https://news.detik.com/kolom/d-5632004/ketika-dokter-terpaksa-memilih?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Ketika Dokter Terpaksa Memilih

Ahmad Muttaqin Alim - detikNews

Senin, 05 Jul 2021 16:29 WIB
2 komentar
SHARE
URL telah disalin
Kasus COVID-19 di Surabaya terus bertambah. Ruang ICU dan IGD yang tersedia di 
7 rumah sakit (RS) di Surabaya penuh dengan pasien positif COVID-19.
Foto ilustrasi: Esti Widiyana
Jakarta -

Beberapa saat sebelum tulisan ini dibuat, saya harus memutuskan di antara tiga 
pasien Covid-19, mana yang akan dibantu menggunakan ventilator yang tinggal 
tersedia satu. Banyak yang harus saya pikirkan dalam memilih pasien-pasien ini: 
usianya, tingkat keparahannya, kombinasi penyakit yang diderita, tingkat 
potensi kesembuhannya, atau bahkan kedekatan emosional karena salah satunya 
saya kenal, misalnya.

Saat ini kolega-kolega saya sesama dokter Gawat Darurat dan Intensive Care Unit 
(ICU) hampir semua mengalami situasi ini, situasi yang sangat memeras energi 
dan emosi. Bagaimana tidak, kita "dipaksa" menentukan kehidupan orang dalam 
situasi yang serba tidak menyenangkan sambil terbayang tatapan mata para 
keluarga pasien yang penuh harap.

Memilah dan memilih prioritas pasien dalam dunia medis dan bencana disebut 
dengan triage. Dalam suasana normal, dokter akan memprioritaskan pasien dengan 
kondisi terberatlah yang menjadi prioritas pertama. Pasien-pasien yang cukup 
baik akan dilayani belakangan. Tetapi, dalam bencana berbeda cerita: bagaimana 
menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa, sementara fasilitas jauh lebih sedikit 
dari jumlah pasien bisa diberlakukan

Dalam triage bencana, pasien-pasien yang memiliki potensi terselamatkan lebih 
besar didahulukan. Jadi yang kemungkinan selamatnya sangat kecil karena 
kondisinya sudah sangat parah justru menjadi prioritas belakangan. Mengapa 
demikian, karena pasien-pasien tersebut akan menghabiskan sumber daya dan 
fasilitas yang luar biasa besar dan lama, sementara potensi kesembuhannya kecil 
sekali. Maka sumber daya dan fasilitas justru diberikan pada yang potensi 
kesembuhannya lebih besar.

Dilema bagi kami para tenaga medis akan makin besar ketika salah satu atau 
lebih dari para pasien adalah kolega atau keluarga kami. Saat ini di beberapa 
rumah sakit nasional sedang merawat guru-guru kami, para guru besar kedokteran 
yang puluhan tahun melahirkan para dokter yang mengabdi pada masyarakat. Apakah 
kami tidak layak memprioritaskan mereka untuk kami tolong?

Di samping itu, bila ada pejabat publik yang ada di antara para pasien itu, 
dengan segala "tekanan" sosial di belakangnya, tentu menambah kerumitan yang 
ada. Dilema etik, moral, spiritual mengerubuti kami.

Yang terjadi di pengujung Juni dan terus masuk Juli 2021 lebih berat dibanding 
puncak sebelumnya. Dalam dua pekan ini saja Instalasi Gawat Darurat beberapa 
rumah sakit di banyak tempat terpaksa menutup layanan karena sudah terlalu 
penuh. Dengan berat hati saya sebagai Kepala IGD harus menjalankan penutupan 
itu berkali-kali sementara beberapa teman, saudara ,dan tetangga menghubungi 
saya untuk meminta mencari rumah sakit yang bisa menerima pasien Covid yang 
makin lemas. Ini terjadi lebih sering dibanding awal pandemi dan puncak pertama.

Segala hiruk pikuk pengalaman pribadi di atas rupanya sesuai dengan data 
nasional penderita Covid-19 yang naik tajam, penambahan kasus menembus angka 
20.000 dalam sehari. Itu pun bagi banyak epidemiolog dan praktisi kesehatan 
data tersebut dipandang lebih kecil dari kejadian sebenarnya. Ditemukan selisih 
antara data rumah sakit, kabupaten/kota dengan propinsi dan pusat.

Sementara angka pasien naik, angka ketersediaan oksigen justru turun. Ada rumah 
sakit yang kehabisan, banyak rumah sakit harus melakukan penghematan 
besar-besaran. Akibatnya banyak pasien yang saturasi oksigen darahnya masih di 
atas 90% (normal 98%) tidak mendapat suplementasi oksigen karena difokuskan 
untuk pasien yang saturasinya di bawah 90%. Artinya, sekali lagi dokter dipaksa 
memilih siapa yang mendapat oksigen dan siapa yang "dibiarkan" dengan udara 
ruangan.

Karena menipisnya oksigen, rumah sakit sampai harus menunda banyak operasi, 
hanya operasi darurat yang dilaksanakan sehingga pasien-pasien non-darurat 
tidak terlayani secara optimal. Ini juga tidak gampang mengingat ada 
pasien-pasien dengan kriteria menengah: operasi bisa ditunda karena tidak 
mengancam jiwa, tapi bila ditunda akan menimbulkan masalah di kemudian hari. 
Misalnya, pasien dengan patah tulang tertentu yang kalau tidak dioperasi 
sesungguhnya tidak mengancam jiwa, tapi kalau ditunda penyambungan tulangnya 
menjadi tidak normal. Artinya akan terjadi kecacatan, yang bila dilakukan 
operasi di kemudian hari tingkat kesulitannya berlipat. Tapi apa boleh buat, 
kita lagi-lagi harus memilih.

Di tengah impitan dilema yang tidak diketahui kapan selesainya ini, banyak yang 
masih saja menyalahkan tenaga medis dan rumah sakit. "Pasien dicovidkan" 
menjadi stigma yang terus berkembang di masyarakat, menuduh tenaga medis 
mengambil keuntungan dari pandemi ini. Banyak orang berpikir tunjangan Covid 
bagi kami sangat besar, jutaan atau belasan juta rupiah per bulan. Yang saya 
alami tidak demikian, sejak awal pandemi baru satu kali cair di bulan kemarin 
sekitar dua juta rupiah. Ada kepala daerah yang menyatakan tuduhan kepada rumah 
sakit mengejar target keuntungan itu secara terang-terangan, sungguh 
menyakitkan.

Belum lagi, pekerjaan untuk menyampaikan kebenaran ke masyarakat terus diganggu 
oleh oknum-oknum di dalam tubuh tenaga kesehatan sendiri. Ada mantan Menteri 
Kesehatan bergelar profesor yang bilang vaksin itu tidak perlu, hanya masker 
solusinya, namun ia sendiri mempromosikan vaksin Nusantara yang kontroversial 
itu. Padahal jelas terbukti secara ilmiah vaksin itu menurunkan angka keparahan 
dan kematian. Akibatnya kepercayaan masyarakat pada vaksin, tenaga medis dan 
para ahli makin menurun bersamaan dengan menurunnya ketaatan terhadap protokol 
kesehatan.

Seharusnya sekelas tokoh kesehatan justru memberikan edukasi yang baik dan 
benar. Dan sayangnya, yang seperti ini cukup banyak dan disambut oleh para 
podcaster dan influencer yang lebih mementingkan rating tayangannya daripada 
efek negatif yang mereka timbulkan.

Sekarang, ketika rumah sakit mengalami kesulitan menghadapi gelombang pasien 
Covid-19 yang makin banyak sementara fasilitas dan oksigen sangat terbatas dan 
tenaga medis bertumbangan, apa yang mereka lakukan untuk membantu? Sangat keras 
Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, menghardik mereka: Anda tidak 
bertanggung jawab!

Kami, dokter dan seluruh tenaga medis berharap pemberlakuan PPKM Darurat yang 
berlaku sejak 3 Juni hingga 20 Juli se-Jawa-Bali dapat menurunkan angka 
kesakitan dan kematian masyarakat terdampak Covid-19. Kalau toh tidak bisa 
menghilangkan kasus infeksi Covid-19 sampai titik nol, setidaknya angkanya jauh 
di bawah ketersediaan fasilitas dan sumber daya kesehatan yang ada. Dengan 
demikian kita bisa menangani pasien dengan optimal, termasuk pasien-pasien 
non-covid.

Kami sebagai pelaksana lapangan penanganan pasien Covid-19 ini juga berharap 
ada kejelasan komando dari pemerintah karena kami melihat ada kesimpangsiuran 
komando di antara kementerian yang ada, di mana Kementerian Kesehatan bukan 
leading sector. Bersamaan dengan itu edukasi dan penegakan aturan di tengah 
masyarakat harus tegas, jelas dan konsekuen. Akurasi data harus ditingkatkan di 
setiap jenjang pemerintahan.

Pemerintah harus bergerak aktif dalam menyediakan sarana dan fasilitas 
kesehatan di tingkat hilir. Kelangkaan alat, obat, dan oksigen jangan sampai 
terjadi lagi. Hentikan kontroversi, sisihkan dulu kepentingan selain urusan 
keselamatan, apalagi sekadar urusan politik praktis, dan tolong jangan ada yang 
memancing di air keruh. Mari kita kompak menghadapi bencana ini karena 
hakikatnya bencana adalah urusan setiap orang. Semoga Tuhan menyelamatkan kita.

Dr. Ahmad Muttaqin Alim, Sp.An, M.Sc.DM Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi 
Intensif, Kepala Instalasi Gawat Darurat, tinggal di Yogyakarta

(mmu/mmu)
lonjakan covid-19








-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210705185921.a0314b227a0278d17e1eb638%40upcmail.nl.

Reply via email to