https://news.detik.com/kolom/d-5637870/protokol-kesedihan?tag_from=wp_cb_kolom_list




Jeda

Protokol Kesedihan

Mumu Aloha - detikNews
Sabtu, 10 Jul 2021 12:15 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Seseorang bertanya kepada saudaranya di kampung, di sana lagi musim apa? 
Dijawab: musim meninggal.

Cerita itu mungkin terdengar karikatural, tapi kita tahu dan bisa merasakan 
itulah realitas yang kita hadapi hari-hari ini.

Berita kematian berseliweran di udara lewat corong masjid, status Facebook, dan 
timeline Twitter. Juga menelusup di grup-grup WA dan email kantor. Seperti 
musuh yang mengintai dan mengepung dari berbagai penjuru, terus merangsek, lalu 
menyergap, menghantam bertubi-tubi, tiada ampun.

Tak jarang, yang meninggal dunia adalah teman kita sendiri, yang mungkin 
beberapa minggu lalu masih janjian dengan kita untuk bertemu ngopi-ngopi, tapi 
karena situasi belum memungkinkan, maka janji tinggal rencana, dan kabar duka 
justru yang kemudian menyapa.

Seorang gadis lincah dan lucu mendadak menjadi yatim-piatu dalam hitungan tak 
sampai dua minggu, itu bukan cerita fiksi penguras air mata. Kematian beruntun 
pasangan suami-istri, atau orangtua, atau ibu dan ayah mertua, terdengar akrab 
di telinga, dekat sekali, karena menimpa teman-teman kita selingkaran pergaulan 
atau selingkaran pertemanan di media sosial, dan grup-grup alumni.

Seseorang meng-update perkembangan dari hari ke hari kesibukannya mengurus 
ayahnya, atau ibunya, yang tengah dirawat di ICU, sedang kritis oleh infeksi 
virus dan memiliki penyakit bawaan yang mengancam nyawa setiap waktu.

Kehidupan mendadak menjadi seperti lirik lagu Krisdayanti: Menghitung hari/ 
detik demi detik

Dan setiap detiknya terasa mencekam, menyakitkan, nyaris tak pernah 
terbayangkan. Kita kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bela sungkawa. Kita 
tenggelam dalam kubangan air mata.

Seorang dokter yang bertugas sekaligus mengepalai Instalasi Gawat Darurat di 
sebuah rumah sakit mengulang kembali cerita pada masa awal pandemi, ketika dia 
harus memilih pasien mana yang diselamatkan karena keterbatasan alat dan 
fasilitas medis.

Seorang teman pontang-panting mencari ruang perawatan yang tersedia untuk 
ayahnya, bertanya ke sana kemari, mengumumkan di Twitter, hingga akhirnya 
mendapatkan titik terang. Namun, tak sampai hitungan 10 jam kemudian, ia 
memperbarui pengumumannya, mengabarkan bahwa sang ayah sudah meninggal dunia.

Seseorang berdiri dalam antrean panjang pengisian tabung oksigen dengan 
perasaan tak menentu, sampai semuanya berakhir ketika sang ibu menghampiri dan 
berkata: Nak, pulang...tidak usah antre lagi, bapak sudah tiada. Anak muda itu 
pun mengusap air matanya, mengemasi tabungnya, menggandeng tangan ibunya dan 
pulang dengan lobang menganga di dada.

Seorang teman yang bekerja di industri farmasi menambahi cerita-cerita pilu 
itu. "Di aku juga mulai lagi. Butuh obat untuk mama saya. Terus habis itu 
update udah nggak butuh karena sudah meninggal."

Seseorang bisa kehilangan untuk selama-lamanya, adik dan kakaknya sekaligus 
dalam waktu yang hampir bersamaan. Seseorang kembali ke tempat pemakaman yang 
sama dalam hitungan hari, kali ini untuk menemani istrinya yang melepas 
kepergian ibunya, setelah sebelumnya ia ditemani sang istri mengantarkan 
jenazah ayahnya.

Orang-orang di media sosial saling membagikan puisi Joko Pinurba berjudul 
Ambulans yang agaknya secara spontan ditulis karena kegelisahannya menghadapi 
situasi saat ini:

Negara
meraung-raung
menjemput
warganya
yang telantar
dan terlambat
ia selamatkan

Terngiang-ngiang kembali pula larik-larik dari puisi Subagio Sastrowardoyo:

Dan kematian makin akrab, seakan kawan berkelakar

Yang mengajak tertawa

Berhadapan muka seperti lewat kaca bening

-Lihat tak ada batas di antara kita

Lalu kita pun melihat bayangan wajah sendiri di cermin. Pucat. Murung. Marah. 
Tak berdaya. Hanya mampu menggumamkan kembali kata-kata dalam Alkitab, yang 
mungkin pernah disampaikan oleh bapak pendeta di gereja tua yang sepi dekat 
rumah: Mereka tidak akan dapat berduka atas kematian mereka, mereka tidak akan 
dapat menguburkan mereka yang mati. Mereka tidak akan pergi ke rumah kesedihan.

Kita kehilangan orang-orang terdekat kita, orang-orang yang kita cintai, 
seperti kita melambai pada orang-orang di balik kaca, kata penyair Gratiagusti 
Chanaya Rompas. Kita hanya suara yang berkeliaran di speaker HP. Suara yang 
letih mencari penghiburan, mengingat-ingat nubuat lama, semacam, bukan kematian 
benar menusuk kalbu/ kerindlaanmu menerima segala tiba.

"Tapi, Tuhan, bukankah ini sudah berlebihan?" Seandainya kita bisa berteriak! 
Tapi kita menelan kembali suara kita sendiri yang lemah, serak, dan putus asa.

Sebab, kita tahu, Tuhan hanya akan berkata: Masuk ke kamarmu, dan tutup 
pintumu. Sembunyikan dirimu sampai amarah itu berlalu.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)
lonjakan covid-19
pandemi







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210710184726.c672be101808a080c80cafc6%40upcmail.nl.

Reply via email to