Segala hal ihwal didunia ini pasti berkembang dan berubah sesuai pekembangan jaman dan kemajuan teknologi, ... Tidak mungkin berkehendak bentuk dan model kehidupan sebelum RBKP puluhan tahun yl! Bagaimanapun juga harus berubah sesuai perkembangan yang telah terjadi untuk maju bersama, untung bersama dan menang bersama!
Yang menjadi masalah bangsa Indonesia, BELUM ada kesadaran tinggi untuk berusaha keras BERDIKARI, menggunakan setiap bantuan modal-asing untuk BELAJAR mengerjakan sendiri! Apapun usaha yang sedang dikerjakan itu, ... masih saja terbelok bahkan hanyut oleh suara oligargi modal Singapore, Jepang AS yang terdesak masuknya modal-Tiongkok, akhirnya menjurus pada gerakan anti-Tiongkok! Begitu kerasnya suara TKA-Cina menyerbu masuk Indonesia, dan tidak tanggung-tanggung 10 juta orang! Dan, ... sampai sekarang masuknya puluhan TKA-Cina dimasa pandemi yang sudah penuhi prosedur masih juga dipersoalkan! Sebaliknya, lebih 300an tentara AS di Palembang sama sekali tidak dipersoalkan. Padahal AS termasuk wilayah merah, sebaliknya di Tiongkok daratan boleh dikatakan yang terpapar hanya pendatang dari luarnegeri! Kenapa tidak pusatkan segala energi untuk percepat perputaran ekonomi, berproduksi lebih cepat dan, tentu usaha penanganan pandemi juga harus dijalankan, ... jangan sampai mencelakakan sendiri! Tapi, diatas segfalanya pusatkan perhatian merebut kesempatan untuk BELAJAR bisa mengerjakan sendiri! Biar bangsa ini TIDAK lagi tergantung atas “bantuan” asing lagi, semua bisa kerjakan sendiri! -----原始郵件----- From: Lusi D. Sent: Friday, July 30, 2021 4:23 AM To: Chan CT Cc: nasional-list ; GELORA45_In ; chalik.hamid Subject: Re: [GELORA45] Re: 90% untuk China, Sisanya Indonesia, Puasa-Covid-19 Apa Hubungannya dan Bukan Bantuan Pemerintah Materi studi banding karakter hubungan ekonomi Indonesia dan beberapa negeri2 Asia-Afrika masa sebelum dan sesudah RBKP dengan Republik Rakyat Tiongkok. Risiko di Balik Mesranya Hubungan RI-China Tim detikcom - detikFinance Kamis, 29 Jul 2021 22:57 WIB Jakarta - Dominasi ekonomi China di dunia makin kuat, tak terkecuali di Indonesia. Menurut Direktur Institute for Global and Strategies Studies UII Yogyakarta Zulfikar Rachmat peranan China cukup besar dalam perekonomian di Indonesia. China menjelma menjadi investor terbesar dengan besaran modal yang ditanam di Indonesia mencapai US$ 1,4 miliar pada 2019. Zulfikar juga menilai China telah menjadi partner dagang terbesar Indonesia. Bahkan, menurutnya China makin menancapkan dominasinya di Indonesia dengan penetrasi langsung ke pemerintah daerah. "Yang unik, China juga mulai aktif melakukan penetrasi langsung ke pemerintah daerah di Indonesia untuk kerjasama ekonomi seperi yang dilakukannya di Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Bengkulu, Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat. Hal yang sama juga China lakukan dengan banyak pemerintah daerah di negara-negara lain," kata Zulfikar dalam keterangan tertulis, Kamis (29/7/2021). Terlebih pada masa pandemi, China menjadi aktor tunggal dalam pemberian alat kesehatan hingga obat-obatan. China pun menjadi penyedia vaksin dalam upaya penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. Hal-hal ini lah yang justru menurut Zulfikar harusnya menjadi sorotan dan perhatian. Jangan sampai, Indonesia bergantung pada China. "Yang agaknya menjadi masalah, Indonesia terkesan telah semakin tergantung dengan China dalam hal ekonomi. Indonesia harus memperjelas posisinya sebagai negara non blok dan dapat meningkatkan bargaining position-nya dalam bernegosiasi dengan China," ungkap Zulfikar. Beberapa risiko bisa terjadi bila Indonesia semakin bergantung kepada China. Yang pertama adalah terganggunya hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat. Kemudian, lemahnya posisi tawar Indonesia terhadap China, hal ini mampu memicu impor dari China yang akan semakin meningkat luar biasa, dan dapat menimbulkan sentimen anti China yang menguat di dalam negeri. Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy Shiskha Prabawaningtyas juga mengatakan Indonesia harus memperkuat daya tawar dengan China. "Dengan tidak mengesampingkan realitas kemajuan perekonomian China saat ini, Indonesia tentu saja harus tetap meningkatkan bargaining-nya di hadapan China, namun tetap membuka ruang kerjasama," kata Shiskha. Kerja sama harus ditingkatkan terkait dengan penanganan pandemi COVID-19 karena China telah terlanjur menjadi pemasok utama industri farmasi-obat-obatan, vaksin dan alat kesehatan. Dia mengatakan hubungan ekonomi yang dibangun Indonesia ke China harus harus melihat ruang value chain dan market, dan juga ruang untuk alih teknologi yang harus dilakukan. "Perumusan posisi tawar Indonesia harus dilakukan dalam mencari format kemitraan strategis yang memastikan perlindungan terhadap kepentingan nasional Indonesia," kata Shiskha. (hal/hns) Am Wed, 28 Jul 2021 08:33:36 +0800 schrieb "Chan CT" <[email protected]>: > Entah bagaimana dan sampai dimana kebenaran pernyataan Faisal Basri > didepan acara video Refly Harun dibawah ini, 90% PERSEN KEUNTUNGAN > NIKEL KITA DIAMBIL CHINA! KITA CUMA DAPAT 10 PERSEN!! Namun, saya > menjadi lebih tertarik dengan perbandingan keuntungan RI setelah > dikatakan berhasil membeli 51% saham Free Port, karena pembelian > saham dari hutang, ... hasil keuntungan yang didapatkan ternyata > TIDAK CUKUP untuk bayar hutang, dan entah untuk berapa tahun kedepan! > > Jadi, ... sangat jelas menunjukkan KESADARAN BANGSA untuk TEGAK > BERDIKARI masih sangat BUTUUUUT! Kenapa TIDAK menitik beratkan usaha > BELAJAR untuk belajar menguasai dan mengerjakan sendiri, tapi melulu > berusaha menarik keuntungan lebih besar bagi segelintir pejabat > bersama kroni2nya saja? Lha, penjualan hasil produksi baja-antikarat > saja harus melalui calo/agen dan tidak bisa langsung pada pembeli. > Artinya pemerintah harus beri untung calo/agen itu! > > Tapi, pernyataan Faisal, dengan data 3 ribuan/hari TKA-Cina masuk ke > Indonesia dan diperuntukkan BUKAN tenaga ahli, ... patut menjadi > pertanyaan, sekalipun untuk menghindari keharusan membayar US$100 > bagi TKA?! Bukankah tempohari ada yang membandingkan gaji TKA-Cina > setidaknya 4X lebih tinggi, karyawan lokal cukup dibayar sekitar > Rp.4juta - 10juta/bln, sedang TKA-Cina Rp.15juta - 40juta/bln, > mengapa perusahaan tetap saja harus gunakan TKA-Cina yang bisa > dikerjakan buruh setempat yang jauh lebih murah? Kalaupun ada > TKA-Cina yang mau dibayar Rp.5 juta/bln saja, PASTI akan kesulitan > dapatkan orang di Tiongkok yang mau, tetap lebih mahal daripada buruh > lokal, kenapa harus menerjang UU TKA, dan kalau tertangkap TKA > dideportasi dan kena didenda, ... sungguh tidak masuk akal! Kecuali > kenyataan buruh/karyawan TKA-Cina itu betul-betul dibutuhkan karena > buruh/karyawan lokal BELUM bisa mengerjakannya! Itupula sebab di > smelter Nikel Morowali itu, ada pendidikan dan kursus bagi karyawan > lokal sebelum mereka masuk kerja, ... > > > -----原始郵件----- > From: Lusi D. > Sent: Wednesday, July 28, 2021 5:24 AM > To: nasional-list ; GELORA45_In ; chalik.hamid > Subject: [GELORA45] 90% untuk China, Sisanya Indonesia, > Puasa-Covid-19 Apa Hubungannya dan Bukan Bantuan Pemerintah > > 1. > 90% PERSEN KEUNTUNGAN NIKEL KITA DIAMBIL CHINA! KITA CUMA DAPAT 10 > PERSEN!! https://www.youtube.com/watch?v=99WY6DXqrzs > > 2. > APA HUBUNGAN PUASA DAN COVID-19? AKHIRNYA ADA DOKTER BICARA INI !! > Deddy Corbuzier > https://www.youtube.com/watch?v=zV_eGjZOGcM > > 3. > BUKAN BANTUAN PEMERINTAH - Nasi Bungkus Gratis dari Warga > https://www.youtube.com/watch?v=7wmKUczIZW0 > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210729222316.0e1491bf%40lilik-ThinkPad-T420s. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/90CA925E312C4CB684EEA3A2743C27B0%40A10Live.
