Citra TNI Gerus Lembaga Sipil?R53 - Tuesday, July 27, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/citra-tni-gerus-lembaga-sipil
 
Foto: Antara
6 min read

Dalam berbagai survei, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap TNI selalu 
menempati posisi tertinggi. Berbagai pihak melihatnya positif karena TNI 
berhasil menjaga citranya di tengah masyarakat. Namun, mungkinkah fenomena ini 
dapat mengancam lembaga sipil?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I believe we must be strong military, but beyond a certain point military 
strength can become a national weakness” – Dwight D. Eisenhower, Presiden ke-34 
Amerika Serikat

Pada Mei 2021, Lembaga Riset Pusat Polling (Puspol) Indonesia merilis survei 
mengenai lembaga yang meraih kepercayaan tertinggi dari publik. Seperti yang 
mudah ditebak, TNI menempati posisi tertinggi. Dengan persentase sebesar 95 
persen, angka ini bahkan jauh dari lembaga Kepresidenan di posisi kedua yang 
hanya sebesar 82,2 persen.

Dalam berbagai survei, TNI memang menjadi langganan di posisi pertama. Pada 
Maret 2021, survei Indikator Politik Indonesia juga menempatkan TNI sebagai 
lembaga paling dipercaya anak muda. Ada pula rilis Survei Lembaga Survei 
Indonesia (LSI) pada Februari 2021 dengan hasil yang sama.

Survei-survei tersebut sekiranya adalah buah dari kesigapan TNI untuk yang 
terdepan hadir di tengah kondisi sulit masyarakat. Pada konteks pandemi 
Covid-19, misalnya, sejak awal TNI memang menjadi garda terdepan penanganan. 
Pun begitu pada kasus bencana lainnya, TNI selalu berada di depan bersama 
masyarakat.

Pada persoalan-persoalan non-keamanan, seperti penyuluhan kepada petani, TNI 
juga sering kali terlibat. Suksesnya swasembada pangan di era Soeharto bahkan 
tidak dapat dilepaskan dari peran ABRI saat itu.

Jika di tarik ke belakang, persoalan ini dapat dilihat dari konsep Broad Front 
yang dicetuskan oleh Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Broad Front adalah 
gagasan bahwa terdapat partisipasi militer di luar persoalan pertahanan dan 
keamanan, yakni juga berupaya meningkatkan kesejahteraan negara secara 
keseluruhan.

Saat ini, tiga matra TNI juga terlihat aktif memanfaatkan media sosial, seperti 
Twitter untuk memperlihatkan kegiatannya kepada masyarakat luas. Mulai dari 
latihan, menjaga keamanan, hingga penyerahan bantuan sosial di tengah pandemi 
Covid-19.

Baca Juga: Jokowi dan Militerisasi Penanganan Corona

Kurnia Yunita Rahayu dalam tulisannya Akrobat Tentara di Dunia Maya di Kompas 
menyebut konten-konten yang diunggah ketiga matra tersebut sebagai “konten 
humanis”. Ini adalah upaya TNI dalam memperbaiki reputasi dan kepercayaan 
publik pasca-reformasi.

Terkait persoalan ini, ada komentar kritis dari pengamat pertahanan dan 
keamanan Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi. Di 
satu sisi, ia memang mengapresiasi keberhasilan TNI memperbaiki citranya. Ini 
tidak terlepas dari keahlian dalam membuat propaganda.

Namun di sisi lain, propaganda yang saat ini aktif dilakukan, khususnya di 
media sosial justru dapat bergerak ke arah yang keliru, sehingga berdampak pada 
peningkatan ketidakpercayaan publik terhadap lembaga sipil.   

Lantas, bagaimana kekhawatiran Fahmi dapat terjadi?

 
Gerus Lembaga Sipil?
Ilmuwan politik Francis Fukuyama dalam tulisannya Infrastructure, Governance, 
and Trust menyebut tingkat kepercayaan pada pemerintah telah menurun hampir di 
semua tempat di dunia. Tren ini tidak hanya terjadi dalam beberapa tahun 
terakhir, melainkan dalam beberapa dekade terakhir.

Tren tersebut tampaknya yang dimaksud Fahmi tengah dimanfaatkan oleh TNI. 
Menurut alumnus ilmu politik Universitas Airlangga ini, ada dua alasan mengapa 
propaganda TNI berhasil dilakukan.

Pertama, adanya kesenjangan pengetahuan antara publik dengan elite dan 
intelektual menyangkut pembatasan peran dan fungsi militer di lapangan sosial 
politik dan agenda-agenda reformasi di tubuh TNI. Kedua, adanya kesenjangan 
antara harapan dan kenyataan menyangkut pengelolaan negara.

Terkhusus yang kedua, poin tersebut dapat kita jelaskan lebih jauh melalui 
teori deprivasi relatif. Robert Longley dalam tulisannya All About Relative 
Deprivation and Deprivation Theory menyebut deprivasi relatif adalah kondisi 
ketika seseorang merasa dirampas dari sesuatu yang dianggapnya penting, seperti 
hak politik dan kesejahteraan, kemudian mengatur atau bergabung dengan gerakan 
sosial yang didedikasikan untuk mendapatkan sesuatu tersebut.

Teori ini kerap digunakan untuk menjawab faktor pendorong yang menyebabkan 
terjadinya kekacauan sosial seperti kerusuhan, penjarahan, terorisme, dan 
perang saudara. Misalnya, ini digunakan dalam menjelaskan penyebab Gerakan Hak 
Sipil di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1960-an. Saat itu, kelompok kulit 
hitam turun ke jalan dan membuat protes untuk menuntut kesetaraan sosial dan 
hukum.

Dengan adanya pengelolaan negara yang belum optimal dari lembaga sipil, 
berbagai pihak kemudian mengalihkan kepercayaannya terhadap lembaga lain yang 
dinilai lebih baik. Pada konteks ini, posisi TNI benar-benar diuntungkan.

Baca Juga: Jokowi Terkungkung Persepsi Kesatria Militer?

Pasalnya, mengelola persoalan sipil, seperti pencegahan korupsi dan merancang 
proyek infrastruktur bukanlah tugas dari TNI. Alhasil, mereka mestilah terlepas 
dari berbagai sentimen buruk terhadap tidak optimalnya pengelolaan dua hal 
tersebut.

Seperti yang disebutkan Fukuyama, ketidakpuasan publik terhadap proyek 
infrastruktur juga tengah mendorong peningkatan ketidakpercayaan terhadap 
pemerintahan.

Dosen filsafat Universitas Indonesia (UI) Donny Gahral Adian juga pernah 
menyinggung persoalan ini. Menurutnya, telah terjadi surplus ketidakpercayaan 
publik terhadap kekuasaan selepas tumbangnya Soeharto.

Jika analisis Fahmi tepat bahwa TNI tengah memanfaatkan deprivasi relatif, maka 
dapat dikatakan peningkatan kepercayaan publik terhadap TNI akan berbanding 
terbalik dengan kepercayaan terhadap lembaga sipil.

Lantas, apa konsekuensi dari persoalan ini?



Persepsi Kepemimpinan Militer
Salah satu konsekuensi yang umum terlihat adalah lumrahnya anggapan bahwa 
militer memiliki kepemimpinan yang lebih baik dari sipil. Donny Gahral Adian 
dalam bukunya Demokrasi Substansial: Risalah Kebangkrutan Liberalisme, 
misalnya, secara tersirat menunjukkan pandangan ini.

Tulisnya, “egalitarianisme dalam demokrasi telah mendelegitimasi institusi 
sosial-keluarga, Geraja, sekolah, dan militer–selaku institusi yang menanamkan 
kepekaan terhadap komunitas dan rasa hormat terhadap kepemimpinan”.

 
Tidak hanya di Indonesia, pandangan ini juga ada di berbagai belahan dunia. 
Profesor di Akademisi Militer Amerika Serikat (AS) Tom Kolditz dalam tulisannya 
Why the Military Produces Great Leaders secara tersurat menulisnya.

Jelasnya, militer dididik dalam etos kedisiplinan, memenuhi tugas, dan tanggung 
jawab yang tinggi. Etos ini disebutnya membuat militer menjadi semacam pemimpin 
alami.

Tentu pertanyaannya, benarkah kepemimpinan militer akan selalu lebih baik dari 
sipil?

D. McKinlay dan A.S. Cohan dalam penelitiannya yang berjudul Comparative 
Analysis of the Political and Economic Performance of Military and Civilian 
Regimes membandingkan kinerja di bidang politik, pertahanan, dan ekonomi di 
antara negara-negara yang dikelola militer dan negara-negara yang dikelola 
sipil.

Hasilnya? Ternyata tidak terdapat banyak perbedaan antara kinerja yang 
ditunjukkan dari kedua jenis pemerintahan tersebut.

Temuan ini sekiranya membantah persepsi mereka yang menginferiorkan 
kepemimpinan dari kalangan sipil. Secara satire, Khairul Fahmi menyebut 
persepsi semacam itu sebagai mitos kesatria.

Natalie Sambhi dalam tulisannya Generals gaining ground: Civil-military 
relations and democracy in Indonesia menjelaskan bahwa hubungan militer-sipil 
saat ini juga ditandai dengan koneksi lintas generasi dengan mereka yang 
berasal dan “terdidik” di masa Orde Baru.

Mengakarnya rezim Soeharto selama 32 tahun telah membentuk struktur persepsi 
publik yang masih membekas sampai saat ini. Menurut Sambhi, perihal itu 
kemudian terartikulasikan dalam kepercayaan publik yang sangat dalam dan 
persepsi terhadap kompetensi militer dan budayanya, bahkan pasca-reformasi.

Baca Juga: Demonstrasi Ungkap Rivalitas TNI-Polri?

Hipolitus Yolisandry Ringgi Wangge dalam tulisannya The military's role in 
Indonesia's democracy. Misguided perception? juga melihat hal serupa. 
Menurutnya, reformasi telah  gagal dalam meredam aspirasi militer untuk turut 
serta dalam kehidupan politik dan sosial sipil. Alhasil, seperti yang kita 
lihat saat ini, berbagai posisi sipil justru dijabat oleh militer aktif maupun 
purnawirawan.

Namun, perlu untuk digarisbawahi, meningkatnya kepercayaan publik terhadap TNI 
tidak semata-mata dipahami secara negatif. Seperti yang disebutkan Fahmi, itu 
negatif apabila propaganda yang dilakukan justru memanfaatkan ketidakpercayaan 
publik terhadap lembaga sipil. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8A843328EFFB4BAD82AF8094A44C1847%40A10Live.

Reply via email to