. Sampai di Hong Kong, makan selalu di restaurant Indonesia, enak sekali. Kelnernya orang dari Jawa Timur yang pernah tinggal di Tiongkok waktu sebelum RBKP, jamannya orang Wei Kuo. Wah, waktu saya intervieuw dia maki2 pemerintah Tiongkok, cerita sengsaranya waktu hidup di Tiongkok. Balik ke Indonesia tidak boleh. Jadi nyantol di Hong Kong. Waktu reunie famili di Xiamen dibantu anak yang orang tuanya balik ke Tiongkok, jadi docent ekonomi. Waktu RBKP dibuang ke desa. Si anak perempuan ingin mau belajar di Hongkong. Ayahnya berkata, paling satu dua tahun selesai, tidak ijinkan anaknya ke Hong Kong. Jadinya anak itu kehilangan masa sekolah 7 tahun. Untungnya dengan mengikuti kursus masih bisa dapat pekerjaan. Sekarang ada 2 anak teman di Belanda kerjanya di Tiongkok. Yang satu seorang arsitek, yang dulunya kerja pada perusahaan Australia bangun gedung2 di Tiongkok. Belakangan usaha sendiri dengan berpartner orang Tiongkok bikin design2 pesanan. Saudaranya kerja di Shenzhen di perusahaan Belanda, bikin advertentie. Anak teman dari Belgia dengan istrinya jadi docent management dan ekonomi di Shanghai. Satu lagi kerja di perusahaan Belanda di Peking, sekarang bantu orang Australia di Sydney yang menikah dengan temannya. Kalau orang dari Indonesia yang berhasil di bidang IT di Belanda setelah kumpulkan banyak uang, balik dan usaha di Indonesia. Katanya lebih gampangan buat orang dari Indonesia balik kerja di Indonesia. TKI setelah beberapa tahun kerja balik Indonesia, banyak buka warung sendiri. Bisa sekolahkan 2 anak masuk universitas.Kalau yang kerja di kapal, uangnya dikirim ke Indonesia. Kalau pulang, bangun kandang ayam, pelihara ayam petelur, diurus oleh istrinya, dia pergi lagi kerja 8 bulan, lalu balik. Kapal Holland American Line, kepala tekniknya orang Belanda, lulusan Mesin TH Delft. Semua anak buahnya lulusan STM dari Indonesia. Yang bagian dapurnya semua orang Korea.
-- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavhmj%3DSv-rEZQ7QzrQYpKrF3ihUhAxms%3D2OWvrvnzyK8PQ%40mail.gmail.com.
