https://news.detik.com/kolom/d-5688014/5-strategi-pembangunan-infrastruktur-di-batas-timur-indonesia?tag_from=wp_cb_kolom_list




Mayor Czi Yusfi Fitrawa

5 Strategi Pembangunan Infrastruktur di Batas Timur Indonesia

Mayor Czi Yusfi Fitrawa - detikNews

Kamis, 19 Agu 2021 13:18 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
jembatan youtefa
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Pendekatan Pembangunan Infrastruktur di Batas Timur NKRI: Sebuah Kajian Konsep

Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi', adalah sepenggal lirik 
lagu berjudul 'Aku Papua' ciptaan Almarhum musisi Franky Sahilatua yang mungkin 
terdengar cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia. Dilihat dari potensi 
alam yang terkandung dan tersedia di tanah Papua, lirik lagu tersebut memang 
bukanlah isapan jempol belaka.

Bayangan tentang surga kecil yang jatuh ke bumi juga bisa dibuktikan dengan 
menjelajahi gunung, hutan, lembah, sungai dan pantai yang terhampar di pulau 
berbentuk seperti burung ini. Akan tetapi, dinamika kehidupan sosial dan 
politik yang akhir-akhir ini sering bergejolak terutama eskalasi tingkat 
keamanan di beberapa wilayah di provinsi Papua seakan mengaburkan pandangan 
kita tentang konsep 'surga', dan seringkali menimbulkan pertanyaan 'apakah 
benar Papua adalah surga bagi para penduduknya?'. Tentunya konsep surga bagi 
umat beragama adalah suatu tempat yang indah, aman dan nyaman untuk ditinggali, 
bukan daerah yang membuat siapa pun was-was atau khawatir akan adanya pihak 
yang sewaktu-waktu bisa mengklaim dirinya atau organisasinya sebagai pemilik 
wilayah secara sepihak.

Sila ke-5 Pancasila, yaitu 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia' 
secara harfiah bisa diartikan bahwa rakyat Papua, yang juga rakyat Indonesia 
juga memiliki hak untuk mendapatkan keadilan sosial dari negara. Dalam rangka 
mewujudkan keadilan ini, beberapa tahun terakhir Pemerintah Republik Indonesia 
sangat gencar sekali melaksanakan berbagai macam program pembangunan di 
Provinsi Papua.

Pada tahun 2021 ini, alokasi anggaran pembangunan infrastruktur PUPR untuk 
provinsi Papua sejumlah Rp 6,19 triliun untuk bidang Sumber Daya Air, jalan, 
dan jembatan, serta permukiman dan perumahan. Anggaran dengan jumlah yang 
sangat besar tersebut merupakan komitmen pemerintah terhadap masyarakat Papua, 
yang bertujuan untuk mengurangi angka kemiskinan, mengurangi indeks kemahalan 
dan pemerataan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia.

Pada kenyataannya tujuan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah masih belum 
bisa tercapai secara maksimal. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi 
Papua, pada Maret 2021 angka kemiskinan di provinsi Papua sebesar 26,86% 
(terjadi kenaikan sebesar 0,06% dari bulan September 2021), dengan persentase 
jumlah penduduk miskin di perkotaan sejumlah 4,91% dan di pedesaan sejumlah 
35,71%.

Tentunya kenaikan angka kemiskinan ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang 
biasa karena merupakan hal yang sangat kontradiktif dengan tujuan berbagai 
macam program pembangunan di Papua. Akan sangat merugikan bagi Pemerintah 
apabila kenaikan angka kemiskinan ini dijadikan narasi oleh pihak pihak dan 
organisasi tertentu untuk mempengaruhi masyarakat Papua agar memilih merdeka 
atau berpisah dari NKRI karena Pemerintah Indonesia dianggap tidak mampu untuk 
menyejahterakan masyarakat asli Papua.

Di atas kertas, pembangunan infrastruktur tentu akan meningkatkan perekonomian 
karena dapat memudahkan mobilisasi orang dan distribusi barang dari suatu 
tempat ke tempat yang lain. Selain ditinjau dari angka kemiskinan, potret 
kehidupan masyarakat asli Papua di berbagai wilayah sampai dengan saat ini 
masih mengalami ketimpangan atau kesenjangan ekonomi dengan masyarakat 
pendatang. Pemerintah Indonesia perlu kiranya mengambil langkah yang tepat 
dalam melaksanakan program pembangunan infrastruktur di wilayah Papua.
Baca juga:
Pura Besakih Dipercantik, Megawati Pesan Jangan Sampai Sampah Berserakan Lagi

Memperhatikan beberapa kejadian penembakan, demonstrasi dan kerusuhan di tahun 
2019 hingga tahun 2021, ancaman disintegrasi bangsa bukanlah sebuah teori 
belaka, akan tetapi merupakan gerakan nyata dari berbagai kelompok yang terus 
berusaha untuk mencoba memisahkan Papua dari Indonesia. Dari gambaran dan 
penjelasan di atas maka didapatkan sebuah rumusan masalah yang perlu 
mendapatkan solusi penyelesaian, yaitu 'bagaimana pendekatan yang tepat agar 
pembangunan infrastruktur di wilayah Papua dapat diterima dan bermanfaat bagi 
masyarakat Papua serta mencegah disintegrasi bangsa?'.

Memperhatikan kondisi masyarakat Papua yang sangat lekat dengan kehidupan adat 
istiadat dan budaya, maka pendekatan yang tepat dalam melaksanakan pembangunan 
infrastruktur di wilayah Papua adalah pendekatan budaya atau kultural. Beberapa 
langkah berikut dapat dijadikan sebagai alternatif atau pilihan dalam membangun 
infrastruktur di provinsi paling timur Indonesia ini.

Pertama, jenis atau macam infrastruktur yang akan dibangun harus memperhatikan 
dua aspek, yaitu aspek ekonomi dan aspek adat/budaya setempat. Terkadang, jika 
hanya melihat dari satu sisi saja, misalnya dari aspek ekonomi maka aspek 
budaya cenderung akan dikesampingkan. Padahal, adat/budaya adalah bagian yang 
tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Papua (Asaribab, 2020). Salah satu 
contohnya adalah pembangunan Jembatan Youtefa yang saat ini menjadi salah satu 
landmark kota Jayapura yang sangat terkenal.

Dari aspek ekonomi, jembatan Youtefa sangat membantu akses mobilisasi dan 
distribusi barang masyarakat karena dapat memangkas waktu yang diperlukan dari 
kota Jayapura ke distrik Koya yang sebelumnya kurang lebih satu jam apabila 
melewati daerah Hamadi Pantai, menjadi hanya sekitar dua puluh menit saja. Akan 
tetapi, di balik kesuksesan ekonomi tersebut, terdapat adat/budaya dari 
penduduk sekitar yang terancam keberlangsungannya.

Adalah Hutan Perempuan kampung Enggros, sebutan untuk hutan bakau di sekitar 
jembatan Youtefa yang sebelumnya dijadikan tempat untuk para perempuan kampung 
Enggros melakukan tradisi mencari kerang atau oleh penduduk lokal disebut 
tradisi 'tonotwiyat', yang selanjutnya akan dijual untuk memenuhi kebutuhan 
hidup. Saat ini, kawasan hutan bakau itu sudah banyak tercemar oleh sampah atau 
limbah akibat dari pembangunan infrastruktur di teluk Youtefa dan mengancam 
masa depan Hutan Perempuan.
Baca juga:
Rp 9,79 T Disiapkan buat Genjot Infrastruktur Papua & Papua Barat

Tercatat pada tahun 1967 luas kawasan hutan bakau Teluk Youtefa seluas 514,24 
Ha dan pada tahun 2018 menyusut menjadi 233,12 Ha. Terancamnya kondisi hutan 
bakau ini tentunya akan mengancam tradisi 'tonotwiyat', yang sudah 
turun-temurun dilakukan sekaligus juga mengancam mata pencaharian penduduk 
sekitar. Hal tersebut tentunya layak mendapatkan perhatian oleh pemerintah 
pusat maupun daerah karena pembangunan pada hakekatnya bertujuan untuk 
meningkatkan taraf hidup semua golongan masyarakat, bukan hanya golongan 
tertentu saja.

Kedua, semua program pembangunan infrastruktur yang telah ditetapkan atau 
diputuskan harus disampaikan kepada masyarakat sekitar melalui sosialisasi 
secara komprehensif, artinya harus menyampaikan dengan jelas apa saja proyek 
yang akan dikerjakan, apa saja manfaatnya bagi masyarakat dan apa kerugian yang 
mungkin akan timbul.

Berdasarkan data dari BPS Provinsi Papua (update tanggal 22 April 2021), Angka 
Buta Huruf (ABH) penduduk umur 15-44 tahun adalah sebesar 20,38%. Dari angka 
tersebut, dapat diartikan bahwa masih terdapat 2 dari 10 orang penduduk Papua 
yang masih belum bisa membaca, sehingga tidak cukup hanya dengan mengumumkan 
program pembangunan lewat media cetak atau poster-poster pengumuman di jalan, 
tetapi juga harus dilakukan melalui komunikasi langsung ke masyarakat mengenai 
program pembangunan infrastruktur tersebut.

TNI Angkatan Darat mempunyai suatu program di bidang Teritorial yang disebut 
dengan Komunikasi Sosial (Komsos), yaitu cara yang diselenggarakan oleh satuan 
jajaran TNI AD untuk meningkatkan keeratan hubungan dengan segenap komponen 
bangsa melalui pendekatan atau cara-cara yang persuasif seperti tatap muka, 
anjangsana, silaturahmi, sosialisasi, dan penyuluhan.

Keberhasilan program ini dapat diukur dari indeks kepercayaan masyarakat 
terhadap TNI yang menempati posisi pertama sebesar 89%, sesuai dengan Survei 
Indikator Politik Indonesia tanggal 13-17 April 2021. Berdasarkan hasil 
tersebut, maka sosialisasi pembangunan infrastruktur oleh pemerintah seyogyanya 
dilakukan melalui cara komunikasi sosial yang telah dipraktekkan oleh TNI AD 
untuk mendapatkan kepercayaan dan simpati masyarakat.

Akan lebih baik lagi apabila sosialisasi tersebut dilakukan secara sinergis 
oleh Kementerian PUPR dan TNI AD sehingga dapat menjangkau seluruh lapisan 
masyarakat, mengingat personel TNI AD ditempatkan di seluruh wilayah Papua 
sampai dengan daerah-daerah pedalaman.

Beberapa wilayah di Papua masih diberlakukan tradisi 'Bakar Batu', yaitu 
semacam upacara adat yang harus dilakukan apabila akan dilaksanakan suatu 
kegiatan. Praktek ini telah dilaksanakan oleh TNI Angkatan Darat setiap saat 
memulai pembangunan instalasi atau kantor-kantor militer di daerah pegunungan. 
Dengan selalu melaksanakan tradisi 'Bakar Batu', maka masyarakat akan dapat 
menerima dengan baik program-program pembangunan infrastruktur yang akan 
dilaksanakan oleh pemerintah.

Ketiga, desain atau rancangan dari konstruksi bangunan seharusnya disesuaikan 
dengan desain yang berdasar pada budaya atau adat setempat. Asaribab, 2020 
mengatakan bahwa kegagalan pembangunan di Papua disebabkan karena tidak 
berbasis pada kearifan lokal (local wisdom) dan pembangunan hanya diletakkan 
sebagai kepentingan mengejar penyelesaian program semata.

Contoh yang pernah terjadi adalah pembangunan perumahan di daerah pegunungan 
Wamena yang menggunakan atap berbahan seng. Ketika terjadi hujan deras maka 
bunyi air hujan yang menimpa seng dapat membuat masyarakat takut dan segera 
meninggalkan rumah tersebut. Hal tersebut bisa terjadi karena pemerintah tidak 
memahami budaya masyarakat Papua secara benar sehingga pembangunan yang 
bertujuan baik terkadang mendapatkan penolakan dari masyarakat.

Salah satu desain bangunan yang menggunakan tema budaya lokal adalah bangunan 
Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sota di Merauke. Gerbang PLBN yang berbentuk 
tifa atau alat musik perkusi asli Papua dengan hiasan lampu warna-warni yang 
indah merupakan representasi adat/budaya lokal Papua. Contoh yang lain adalah 
kompleks Stadion Papua Bangkit di Sentani, Jayapura yang bangunannya sarat akan 
motif-motif dan bentuk-bentuk khas budaya Papua. Warna bangunan yang dipilih 
pun selaras dengan warna-warna khas pakaian adat Papua yang didominasi warna 
coklat dan merah. Selain bertujuan menumbuhkan rasa memiliki penduduk setempat, 
desain bangunan yang bertemakan budaya atau adat Papua tentunya akan dapat 
menarik minat pengunjung dan wisatawan sehingga dapat menjadi tempat destinasi 
wisata yang akan membuka lapangan pekerjaan.

Keempat, tenaga kerja lokal harus diikutsertakan dalam pembangunan 
infrastruktur, terutama Orang Asli Papua sehingga manfaat pembangunan ini dapat 
dirasakan oleh warga sekitar dari segi penciptaan lapangan kerja. Sebagaimana 
kita ketahui, pengangguran merupakan momok atau masalah pokok yang terjadi 
hampir di seluruh wilayah Papua. Berdasarkan data BPS provinsi Papua, jumlah 
angka pengangguran pada bulan Agustus 2020 mencapai 75.658 orang, naik 0,77% 
jika dibandingkan pada bulan Agustus 2019 yang berjumlah sekitar 65.143 orang. 
Hal ini membuktikan bahwa proyek pembangunan di wilayah Papua yang begitu masif 
belum tentu dapat menyerap tenaga kerja Orang Asli Papua dengan maksimal.
Baca juga:
Freeport Gelar Upacara HUT ke-76 RI di Tembagapura

Saat ini, pekerja-pekerja proyek terutama tukang masih didominasi oleh pekerja 
yang berasal dari Jawa atau Sulawesi. Terlepas dari kualitas Sumber Daya 
Manusia penduduk setempat di bidang konstruksi yang mungkin masih kurang karena 
kualitas pendidikan juga masih rendah di provinsi Papua, seharusnya 
program-program pembangunan infrastruktur ini dapat dijadikan sebagai momen 
untuk melakukan Transfer of Knowledge atau Transfer of Technology kepada tenaga 
kerja lokal.

Pada Peraturan Presiden Nomor 17 tahun 2019, disebutkan bahwa pemerintah wajib 
mengutamakan Pelaku Usaha Papua kategori Usaha Mikro dan Usaha Kecil pada 
pengadaan barang dan jasa di provinsi Papua dan Papua Barat. Dengan demikian 
kesempatan bagi Orang Asli Papua untuk mendapatkan pekerjaan di proyek 
pembangunan infrastruktur juga menjadi lebih besar daripada tenaga kerja dari 
luar wilayah provinsi Papua dan Papua Barat.

Keikutsertaan tenaga kerja lokal pada setiap proyek pembangunan infrastruktur 
di Papua tentunya akan dapat menangkal segala macam agenda sosial dan politik 
yang seringkali menyuarakan ketimpangan atau kesenjangan ekonomi antara 
penduduk asli dengan pendatang, untuk kepentingan segelintir pihak yang dapat 
menimbulkan instabilitas di segala lini kehidupan masyarakat Papua.

Kelima, bangunan infrastruktur yang telah selesai dikerjakan harus dilaksanakan 
prosesi peresmian dengan melibatkan ketua-ketua suku atau tetua adat di wilayah 
setempat, bukan hanya diresmikan oleh pejabat pemerintah pusat atau daerah yang 
datang hanya pada saat bangunan telah rampung dibuat. Pelibatan ketua suku dan 
tetua adat ini dimaksudkan untuk meningkatkan dan menguatkan rasa memiliki 
terhadap infrastruktur tersebut.

Selain itu, nama bangunan yang dibuat juga sebaiknya menggunakan nama dari 
bahasa setempat sebagai bentuk penghargaan dari Pemerintah kepada budaya lokal 
yang ada. Seperti halnya nama-nama bandara di Papua yang mayoritas menggunakan 
nama pahlawan nasional atau tokoh masyarakat Papua, bangunan infrastruktur yang 
lain pun juga harus diberi nama yang merepresentasikan penduduk atau budaya 
Papua. Walaupun terkesan sepele, akan tetapi penggunaan bahasa lokal dalam 
penamaan bangunan akan sangat berarti bagi masyarakat Papua serta menguatkan 
pesan bahwa Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan dari pembahasan mengenai pendekatan pembangunan yang tepat di 
wilayah Papua, maka didapatkan kesan bahwa adat istiadat atau budaya merupakan 
pusat kehidupan masyarakat Papua. Diperlukan pemahaman, pengertian, rasa 
menghormati dan menghargai terhadap budaya setempat sebelum program pembangunan 
infrastruktur dijalankan. Pemerintah perlu mengingat kembali bahwa objek 
pembangunan infrastruktur adalah masyarakat Papua itu sendiri dan tujuan dari 
pembangunan infrastruktur tersebut adalah untuk meningkatkan kesejahteraan 
hidup masyarakat Papua serta mewujudkan mimpi 'surga' bagi Orang Asli Papua.

Dengan beragam permasalahan yang ada di masyarakat Papua, pembangunan 
infrastruktur di Papua tidak bisa dibebankan kepada salah satu pihak tertentu. 
Seluruh pihak baik dari pemerintah pusat maupun daerah serta seluruh lapisan 
masyarakat mempunyai tanggung jawab terhadap terselenggaranya pembangunan 
infrastruktur di wilayah Papua. Keberhasilan pembangunan infrastruktur di 
wilayah Papua akan menjadi modal utama dalam upaya mempertahankan keutuhan 
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mayor Czi Yusfi Fitrawa, Pemenang Lomba Karya Tulis PUPR Favorit 1 Kategori Umum
(mul/ega)
papua
infrastruktur
lomba karya tulis pupr








-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210819224717.acae8e7da9dab3586b8f971b%40upcmail.nl.

Reply via email to