https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2375-hentikan-kekonyolan



 Jumat 09 Juli 2021, 05:00 WIB 

Hentikan Kekonyolan 

Administrator | Editorial 

  Hentikan Kekonyolan MI/DUTA Ilustrasi. ALIH-ALIH mereda, amuk virus korona 
terus saja menggila. Tidak ada yang tahu kapan virus mematikan itu akan 
menyudahi keganasannya, tetapi lama tidaknya ia merajalela tergantung pula pada 
sikap kita. Menghentikan kekonyolan ialah keniscayaan untuk mengalahkannya. 
Kenapa covid-19 begitu superior di negeri ini? Kenapa virus korona senang 
berlama-lama menjajah Indonesia? Salah satunya ialah karena kekonyolan sebagian 
anak bangsa. Awal kekonyolan itu ialah sikap menganggap remeh sebagian pejabat 
ketika belum ditemukan adanya orang di Indonesia yang terpapar korona. Mereka 
begitu percaya diri, bahkan terkesan sombong, bahwa covid-19 tidak mungkin 
merambah Indonesia di kala negara-negara lain sudah babak belur dibuatnya. 
Hilang kekonyolan yang satu muncul kekonyolan yang lain. Padahal, serangan 
korona secara jelas terpampang di depan mata. Ibarat patah tumbuh hilang 
berganti, kekonyolan terus dipamerkan hingga kini. Kekonyolan yang berakibat 
sangat mengerikan ialah pelanggaran besar-besaran terhadap larangan mudik 
Lebaran 2021. Sudah jelas mudik diharamkan, tetapi jutaan orang tak peduli dan 
mengabaikannya. Egoisme mereka lebih kuat ketimbang kepedulian untuk 
bersama-sama membendung penyebaran covid-19. Akibatnya, tentu saja fatal. Virus 
korona menyebar ke mana-mana, kasus positif pun melonjak berkali-kali lipat. 
Ditambah lagi dengan masuknya sejumlah varian baru dari mancanegara, terutama 
India, yang penularannya juga beberapa kali lipat lebih mudah, lengkap sudah 
embrio bagi terciptanya malapetaka. Saat ini, petaka itu sedang kita alami. 
Bukan hanya mereka yang konyol, yang tidak konyol juga ikut merasakan. Rumah 
sakit dan fasilitas kesehatan mendekati kolaps. Drama memilukan para penderita 
yang tak bisa penanganan terus menjadi suguhan. Kematian pun semakin akrab, 
tidak cuma di rumah sakit, tetapi juga di rumah-rumah tatkala mereka yang 
terpapar menjalani isolasi mandiri. Mau bukti apalagi untuk menunjukkan bahwa 
bangsa ini sedang tidak baik-baik saja? Mau dalih apa lagi untuk tidak mematuhi 
kebijakan pemerintah dalam mengatasi wabah? Lepas dari kekurangan yang ada, 
pemerintah sudah dan terus berupaya keras untuk membendung gelombang korona. 
Mulai 3 Juli hingga 20 Juli 2021, kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan 
masyarakat (PPKM) darurat diterapkan. Tujuannya jelas dan tegas, yakni 
membatasi mobilitas masyarakat untuk membatasi ruang gerak covid-19. Pemerintah 
juga terus menambah sarana dan prasarana penanganan bagi penderita korona. 
Rumah sakit darurat tambahan disiapkan. Demikian pula tempat isolasi terpusat 
seperti di Rusun Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan, Rusun Nagrak, 
Cilincing, Jakarta Utara, dan Wisma Haji Pondok Gede. Namun, upaya-upaya 
tersebut tak akan banyak berarti jika hulunya tak teratasi. Karena itu, kita 
terus mengingatkan pentingnya kolaborasi antarsemua pihak. Di satu sisi, 
seluruh masyarakat wajib patuh dan disip­lin. Di sisi lain, pemerintah multak 
tegas dan konsisten mengeksekusi setiap kebijakan untuk membendung covid-19. 
Jangan ada lagi kekonyolan-kekonyolan, apa pun bentuknya. Pemerintah tak boleh 
lagi menoleransi kekonyol­an-kekonyolan yang terjadi. Entah itu pembangkangan 
oleh perusahaan atau pelanggaran oleh warga masyarakat umum terhadap ketentuan 
PPKM darurat. Para pejabat tak sepatutnya pula mempertontonkan kekonyolan, 
seperti yang baru saja dilakukan seorang pejabat partai politik yang meminta 
pemerintah membuat rumah sakit khusus pejabat. Di tengah situasi yang amat 
menyakitkan saat ini, kekonyolan itu hanya menambah rasa sakit hati rakyat. 
Bangsa ini sedang dalam situasi gawat. Ia butuh penyi­kap­an yang serius, bukan 
yang konyol-konyol.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2375-hentikan-kekonyolan




-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210709184500.4184fbba2edffe8a65c3db6f%40upcmail.nl.

Reply via email to