Selama pandemi Indonesia telah kehilang lebih dari 100 dokter, tenaga medis lainnya seperti jururawat juga banyak.
On Mon, Jul 5, 2021 at 6:59 PM 'j.gedearka' via GELORA45 < [email protected]> wrote: > > > > > > https://news.detik.com/kolom/d-5632004/ketika-dokter-terpaksa-memilih?tag_from=wp_cb_kolom_list > > > > Kolom > > Ketika Dokter Terpaksa Memilih > > Ahmad Muttaqin Alim - detikNews > > Senin, 05 Jul 2021 16:29 WIB > 2 komentar > SHARE > URL telah disalin > Kasus COVID-19 di Surabaya terus bertambah. Ruang ICU dan IGD yang > tersedia di 7 rumah sakit (RS) di Surabaya penuh dengan pasien positif > COVID-19. > Foto ilustrasi: Esti Widiyana > Jakarta - > > Beberapa saat sebelum tulisan ini dibuat, saya harus memutuskan di antara > tiga pasien Covid-19, mana yang akan dibantu menggunakan ventilator yang > tinggal tersedia satu. Banyak yang harus saya pikirkan dalam memilih > pasien-pasien ini: usianya, tingkat keparahannya, kombinasi penyakit yang > diderita, tingkat potensi kesembuhannya, atau bahkan kedekatan emosional > karena salah satunya saya kenal, misalnya. > > Saat ini kolega-kolega saya sesama dokter Gawat Darurat dan Intensive Care > Unit (ICU) hampir semua mengalami situasi ini, situasi yang sangat memeras > energi dan emosi. Bagaimana tidak, kita "dipaksa" menentukan kehidupan > orang dalam situasi yang serba tidak menyenangkan sambil terbayang tatapan > mata para keluarga pasien yang penuh harap. > > Memilah dan memilih prioritas pasien dalam dunia medis dan bencana disebut > dengan triage. Dalam suasana normal, dokter akan memprioritaskan pasien > dengan kondisi terberatlah yang menjadi prioritas pertama. Pasien-pasien > yang cukup baik akan dilayani belakangan. Tetapi, dalam bencana berbeda > cerita: bagaimana menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa, sementara fasilitas > jauh lebih sedikit dari jumlah pasien bisa diberlakukan > > Dalam triage bencana, pasien-pasien yang memiliki potensi terselamatkan > lebih besar didahulukan. Jadi yang kemungkinan selamatnya sangat kecil > karena kondisinya sudah sangat parah justru menjadi prioritas belakangan. > Mengapa demikian, karena pasien-pasien tersebut akan menghabiskan sumber > daya dan fasilitas yang luar biasa besar dan lama, sementara potensi > kesembuhannya kecil sekali. Maka sumber daya dan fasilitas justru diberikan > pada yang potensi kesembuhannya lebih besar. > > Dilema bagi kami para tenaga medis akan makin besar ketika salah satu atau > lebih dari para pasien adalah kolega atau keluarga kami. Saat ini di > beberapa rumah sakit nasional sedang merawat guru-guru kami, para guru > besar kedokteran yang puluhan tahun melahirkan para dokter yang mengabdi > pada masyarakat. Apakah kami tidak layak memprioritaskan mereka untuk kami > tolong? > > Di samping itu, bila ada pejabat publik yang ada di antara para pasien > itu, dengan segala "tekanan" sosial di belakangnya, tentu menambah > kerumitan yang ada. Dilema etik, moral, spiritual mengerubuti kami. > > Yang terjadi di pengujung Juni dan terus masuk Juli 2021 lebih berat > dibanding puncak sebelumnya. Dalam dua pekan ini saja Instalasi Gawat > Darurat beberapa rumah sakit di banyak tempat terpaksa menutup layanan > karena sudah terlalu penuh. Dengan berat hati saya sebagai Kepala IGD harus > menjalankan penutupan itu berkali-kali sementara beberapa teman, saudara > ,dan tetangga menghubungi saya untuk meminta mencari rumah sakit yang bisa > menerima pasien Covid yang makin lemas. Ini terjadi lebih sering dibanding > awal pandemi dan puncak pertama. > > Segala hiruk pikuk pengalaman pribadi di atas rupanya sesuai dengan data > nasional penderita Covid-19 yang naik tajam, penambahan kasus menembus > angka 20.000 dalam sehari. Itu pun bagi banyak epidemiolog dan praktisi > kesehatan data tersebut dipandang lebih kecil dari kejadian sebenarnya. > Ditemukan selisih antara data rumah sakit, kabupaten/kota dengan propinsi > dan pusat. > > Sementara angka pasien naik, angka ketersediaan oksigen justru turun. Ada > rumah sakit yang kehabisan, banyak rumah sakit harus melakukan penghematan > besar-besaran. Akibatnya banyak pasien yang saturasi oksigen darahnya masih > di atas 90% (normal 98%) tidak mendapat suplementasi oksigen karena > difokuskan untuk pasien yang saturasinya di bawah 90%. Artinya, sekali lagi > dokter dipaksa memilih siapa yang mendapat oksigen dan siapa yang > "dibiarkan" dengan udara ruangan. > > Karena menipisnya oksigen, rumah sakit sampai harus menunda banyak > operasi, hanya operasi darurat yang dilaksanakan sehingga pasien-pasien > non-darurat tidak terlayani secara optimal. Ini juga tidak gampang > mengingat ada pasien-pasien dengan kriteria menengah: operasi bisa ditunda > karena tidak mengancam jiwa, tapi bila ditunda akan menimbulkan masalah di > kemudian hari. Misalnya, pasien dengan patah tulang tertentu yang kalau > tidak dioperasi sesungguhnya tidak mengancam jiwa, tapi kalau ditunda > penyambungan tulangnya menjadi tidak normal. Artinya akan terjadi > kecacatan, yang bila dilakukan operasi di kemudian hari tingkat > kesulitannya berlipat. Tapi apa boleh buat, kita lagi-lagi harus memilih. > > Di tengah impitan dilema yang tidak diketahui kapan selesainya ini, banyak > yang masih saja menyalahkan tenaga medis dan rumah sakit. "Pasien > dicovidkan" menjadi stigma yang terus berkembang di masyarakat, menuduh > tenaga medis mengambil keuntungan dari pandemi ini. Banyak orang berpikir > tunjangan Covid bagi kami sangat besar, jutaan atau belasan juta rupiah per > bulan. Yang saya alami tidak demikian, sejak awal pandemi baru satu kali > cair di bulan kemarin sekitar dua juta rupiah. Ada kepala daerah yang > menyatakan tuduhan kepada rumah sakit mengejar target keuntungan itu secara > terang-terangan, sungguh menyakitkan. > > Belum lagi, pekerjaan untuk menyampaikan kebenaran ke masyarakat terus > diganggu oleh oknum-oknum di dalam tubuh tenaga kesehatan sendiri. Ada > mantan Menteri Kesehatan bergelar profesor yang bilang vaksin itu tidak > perlu, hanya masker solusinya, namun ia sendiri mempromosikan vaksin > Nusantara yang kontroversial itu. Padahal jelas terbukti secara ilmiah > vaksin itu menurunkan angka keparahan dan kematian. Akibatnya kepercayaan > masyarakat pada vaksin, tenaga medis dan para ahli makin menurun bersamaan > dengan menurunnya ketaatan terhadap protokol kesehatan. > > Seharusnya sekelas tokoh kesehatan justru memberikan edukasi yang baik dan > benar. Dan sayangnya, yang seperti ini cukup banyak dan disambut oleh para > podcaster dan influencer yang lebih mementingkan rating tayangannya > daripada efek negatif yang mereka timbulkan. > > Sekarang, ketika rumah sakit mengalami kesulitan menghadapi gelombang > pasien Covid-19 yang makin banyak sementara fasilitas dan oksigen sangat > terbatas dan tenaga medis bertumbangan, apa yang mereka lakukan untuk > membantu? Sangat keras Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, > menghardik mereka: Anda tidak bertanggung jawab! > > Kami, dokter dan seluruh tenaga medis berharap pemberlakuan PPKM Darurat > yang berlaku sejak 3 Juni hingga 20 Juli se-Jawa-Bali dapat menurunkan > angka kesakitan dan kematian masyarakat terdampak Covid-19. Kalau toh tidak > bisa menghilangkan kasus infeksi Covid-19 sampai titik nol, setidaknya > angkanya jauh di bawah ketersediaan fasilitas dan sumber daya kesehatan > yang ada. Dengan demikian kita bisa menangani pasien dengan optimal, > termasuk pasien-pasien non-covid. > > Kami sebagai pelaksana lapangan penanganan pasien Covid-19 ini juga > berharap ada kejelasan komando dari pemerintah karena kami melihat ada > kesimpangsiuran komando di antara kementerian yang ada, di mana Kementerian > Kesehatan bukan leading sector. Bersamaan dengan itu edukasi dan penegakan > aturan di tengah masyarakat harus tegas, jelas dan konsekuen. Akurasi data > harus ditingkatkan di setiap jenjang pemerintahan. > > Pemerintah harus bergerak aktif dalam menyediakan sarana dan fasilitas > kesehatan di tingkat hilir. Kelangkaan alat, obat, dan oksigen jangan > sampai terjadi lagi. Hentikan kontroversi, sisihkan dulu kepentingan selain > urusan keselamatan, apalagi sekadar urusan politik praktis, dan tolong > jangan ada yang memancing di air keruh. Mari kita kompak menghadapi bencana > ini karena hakikatnya bencana adalah urusan setiap orang. Semoga Tuhan > menyelamatkan kita. > > Dr. Ahmad Muttaqin Alim, Sp.An, M.Sc.DM Dokter Spesialis Anestesi dan > Terapi Intensif, Kepala Instalasi Gawat Darurat, tinggal di Yogyakarta > > (mmu/mmu) > lonjakan covid-19 > > > > > > > > > -- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari > Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210705185921.a0314b227a0278d17e1eb638%40upcmail.nl > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BO-PxLd%3Dbxe_XyFNr7St%2BhAv-oU29faxntUoMhUojpSw%40mail.gmail.com.
