https://www.sinarharapan.co/kesra/read/42535/darurat_oksigen__layanan_igd_sejumlah_rs_di_bandung_tutup



*Darurat Oksigen, Layanan IGD Sejumlah RS di Bandung Tutup*

Senin , 05 Juli 2021 | 16:40



JAKARTA - Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengakui ketersediaan tabung
oksigen kian berkurang seiring dengan meningkatnya kasus positif
aktif Covid-19. Imbasnya, sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan
(fasyankes) mengurangi kapasitas pelayanan.

Menurut dia, ada empat rumah sakit di Kota Bandung yang fasilitas dan
layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) ditutup sementara menerima pasien
Covid-19. Rumah sakit tersebut adalah RSUD Bandung, RS Edelweiss, RS
Muhammadiyah, dan RS Rotinsulu.

"Saya juga baca di beberapa media ini alasannya karena ledakan orang
bersamaan datang ke IGD. Faskenya segitu-gitu saja dan nakesnya berkurang,"
kata Yana usai meninjau pelaksanaan vaksinasi di Vihara Tanda Bhakti, Kota
Bandung, Senin (5/7). Yana menuturkan, Pemkot Bandung telah meminta
fasilitas layanan kesehatan tidak menutup layanan bagi masyarakat,
khususnya pasien Covid-19.

"Kita terus dorong pelayanannya jangan ditutup walaupun mungkin dikurangi.
Termasuk di Puskesmas, kita minta klinik-klinik (pelayanan penyakit
ringan), kita kurangi lagi, tapi untuk pelayanan Covid-19 kita terus
tingkatkan," ujarnya. "Sekarang sudah benar, dari 100 persen produksi
ditingkatkan, 90 persen untuk medis," ujarnya.Sebagai upaya
menyiasati kondisi darurat tabung oksigen, Pemkot Bandung telah meminta
pemerintah pusat dan provinsi untuk mendorong industri-industri oksigen
agar meningkatkan kapasitas produksinya.

Di samping itu, Pemkot Bandung juga meminta fasyankes menggunakan tabung
oksigen untuk pelayanan medis prioritas, seperti untuk pasien terinfeksi
Covid-19 kategori berat. "Sekali lagi, warga yang sebetulnya tidak
bergejala jangan juga terlalu panik langsung ke fasilitas kesehatan. Itu
yang mungkin membuat fasilitas kesehatan overload," tuturnya.

Yana pun kembali mengingatkan warga Kota Bandung untuk mengurangi mobilitas
di luar rumah, termasuk bersepeda. Karena saat ini pemerintah sedang

 menerapkan PPKM Darurat hingga 20 Juli mendatang. Kebijakan ini sebagai
upaya pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19 agar tidak semakin
melonjak.

"Karena sekali lagi penyebaran Covid-19 itu terjadi karena mobilitas,
transmisi antar manusia. Kalau sekarang mobilitas berkurang, dengan
inkubasi 14 hari maka sampai tanggal 20 Juli harusnya rontok (berkurang
kasus Covid-19)," kata dia. *(E-4)*

*++++++++++*

https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/42542/mendag_pastikan_tak_ada_halangan_impor_produk_oksigen
Mendag Pastikan Tak Ada Halangan Impor Produk Oksigen

Senin , 05 Juli 2021 | 19:45

Listen to this

*JAKARTA -* Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi memastikan tak ada
halangan untuk produk oksigen masuk ke wilayah Indonesia, mengingat oksigen
merupakan salah satu produk yang diminta oleh Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) agar dengan mudah masuk ke dalam negeri untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat dalam penanganan pandemi COVID-19.



"Jadi, oksigen itu adalah bagian yang memang dimintakan oleh BNPB, untuk
*list* produk-produk yang memang dipastikan tidak ada halangan ketika masuk
di wilayah Indonesia. Jadi, dari manapun datangnya, kalau barang-barang itu
sudah masuk ke dalam *list*, terutama sekarang ini oksigen, kita memastikan
bahwa itu akan berjalan dengan baik," kata Mendag Lutfi saat konferensi
pers secara virtual di Jakarta, Senin (5/7/2021).



Untuk itu Mendag berharap agar kegiatan pengadaan, terutama di batas
negara, dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Mendag juga memastikan distribusi obat-obatan dan alat kesehatan menjadi
prioritas agar berjalan sebaik mungkin, terutama pada masa PPKM Darurat.

"Adapun masalah harga itu, meskipun kita melihat adanya *supply* dan
*demand*, kami memastikan distribusinya dengan baik," ujar Mendag.



Sementara itu Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke
Nurwan mengatakan kebutuhan impor oksigen boleh dikatakan rutin selalu ada,
namun trennya semakin menurun.

"Kalau melihat data di Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi importasi dalam
lima tahun terakhir, artinya Indonesia sudah mulai mengurangi
ketergantungan dari impor dan berupaya *self sufficient* (mandiri),"
katanya.

Menurut Oke, terjadi kenaikan importasi oksigen pada kuartal I/2021
dibandingkan periode yang sama tahun 2020.

Namun, karena pengaturannya tidak ada di Kemendag, melainkan untuk
kebutuhan COVID-19 diatur oleh Kementerian Kesehatan dan BNPB, maka
Kemendag tidak bisa menyatakan kenaikan impor tersebut karena situasi
COVID-19. *(E-3)*

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2D2zOu8Jj8NwOBuPckq21XMt7DRsCoc%2BhwaJFDUC0P6FQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to