*Nasionalisme adalah untuk mereka yang bermuda di pusat panggung kekuasaan dan sekitarnya.*
On Tue, Aug 10, 2021 at 6:26 PM 'j.gedearka' via GELORA45 < [email protected]> wrote: > > > > > https://news.detik.com/kolom/d-5677516/ketika-nasionalisme-tak-seindah-dulu-lagi?tag_from=wp_cb_kolom_list > > > > > > Sentilan IAD > > Ketika Nasionalisme Tak Seindah Dulu Lagi > > Iqbal Aji Daryono - detikNews > Selasa, 10 Agu 2021 19:05 WIB > 5 komentar > SHARE > URL telah disalin > iqbal aji daryono > Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa) > Jakarta - > > "Monggo Bapak dan Ibu pasang bendera merah putih untuk menyambut hari > kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-76 tahun." > > Begitu bunyi pesan di grup Whatsapp dari Mas Sulis, Pak RT kami. > Sebenarnya saya mau mengoreksi kalimatnya, sebab 17 Agustus 2021 nanti > bukan hari kemerdekaan, melainkan peringatan hari kemerdekaan. Saya juga > gatal ingin menghapus kata "tahun" di akhir kalimat itu, lalu menutupnya > dengan pertanyaan, "Maaf Mas Sulis, ini sebenarnya kemerdekaan bangsa > Indonesia, atau kemerdekaan nasion Indonesia? Apa itu bangsa?" > > Tetapi saya tahu pertanyaan ruwet seperti itu akan menciptakan masalah > baru di sela-sela suasana kampung yang tegang akibat empat warga meninggal > karena Covid. Maka, saya pun memilih diam saja, dan segera bertanya kepada > istri saya di mana dia menyimpan bendera. > > "Waduh, kita tuh nggak punya bendera e, Paaak!" jawab istri saya dari > kamar sebelah. > > "Lhadalah. Kok bisa?" Saya menyahut seperti itu buat pantes-pantes saja, > pura-pura agak kaget. Pura-pura saja kagetnya, sebab saya sadar bahwa > memang sudah bertahun-tahun kami tidak pernah memasang bendera merah putih, > tidak punya simbol-simbol apa pun yang melambangkan keindonesiaan di rumah > kami, tak ada gambar Garuda Pancasila, apalagi foto presiden dan wakilnya. > > Dari situ, saya jadi ingat peristiwa beberapa hari sebelumnya saat > menemani anak saya belajar PPKn. Saya mengomel agak panjang karena anak > saya yang naik kelas enam itu ternyata belum paham bagaimana sejarah > kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, dan bagaimana semua itu > mengantarkan jalan cerita menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. > Keterlaluan sekali, kan? Kelas enam lho ya! > > Maka, sebagai manusia biasa sekaligus orangtua murid pada umumnya, langkah > logis pertama yang saya lakukan adalah diam-diam menyalahkan gurunya. > Sialnya, menyalahkan para guru pada masa sekolah daring begini sama sekali > bukan tindakan etis mengingat segenap keterbatasan teknis, bukan pula > langkah yang taktis secara politis. Jadilah, saya lebih memilih mewajibkan > anak saya itu untuk segera menonton video Youtube tentang sejarah > kemerdekaan kita. > > Dan, betapa sebalnya saya melihat ekspresi anak itu yang tampak sangat > tidak berminat untuk menjalankan amanat kebangsaan dari bapaknya, bahkan > tugas tersebut tidak juga ia jalankan hingga tiga hari setelahnya. Ingin > saya mengomel lagi, sampai kemudian saya sadar bahwa bapak-ibunya sendiri > memang tidak pernah mengajarkan apa itu makna mencintai negeri. > > Tentu bukan karena alasan ideologis apa-apa ketika kami tidak mengajarkan > itu semua di ruang-ruang keluarga. Termasuk ketika kami tidak memiliki > bendera dan lambang Garuda, semua itu sekadar karena malas saja, karena > tidak menganggap benda-benda itu perangkat primer yang wajib ada. > > Dan, saya kok tidak yakin bahwa Anda-Anda yang segenerasi dengan saya, > apalagi yang jauh lebih muda, masih sangat peduli dengan yang > begitu-begitu. Kalau toh Anda punya bendera, paling-paling alasannya > teknis-administratif belaka, yaitu karena instruksi Pak RT atau kepala > desa. Iya, kan? Sudahlah, kita mengaku saja sama-sama. > > Mungkin para bapak bangsa akan menangis melihat kita. Tetapi kita akan > bisa menjelaskannya. > > Kemarin sore, dari sebuah tautan Youtube, saya menonton salah satu bapak > bangsa itu. Bung Karno. Dia sedang berpidato dalam bahasa Inggris di sebuah > forum entah apa, dan beberapa kali menekankan tentang betapa beratnya > Indonesia dijajah 350 tahun lamanya. > > Saat menonton itu, bukan semacam api nasionalisme yang menyala-nyala yang > menyembul dalam dada saya. Jujur saja, tidak. Yang muncul dalam ingatan > saya malah sampul buku karya sejarawan G.J. Resink dalam edisi bahasa > Indonesia, dengan judul berhuruf besar-besar: Bukan 350 Tahun Dijajah. > > Aduh. Kenapa begini? Dulu kala, ketika saya masih SD di masa Orba, pidato > semacam itu mungkin akan membuat saya tak sabar menunggu Senin pagi, ketika > kami harus melaksanakan upacara bendera. Tetapi sekarang betapa mudahnya > kita mendapatkan akses atas banyak sekali informasi baru. Hasilnya, di satu > sisi mungkin kita jadi lebih kritis dan cerdas, tapi di sisi lain > imajinasi-imajinasi heroisme kepahlawanan luntur pelan-pelan. > > Kita saat ini dengan mudah memahami bahwa pernyataan Sukarno itu keliru > secara fakta sejarah. Indonesia tidak dijajah Belanda selama 350 tahun. > Bahwa VOC berbisnis dan menjalankan praktik-praktik kolonialisme di > Nusantara sejak abad ke-17, itu dapat diakui. Tetapi ada banyak wilayah di > Nusantara yang tidak dikuasai Belanda selama itu, apalagi Belanda sebagai > sebuah negara. Bahkan Kerajaan Aceh saja baru takluk pada awal abad ke-20, > tidak sampai setengah abad sebelum Indonesia merdeka. > > Narasi penjajahan 350 tahun itu konon awalnya merupakan dongeng > glorifikasi dari kolonial sendiri, namun belakangan justru digunakan oleh > para bapak bangsa sebagai narasi pembangkit nasionalisme. "Seluruh > Nusantara dijajah selama ratusan tahun! Ayo bersatu! Tetap merdeka!" > ibaratnya begitu, dan jiwa kebangsaan pun terbentuk dengan instan dan > meledak-ledak. > > Maka, ketika sekarang ini atas nama "kebenaran-ilmiah-historis" kita > membuka fakta-fakta baru yang bertentangan dengan narasi itu, ya jangan > heran kalau ledakan nasionalisme itu tak sehebat dulu. > > Itu baru satu contoh kasus terkait fakta durasi penjajahan. Belum lagi > tentang narasi-narasi kepahlawanan. Tentang kepahlawanan Sultan Hasanuddin > yang "dinetralkan" dengan kisah kekejaman perbudakan atas rakyat Bone yang > dijalankannya, misalnya. Juga tentang Arung Palakka yang tadinya > digambarkan sebagai pengkhianat bangsa karena bekerja sama dengan VOC saat > menyerang Hasanuddin, tapi kemudian kacamata sejarah kritis membersihkan > namanya, sebab ia semata-mata membela rakyatnya. > > Atau tentang tentang Tuanku Imam Bonjol yang dibongkar bahwa ternyata ia > membawa paham keagamaan tekstualis lalu menghabisi penganut tradisi lokal > dan itu semua merusak citra kepahlawanannya. Juga tentang Sultan Agung yang > melakukan "pelanggaran HAM" karena membantai bawahannya yang kalah perang > berikut keluarganya sampai bayi-bayinya, meskipun tentu saja di zamannya > belum dikenal apa itu HAM. Dan sebagainya dan sebagainya, masih ada puluhan > contoh kritik sejarah lainnya. > > Jadi, lanskap pengetahuan yang melatarbelakangi penyemaian nasionalisme > itu memang sudah sangat berbeda. Dulu kala, satu-satunya sumber wacana > sejarah kita adalah buku-buku pelajaran yang memosisikan sejarah sebagai > pembangkit semangat kebangsaan. Tapi sekarang, ketika keran informasi > berpayung demokrasi dibuka selebar-lebarnya, ketika arus wacana tidak lagi > tunggal dan top down dari Departemen Pendidikan dan Departemen Penerangan > atau Pusat Sejarah TNI, versi sejarah yang dapat kita baca bukan lagi > segala cerita yang serba luar biasa. > > Nah, dalam situasi seperti ini, bagaimana bisa Anda membayangkan anak-anak > kita yang sudah pada terampil nonton Youtube akan punya standar > nasionalisme yang sama dengan seorang anak sekolah di era Pangkopkamtib > Sudomo? > > Saya tahu, situasi ini mungkin mengancam eksistensi entitas politik > bernama negara. Dari situ bisa terbuka celah masuk ideologi yang merusak > kemaslahatan bersama, semacam khilafah-khilafahan itu dan sebagainya. > Repotnya, mengharapkan tumbuhnya imajinasi kolektif berupa nasionalisme > seperti dulu kala di saat mitos-mitos pembangun imajinasi itu tak lagi bisa > terbentuk sempurna, tentu akan menjadi harapan yang naif belaka, bahkan > sia-sia. > > Lebih-lebih, semua perubahan lanskap itu didukung oleh pesatnya laju > teknologi informasi. Siapa memangnya yang mampu membendung teknologi? > Apakah seruan kepak sayap kebhinnekaan di baliho-baliho itu bisa > mengatasinya? Saya kok tidak begitu percaya. > > Ah, entahlah. Mending saya memastikan saja bahwa anak saya sudah > menjalankan tugasnya menonton Youtube sejarah kemerdekaan Indonesia. Dan > besok pagi saya mau membeli bendera. Sampean mau nitip juga? > > Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul > > (mmu/mmu) > nasionalisme > kemerdekaan indonesia > > > > > > > -- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari > Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210810182603.da5bd1c3d171c854989bec4d%40upcmail.nl > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CAnZWvL0gEyU%3DBtA9dzo_cuBJi3qrUaOhmwC-SJ12VUg%40mail.gmail.com.
