https://kumparan.com/kumparansains/perbedaan-obat-terapi-dan-vaksin-untuk-atasi-virus-corona-1tNIfZi2TGw/full

*TEKNO & SAINS* <https://kumparan.com/channel/tekno-sains>

·

8 Mei 2020 16:33

*Perbedaan Obat, Terapi, dan Vaksin untuk Atasi Virus Corona*

Konten ini diproduksi oleh kumparan
<https://kumparan.com/kumparansains/organisation-info>

[image: Perbedaan Obat, Terapi, dan Vaksin untuk Atasi Virus Corona]

Dwight Everett, pasien sembuh virus corona karena mendapat terapi plasma
darah. Foto: St. John's Pleasant Valley Hospital (Camarillo, CA)/Facebook

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengungkap,
saat ini pemerintah tengah melakukan beberapa upaya untuk menghentikan
pandemi virus corona <https://kumparan.com/topic/virus-corona-di-indonesia>
yang sudah masuk ke Indonesia sejak awal Maret silam.

ADVERTISEMENT

Selain mengembangkan vaksin virus corona yang pengerjaannya menjadi
tanggung jawab Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, obat dan terapi COVID-19
juga dinilai penting untuk menuntaskan wabah mematikan ini.

“Untuk mengatasi COVID-19, yang sifatnya menular dibutuhkan obat, terapi,
atau vaksin,” terang Bambang kepada *kumparan*, Jumat (8/5).

[image: Perbedaan Obat, Terapi, dan Vaksin untuk Atasi Virus Corona (1)]

Ilustrasi obat COVID-19. Foto: Shutter Stock

Lain halnya dengan vaksin <https://kumparan.com/topic/vaksin> yang
peruntukannya untuk mencegah infeksi virus corona, obat dan terapi
dibutuhkan oleh orang yang menderita sakit dengan tujuan penyembuhan.

Vaksin bisa diberikan untuk orang-orang yang sehat atau tidak pernah
terjangkit virus corona. Tujuannya agar mereka bisa kebal terhadap virus
SARS-CoV-2.

Meski sama-sama dibutuhkan dalam upaya kuratif, Bambang menjelaskan ada
sedikit perbedaan antara obat dan terapi.

Metode pemberian obat yang kerap kita jumpai, misalnya, dengan diminum atau
melalui infus. Sedangkan pengobatan dengan terapi, menurut Bambang,
memerlukan mekanisme khusus. Ia mencontohkan beberapa terapi yang digunakan
dalam penanganan pasien COVID-19 saat ini, seperti terapi plasma
konvalesen, penggunaan serum dan *stem cell*.

[image: Perbedaan Obat, Terapi, dan Vaksin untuk Atasi Virus Corona (2)]

Ilustrasi obat COVID-19. Foto: Shutter Stock

Dalam hal terapi <https://kumparan.com/topic/terapi>, Bambang melihat, baik
dalam proses riset maupun eksperimen untuk pengobatan dengan cara seperti
ini berjalan cukup baik dan menunjukkan hasil yang positif, misalnya, pada
terapi plasma konvalesen.

ADVERTISEMENT

“Plasma konvalesen dari darah pasien yang sembuh diambil, kemudian
plasmanya diberikan kepada orang yang sedang sakit. Paling tidak dari
percobaan awal tampaknya ada perbaikan kondisi. Namun tentunya kita harus
melihat dalam jumlah yang lebih besar lagi,” paparnya.

Sementara untuk serum anti-COVID-19 yang juga dikategorikan sebagai terapi
untuk menyembuhkan pasien, pengembangannya sangat mengandalkan kultur
virus. Sehingga upaya tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat.

“Saat ini prosesnya masih dalam tahap awal. Untuk mendapatkan kultur dari
virus penyebab COVID-19. Serumnya itu nanti akan dikembangkan melalui telur
ayam, karena ini kategorinya IgY, Y itu *yolk *(kuning telur),” kata
Bambang. Diharapkan suplai untuk serum akan menjadi banyak dengan
memanfaatkan media telur.

Dari ketiga upaya penanganan COVID-19 yang disebutkan tadi, Bambang melihat
pengembangan terapi, khususnya yang menggunakan plasma konvalesen
menunjukkan perkembangan yang cukup baik.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, pengujian obat yang tepat untuk menyembuhkan COVID-19 juga
tetap dilakukan. Pengobatan untuk pasien yang terjangkit virus corona pun
membutuhkan *clinical trial *di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Hal ini untuk memastikan apakah obat tersebut tepat diberikan untuk pasien
di Indonesia atau tidak. Lagi-lagi, proses karakterisasi virus atau *whole
genome sequencing* sangat penting dalam tahap ini.

“Ini bisa membantu, apakah obat yang cocok untuk kategori G, misalnya, juga
cocok untuk kategori di luar G termasuk yang *others *(lainnya) seperti
yang didapatkan dari *sequencing *pertama di Indonesia,” kata Bambang.

Saat ini, ada tiga jenis atau tipe COVID-19 di dunia. Ada tipe S, tipe G,
dan tipe V, di luar ketiganya disebut tipe lain. Tipe virus yang ditemukan
di Indonesia dilihat dari analisis *sequencing*, masuk ke golongan *others*
atau lainnya.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavi_ORa8mzE-iFQD08JhhgW3od8nXs6NQrX2Ht7v9UuTZw%40mail.gmail.com.

Reply via email to