https://news.detik.com/kolom/d-5677516/ketika-nasionalisme-tak-seindah-dulu-lagi?tag_from=wp_cb_kolom_list
Sentilan IAD
Ketika Nasionalisme Tak Seindah Dulu Lagi
Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 10 Agu 2021 19:05 WIB
5 komentar
SHARE
URL telah disalin
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -
"Monggo Bapak dan Ibu pasang bendera merah putih untuk menyambut hari
kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-76 tahun."
Begitu bunyi pesan di grup Whatsapp dari Mas Sulis, Pak RT kami. Sebenarnya
saya mau mengoreksi kalimatnya, sebab 17 Agustus 2021 nanti bukan hari
kemerdekaan, melainkan peringatan hari kemerdekaan. Saya juga gatal ingin
menghapus kata "tahun" di akhir kalimat itu, lalu menutupnya dengan pertanyaan,
"Maaf Mas Sulis, ini sebenarnya kemerdekaan bangsa Indonesia, atau kemerdekaan
nasion Indonesia? Apa itu bangsa?"
Tetapi saya tahu pertanyaan ruwet seperti itu akan menciptakan masalah baru di
sela-sela suasana kampung yang tegang akibat empat warga meninggal karena
Covid. Maka, saya pun memilih diam saja, dan segera bertanya kepada istri saya
di mana dia menyimpan bendera.
"Waduh, kita tuh nggak punya bendera e, Paaak!" jawab istri saya dari kamar
sebelah.
"Lhadalah. Kok bisa?" Saya menyahut seperti itu buat pantes-pantes saja,
pura-pura agak kaget. Pura-pura saja kagetnya, sebab saya sadar bahwa memang
sudah bertahun-tahun kami tidak pernah memasang bendera merah putih, tidak
punya simbol-simbol apa pun yang melambangkan keindonesiaan di rumah kami, tak
ada gambar Garuda Pancasila, apalagi foto presiden dan wakilnya.
Dari situ, saya jadi ingat peristiwa beberapa hari sebelumnya saat menemani
anak saya belajar PPKn. Saya mengomel agak panjang karena anak saya yang naik
kelas enam itu ternyata belum paham bagaimana sejarah kekalahan Jepang dalam
Perang Dunia II, dan bagaimana semua itu mengantarkan jalan cerita menuju
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Keterlaluan sekali, kan? Kelas enam lho ya!
Maka, sebagai manusia biasa sekaligus orangtua murid pada umumnya, langkah
logis pertama yang saya lakukan adalah diam-diam menyalahkan gurunya. Sialnya,
menyalahkan para guru pada masa sekolah daring begini sama sekali bukan
tindakan etis mengingat segenap keterbatasan teknis, bukan pula langkah yang
taktis secara politis. Jadilah, saya lebih memilih mewajibkan anak saya itu
untuk segera menonton video Youtube tentang sejarah kemerdekaan kita.
Dan, betapa sebalnya saya melihat ekspresi anak itu yang tampak sangat tidak
berminat untuk menjalankan amanat kebangsaan dari bapaknya, bahkan tugas
tersebut tidak juga ia jalankan hingga tiga hari setelahnya. Ingin saya
mengomel lagi, sampai kemudian saya sadar bahwa bapak-ibunya sendiri memang
tidak pernah mengajarkan apa itu makna mencintai negeri.
Tentu bukan karena alasan ideologis apa-apa ketika kami tidak mengajarkan itu
semua di ruang-ruang keluarga. Termasuk ketika kami tidak memiliki bendera dan
lambang Garuda, semua itu sekadar karena malas saja, karena tidak menganggap
benda-benda itu perangkat primer yang wajib ada.
Dan, saya kok tidak yakin bahwa Anda-Anda yang segenerasi dengan saya, apalagi
yang jauh lebih muda, masih sangat peduli dengan yang begitu-begitu. Kalau toh
Anda punya bendera, paling-paling alasannya teknis-administratif belaka, yaitu
karena instruksi Pak RT atau kepala desa. Iya, kan? Sudahlah, kita mengaku saja
sama-sama.
Mungkin para bapak bangsa akan menangis melihat kita. Tetapi kita akan bisa
menjelaskannya.
Kemarin sore, dari sebuah tautan Youtube, saya menonton salah satu bapak bangsa
itu. Bung Karno. Dia sedang berpidato dalam bahasa Inggris di sebuah forum
entah apa, dan beberapa kali menekankan tentang betapa beratnya Indonesia
dijajah 350 tahun lamanya.
Saat menonton itu, bukan semacam api nasionalisme yang menyala-nyala yang
menyembul dalam dada saya. Jujur saja, tidak. Yang muncul dalam ingatan saya
malah sampul buku karya sejarawan G.J. Resink dalam edisi bahasa Indonesia,
dengan judul berhuruf besar-besar: Bukan 350 Tahun Dijajah.
Aduh. Kenapa begini? Dulu kala, ketika saya masih SD di masa Orba, pidato
semacam itu mungkin akan membuat saya tak sabar menunggu Senin pagi, ketika
kami harus melaksanakan upacara bendera. Tetapi sekarang betapa mudahnya kita
mendapatkan akses atas banyak sekali informasi baru. Hasilnya, di satu sisi
mungkin kita jadi lebih kritis dan cerdas, tapi di sisi lain
imajinasi-imajinasi heroisme kepahlawanan luntur pelan-pelan.
Kita saat ini dengan mudah memahami bahwa pernyataan Sukarno itu keliru secara
fakta sejarah. Indonesia tidak dijajah Belanda selama 350 tahun. Bahwa VOC
berbisnis dan menjalankan praktik-praktik kolonialisme di Nusantara sejak abad
ke-17, itu dapat diakui. Tetapi ada banyak wilayah di Nusantara yang tidak
dikuasai Belanda selama itu, apalagi Belanda sebagai sebuah negara. Bahkan
Kerajaan Aceh saja baru takluk pada awal abad ke-20, tidak sampai setengah abad
sebelum Indonesia merdeka.
Narasi penjajahan 350 tahun itu konon awalnya merupakan dongeng glorifikasi
dari kolonial sendiri, namun belakangan justru digunakan oleh para bapak bangsa
sebagai narasi pembangkit nasionalisme. "Seluruh Nusantara dijajah selama
ratusan tahun! Ayo bersatu! Tetap merdeka!" ibaratnya begitu, dan jiwa
kebangsaan pun terbentuk dengan instan dan meledak-ledak.
Maka, ketika sekarang ini atas nama "kebenaran-ilmiah-historis" kita membuka
fakta-fakta baru yang bertentangan dengan narasi itu, ya jangan heran kalau
ledakan nasionalisme itu tak sehebat dulu.
Itu baru satu contoh kasus terkait fakta durasi penjajahan. Belum lagi tentang
narasi-narasi kepahlawanan. Tentang kepahlawanan Sultan Hasanuddin yang
"dinetralkan" dengan kisah kekejaman perbudakan atas rakyat Bone yang
dijalankannya, misalnya. Juga tentang Arung Palakka yang tadinya digambarkan
sebagai pengkhianat bangsa karena bekerja sama dengan VOC saat menyerang
Hasanuddin, tapi kemudian kacamata sejarah kritis membersihkan namanya, sebab
ia semata-mata membela rakyatnya.
Atau tentang tentang Tuanku Imam Bonjol yang dibongkar bahwa ternyata ia
membawa paham keagamaan tekstualis lalu menghabisi penganut tradisi lokal dan
itu semua merusak citra kepahlawanannya. Juga tentang Sultan Agung yang
melakukan "pelanggaran HAM" karena membantai bawahannya yang kalah perang
berikut keluarganya sampai bayi-bayinya, meskipun tentu saja di zamannya belum
dikenal apa itu HAM. Dan sebagainya dan sebagainya, masih ada puluhan contoh
kritik sejarah lainnya.
Jadi, lanskap pengetahuan yang melatarbelakangi penyemaian nasionalisme itu
memang sudah sangat berbeda. Dulu kala, satu-satunya sumber wacana sejarah kita
adalah buku-buku pelajaran yang memosisikan sejarah sebagai pembangkit semangat
kebangsaan. Tapi sekarang, ketika keran informasi berpayung demokrasi dibuka
selebar-lebarnya, ketika arus wacana tidak lagi tunggal dan top down dari
Departemen Pendidikan dan Departemen Penerangan atau Pusat Sejarah TNI, versi
sejarah yang dapat kita baca bukan lagi segala cerita yang serba luar biasa.
Nah, dalam situasi seperti ini, bagaimana bisa Anda membayangkan anak-anak kita
yang sudah pada terampil nonton Youtube akan punya standar nasionalisme yang
sama dengan seorang anak sekolah di era Pangkopkamtib Sudomo?
Saya tahu, situasi ini mungkin mengancam eksistensi entitas politik bernama
negara. Dari situ bisa terbuka celah masuk ideologi yang merusak kemaslahatan
bersama, semacam khilafah-khilafahan itu dan sebagainya. Repotnya, mengharapkan
tumbuhnya imajinasi kolektif berupa nasionalisme seperti dulu kala di saat
mitos-mitos pembangun imajinasi itu tak lagi bisa terbentuk sempurna, tentu
akan menjadi harapan yang naif belaka, bahkan sia-sia.
Lebih-lebih, semua perubahan lanskap itu didukung oleh pesatnya laju teknologi
informasi. Siapa memangnya yang mampu membendung teknologi? Apakah seruan kepak
sayap kebhinnekaan di baliho-baliho itu bisa mengatasinya? Saya kok tidak
begitu percaya.
Ah, entahlah. Mending saya memastikan saja bahwa anak saya sudah menjalankan
tugasnya menonton Youtube sejarah kemerdekaan Indonesia. Dan besok pagi saya
mau membeli bendera. Sampean mau nitip juga?
Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul
(mmu/mmu)
nasionalisme
kemerdekaan indonesia
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210810182603.da5bd1c3d171c854989bec4d%40upcmail.nl.