*Sebagai rakyat jelata awam geopolitik sebaiknya saya menunggu arahan bijak
dari pak Chan yang menguasai peta geopolitik dunia masa kini. *

Pada tanggal Sen, 9 Agu 2021 pukul 08.19 Chan CT <[email protected]>
menulis:

> Saatnya Jokowi Bantu Uighur?
> *G69 * <https://www.pinterpolitik.com/author/g69>*- Sunday, August 8,
> 2021 19:00*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saatnya-jokowi-bantu-uighur
> *Sebuah aksi bela Uighur yang dilaksanakan di Indonesia. (Foto: Istimewa)*
>
> *8 min read*
>
> *Dugaan kejahatan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM)
> terhadap kelompok Muslim Uighur di Xinjiang, Republik Rakyat Tiongkok
> (RRT), terus menjadi isu panas yang dimanfaatkan oleh pemerintah Amerika
> Serikat (AS). Lantas, peran apa yang diambil oleh pemerintahan Joko Widodo
> (Jokowi) di Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com <https://www.pinterpolitik.com/>*
>
> Rivalitas antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) dalam persaingan
> geopolitik masih terus terjadi. Kedua belah pihak saling melemparkan
> tudingan yang memicu ketegangan hingga memancing tensi tinggi.
>
> Fenomena ini sudah terjadi sejak era pemerintahan Presiden AS Donald Trump
> dan masih terjadi di rezim Presiden AS Joe Biden. Perseteruan panjang ini
> seolah membangkitkan memori Perang Dingin yang terjadi pasca-Perang Dunia
> II antara AS dengan Uni Soviet. Saat itu, kedua negara berupaya memperluas
> pengaruhnya terhadap negara-negara lain tanpa melakukan perang secara
> terbuka.
>
> Perseteruan pada era Perang Dingin tersebut lebih mengarah kepada
> persaingan senjata khususnya nuklir hingga perjalanan menuju ke luar
> angkasa. Alhasil, dinamika persaingan antar keduanya terhenti setelah Uni
> Soviet akhirnya pecah menjadi negara-negara bagian. Momentum itulah yang
> menjadi awal bagi negeri Paman Sam menjelma sebagai negara hegemoni.
>
> Namun, menjadi sebuah negara hegemoni dengan jangka waktu yang cukup
> panjang ternyata cukup membuat AS merasa menjadi *lonely superpower* (negara
> adidaya yang kesepian). Hal inilah yang menyebabkan AS berupaya untuk terus
> mencari sebuah keseimbangan dalam tatanan dunia – salah satunya dengan
> mencari negara kuat layaknya Uni Soviet pada masa lalu.
>
> Bertepatan dengan itu, muncul lah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai
> negara yang dianggap bisa menantang hegemoni AS di tatanan dunia. Kemajuan
> perekonomian Tiongkok ternyata menjadi salah satu faktor yang dianggap bisa
> mengancam hegemoni AS.
>
> Melihat situasi ini, AS tidak tinggal diam sehingga terus melakukan
> konfrontasi dengan Tiongkok. Menyadari hal ini, maka Wakil Menteri Luar
> Negeri Tiongkok Xie Feng menegaskan bahwa ada upaya dari negeri Paman Sam
> untuk menetapkan Tiongkok sebagai musuh imajiner. Tujuannya yakni agar AS
> bisa mencapai tujuan nasionalnya sebagai negara hegemoni.
>
> Berbagai cara dilakukan oleh AS untuk membendung pengaruh negeri Tirai
> Bambu tersebut agar tidak berhasil menancapkan pengaruhnya kepada
> negara-negara lain. Sebagai negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia
> (HAM), AS begitu kritis terhadap setiap adanya dugaan pelanggaran HAM
> terutama yang melibatkan Tiongkok.
>
> *Baca Juga: Jokowi, Tiongkok, dan Bayangan Nazi
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-tiongkok-dan-bayangan-nazi>*
> [image: Uighur Jadi Pembicaraan]
> <https://www.instagram.com/pinterpolitik/>
>
> Salah satu kasus yang dinilai cukup membuat Tiongkok terganggu adalah
> dugaan adanya kamp tahanan muslim Uighur di Xinjiang. Bahkan, Biden sudah
> membawa permasalahan tersebut ke forum internasional seperti G7 pada Juni
> 2021 lalu.
>
> Kapitalisasi terhadap isu pelanggaran HAM terhadap etnis Muslim Uighur
> sebenarnya sudah pernah terjadi pada era pemerintahan Donald Trump. Saat
> itu, Menteri Luar Negeri AS yang menjabat, Mike Pompeo, meyakini adanya
> genosida terhadap etnis Muslim Uighur.
>
> Pernyataan tersebut direspons dengan keras oleh otoritas Beijing dengan
> memberikan sanksi terhadap 28 pejabat pemerintahan AS. Mereka serta
> keluarganya tidak diizinkan untuk memasuki wilayah Tiongkok, Hong Kong, dan
> Makau.
>
> Kondisi hubungan yang memanas antara Tiongkok dan AS ternyata masih
> berlanjut di era pemerintahan Biden. Berawal dari keinginan untuk
> memperbaiki hubungan dengan Tiongkok di awal masa jabatannya, ternyata
> janji tersebut tidak terealisasi.
>
> Hingga saat ini, hubungan antara kedua negara masih memanas terlebih
> dengan adanya ajakan Biden kepada seluruh pemimpin di negara-negara G7
> untuk menentang praktik kerja paksa terhadap minoritas Uighur di Xinjiang.
> Kondisi ini membuktikan bahwa relasi antar kedua negara tidak jauh berbeda
> jika dibandingkan dengan era pemerintahan Donald Trump terutama dalam hal
> memandang isu etnis minoritas Uighur.
>
> Dengan isu Muslim Uighur yang semakin mencuat di tengah “perang” narasi
> AS-Tiongkok, bagaimana Indonesia menempatkan peran dan posisinya? Lantas,
> perlukah pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di Indonesia mengambil peran
> lebih?
>
>
> *Us vs Them** ala Biden*
>
> Bukan sebuah rahasia jika Tiongkok menginginkan supaya isu pelanggaran HAM
> terhadap etnis Uighur di Xinjiang tidak semakin meluas. Pemerintah Tiongkok
> sudah pernah meminta kepada Turki untuk mendukung perlawanan Beijing
> terhadap gerilyawan yang bergerak di Xinjiang. Tantangannya pun semakin
> berat karena adanya eksistensi pasukan teroris ‘Turkistan Timur’ di wilayah
> tersebut.
>
> Meski demikian, dukungan terhadap Tiongkok terkait maraknya isu
> pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur datang dari negara besar di Timur
> Tengah yaitu Arab Saudi. Menurut putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin
> Salman, Tiongkok memiliki wewenang untuk memberantas terorisme dan
> ekstremisme di wilayah Xinjiang. Sementara itu, Indonesia pun juga berupaya
> menginisiasi kerja sama pendidikan Islam dengan otoritas Xinjiang yang
> diperkirakan memiliki tujuan yang sama yakni memberantas ideologi
> radikalisme.
>
> *Baca Juga: Mahfud, Moeldoko, dan Isu Uighur
> <https://www.pinterpolitik.com/celoteh/mahfud-moeldoko-dan-isu-uighur>*
>
> Upaya yang dilakukan Tiongkok untuk mencegah merebaknya isu pelanggaran
> HAM di Xinjiang tidak lepas dari tekanan dari negara-negara barat khususnya
> AS. Presiden Biden kembali membangunkan narasi yang pernah diucapkan pada
> saat awal menjabat yaitu Tiongkok sebagai negara yang mengancam
> keberlangsungan demokrasi.
>
> Perspektif tersebut terus disuarakan dan isu etnis minoritas Uighur
> menjadi salah satu isu yang terus dieksploitasi oleh AS. Tujuannya jelas
> ingin membentuk sebuah opini terhadap Tiongkok. Ted Hopf dalam tulisannya
> yang berjudul *The Promise of Constructivism in International Relations
> Theory* menganalogikan sebuah fenomena – yaitu intervensi AS terhadap
> Vietnam – dengan menggunakan kekuatan militer menjadi sebuah legitimasi
> bahwa AS merupakan negara kuat.
>
> Kondisi ini menghasilkan sebuah nilai dan norma yang membuat pihak lain
> mengakui identitas tersebut. Hal tersebut tentu tidak terjadi secara alami
> melainkan melibatkan peran aktor negara.
>
> Demikian halnya dengan upaya AS yang terus mengeksploitasi isu Uighur di
> forum internasional. Pembentukan opini melalui konstruksi pemikiran
> dilakukan agar negara lain memandang bahwa pelanggaran HAM yang dilakukan
> oleh Tiongkok merupakan ancaman bagi keberlangsungan demokrasi.
>
> Hal ini tentu akan membentuk sebuah identitas bahwa negara otokrasi
> seperti Tiongkok bisa mengancam perdamaian dunia. Maka, wajar jika Tiongkok
> terus menerus membantah adanya pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur
> tujuannya untuk mencegah upaya konstruksi yang berpotensi merugikan
> negaranya.
>
> Dengan dikotomi demokrasi lawan otokrasi ala Biden ini, posisi apa yang
> diambil Indonesia? Perlukah pemerintahan Jokowi mengambil kebijakan yang
> berbeda dengan konstruksi yang dibangun oleh pemerintahan Biden?
>
>
> *Jokowi Bantu Tiongkok atau Uighur?*
>
> Perhatian negara-negara Muslim di dunia terhadap isu Uighur dianggap tidak
> sebanding dengan isu aneksasi Israel terhadap Palestina. Sorotan terhadap
> minimnya perhatian negara-negara mayoritas muslim ini diungkapkan di salah
> satu wawancara antara DW (Deutsche Welle)dengan Direktur Institut Islam
> Global dari Universitas Frankfurt Prof. Dr. Susanne Schroter.
>
> Intinya, negara-negara mayoritas muslim seperti Turki, Arab Saudi dan Iran
> cenderung diam memandang isu etnis muslim Uighur disebabkan adanya
> kepentingan ekonomi. Demikian juga dengan Indonesia yang sampai saat ini
> memiliki hubungan yang erat dengan Tiongkok khususnya di bidang ekonomi dan
> perdagangan.
>
> *Baca Juga: Muslim Uighur, Dilema Jokowi?
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/muslim-uighur-dilema-jokowi>*
> [image: Jokowi Dilema Muslim Uighur]
> <https://www.instagram.com/pinterpolitik/>
>
> Menurut Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, investasi
> negeri Tirai Bambu itu terus meningkat sejak tahun 2016. Bahkan, dalam tiga
> tahun terakhir, Tiongkok menjadi negara terbesar kedua yang menanamkan
> modal di Indonesia.
>
> Efek kerja sama ekonomi yang cukup menguntungkan ini cukup berpengaruh
> terhadap sikap Indonesia terhadap Tiongkok. Hal ini juga pernah diungkapkan
> oleh laporan berjudul *Explaining Indonesia’s Silence on the Uyghur
> Issue *dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang
> menyatakan bahwa sikap bungkam pemerintahan Jokowi terhadap pelanggaran HAM
> atas etnis minoritas Uighur disebabkan adanya ketergantungan terhadap modal
> dari Tiongkok.
>
> Tidak hanya itu, dalam laporan tersebut juga dikemukakan bahwa sektor HAM
> bukan menjadi prioritas utama Indonesia dalam menjalin hubungan dengan
> Tiongkok. Namun, Indonesia dianggap memprioritaskan isu Laut China Selatan
> (LCS) serta proyek *Belt and Road Initiative* (BRI).
>
> Jika melihat sejumlah alasan negara-negara mayoritas muslim cenderung
> bungkam karena faktor ekonomi, dapat disimpulkan bahwa upaya *soft power* 
> Tiongkok
> cukup berhasil dalam hal ini. Joseph Nye dalam bukunya yang berjudul *Soft
> Power: Means To Success in World Politics* menegaskan bahwa *soft power* 
> merupakan
> kemampuan untuk memengaruhi pihak lain tanpa adanya upaya paksaan.
>
> Sementara, *soft power* yang dimiliki negara bisa berasal dari berbagai
> sumber seperti kebijakan, budaya, dan nilai-nilai politik. Dalam hal ini,
> Tiongkok berhasil menggunakan kekuatan ekonomi negaranya untuk mempengaruhi
> negara-negara lain untuk melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan – seperti
> halnya Indonesia yang beberapa waktu lalu menginisiasi program pendidikan
> Islam kepada otoritas Xinjiang.
>
> Akibat *soft power *negara Tirai Bambuini, posisi pemerintahan Jokowi
> terhadap isu Uighur alhasil dinilai masih abu-abu. Pasalnya, terlepas dari
> berbagai kerja sama Indonesia-Tiongkok, Jokowi juga harus me-*manage* aspirasi
> domestik yang menganggap bahwa pemerintahan Xi Jinping telah menciptakan
> ketidakadilan di Xinjiang.
>
> Situasi dilematis juga mulai menghantui pemerintah Indonesia. Kembalinya
> kebijakan luar negeri AS yang aktif membuat isu Uighur menjadi salah satu
> cara memilih antara kubu “demokrasi” dan “otokrasi”. Di sisi lain,
> pemerintahan Jokowi membutuhkan bantuan AS untuk menjaga stabilitas Asia
> Tenggara di tengah panasnya LCS.
>
> Alhasil, posisi Jokowi semakin terdesak karena harus memilih “demokrasi”
> atau “otokrasi” dalam konstruksi dunia yang baru – di mana masing-masing
> pilihan memiliki konsekuensi tertentu. Bila pemerintahan Jokowi ingin
> didengarkan oleh Biden, mungkin mengkritik apa yang terjadi di Xinjiang
> merupakan langkah awal yang baik. Bukan begitu? (G69)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FFDF23BF3AB84261AD1D475B3018CE3E%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FFDF23BF3AB84261AD1D475B3018CE3E%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CALcuTPSavmTMKfqfYbX6dnikBnOmDKZXW2Nh9jxv%3D52pg6LDYA%40mail.gmail.com.

Reply via email to