https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2195-jangan-cemas-turun-kelas





Sabtu 10 Juli 2021, 05:00 WIB 

Jangan Cemas Turun Kelas 

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Jangan Cemas Turun Kelas MI/Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. 
HARI-HARI ini, sekujur negeri ini membutuhkan suntikan harapan. Perlu energi 
positif dan spirit optimisme dari berbagai lini, terutama dari para elite di 
negeri ini. Bukan sebaliknya, ujaran pesimisme, ungkapan patah harapan, apa 
lagi provokasi dan caci maki. Kian masifnya penyebaran virus covid-19, 
tingginya angka kematian akibat korona, kekurangan oksigen di berbagai tempat, 
sesaknya ranjang rumah sakit, hingga klasifikasi turun kelas dari Bank Dunia 
terhadap Indonesia tak lantas membuat semuanya kiamat. Syaratnya, kita setop 
menggali lubang kuburan harapan lewat pesimisme berlebihan. Tiap-tiap orang 
mari mengambil peran menyalakan sumbu harapan. Bagi saya, apa yang Bank Dunia 
(World Bank) nyatakan dalam rilisnya pekan ini, yang menurunkan status 
Indonesia dari kelompok negara berpenghasilan menengah ke atas (upper middle 
income) sejak 2019 menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah (lower 
middle income) pada 2020 tak usah teramat dirisaukan. Mengapa? Karena hampir 
semua negara mengalaminya. Bahkan, beberapa negara mengalami penurunan gross 
national income (GNI) dobel digit hingga lebih dari US$2.000 per kapita pada 
2020. Indonesia, dalam klasifikasi Bank Dunia, mengalami penurunan GNI yang 
tipis: dari US$4.045 ke US$3.870 per kapita per 2020. Bank Dunia memiliki 
klasifikasi negara berdasarkan pendapatan nasional kotor (GNI) per kapita dalam 
empat kategori. Pertama, negara berpenghasilan rendah (low income country) 
dengan GNI per kapita US$1.035. Kedua, negara berpenghasilan menengah ke bawah 
dengan GNI per kapita US$1.036-US$4.045. Ketiga, negara berpenghasilan menengah 
ke atas (upper middle income country) dengan GNI per kapita US$4.046-US$12.535. 
Keempat, negara berpenghasilan tinggi (high income country) dengan GNI per 
kapita sebesar US$12.535. Beberapa komponen penghitungan Bank Dunia, antara 
lain, pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan populasi yang 
dipengaruhi GNI per kapita. Saya sudah menduga bahwa laporan Bank Dunia ini 
akan memantik dramatisasi. Meskipun diam-diam saya menyimpan harapan dalam 
situasi pasokan optimisme yang kian berkurang, elite tidak menjadikan 'cap' 
dari Bank Dunia itu sebagai bahan bakar untuk melancarkan serangan kepada 
pemerintah. Namun, sepertinya dugaan saya lebih nyata ketimbang harapan. Tidak 
usah menunggu lama, 'serangan' mulai datang dari Ketua Umum Partai Demokrat 
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pimpinan partai yang mengeklaim berada di 
posisi 'tengah' (pendukung pemerintah bukan, disebut oposisi ogah), itu melalui 
akun Twitter pribadinya, pada Rabu (7/7), berkicau seharusnya Indonesia bisa 
naik kelas, tidak tinggal kelas, apalagi turun kelas. Ia menautkan berita ini 
dengan mempertanyakan keberhasilan pemerintah menanggulangi pandemi yang 
semakin memakan banyak korban dan meluluhlantakkan ekonomi masyarakat. ‘Masalah 
gentingnya, bukan di mana status kelas kita saat ini, tapi mampukah negara 
menyelamatkan rakyatnya dari covid?’ tulisnya. Dalam situasi kegawatdaruratan 
bangsa, alangkah eloknya bila AHY lebih fokus mempertanyakan soal 'apa yang 
bisa kami bantu untuk bangsa dan negara'. Pertanyaan itu, hari-hari ini, jauh 
lebih berguna dan bisa menyelamatkan nyawa manusia bila diikuti aksi nyata. 
Penurunan status Indonesia dari negara berpendapatan menengah atas menjadi 
negara berpendapatan menengah ke bawah tidak perlu dikhawatirkan. Indonesia 
juga sempat mengalami hal serupa dan kembali bangkit, yakni ketika dihantam 
krisis pada 1998. Saat itu pendapatan per kapita kita pernah turun dari 
US$1.036 pada 1997 menjadi US$570 pada 1998. Ketika itu, ekonomi kita 
terkontraksi 13,1% pada 1998 akibat krisis ekonomi dan guncangan nilai tukar. 
Namun, setelah krisis, kita bangkit dengan pertumbuhan rata-rata per tahun 5%. 
Sejarah telah membuktikan bahwa suara optimisme, energi dari harapan 
kebangkitan, membuat negeri ini benar-benar bangkit. Warisan terkuat mentalitas 
bangsa Indonesia ialah 'politik harapan' (politics of hope), bukan politik 
ketakutan (politics of fear). Dalam politik harapan, kata pemikir lulusan 
University of Missouri Donna Zajonc, para pemimpin menyadari pentingnya merawat 
harapan dan optimisme dalam situasi krisis.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2195-jangan-cemas-turun-kelas






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210710184208.214d222e543c0f5257a4caa8%40upcmail.nl.

Reply via email to