https://news.detik.com/kolom/d-5581342/tonggak-bersejarah-ekonomi-digital?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Tonggak Bersejarah Ekonomi Digital

Jusman Dalle - detikNews

Selasa, 25 Mei 2021 14:00 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
GoTo
GoTo (Ilustrasi: Denny Pratama/detikcom)
Jakarta -

Merger Gojek dan Tokopedia merupakan tonggak bersejarah yang mengiringi ledakan 
ekonomi digital di Indonesia. Aksi korporasi dua perusahaan teknologi yang 
menggarap segmen berbeda tersebut diharapkan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi 
digital. GoTo Group menggabungkan bisnis layanan transportasi, logistik, 
pengiriman makanan, jasa keuangan, dan loka pasar (ecommerce).

Seperti diungkap dalam keterangan resminya, ekosistem bisnis GoTo setara 2 
persen PDB Indonesia. Pada tahun 2020, total nilai transaksi bruto Grup (GTV) 
lebih dari 22 miliar dolar, dan volume transaksi mencapai 1,8 miliar kali.

Saat ini, valuasi GoTo ditaksir mencapai 18 miliar dolar AS atau ekuivalen Rp 
254,8 triliun. Private tech company terbesar ke-12 di dunia. Nilai dan predikat 
fantastis untuk perusahaan yang masing-masing baru berusia satu dekade.

Menariknya, perkawinan Gojek dan Tokopedia terjadi saat persaingan titan 
teknologi di Asia Tenggara kian memanas. Berbagai perusahaan teknologi bersaing 
untuk memperebutkan isi dompet lebih dari 650 juta penduduk di kawasan ini. 
Indonesia, dengan basis populasi terbesar tentu saja jadi destinasi pasar utama.

Dari aspek peta persaingan bisnis, GoTo tidak bisa dilepaskan dari Grab. 
Start-up yang berbasis di Singapura itu merupakan kompetitor terdekat GoTo. 
Juga paling agresif. Meski dalam hal segmen pasar, GoTo menguasai skala yang 
lebih luas berdasarkan layanan bisnis yang dinaungi.

Saat ini, Grab tengah mempersiapkan rencana go public. Strategi bisnis ini 
bahkan dikait-kaitkan dengan merger Gojek-Tokopedia. Tak tanggung-tanggung, 
Grab akan menawarkan saham perdana (IPO) di bursa Wall Street, Amerika Serikat. 
Go public itu bakal melambungkan nilai pasar Grab menjadi US$ 40 miliar, atau 
sekitar Rp 572 triliun. Nilai itu jauh lebih tinggi dari valuasi GoTo.

Menjual saham ke publik, merupakan strategi perusahaan dalam menggalang dana. 
Selain itu, IPO juga jadi profitable exit strategy para investor. Setelah 
sukses IPO, Grab tentu saja akan semakin agresif dan ekspansif.

Senada, pascamerger, para analis memperkirakan GoTo juga bakal melantai di 
bursa. Apalagi wacana IPO startup unicorn dalam negeri sudah santer terdengar. 
Selain Gojek dan Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka adalah dua unicorn lain 
yang diisukan bakal menghimpun dana publik di bursa saham.

Demokratisasi Ekonomi

Berbagai strategi pengembangan bisnis yang ditempuh oleh perusahaan teknologi 
tentu saja diharapkan tidak sekadar jadi pesta para investor. Eksistensi tech 
company dituntut membawa makna dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Ekonomi 
digital diharapkan menjembatani demokratisasi ekonomi.

Ketimpangan peluang dan disparitas sumber daya selama ini jadi isu utama dalam 
upaya memecah problem ekonomi. Ada indikasi, situasi serupa terulang apabila 
pertumbuhan ekonomi digital dibiarkan terpusat di kota-kota besar. 
Kecenderungan mencemaskan itu sebetulnya mulai terlihat.

Bagaimana misalnya, konsumen di Jabodetabek dapat menerima barang yang dipesan 
secara online dalam hitungan paling lama enam jam. Sementara konsumen di 
Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera harus bersabar bebrapa hari menanti barang 
yang mereka beli secara daring. Gejala ketimpangan tersebut tentu saja harus 
dicegah agar tidak makin menajam.

Kita percaya pada pendekatan teknologi yang mampu meretas berbagai problematika 
ekonomi. Melalui ecommerce, para pengrajin tembikar di Plered, Purwakarta dapat 
menjangkau pasar di Jakarta dengan harga kompetitif. Berkat dagang daring, 
produsen di sentra batik Lawean, Solo bisa melayani pembeli dari Samarinda.

Infrastruktur logistik ekosistem ekonomi digital yang andal bahkan dapat 
didaulat untuk menahan laju produk impor yang membanjiri pasar dalam negeri. 
Baik pasar online maupun pasar-pasar konvensional.

Sebaran wilayah, konektivitas, dan infrastruktur transportasi merupakan tiga 
tantangan akselerasi ekonomi digital di Indonesia. Khususnya di sektor dagang 
daring. Dibutuhkan sokongan logistik yang terintegrasi untuk memangkas biaya 
kirim yang berimplikasi pada nilai kompetitif suatu produk. Munculnya inovasi 
in house logistic yang kini jadi tren di kalangan ecommerce diharapkan jadi 
terobosan efisien.

Inklusi

Yang menarik dari merger Gojek-Tokopedia ini adalah lahirnya satu entitas 
bisnis anyar. Yaitu GoTo Financial. Bisa ditebak, perusahaan ini bakal 
memperkuat layanan keuangan di Gojek maupun Tokopedia. Seperti diketahui, 
sebelumnya kedua platform telah memiliki layanan keuangan. Tepatnya untuk 
fungsi pembayaran. Pascamerger, layanan keuangan itu tentu saja akan 
terintegrasi dengan semua produk GoTo.

Belakangan ini industri keuangan dalam negeri berubah besar-besaran. Bank-bank 
meluncurkan digital banking. Bukan lagi sekadar mobile banking seperti adopsi 
teknologi keuangan pada periodesasi sebelumnya. Kini, layanan digital banking 
bahkan sudah merambah ke pembayaran, investasi, dan periodical spending.

Bila kita cermati, ledakan teknologi keuangan di Indonesia telah terjadi dalam 
tiga babak. Babak pertama ditandai dengan booming peer to peer lending (P2P). 
Lalu diikuti oleh e-wallet, dan kini disambut oleh digital banking yang masif.

Primadona industri teknologi keuangan bahkan berhasil melahirkan fintech 
start-up berstatus unicorn. Yakni, start-up bervaluasi di atas 1 miliar dolar 
AS atau setara kurang lebih Rp 14,5 triliun rupiah. Mahkota unicorn itu 
disandang oleh OVO.

Start-up unicorn tersebut lahir organik sebagai e-wallet. Bukan pengembangan 
dari bisnis induknya seperti beberapa e-wallet lain yang dilahirkan dari rahim 
start-up layanan transportasi daring dan ecommerce. Dus, eksistensi sang tekfin 
unicorn menunjukkan bahwa memang potensi di segmen ini amat menjanjikan.

Deru tekfin tentu saja mendorong pertumbuhan industri keuangan semakin 
inklusif. Digitalisasi dan teknologi membuka akses masyarakat pelaku ekonomi 
untuk berinteraksi dengan institusi keuangan secara praktis. Bahkan menjadi 
nasabah aktif.

Upaya memasyarakatkan teknologi keuangan sebetulnya dimulai sejak Bank 
Indonesia mendeklarasikan gerakan non tunai (cashless) pada tahun 2014. Itu 
babak pertama. Diimplementasikan dengan program pembayaran tol menggunakan uang 
elektronik berbasis kartu pada tahun 2017. Diikuti pembayaran KRL, 
TransJakarta, hingga MRT, secara non tunai.

Introduksi transaksi berbasis tekfin di babak pertama memang berbasis kertas. 
Masih menggunakan kartu sebagai media transaksi. Di babak ekonomi digital, 
penggunaan kartu-kartuan perlahan ditinggalkan. Telah menjelma menjadi berbasis 
aplikasi di gawai. Paperless. Sangat praktis.

Bila dicermati, deru tekfin dan eksistensinya di tengah pandemi tak lepas dari 
sokongan ekosistem digital yang sudah cukup kuat. Preferensi belanja masyarakat 
di kawasan perkotaan dan suburban, sarat dengan layanan digital. Belanja 
kebutuhan pangan hingga fashion dilakukan melalui ecommerce yang terintegrasi 
dengan pembayaran digital sebagai opsi utama.

Pusat-pusat perbelanjaan yang tutup karena kebijakan social distancing tidak 
meredam minat masyarakat belanja di mal virtual yang ada di genggaman. Dalam 
tiga jentikan jemari, proses transaksi selesai. Berbagai platform ecommerce di 
Tanah Air bahkan mengakui, selama pandemi berlangsung, transaksi mereka 
mengalami lonjakan signifikan. Itulah berkah penetrasi layanan keuangan digital 
yang disokong oleh ekosistem.

Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation dan Praktisi Ekonomi Digital

(mmu/mmu)
goto
ekonomi digital
goto financial







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210525184253.7e4da1e3780cc39bf00d7f3a%40upcmail.nl.

Reply via email to