https://www.antaranews.com/berita/2230938/dbs-fundamental-ekonomi-ri-lebih-baik-dibanding-2013



DBS : Fundamental ekonomi RI lebih baik dibanding 2013

Kamis, 24 Juni 2021 23:07 WIB

Ilustrasi - Kendaraan melintas dengan latar gedung bertingkat di kawasan 
Mampang, Jakarta, Jumat (4/6/2021). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.
Vaksinasi jelas memegang peran penting dalam upaya pemulihan ekonomi dan 
pemetaan investasi di masa mendatang
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Senior DBS Group Research Radhika Rao berpendapat 
fundamental ekonomi Indonesia saat ini sudah lebih baik dibanding saat taper 
tantrum pada 2013, ketika modal asing di negara berkembang termasuk Indonesia, 
terserap oleh kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat.

“Hal ini menunjukkan bahwa meski ada beberapa dampak dari aset emerging markets 
yang diakibatkan oleh penurunan (taper), (faktor) ini tidak lantas menjadi 
signifikan setelah adanya volatilitas,” kata Radhika Rao dalam DBS eTalk 
Series, disaksikan di Jakarta, Kamis.

Taper Tantrum merupakan fenomena yang bersumber dari sinyalemen otoritas di 
Amerika Serikat yang akan mengurangi nilai pembelian aset seperti obligasi, dan 
menurunkan gelontoran stimulus (quantitative easing/QE) yang selama ini 
dilakukan untuk menginjeksi likuiditas di pasar keuangan.

Alhasil, pasar khawatir terhadap sinyalemen berhentinya stimulus dari Bank 
Sentral AS The Federal Reserve. Kekhawatiran itu membuat investor mencari 
langkah aman dengan membalikkan modal ke instrumen keuangan di AS, dan 
meninggalkan gejolak di negara-negara berkembang. Gejolak di pasar keuangan 
karena penurunan nilai aset itu yang mendasari munculnya istilah Taper Tantrum.

Radhika melihat fundamental nilai tukar rupiah sudah lebih baik, jika 
menghadapi gejolak karena adanya arus modal keluar, seperti wacana yang muncul 
dalam beberapa waktu terakhir karena gestur The Federal Reserve menyikapi laju 
pemulihan ekonomi AS.

“Dari segi mata uang rupiah, fundamental Indonesia lebih baik dari tahun 2013 
pada saat Taper Tantrum atau melonjaknya yield (imbal hasil) pada obligasi AS,” 
kata dia dalam seminar daring yang bertajuk Factoring Vaccination Distribution 
Into Economic Growth and Investment Mapping.

DBS yang berkantor pusat di Singapura, meyakini Bank Indonesia akan tetap 
menjaga stabilitas di pasar keuangan, meskipun sikap bank sentral dalam 
beberapa waktu terakhir mengarah ke kebijakan akomodatif untuk mendorong 
pemulihan ekonomi.

Di samping itu, selain ancaman dari taper tantrum akibat pemulihan ekonomi AS, 
Radhika berpandangan bahwa pulihnya ekonomi Indonesia akan sangat bergantung 
dari realisasi vaksinasi COVID-19. Kesehatan masyarakat harus dikedepankan agar 
Indonesia segera keluar dari krisis pandemi COVID-19.

“Vaksinasi jelas memegang peran penting dalam upaya pemulihan ekonomi dan 
pemetaan investasi di masa mendatang. Keuangan publik Indonesia telah mengalami 
peningkatan yang cukup signifikan selama dua dekade terakhir. Pemotongan suku 
bunga tidak akan terjadi, akan tetapi stabilitas pasar keuangan akan menjadi 
prioritas,” ujar Radhika.

Baca juga: Peneliti: Pemulihan ekonomi tergantung kebijakan pengendalian pandemi
Baca juga: Gandeng Pasifik, Indonesia berupaya pulihkan ekonomi pascapandemi
Baca juga: Menkominfo: Teknologi digital dorong kemajuan industri wisata dan 
UMKM
 

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

    TAGS:
    taper tantrum
    pemulihan ekonomi
    DBS





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210624181603.caf045ccdad8cf3950a912d5%40upcmail.nl.

Reply via email to