Saatnya Jokowi Bantu Uighur?G69 - Sunday, August 8, 2021 19:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saatnya-jokowi-bantu-uighur
 
Sebuah aksi bela Uighur yang dilaksanakan di Indonesia. (Foto: Istimewa)
8 min read

Dugaan kejahatan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) terhadap 
kelompok Muslim Uighur di Xinjiang, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), terus 
menjadi isu panas yang dimanfaatkan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS). 
Lantas, peran apa yang diambil oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di 
Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Rivalitas antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) dalam persaingan geopolitik 
masih terus terjadi. Kedua belah pihak saling melemparkan tudingan yang memicu 
ketegangan hingga memancing tensi tinggi.

Fenomena ini sudah terjadi sejak era pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan 
masih terjadi di rezim Presiden AS Joe Biden. Perseteruan panjang ini seolah 
membangkitkan memori Perang Dingin yang terjadi pasca-Perang Dunia II antara AS 
dengan Uni Soviet. Saat itu, kedua negara berupaya memperluas pengaruhnya 
terhadap negara-negara lain tanpa melakukan perang secara terbuka.

Perseteruan pada era Perang Dingin tersebut lebih mengarah kepada persaingan 
senjata khususnya nuklir hingga perjalanan menuju ke luar angkasa. Alhasil, 
dinamika persaingan antar keduanya terhenti setelah Uni Soviet akhirnya pecah 
menjadi negara-negara bagian. Momentum itulah yang menjadi awal bagi negeri 
Paman Sam menjelma sebagai negara hegemoni.

Namun, menjadi sebuah negara hegemoni dengan jangka waktu yang cukup panjang 
ternyata cukup membuat AS merasa menjadi lonely superpower (negara adidaya yang 
kesepian). Hal inilah yang menyebabkan AS berupaya untuk terus mencari sebuah 
keseimbangan dalam tatanan dunia – salah satunya dengan mencari negara kuat 
layaknya Uni Soviet pada masa lalu.

Bertepatan dengan itu, muncul lah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai negara 
yang dianggap bisa menantang hegemoni AS di tatanan dunia. Kemajuan 
perekonomian Tiongkok ternyata menjadi salah satu faktor yang dianggap bisa 
mengancam hegemoni AS.

Melihat situasi ini, AS tidak tinggal diam sehingga terus melakukan konfrontasi 
dengan Tiongkok. Menyadari hal ini, maka Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Xie 
Feng menegaskan bahwa ada upaya dari negeri Paman Sam untuk menetapkan Tiongkok 
sebagai musuh imajiner. Tujuannya yakni agar AS bisa mencapai tujuan 
nasionalnya sebagai negara hegemoni.

Berbagai cara dilakukan oleh AS untuk membendung pengaruh negeri Tirai Bambu 
tersebut agar tidak berhasil menancapkan pengaruhnya kepada negara-negara lain. 
Sebagai negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), AS begitu kritis 
terhadap setiap adanya dugaan pelanggaran HAM terutama yang melibatkan Tiongkok.

Baca Juga: Jokowi, Tiongkok, dan Bayangan Nazi

 
Salah satu kasus yang dinilai cukup membuat Tiongkok terganggu adalah dugaan 
adanya kamp tahanan muslim Uighur di Xinjiang. Bahkan, Biden sudah membawa 
permasalahan tersebut ke forum internasional seperti G7 pada Juni 2021 lalu.

Kapitalisasi terhadap isu pelanggaran HAM terhadap etnis Muslim Uighur 
sebenarnya sudah pernah terjadi pada era pemerintahan Donald Trump. Saat itu, 
Menteri Luar Negeri AS yang menjabat, Mike Pompeo, meyakini adanya genosida 
terhadap etnis Muslim Uighur.

Pernyataan tersebut direspons dengan keras oleh otoritas Beijing dengan 
memberikan sanksi terhadap 28 pejabat pemerintahan AS. Mereka serta keluarganya 
tidak diizinkan untuk memasuki wilayah Tiongkok, Hong Kong, dan Makau.

Kondisi hubungan yang memanas antara Tiongkok dan AS ternyata masih berlanjut 
di era pemerintahan Biden. Berawal dari keinginan untuk memperbaiki hubungan 
dengan Tiongkok di awal masa jabatannya, ternyata janji tersebut tidak 
terealisasi.

Hingga saat ini, hubungan antara kedua negara masih memanas terlebih dengan 
adanya ajakan Biden kepada seluruh pemimpin di negara-negara G7 untuk menentang 
praktik kerja paksa terhadap minoritas Uighur di Xinjiang. Kondisi ini 
membuktikan bahwa relasi antar kedua negara tidak jauh berbeda jika 
dibandingkan dengan era pemerintahan Donald Trump terutama dalam hal memandang 
isu etnis minoritas Uighur.

Dengan isu Muslim Uighur yang semakin mencuat di tengah “perang” narasi 
AS-Tiongkok, bagaimana Indonesia menempatkan peran dan posisinya? Lantas, 
perlukah pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di Indonesia mengambil peran lebih?



Us vs Them ala Biden
Bukan sebuah rahasia jika Tiongkok menginginkan supaya isu pelanggaran HAM 
terhadap etnis Uighur di Xinjiang tidak semakin meluas. Pemerintah Tiongkok 
sudah pernah meminta kepada Turki untuk mendukung perlawanan Beijing terhadap 
gerilyawan yang bergerak di Xinjiang. Tantangannya pun semakin berat karena 
adanya eksistensi pasukan teroris ‘Turkistan Timur’ di wilayah tersebut.

Meski demikian, dukungan terhadap Tiongkok terkait maraknya isu pelanggaran HAM 
terhadap etnis Uighur datang dari negara besar di Timur Tengah yaitu Arab 
Saudi. Menurut putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Tiongkok memiliki 
wewenang untuk memberantas terorisme dan ekstremisme di wilayah Xinjiang. 
Sementara itu, Indonesia pun juga berupaya menginisiasi kerja sama pendidikan 
Islam dengan otoritas Xinjiang yang diperkirakan memiliki tujuan yang sama 
yakni memberantas ideologi radikalisme.

Baca Juga: Mahfud, Moeldoko, dan Isu Uighur


Upaya yang dilakukan Tiongkok untuk mencegah merebaknya isu pelanggaran HAM di 
Xinjiang tidak lepas dari tekanan dari negara-negara barat khususnya AS. 
Presiden Biden kembali membangunkan narasi yang pernah diucapkan pada saat awal 
menjabat yaitu Tiongkok sebagai negara yang mengancam keberlangsungan demokrasi.

Perspektif tersebut terus disuarakan dan isu etnis minoritas Uighur menjadi 
salah satu isu yang terus dieksploitasi oleh AS. Tujuannya jelas ingin 
membentuk sebuah opini terhadap Tiongkok. Ted Hopf dalam tulisannya yang 
berjudul The Promise of Constructivism in International Relations Theory 
menganalogikan sebuah fenomena – yaitu intervensi AS terhadap Vietnam – dengan 
menggunakan kekuatan militer menjadi sebuah legitimasi bahwa AS merupakan 
negara kuat.

Kondisi ini menghasilkan sebuah nilai dan norma yang membuat pihak lain 
mengakui identitas tersebut. Hal tersebut tentu tidak terjadi secara alami 
melainkan melibatkan peran aktor negara.

Demikian halnya dengan upaya AS yang terus mengeksploitasi isu Uighur di forum 
internasional. Pembentukan opini melalui konstruksi pemikiran dilakukan agar 
negara lain memandang bahwa pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Tiongkok 
merupakan ancaman bagi keberlangsungan demokrasi.

Hal ini tentu akan membentuk sebuah identitas bahwa negara otokrasi seperti 
Tiongkok bisa mengancam perdamaian dunia. Maka, wajar jika Tiongkok terus 
menerus membantah adanya pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur tujuannya untuk 
mencegah upaya konstruksi yang berpotensi merugikan negaranya.

Dengan dikotomi demokrasi lawan otokrasi ala Biden ini, posisi apa yang diambil 
Indonesia? Perlukah pemerintahan Jokowi mengambil kebijakan yang berbeda dengan 
konstruksi yang dibangun oleh pemerintahan Biden?



Jokowi Bantu Tiongkok atau Uighur?
Perhatian negara-negara Muslim di dunia terhadap isu Uighur dianggap tidak 
sebanding dengan isu aneksasi Israel terhadap Palestina. Sorotan terhadap 
minimnya perhatian negara-negara mayoritas muslim ini diungkapkan di salah satu 
wawancara antara DW (Deutsche Welle)dengan Direktur Institut Islam Global dari 
Universitas Frankfurt Prof. Dr. Susanne Schroter.

Intinya, negara-negara mayoritas muslim seperti Turki, Arab Saudi dan Iran 
cenderung diam memandang isu etnis muslim Uighur disebabkan adanya kepentingan 
ekonomi. Demikian juga dengan Indonesia yang sampai saat ini memiliki hubungan 
yang erat dengan Tiongkok khususnya di bidang ekonomi dan perdagangan.

Baca Juga: Muslim Uighur, Dilema Jokowi?

 
Menurut Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, investasi negeri 
Tirai Bambu itu terus meningkat sejak tahun 2016. Bahkan, dalam tiga tahun 
terakhir, Tiongkok menjadi negara terbesar kedua yang menanamkan modal di 
Indonesia.

Efek kerja sama ekonomi yang cukup menguntungkan ini cukup berpengaruh terhadap 
sikap Indonesia terhadap Tiongkok. Hal ini juga pernah diungkapkan oleh laporan 
berjudul Explaining Indonesia’s Silence on the Uyghur Issue dari Institute for 
Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang menyatakan bahwa sikap bungkam 
pemerintahan Jokowi terhadap pelanggaran HAM atas etnis minoritas Uighur 
disebabkan adanya ketergantungan terhadap modal dari Tiongkok.

Tidak hanya itu, dalam laporan tersebut juga dikemukakan bahwa sektor HAM bukan 
menjadi prioritas utama Indonesia dalam menjalin hubungan dengan Tiongkok. 
Namun, Indonesia dianggap memprioritaskan isu Laut China Selatan (LCS) serta 
proyek Belt and Road Initiative (BRI).

Jika melihat sejumlah alasan negara-negara mayoritas muslim cenderung bungkam 
karena faktor ekonomi, dapat disimpulkan bahwa upaya soft power Tiongkok cukup 
berhasil dalam hal ini. Joseph Nye dalam bukunya yang berjudul Soft Power: 
Means To Success in World Politics menegaskan bahwa soft power merupakan 
kemampuan untuk memengaruhi pihak lain tanpa adanya upaya paksaan.

Sementara, soft power yang dimiliki negara bisa berasal dari berbagai sumber 
seperti kebijakan, budaya, dan nilai-nilai politik. Dalam hal ini, Tiongkok 
berhasil menggunakan kekuatan ekonomi negaranya untuk mempengaruhi 
negara-negara lain untuk melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan – seperti 
halnya Indonesia yang beberapa waktu lalu menginisiasi program pendidikan Islam 
kepada otoritas Xinjiang.

Akibat soft power negara Tirai Bambuini, posisi pemerintahan Jokowi terhadap 
isu Uighur alhasil dinilai masih abu-abu. Pasalnya, terlepas dari berbagai 
kerja sama Indonesia-Tiongkok, Jokowi juga harus me-manage aspirasi domestik 
yang menganggap bahwa pemerintahan Xi Jinping telah menciptakan ketidakadilan 
di Xinjiang.

Situasi dilematis juga mulai menghantui pemerintah Indonesia. Kembalinya 
kebijakan luar negeri AS yang aktif membuat isu Uighur menjadi salah satu cara 
memilih antara kubu “demokrasi” dan “otokrasi”. Di sisi lain, pemerintahan 
Jokowi membutuhkan bantuan AS untuk menjaga stabilitas Asia Tenggara di tengah 
panasnya LCS.

Alhasil, posisi Jokowi semakin terdesak karena harus memilih “demokrasi” atau 
“otokrasi” dalam konstruksi dunia yang baru – di mana masing-masing pilihan 
memiliki konsekuensi tertentu. Bila pemerintahan Jokowi ingin didengarkan oleh 
Biden, mungkin mengkritik apa yang terjadi di Xinjiang merupakan langkah awal 
yang baik. Bukan begitu? (G69)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FFDF23BF3AB84261AD1D475B3018CE3E%40A10Live.

Reply via email to