Membaca Tibet Mulai dari Yako
2021-08-17 15:51:12  
http://indonesian.cri.cn/20210817/f2c131cd-4edf-a81b-cc14-5316a77d55ce.htmlBinantang
 mana di dunia yang tidak saja mendatangkan bantuan material kepada produksi 
dan kehidupan manusia, juga mendatangkan kekuatan spiritual bahkan menjadi 
semacam kebudayaan dan peradaban? Itu tak lain yako dari Tibet.





Pada saat merayakan genap 70 tahun pembebasan damai Tibet, wartawan sempat 
berkunjung ke Museum Yako Tibet di Lhasa.

Fosil tengkorak yako yang ditemukan di Kabupaten Maqu Provinsi Gansu bersejarah 
sekurang-kurangnya 45,000 tahun.





Komentator museum tersebut mengatakan, meseum itu bukan saja museum binatang 
juga museum antropologi dengan yako sebagai pembawanya. Yako berhubungan erat 
dengan evoluasi manusia dan pembentukan Etnis Tibet. Oleh karena itu, museum 
tersebut tidak saja memperkenalkan pengetahuan tentang yako, juga 
menyebar-luaskan kebudayaan Etnis Tibet yang berhubungan dengan yako.

Yako primitive sudah hidup di bumi pada 3 juta tahun yang lalu. Yako tidak saja 
menahan suhu dingin, beradaptasi dengan daerah yang tinggi 3 ribu hingga 6 ribu 
meter di atas permukaan laut, dan sifatnya jinak. Pada 3500 hingga 4500 tahun 
yang lalu, orang Tibet berhasil menjinakkan Yako dan yako menjadi salahsatu 
ternakan yang paling awal dijinakkan. Melalui upaya ribuan tahun, lama-kelamaan 
terbentuk usaha penernakan yako modern.





Yako liar bulu emas yang tersebar di daerah tak bertuan di Ali dan Naqu Tibet 
kini tidak sampai 200 ekor jumlahnya dan merupakan hewan pelindung kelas satu 
nasional.

Etnis Tibet berhasil menjinakkan yako, sedangkan yako juga telah mengasuh Etnis 
Tibet. Daging, susu dan lemak yako merupakan makanan utama Etnis Tibet. Kulit 
dan bulunya juga merupakan bahan yang tak terkurangkan dalam barang kehidupan 
sehari-hari Etnis Tibet. Bahkan kotorannya juga bisa menjadi bahan bakar. 
Selain itu, di daerah pegunungan yang terpencil, yako sebagai alat transportasi 
dijuluki sebagai kapal dataran tinggi. Di daerah pertanian dataran tinggi, yako 
menjadi tenaga kerja utama yang mencangkul tanah. Boleh dikatakan, kehidupan 
Etnis Tibet tak dapat terlepas dari yako.

Pada zaman ketinggalan transportasi, garam, bumbu paling penting dalam 
kehidupan rakyat Tibet didatangkan yako dari danau garam di Tibet utara dengan 
memakan waktu beberapa bulan.



Ini tempat penyimpanan kotoran yako.

Daerah gembala merupakan tempat yang berhubungan erat dengan yako. Tenda para 
penggembala terbuat dari bulu yako. Ketika turun hujan dan salju, airnya tak 
bisa masuk ke dalam tenda, dan ketika cuaca cerah, bulunya dapat tembus udara.

Di daerah pertanian, yako berfungsi mencangkul tanah.





Kapal yang terbuat dari kulit yako dapat digendong satu orang, tapi juga dapat 
menumpang 6 hingga 8 orang.

Yako sebagai teman yang tak terkurangkan dalam kehidupan dan produksi Etnis 
Tibet menempuh proses panjang bersama dengan Etnis Tibet dan juga ikut serta 
dalam peristiwa besar dalam proses sejarah Etnis Tibet.





Yako sebagai teman paling akrab dengan rakyat dataran tinggi juga secara 
mendalam memengaruhi pembentukan dan perkembangan kebudayaan dataran tinggi dan 
kebangsaannya.

Kini, yako tak saja menjadi andalan kelangsungan hidup Etnis Tibet dan lengenda 
sejarah, juga menjadi asuhan spiritual dan kultural. Dalam kebudayaan Tibet, 
Etnis Tibet memandang tengkorak yako sebagai totem yang disembayang dan 
didoakan, dan mendorong diri sendiri dengan “semangat yako”, yaitu jujur, 
sedia, murah hati dan berdedikasi.






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B32FE8362AFF4B35A92DDEFAF1B4C80B%40A10Live.

Reply via email to