Gagalnya Pemerintah Membaca Data KematianA72 - Wednesday, August 18, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/gagalnya-pemerintah-membaca-data-kematian
 
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: Kompas)
6 min read

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut 
Binsar Pandjaitan menegaskan pemerintah akan mengeluarkan sementara data angka 
kematian akibat Covid-19 sebagai indikator dalam penilaian penentuan level 
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Beberapa pihak menilai 
dalam kasus ini pemerintah menganggap data kematian hanya sebatas angka 
statistik saja.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Luhut sendiri berdalih dikeluarkannya data angka kematian dikarenakan adanya 
permasalahan pada proses input data, sehingga jika terus dilanjutkan berpotensi 
menimbulkan distorsi dalam penilaian.

Alasan ini justru semakin menimbulkan pertanyaan. Epidemiolog Universitas 
Indonesia (UI) Pandu Riono menilai logika tersebut tidak dapat diterima karena 
alih-alih memperbaiki data yang bermasalah, pemerintah justru menghapus data 
tersebut.

Senada dengan Pandu, epidemiolog Griffith University Dicky Budiman menilai 
langkah mengeluarkan data kematian sebagai indikator ini bukan hanya salah dan 
keliru, tapi berbahaya.

Menurutnya, pemerintah harus merujuk pada ketetapan Organisasi Kesehatan Dunia 
(WHO) yang menetapkan data kematian sebagai indikator utama yang sangat 
diperlukan dalam penilaian situasi epidemiologi.

Baca Juga: Sejauh Mana Ancaman Luhut?

Dicky menambahkan tingkat kematian adalah indikator penting keparahan suatu 
wabah. Jadi penghapusan data ini sebagai indikator jelas membahayakan karena 
bisa membuat misleading, misinterpretasi, danmisekspektasi.

Seperti yang diketahui, dalam tujuh hari terkakhir sebelum keputusan 
pengeluaran data angka kematian ini diumumkan, jumlah kematian akibat Covid-19 
di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, dengan total 12.054 kematian 
atau selisih 5.363 kematian dari Brasil yang ada di peringkat kedua.

Bahkan berdasarkan hasil studi seroprevalensi yang dilakukan WHO menunjukkan 
bahwa 15 persen dari total 270 juta penduduk Indonesia diprediksi telah 
terinfeksi Covid-19. Angka ini jauh dari klaim resmi pemerintah yang hanya 
sekitar 0,7 persen.



Kudeta Statistik?
Dalam konteks ini keputusan pemerintah mengeluarkan data angka kematian sebagai 
indikator banyak dipertanyakan berbagai pihak karena berbau manipulasi data.

Pemerintah dinilai sengaja menghilangkan angka kematian untuk memunculkan kesan 
pandemi tertangani dengan baik.

Kecurigaan ini bukanlah tanpa alasan, permasalahan manipulasi data disinyalir 
telah terjadi sejak awal penanganan pandemi di Indonesia.

 
Terbaru, lembaga independen KawalCovid-19 mengungkap laporan kematian Covid-19 
pemerintah pusat lebih sedikit dibandingkan pemerintah daerah, sejauh ini 
terdapat selisih hingga 19.000 kasus.

Kondisi ini diperparah karena pemerintah daerah pun disinyalir melakukan hal 
yang sama.  Temuan investigasi dari Tempo mengungkap bahwa beberapa provinsi 
seperti Jawa Timur ditengarai “mencicil” angka kasus infeksi Covid-19 untuk 
mencegah grafik melonjak.

Sebelumnya pemerintah juga beberapa kali mengumumkan penurunan angka kasus 
infeksi Covid-19 tanpa memberi tahu presentase positivity rate, yang mana ini 
menjadi bias karena penurunan angka tersebut ternyata diiringi dengan penurunan 
jumlah spesimen yang dites.

Terbaru dalam kasus penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat 
(PPKM) pada 26 kabupaten/kota di Jawa-Bali, hal ini pun terjadi setelah 
pemerintah mengeluarkan data angka kematian dari indikator penerapan PPKM.

Penelitian yang dilakukan Sana Jefrey dari Carnegie Endowment for International 
Peace mengungkap permasalahan utama dalam carut marut data kesehatan selama 
pandemi Covid-19 di Indonesia adalah politik.

Penelitian tersebut mengungkap bahwa data penanganan Covid-19 tingkat nasional 
secara rutin dimanipulasi oleh pemangku kepentingan untuk melegitimasi 
kebijakan pro-bisnis dari pemerintah.

Dalam kasus ini beberapa negara lain juga pernah disinyalir “mengendalikan” 
data terkait penanganan Covid-19.

Baca Juga: Covid-19, Politik Ketakutan, Siapa Menang?

Brasil, misalnya, pasca ditetapkan sebagai negara dengan kasus Covid-19 dan 
kematian tertinggi di dunia pada pertengahan 2020 lalu, pemerintahnya 
memutuskan untuk berhenti melaporkan jumlah total kematian dan kasus 
terjangkit, lalu merilis data yang "bertentangan".

Journal Nacional memaparkan apa yang dilakukan Brasil ini sebagai “kudeta 
statistik”. Langkah ini merujuk pada perilaku suatu negara yang lazim 
memanipulasi data untuk menutupi kegagalannya.

Di Vietnam kasusnya berbeda. Sebagai negara komunis yang menganut sistem 
totaliter justru dianggap lebih demokratis dibanding Indonesia dalam hal 
keterbukaan publik, khususnya terkait data penanganan pandemi di negaranya.

Walaupun klaim ini awalnya diragukan mengingat rezim totaliter yang sedang 
berkuasa dirasa sangat memungkinkan untuk memanipulasi data ini.

Akan tetapi Huong Le Thu, peneliti dari Australian Strategic Policy Institute, 
mengatakan bahwa laporan dari organisasi internasional, ahli epidemiologi 
asing, dan bahkan duta besar Australia untuk Hanoi yang mengakui validitas data 
pemerintah Vietnam, membuatnya "tidak punya alasan" untuk meragukan angka-angka 
tersebut.



Kematian Hanya Sebatas Angka?
Beberapa pihak menilai dalam kasus ini apa yang dilakukan pemerintah sejatinya 
menunjukkan kesalahan cara berpikir.

Dengan menghapus angka kematian dalam indikator penanganan Covid-19, pemerintah 
dinilai hanya melihat kematian sebagai sebuah angka. Cara berpikir ini bukan 
saja tak sensitif tapi juga berbahaya.

Epidemiolog menilai dalam kasus ini kita tidak bisa melihat data kematian itu 
hanya sebagai angka.

Dari segi sains, data kematian tidak bisa dipahami hanya sebatas angka. 
Indikator kasus kematian merupakan sebuah hal yang wajib dalam pelayanan 
kesehatan, bahkan sebelum pandemi Covid-19. Data ini justru penting digunakan 
sebagai dasar untuk menentukan strategi mencegah kematian lainnya.

Budayawan Sindhunata dalam sebuah tulisan mengungkapkan bahwa memang pada masa 
pandemi Covid-19 ini telah terjadi pergeseran perspektif yang membuat data 
statistik menjadi sangat penting.

 
Imbasnya pemerintah dan juga masyarakat pun suka membaca angka-angka tersebut, 
namun tanpa disadari kita justru terjebak pada cara membaca, yang membuat kita 
memahami Covid-19 itu seakan hanyalah naik turunnya kasus saja.

Dalam tulisan yang sama, Sindhutama juga mengungkap sikap pemerintah yang hanya 
menganggap kematian sebatas angka statistik disebabkan oleh kondisi politik 
kita yang telah mengarah ke politik liberal.

Lebih lanjut Sindhutama mencontohkan salah satu semboyan dalam pandangan 
darwinisme sosial, yaitu “yang mati biarlah mati, yang hidup biarlah hidup”. 
Hal ini lah yang menurutnya terjadi di beberapa negara dalam konteks penanganan 
pandemi saat ini.

Di balik darwinisme sosial itu tersembunyi logika kalkulatif. Logika demikian 
bisa dengan dingin berkesimpulan, “boleh lah satu orang mati, jika ribuan orang 
diselamatkan”.

Kasus seperti di atas jelas memperlihatkan bahwa Covid-19 membawa problem 
tentang kematian. Seperti dikatakan oleh kolumnis dari die Zeit, Anna Mayr, 
Covid-19 mendorong kita untuk bicara terus mengenai turunnya angka kematian, 
tetapi kita tak berbicara tentang kematiannya sendiri.

Baca Juga: Tidak Bermoralnya Perdebatan Angka Kematian Covid-19

Filsuf Emmanuel Levinas mengatakan bahwa menggenggam hidup demi alasan apa pun, 
adalah akar dari kekerasan dan peperangan. Hidup bukanlah sekadar hidup, tetapi 
hidup demi dan bersama orang lain. Kematian seakan hanya disebabkan terinfeksi 
virus belaka. Maka, ritualnya boleh diabaikan juga. Inilah kiranya yang 
menyakitkan hati banyak keluarga yang ditinggal orang tercinta yang mati karena 
Covid-19.

Lebih detail, teolog Wolfgang Palaver memaparkan bahwa takut akan kematian 
jangan diartikan hanya negatif, takut juga meliputi respect. Jika menaruh 
respect terhadap kematian, politik pun akan menghasilkan tindakan-tindakan yang 
bertanggung jawab.

Di hadapan kematian yang demikian mengancam selama pandemi ini, politik dipaksa 
untuk menyadari bahwa hidup itu ternyata demikian berarti. Maka dengan 
menghormati kematian, politik pun pasti akan menghormati kehidupan.

Dalam konteks ini, upaya pemerintah yang dinilai menganggap data kematian 
hanyalah sebuah angka statistik, sehingga tidak menggunakannya sementara 
merupakan suatu tindakan yang perlu disikapi secara kritis.

Pemerintah tampaknya abai, meminjam apa yang dikatakan Levinas dari segi 
kemanusiaan, jelas kematian bukanlah sekadar angka, melainkan juga nyawa karna 
di balik sejumlah angka itu sesungguhnya ada rasa kesedihan dan kekecewaan 
mereka yang kehilangan anggota keluarganya. (A72)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C0520266539D424AAAC57668D49E09E9%40A10Live.

Reply via email to