Hari Menyerah Ke-76, Apakah Politikus Jepang Sungguh Mawas Diri?
2021-08-15 13:43:54  
http://indonesian.cri.cn/20210815/847ce6e0-de7f-6f69-9873-5c5d966279d2.html

Tanggal 15 Agustus adalah hari peringatan Jepang menyerah pada tentara sekutu 
pada Perang Dunia II. Jepang melakukan kejahatan yang tak terhitungkan dalam 
Perang Dunia II, namun 76 tahun kemudian, apakah para politikus Jepang 
sungguh-sungguh melakukan introspeksi?

Pada 13 Agustus lalu, Menteri Kebijakan Ekonomi dan Fiskal Jepang Yasutoshi 
Nishimura dan Menteri Pertahanan Jepang Kishi Nobuo secara terpisah berziarah 
ke Kuil Yasukuni di mana 14 penjahat Perang Dunia II kelas A disembahyang. Ini 
merupakan pertama kali menteri kabinet Jepang dalam masa jabatannya berziarah 
ke Kuil Yasukuni.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok 
Wu Qian menyatakan, Tiongkok menyatakan ketidakpuasan yang keras dan tentangan 
tegas seputar prilaku Jepang tersebut, dan telah melayangkan teguran keras 
kepada pihak Jepang.

Wu Qian menunjukkan bahwa Kuil Yasukuni adalah alat spiritual dan lambang 
militerisme Jepang yang meluncurkan perang agresi terhadap negara lain. Menteri 
pertahanan Jepang berziarah ke Kuil Yasukuni sekali lagi mencerminkan sikap 
salah Jepang terhadap sejarah agresinya dan niat jahatnya yang hendak menantang 
tata tertib internasional pasca perang.

Meskipun penjahat-penjahat perang telah menjalani hukuman, namun roh-roh jahat 
mereka tetap berkeliaran pada masa kini yang sudah memasuki abad ke-21.

Niat jahat politikus sayap kanan Jepang juga bisa ditemukan dari buku sejarah 
yang memutarbalikkan sejarah dan hendak menggunakan militerisme meracuni 
generasi muda. Beberapa bulan lalu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, 
Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang (MEXT) mengumumkan hasil verifikasi buku 
pelajaran SMA, di mana bahan pelajaran tersebut dengan sekuat tenaga 
mempercantik sejarah agresi, dan menyebut agresi Jepang membawa “peradaban” dan 
“kemakmuran” kepada Asia.

Tidak hanya menanamkan ide yang sama sekali memputarbalikkan fakta, segelintir 
politikus Jepang bahkan mengkritik media Jepang sendiri untuk menyangkal 
kejahatan perang.

Peliputan yang dipublikasikan Asahi Shimbun pada bulan Mei lalu seputar 
Fenomena Jepang yang Merekrut wanita penghibur secara paksa dalam Perang Dunia 
II dikritik oleh Sekretaris Kabinet Jepang Katsunobu Kato.

Menurut Katsunobu Kato, laporan ini berlawanan dengan fakta, bahkan menyebut 
“laporan ini akan menimbul masalah jika disebarluaskan di masyarakat 
internasional”.

Satu bulan kemudian, di depan Dewan HAM PBB, wakil Jepang secara terbuka 
menyebut “apa yang disebut perekrutan wanita penghibur dalam Perang Dunia II 
adalah cerita yang dibuat-buat”.

Serangkaian prilaku Jepang yang memutarbalikkan sejarah tersebut telah dibantah 
keras oleh masyarakat internasional. Seperti apa yang ditunjukkan wakil 
Tiongkok, pasukan Jepang yang dengan cara memaksa dan menipu merekrut wanita 
penghibur sejumlah 700 ribu lebih orang, adalah fakta yang tak bisa disangkal 
oleh Jepang.



Politikus seperti Katsunobu Kato yang memandang laporan media Jepang tentang 
wanita penghibur sebagai “pembuatan cerita”, dan ketakutannya akan bukti 
kejahatan yang disebarluaskan ke masyarakat internasional bukankah fakta yang 
menunjukkan rasa bersalah mereka? Kapan saja politikus seperti Katsunobu Kato 
bisa belajar  sikap Jerman yang memawas diri pasca perang dan menghadapi masa 
lampau dengan jujur?

Apa yang lebih patut diwaspadai adalah sebagian orang Jepang belakangan ini 
sudah tidak puas dengan pemutarbalikan isu-isu sejarah. Dalam urusan 
internasional dan masalah regional, mereka bahkan menerobos  garis merah  dan 
secara terbuka mencampuri urusan Taiwan.

Pada April tahun 2021, dalam Pernyataan Bersama yang dikeluarkan setelah 
Pembicaraan Pemimpin AS-Jepang, mereka menyebut “pentingnya perdamaian dan 
kestabilan Selat Taiwan”, ini adalah pertama kalinya pemimpin AS dan Jepang 
menyebut Taiwan dalam pernyataan bersama dalam watu 52 tahun lalu.

“Buku Putih Pertahanan” Jepang edisi tahun 2021 yang diterbitkan pada bulan 
Juli lalu pertama kalinya menyebutkan bahwa “situasi di Taiwan sangat penting 
bagi keamanan Jepang dan stabilitas internasional”.

Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi yang “berziarah kepada penjahat Perang 
Dunia II” bahkan berulang kali mengeluarkan pernyataan terkait Taiwan yang 
keliru. Dalam rangka berkoordinasi dengan “strategi Indo-Pasifik” AS, Jepang 
menghasut Australia menjadi pengawalnya, dan menyerang Tiongkok pada isu-isu 
regional.



Menghadapi tindakan dan pernyataan politikus Jepang terkait masalah Taiwan, 
juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian sudah dengan jelas 
mengatakan bahwa masalah Taiwan berkaitan dengan dasar politik hubungan 
Tiongkok-Jepang, pihak Jepang berwajib untuk mematuhi prinsip dokumen politik 
bilateral dengan Tiongkok, membuat janji serius kepada Tiongkok tentang masalah 
Taiwan, serta segera berhenti menyampaikan sinyal yang salah kepada kekuatan 
“kemerdekaan Taiwan”.

Politikus tersebut harus tahu bahwa seiring dengan menyerahnya Jepang tanpa 
syarat pada 76 tahun yang lalu, Taiwan dan pulau-pulau afiliasinya sudah 
dikembalikan ke Tiongkok, maka masalah Taiwan sama sekali adalah urusan dalam 
negeri Tiongkok. Setelah 76 tahun, beberapa orang Jepang ingin menggunakan isu 
Taiwan untuk menarik perhatian masyarakat internasional, ide ini sangat 
berbahaya.

Berpegang pada sumpah pascaperang “senantiasa tidak berperang” dan prinsip 
“fokus pada pembelaan diri” serta berhenti mencampuri situasi regional 
merupakan pilihan yang tepat bagi Jepang pada saat ini. Berhenti mempercantik 
penjahat perang dan memutarbalikkan sejarah, memberikan kontribusi demi 
perdamaian kawasan ini bahkan seluruh dunia , ini baru adalah mawas diri yang 
sejati.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/251A1F581227436AB9661051AA39A7F0%40A10Live.

Reply via email to