Anti-Kecerdasan Merupakan Kemerosotan Politik di AS 2021-07-06 15:51:46 http://indonesian.cri.cn/20210706/e9f9fd8f-6ccf-7822-86f9-4b93bfa8abd0.htmlBelakangan ini,sejumlah orang AS susul-menyusul menggembar-gemborkan masalah penelusuran sumber virus Covie-19 dan amat banyak opini yang tidak masuk akal dan di antaranya ada argumentasi tentgang kebocoran lab Tiongkok yang tiada dasarnya. Orang-orang itu dengan siasat lama berupaya mencari bukti berdasarkan kesimpulannya sendiri, tidak sesuai dengan kenyataan, tidak menguntungkan penanggulangan wabah dan juga tidak bermanfaat bagi publik.
Jauh pada awal terjadinya wabah, Lancet, majalah ilmu kedokteran berotoritas di dunia dalam sebuah pernyataan bersama yang ditandatangani 27 ilmuwan yang paling top di dunia di bidang kesehatan publik berpendapat bahwa konspirasi tentang virus Covid-19 sama sekali tidak berguna selain membuat kepanikan, hoaks, prasangka dan merugikan upaya penanggulangan wabah bersama global. Akan tetapi, justru karena surat terbuka tersebut, Stanley Perlman, ahli virologi terkenal Universitas Lowa baru-baru ini menghadapi masalah. Menurut Washington Post,pada awal bulan Juni, ia menerima surat gertakan yang menuduh ia sebagai Frankenstein. Ini memungkinkan orang teringat pada buku Anti-Intelektualisme dalam Kehidupan AS. Penulis buku tersebut, sejarahwan terkenal Richard Hofsta menulis, anti-intelektual merupakan sejenis kecenderungan yang membenci dan meragukan orang yang cerdas dan terus merendahkan nilai kecerdasan. Singkat kata, anti-intelektual kekurangan akal sehat dan mengabaikan fakta yang tidak sesuai dengan pendapatnya dan hanya percaya terhadap hal yang ia anggap benar. Di masyarakat AS, selalu terjadi kasus ant—intelektual yang magis. Misalny, banyak orang Partai Republik menganggap bahwa pemanasan globl sama sekali adalah intrik golongan liberal dan pemerintah negara asing, maka menolak mendiskusinya. Misalnya lagi, sejumlah orang berpendapat bahwa virus Covid-19 hanya sejenis “flu besar”, tak perlu mengenakan masker, boleh berkumpul dan tidak perlu disuntik vaksin. Padahal, para ilmuwan telah mengemukakan kesimpulannya mengenai penelusuran sumber virus Covid-19 dan argumentasi tentang kebocoran lab. Argumentasi tentang kebocoran lab sama sekali tiada buktinya. Walaupun demikian, pada masalah ilmiah penelusuran virus Covid-19 yang sulit diselesaikan dalam waktu relatif singkat, konspirasi tentang kebocoran lab ternyata lebih sesuai dengan khayalan anti-intelektual. Anggota tim pakar bersama WHO, ahli imunologi dan ahli epidemiologi Australia Dwyer dengan jitu menunjukkan, argumentasi tentang kobocoran lab itu menyambut wacana politik sejumlah negara, bahkan didukung pemerintah sejumlah negara, maka ada faktor sengaja. Maka, kenapa sejumlah orang AS berupaya melakukan hal tersebut? Karier politik lapisan pimpinan AS sekarang kebanyakan dimulai dari zaman Perang Dingin. Ide politik mereka padahal terikat pada zaman lama, aturan hutan, pikiran Perang Dingin dan zero sum game selau ada di benak mereka, dan sulit dihapuskan rasa tidak aman bahwa hegemoni AS akan digantikan dan diancam. Dengan hasutan pemikiran lama, meski terhadap sukutu Eropa, juga ada skandal penyadapan, apalagi terhadap Tiongkok yang berbeda ideolgi dan semakin mendekatnya kekuatan. WHO pernah mengatakan, mengenai penelusuran virus Covid-19, hendaknya membiarkan para ilmuwan menekuni penelitian berdasarkan bukti yang kuat, kalau tidak demikian, pekerjaan penelusuran virus Covid-19 tak mungkin memberikan jawaban yang dibutuhkan seluruh dunia. Zaman sudah berubah. Khususnya wabah terbesar abad ini memungkinkan publik menyadari bahwa dunia berhubungan erat dan nasib manusia saling berkaitan. Pada zaman ini, kerja sama dan menang bersama merupakan irama utma dan di antar berbagai negara hendaknya diadakan perlombaan yang saling mengejar dan meningkat bersama, bukan saling menyerang dan pertarungan mati atau hidup. Dengan baik mengurus hal sendiri tidak saja cocok bagi Tiongkok dan juga cocok bagi AS. AS Adalah Ancaman Terbesar bagi Keamanan Ciber Global 2021-07-06 14:51:09 http://indonesian.cri.cn/20210706/4f0ceb02-8fa2-87a0-6f5b-7256dabbb365.htmlTerkait insiden AS secara ilegal memperoleh data pelanggan Microsoft, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa pers Senin kemarin (5/7) menunjukkan, Tiongkok mengimbau masyarakat internasional bersama-sama membelejeti dan menolak perbuatan AS yang mengancam keamanan Ciber global serta menyabot aturan internasional. Diberitakan, di depan rapat dengar pendapat Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, Wakil CEO Microsoft menyebut, setiap tahun badan penegak hukum AS menandatangani sebanyak 2.400 hingga 3.500 perintah rahasia kepada perusahaannya selama 5 tahun ini, untuk memperoleh data pelanggan tanpa pengawasan efektif dari pengadilan AS. Seputar hal itu, jubir Tiongkok menyatakan, fakta tersebut sekali lagi membuktikan bahwa AS memaksa perusahaan membuka pintu belakang untuk memperoleh data pelanggan. AS adalah ancaman terbesar terhadap keamanan Ciber global -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/14D8CFFE40C3474795836E179A8486E4%40A10Live.
