https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2222-kenapa-bukan-presiden




Selasa 10 Agustus 2021, 05:00 WIB 

Kenapa bukan Presiden? 

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group | Editorial

  Kenapa bukan Presiden? MI/Ebet Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group. 
SADIS dan kurang ajar kiranya itulah korona. Sadis karena dia, tanpa banyak 
cingcong, tak lama kemudian mencabut nyawa orang yang terpapar. Tidak banyak 
cingcong, yakni dalam makna yang terinfeksi dibikinnya bahkan bisa menderita 
tanpa gejala. Dia juga kurang ajar terhadap presiden. Bayangkan presiden 
dipaksanya untuk mengambil keputusan kepublikan yang umurnya hanya enam hari. 
Di hari keenam itu, pada pukul 7 malam, orang mulai menanti keputusan 
kepublikan yang separuh mengandung rasa ingin tahu, separuh lagi mengandung 
kecemasan. Itulah yang juga terjadi tadi malam. 'Menanti keputusan Jokowi soal 
PPKM level 4' disuarakan sebuah media online 10 jam sebelum pukul 7 malam itu. 
'Nasib PPKM level 4 diputuskan malam ini', dilansir 29 menit sebelum pukul 7 
malam. Namun, perkiraan meleset karena pukul 7 tadi malam ditengarai rapat 
kabinet baru selesai. Terjadi perubahan. Yang mengumumkan keputusan bukan pula 
Presiden Jokowi, melainkan tiga menteri Luhut B Pandjaitan, Airlangga Hartarto, 
dan Budi Gunadi Sadikin. Menteri yang pertama komandan Jawa-Bali, yang kedua 
komandan luar Jawa-Bali, yang ketiga menteri kesehatan. Pemerintah kembali 
memperpanjang kebijakan PPKM level 4. Berita gembira, 26 kota/kabupaten turun 
dari level 4 ke level 3. Berita seksi, mal di Jakarta, Bandung, Semarang, dan 
Surabaya dibuka, tapi hanya 25% kapasitas. Hanya yang sudah divaksin yang boleh 
ke mal dan mematuhi dengan ketat protokol kesehatan. Umur di bawah 12 tahun dan 
70 tahun ke atas dilarang ke mal. Saya 68, sudah divaksin, boleh ngopi-ngopi 
cantik di mal. Akan tetapi, saya batalkan niat itu karena tidak boleh bawa 
cucu. Mereka 'belum cukup umur'. Selebihnya ialah kembali penekanan disiplin 
menjalankan protokol kesehatan. Sebuah perkara besar karena sejujurnya 
kebanyakan dari kita baru belajar berdisiplin dipaksa korona yang sadis dan 
kurang ajar itu. Umur pembelajaran itu baru 15 bulan, dimulai awal Maret 2020, 
sejak kasus covid-19 pertama ditemukan di negeri ini. Padahal, inilah belajar 
'seumur hidup', tak hanya sepanjang umur pandemi korona. Bila di masa depan 
yang tidak terduga terjadi malapetaka pandemi, kita sebagai bangsa tidak lagi 
kembali ke titik nol yang harus lagi belajar pentingnya mencuci tangan pakai 
sabun dengan air mengalir. Disiplin ialah sikap. Kiranya perlu dicanangkan 
bahwa di masa pandemi ini, sikap ialah segalanya. Attitude is everything. Yang 
rada aneh dari penjelasan pemerintah semalam ialah perihal kematian. Jenderal 
Luhut membahasakannya mengeluarkan indikator kematian karena menimbulkan 
distorsi dalam penilaian. Angka kematian kiranya ukuran paling valid tentang 
keberhasilan sebuah kebijakan kepublikan menghadapi pandemi. Timbulnya distorsi 
penilaian disebabkan data 'kemarin' mengenai kematian kiranya cukuplah kali ini 
menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengeluarkan indikator kematian. Tingkat 
kematian di dunia terdata pada 9 Agustus 2021, pukul 14.18 GMT, ialah 2,12%. 
Tingkat kematian di Britania Raya (UK), negara penganut kebijakan lockdown, 
ialah 2,15%. Dia berada di sekitar angka kedukaan dunia. Namun, di Swedia, 
penganut tercapainya kekebalan komunal secara alami, tingkat kematiannya 1,32%, 
jauh di bawah tingkat kematian di dunia. Pada hari dan jam yang sama 
Worldometers mencatat tingkat kematian Indonesia 2,94%. Bukan hal yang 
menggembirakan karena di atas tingkat kematian di dunia, tetapi juga bukan 
kenyataan yang buruk bagi suatu negara yang mengambil kebijakan di 
tengah-tengah, di antara Swedia dan Britania Raya, yang serentak melaksanakan 
kebijakan prokesehatan publik dan prokesehatan ekonomi. Bandingkanlah dengan 
Meksiko; kendati jumlah kasus lebih rendah, tingkat kematian 8,22%, hampir 
empat kali tingkat kematian dunia. Pertimbangan manusia ialah pertimbangan yang 
mudah terkena dua perkara, yaitu bias dan noise. Prasangka dan gaduh. Itu kata 
ahli. Tidak mudah bagi pemerintah untuk menarik keputusan mereka. Juga tidak 
mudah untuk mengumumkan keputusan yang kemajuannya terbatas. Kendati sebuah 
keputusan diambil setelah melalui pengkajian kepublikan 360 derajat, keputusan 
itu kiranya tetap mudah kena kegaduhan. Suatu hari di masa pandemi, Presiden 
Meksiko Manuel Lopez Obrador dikritik. Di dalam kunjungan kerjanya dia tetap 
cipika cipiki, seakan tiada pandemi di negerinya. Sikap ialah segalanya tak 
ditunjukkan sang presiden. Dia patut menuai kegaduhan. Sebaliknya, kita di 
sini. Prokes tak lekang dari Presiden Jokowi. Orang menunggu dia sendiri 
berbaju batik mengumumkan keadaan bertambah baik ataupun bertambah buruk akibat 
ulah kita yang tidak berdisiplin dan ulah korona yang sadis dan kurang ajar. 
Namun, kenapa bukan Presiden yang tampil semalam?

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2222-kenapa-bukan-presiden





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210810183832.8f70576fbd8e526d423e22d5%40upcmail.nl.

Reply via email to