*Mengapa tidak memerintah sampai dunia kiamat? Ayo monggo-monggo plissss*

On Mon, Jul 5, 2021 at 3:15 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Jokowi Memimpin Sampai 2027?
> *R53 * <https://www.pinterpolitik.com/author/r53-203>*- Sunday, July 4,
> 2021 22:00*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-memimpin-sampai-2027
> *Presiden Joko Widodo (Foto: Ekonomi Bisnis.com)*
>
> *6 min read*
>
> *Disebutkan ada dua skenario yang disiapkan untuk memperpanjang masa
> jabatan Presiden Jokowi, yakni tiga periode dan memperpanjang masa jabatan
> sampai 2027. Terkait yang kedua, pola tersebut telah terjadi di berbagai
> kasus, khususnya di tengah krisis. Apakah skenario kedua akan berhasil?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/a>
>
> *“Will power is to the mind like a strong blind man who carries on his
> shoulders a lame man who can see.” – Arthur Schopenhauer, filsuf Jerman*
>
> Mungkin banyak di luar sana yang sinis terhadap isu presiden tiga periode.
> “Ini hanyalah isu gorengan,” cetusnya. Namun, bagaimana jika isu ini
> benar-benar tengah diusahakan? Kemungkinan ini tergambar dalam laporan
> Tempo yang bertajuk *Malu Kucing Ronde Ketiga*.
>
> Disebutkan, terdapat orang-orang lingkar Istana yang tengah menjajaki
> wacana ini. Mereka mendekati berbagai petinggi partai politik (parpol),
> lembaga survei, hingga pakar hukum. Ada dua skenario yang diketahui.
> *Pertama* adalah presiden tiga periode. *Kedua* adalah memperpanjang masa
> jabatan Presiden dan DPR selama dua sampai tiga tahun.
>
> Dalam keterangannya, Wakil Ketua MPR Sjarifuddin tampak menegaskan
> skenario kedua. “Saya dengar itu, tapi baru non-formal. Perpanjangannya
> bukan lima tahun, tapi dua atau beberapa tahun,” begitu tegasnya.
>
> Pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada 24 Maret dapat
> dibaca sebagai afirmasi atas laporan Tempo tersebut. "Hari ini Pak Jokowi
> dikocok berkeinginan tiga periode. Orang yang ngomong itu yang ingin
> sebetulnya suatu hari tiga periode," begitu ujar Mega.
>
> Nah, jika benar skenario kedua tengah diusahakan, seberapa besar
> peluangnya terealisasi?
>
>
> *Momentum Emas*
>
> Bagi kebanyakan orang, pandemi Covid-19 adalah mimpi buruk. Pandemi tidak
> hanya menjadi bencana kesehatan, melainkan juga bencana ekonomi.
>
> Namun, secara politik, pandemi tampaknya adalah kesempatan emas yang
> mungkin hanya datang sekali. Seperti dalam laporan Tempo, pandemi telah
> menjadi dalih untuk memperpanjang masa jabatan presiden.
>
> Pada 20 Maret 2020, Yuval Noah Harari dalam tulisannya *The World After
> Coronavirus* telah menegaskan persoalan ini. Tidak seperti kebanyakan
> orang yang melakukan analisis ekonomi, Harari justru melihat aspek politik
> dan memprediksi pandemi Covid-19 dapat menjadi preseden atas kebangkitan
> otoritarianisme.
>
> Poin utama yang diungkapkan Harari adalah hadirnya *surveillance state* atau
> negara pengawasan. Tingkat penularan Covid-19 yang tinggi telah membuat
> berbagai pemerintah dunia meningkatkan pengawasannya untuk menjaga
> masyarakat mematuhi *physical distancing*. Teknologi CCTV banyak
> digunakan untuk kepentingan tersebut.
>
> Tidak hanya dari sisi pemerintah, Harari juga melihat masyarakat menjadi
> lebih toleran terhadap pengawasan negara di tengah pandemi.
>
> *Baca Juga: Jokowi Tiga Periode, Kepentingan Siapa?
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-tiga-periode-kepentingan-siapa>*
>
> Sebelumnya, Harari telah mengkritik mantan Perdana Menteri (PM) Israel
> Benjamin Netanyahu karena menggunakan pandemi Covid-19 sebagai alasan untuk
> “membunuh” demokrasi. Netanyahu yang kalah dalam pemilu justru memanfaatkan
> momen pandemi untuk menutup Parlemen Israel, memerintahkan masyarakat untuk
> tetap di rumah, dan menetapkan keadaan darurat.
>
> Harari kemudian menyebut Netanyahu sebagai seorang diktator. Bagaimana
> mungkin ia menetapkan keadaan darurat padahal tidak memperoleh mandat
> setelah kalah dalam pemilu.
>
> Pandangan serupa juga dikeluarkan Shaun Walker dalam tulisannya *Authoritarian
> leaders may use Covid-19 crisis to tighten their grip*. Mengutip ilmuwan
> politik Bulgaria, Ivan Krastev, pandemi disebut telah membuat masyarakat di
> berbagai belahan dunia memiliki toleransi atau penerimaan atas pemerintah
> yang berlaku otoriter dalam upayanya memerangi krisis.
>
> Tidak hanya pada kasus pandemi, krisis lainnya seperti perang juga menjadi
> momentum emas kekuasaan untuk memperpanjang kursi empuknya. Presiden ke-32
> Amerika Serikat (AS) Franklin Roosevelt adalah salah satu contohnya.
>
> Dengan dalih situasi krisis akibat Perang Dunia II, Roosevelt meruntuhkan
> fondasi Presiden pertama AS George Washington yang memilih tidak maju untuk
> periode ketiga. Fondasi selama 141 tahun runtuh. Tidak hanya maju untuk
> periode ketiga, Roosevelt bahkan kembali maju untuk keempat kalinya.
>
> Kasus Roosevelt kemudian menjadi pembuka amendemen konstitusi AS dan
> menetapkan masa jabatan presiden maksimal dua periode.
>
> Tidak hanya dari segi politik, situasi krisis akibat pandemi juga menjadi
> momentum emas pemerintah dalam menerapkan apa yang disebut sebagai hukum
> represif. Philippe Nonet dan Philip Selznick dalam bukunya *Hukum
> Responsif* menyebutkan hukum represif adalah situasi ketika posisi hukum
> subordinat terhadap politik. Hukum bekerja untuk memenuhi kepentingan
> kekuasaan.
>
> Singkatnya, dengan memanfaatkan pandemi Covid-19, mudah saja membuat
> rasionalisasi bahwa ini adalah situasi krisis, sehingga masa jabatan
> Presiden dan anggota DPR sebaiknya diperpanjang beberapa tahun.
>
> Seperti pernyataan pakar hukum tata negara Refly Harun, realisasi
> perpanjangan masa jabatan presiden berada di tangan para elite yang tengah
> berkuasa.
> *Bayang-bayang Oligarki?*
>
> Pernyataan Refly tersebut menegaskan pendapat Kepala Lembaga Ilmu
> Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor yang menyebutkan demokrasi di
> Indonesia adalah pencampuran dengan oligarki. Mengutip definisi Profesor
> ilmu politik Northwestern University, Jeffrey A. Winters, oligarki adalah
> “politik mempertahankan kekayaan” oleh mereka yang memiliki kekayaan
> material.
>
> Pendapat Firman Noor sebenarnya adalah konsekuensi dari babak baru
> demokrasi Indonesia yang menerapkan pemilihan langsung. Pasalnya, seperti
> dalam temuan Edward Aspinall dan Ward Berenschot di buku *Democracy for
> Sale*, ongkos politik yang tinggi telah membuat praktik klientelisme
> menjadi tidak terhindarkan.
>
> Bayangkan saja, untuk maju sebagai calon bupati saja membutuhkan dana
> minimal Rp 30-50 miliar. Sedangkan Presiden? Menurut berbagai pihak dapat
> menyentuh angka Rp 7 triliun. Tentu pertanyaannya, berapa banyak kandidat
> yang memiliki kekuatan kapital sebesar itu?
>
> Kondisi ini membuat para kandidat harus mencari sponsor untuk memenuhi
> kebutuhan logistik. Di sini peran besar para oligark yang memiliki kekuatan
> kapital. Fenomena ini berkonsekuensi membuat politik menjadi semacam
> aktivitas ekonomi yang berkutat pada untung-rugi.
>
> *Baca Juga: Plutokrasi, Naif Jokowi Jauhi Pengusaha?
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/plutokrasi-naif-jokowi-jauhi-pengusaha-1>*
>
> Persoalan ini juga disebutkan dalam laporan Tempo. Iming-iming
> perpanjangan masa jabatan disebut merupakan tawaran yang menggiurkan karena
> para anggota DPR tidak perlu mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk
> Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024.
>
> Dengan kata lain, sebenarnya mudah menebak siapa yang berada di balik
> wacana ini. Mereka adalah para oligark yang telah melakukan investasi
> politik atau mereka yang diuntungkan di bawah pemerintahan Jokowi.
>
> Jika benar demikian, persoalan ini persis seperti tulisan Kishore
> Mahbubani yang berjudul *Can America Escape Plutocracy? *ketika
> menjelaskan fenomena plutokrasi di AS. Mengutip dua ilmuwan politik dari
> Princeton University, yakni Martin Gilens dan Benjamin I. Page, hasil
> politik di negeri Paman Sam disebut mencerminkan kepentingan orang kaya,
> dan bukannya suara mayoritas.
>
> Tulis keduanya, "di Amerika Serikat, temuan kami menunjukkan, mayoritas
> tidak berkuasa – setidaknya tidak dalam arti kausal untuk benar-benar
> menentukan hasil kebijakan."
>
> Mahbubani juga mendefinisikan plutokrasi dengan sebutan peyoratif dari
> ekonom peraih hadiah Nobel, Joseph Stiglitz. Plutokrasi adalah sistem
> pemerintahan dari 1 persen masyarakat, untuk 1 persen masyarakat, dan oleh
> 1 persen masyarakat. Ini adalah pemerintahan yang dijalankan untuk menjaga
>  *status quo* dari 1 persen orang paling kaya.
>
> *Well*, seperti dalam tulisan PinterPolitik sebelumnya, *Tiga Periode,
> Mitos Suara Rakyat?
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tiga-periode-mitos-suara-rakyat>*,
> menjawab pertanyaan seberapa besar peluang perpanjangan masa jabatan
> presiden sebenarnya sangat mudah.
>
> Selama elite hanya melihat suara rakyat sebagai mitos dan menggunakan
> hukum ortodoks, realisasi wacana ini hanya soal hitungan waktu kapan
> kesepakatan para elite tercapai. Kita harus terus mengawasi. (R53)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EB997EBBE24749088DB422A55A62E045%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EB997EBBE24749088DB422A55A62E045%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CXnuqGKvyCKkEaSp2un7_qPhxYMF%2Bq11G6ZJyA00C0NA%40mail.gmail.com.

Reply via email to