https://mediaindonesia.com/opini/426443/mendefinisikan-kembali-makna-kemerdekaan


Kamis 19 Agustus 2021, 05:00 WIB 

Mendefinisikan kembali Makna Kemerdekaan 

Agung Firman Sampurna Ketua BPK RI/Ketua PBSI | Opini 

  Mendefinisikan kembali Makna Kemerdekaan MI/Duta KETIKA tulisan ini dibuat, 
data terakhir terkait penanganan pandemi covid-19 ialah total kasus 3,8 juta, 
meninggal dunia 115 ribu, kasus baru 30.788 (rata-rata tujuh hari 28.154 kasus 
baru). Kasus seluruh dunia mencapai 207 juta kasus baru dan yang meninggal 
dunia mencapai (terdata) 4,35 juta jiwa. Untuk membuat visualisasinya menjadi 
lebih kompleks, progres kontemporer penanganan kesehatan ini bisa disatukan 
dengan data terkait kemiskinan, pengangguran, dan tentunya pertambahan utang 
pemerintah. Pertanyaannya, apakah semua ini salah pemerintah mengingat pandemi 
terjadi di seluruh dunia? Apakah dengan menyalahkan pemerintah (atau 
masyarakat) kita dapat keluar dari situasi yang begitu menekan ini? Apakah 
bijak mencari siapa yang bersalah dalam situasi seperti ini? Last but least, 
apakah dalam Perayaan Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia ini kita akan terus 
hanyut dan tenggelam dalam situasi saling memusuhi, saling menyalahkan yang 
terus membakar kebencian di antara kita? Tulisan ini tidak dibuat untuk membela 
pemerintah atau kelompok yang pro pemerintah. Tulisan ini juga tidak dibuat 
untuk kelompok yang mengambil posisi yang berbeda, bertentangan, bahkan 
mengecam pemerintah. Tulisan ini sekadar menyampaikan satu pesan pendek; bahwa 
dalam hidup ini, pilihan itu tidak harus terbatas pada a atau b, kiri atau 
kanan (atau mungkin tengah-tengah), mendukung atau menentang, dan seterusnya. 
Terkadang pilihan menjadi seakan terbatas karena kita sendiri yang 
membatasinya. Dalam Perayaan Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia, sudah 
waktunya kita merenung kembali, melakukan introspeksi; pilihan-pilihan apa yang 
kita miliki untuk mengatasi masalah kesehatan, ekonomi, dan sosial yang saat 
ini kita hadapi bersama. Pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk membuat 
diri kita sendiri, lingkungan, atau komunitas yang mana kita berada dan 
tentunya Indonesia tercinta menjadi lebih baik. Redefinisi makna kemerdekaan 
Pertama-tama, kita perlu mendefinisikan kembali makna kemerdekaan. Definisi ini 
menjadi penting karena definisi dari suatu subjek atau objek berkembang 
berdasarkan konteks dan masanya. Kemerdekaan perlu mendapatkan definisi yang 
sesuai dengan konteks dan masanya. Di masa lalu, definisi kemerdekaan berkaitan 
erat dengan penjajahan. Kedua kata tersebut memiliki makna yang berlawanan. 
Merdeka atau tidak terjajah. Kemerdekaan merupakan bebas dari penjajahan. 
Pengertian tertanam dalam di benak sanubari para pendiri bangsa yang kemudian 
dituliskan sebagai bagian dari paragraf awal pembukaan konstitusi kita. 'Bahwa 
sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka 
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan 
perikemanusiaan dan perikeadilan’. Merdeka merupakan lepas dari belenggu 
penjajahan fisik. Mengapa kemerdekaan dibutuhkan? Paragraf ketiga pembukaan UUD 
1945 menegaskan; supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas. Sejarah 
memperlihatkan bahwa melalui perjuangan fisik, Indonesia berhasil mengusir para 
penjajah dan kelompok yang ingin menjajah bangsa dan negara ini. Namun, ketika 
penjajah berhasil dikalahkan dan diusir, negara Republik Indonesia terbentuk, 
masalah baru muncul. Bagaimana membentuk dan menyelenggarakan pemerintahan? 
Bagaimana mengelola sumber daya, khususnya sumber daya ekonomi, untuk membangun 
negara, memenuhi kebutuhan rakyat? Bagaimana menyatukan kelompok yang berbeda 
pandangan terkait masalah-masalah pokok dan masa depan Indonesia? Penjajah 
berhasil diusir, tetapi pilihan yang dimiliki ternyata terbatas. Dalam pilihan 
yang terbatas itu, kemampuan mengatasi masalah yang muncul juga terbatas. 
Negara-negara yang sebelumnya menjajah akhirnya berubah menjadi pemberi bantuan 
ekonomi, investor, yang pada titik tertentu ikut menentukan arah pembangunan di 
Indonesia. Tentu saja kita tidak mengatakan ini sebagai sesuatu yang salah. 
Namun, pada saat yang sama, kita juga perlu jujur bahwa ada suatu masa ketika 
keterlibatan negara yang 'membantu' ekonomi Indonesia juga telah memengaruhi 
kemampuan kita dalam membuat pilihan. Pada titik tertentu, bahkan sudah masuk 
kategori mengurangi kedaulatan kita. Belajar dari pengalaman sejarah menjadi 
penting dalam memaknai arti kemerdekaan kita saat ini. “Jangan lupakan 
sejarah,” kata Bung Karno dalam salah satu orasinya yang monumental itu. Oleh 
karena itu, saat kemerdekaan kembali kita nyatakan hari ini, kedaulatan membuat 
pilihan ialah hal yang harus kembali diangkat. Kembali digelorakan. Bahwa 
merdeka bukan hanya sekadar tidak dijajah secara fisik. Bahwa merdeka harus 
dimaknai sebagai daulat dalam menentukan sendiri pilihan yang diharapkan. 
Pilihan masa depan Dalam konteks kemerdekaan suatu bangsa, kata 'pilihan' yang 
terkandung di dalamnya tentunya juga terkait sesuatu yang besar. Bukan sekadar 
untuk mengatasi masalah jangka pendek, kata 'pilihan' digunakan untuk 
menggambarkan masa depan yang diharapkan. Kemerdekaan, dengan demikian ialah 
kebebasan, kemampuan, dan kedaulatan dalam membuat pilihan masa depan yang 
diharapkan. Sepanjang kita terkungkung dengan pilihan yang terbatas, 
sesungguhnya kita belum benar-benar merdeka. Tentu saja, pilihan itu dibuat 
dengan memetakan kondisi yang dihadapi pada saat ini. Karena bagaimanapun, apa 
yang kita rasakan, alami pada saat ini ialah hasil dari pilihan kita di masa 
lalu. Apa yang akan kita terima di masa depan ialah hasil dari pilihan kita 
pada saat ini. Dengan konstruksi berpikir itu, kita perlu bersama-sama 
mendeskripsikan masa depan seperti apa yang kita harapkan. Hal-hal apa yang 
dibutuhkan untuk mewujudkannya. Kita perlu membangun diskursus nasional secara 
terbuka memetakan hal ini. Diperlukan menggunakan kaidah-kaidah akademis yang 
andal dan dapat dipertanggungjawabkan untuk menarasikan pilihan-pilihan masa 
depan itu. Dengan menggunakan metodologi yang, dalam batas tertentu, berterima 
umum (generally accepted), perdebatan yang mungkin muncul dalam diskursus itu 
akan dapat diarahkan untuk membangun perspektif yang lebih produktif dan 
konkret. Perspektif yang dihasilkan bisa jadi bukan dalam bentuk konsensus, 
melainkan semacam kesepakatan akan substansi. Kesepakatan atas ke mana 
sebaiknya kita mengarah, yang itu memberi ruang peran dan partisipasi bagi 
semua pihak, tanpa terkecuali. Inspirasi dan semangat Masih segar dalam ingatan 
kita kemenangan Greysia Polii dan Apriani Rahayu atas lawannya yang digelar di 
Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Senin (2/8). Perjuangan pasangan ganda 
putri Indonesia yang sangat mendebarkan itu akhirnya menghasilkan kemenangan 
dramatis. Kemenangan yang diharapkan bahkan didoakan secara sungguh-sungguh 
oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Setelah bertahun-bertahun berada dalam 
posisi yang berseberangan, untuk sejenak, semua orang larut dalam kegembiraan 
kemenangan. Merasakan kembali indahnya persatuan sebagai suatu bangsa, 
melampaui batas-batas suku, agama, ras, dan antargolongan. Di tengah tekanan 
masalah multisektor akibat pandemi covid-19, kemenangan pasangan ganda putri 
bulu tangkis Indonesia ini membawa pesan kuat, tetapi indah; Indonesia masih 
bisa bersatu. Indonesia masih memiliki harapan. Sebelumnya, banyak yang 
meragukan kemampuan pasangan ganda putri Indonesia ini. Saya jadi ingat 
wawancara Elon Musk terkait kegagalannya dalam peluncuran SpaceX. Tiga kali 
gagal dan bahkan para astronaut senior yang selama ini menjadi panutan Elon 
Musk dalam pengembangan program luar angkasanya secara terbuka berbalik 
menentangnya. Ini potongan wawancara itu; Interviewer: When critics say, you 
can’t do this, your answer to them is-Elon Musk: We’ve done it. SpaceX yang 
tiga kali gagal akhirnya berhasil mengangkasa. Elon Musk, sebagaimana 
Greysia/Apriani, membuktikan tekadnya bahwa tekad yang kuat disertai dengan 
perjuangan keras dan konsisten dapat memberi hasil luar biasa yang sebelumnya 
diremehkan atau tidak diduga. Indonesia yang baru Perayaan kemerdekaan tahun 
ini harusnya dimaknai dengan membangun pilihan-pilihan untuk masa depan yang 
lebih baik. Di satu sisi, saat ini, dalam penanganan pandemi covid-19, pilihan 
yang kita miliki jelas tidak banyak. Namun, di sisi lain, sambil terus berjuang 
bahu-membahu, kita per
lu memikirkan bagaimana Indonesia pascapandemi karena setelah pandemi berakhir, 
kita sudah harus berhadapan dengan sejumlah problematika yang sangat kompleks. 
Jangan terjebak dengan pilihan-pilihan yang terbatas. Sudah waktunya kita 
membangun pilihan-pilihan yang baru. Memperbaiki Indonesia tidak lagi memadai 
dengan upaya internal melalui perbaikan parsial atau sekadar penyesuaian. Kita 
perlu mengubah Indonesia dengan membuatnya menjadi sesuatu yang baru. (We can’t 
change Indonesia from within by fitting in or conforming. We need to change 
Indonesia by creating a new one). Sesuatu yang perlu dilakukan bersama-sama 
dengan menyampingkan perbedaan yang selama ini membatasi pilihan kita. Untuk 
menjadikan Indonesia betul-betul merdeka. Menjadikan Indonesia lebih berdaulat 
dalam membuat pilihan masa depannya sendiri. Dirgahayu Republik Indonesia yang 
tercinta. Selamat Ulang Tahun Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/opini/426443/mendefinisikan-kembali-makna-kemerdekaan






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20210819225412.20e73c0eae20a0685e7571e9%40upcmail.nl.

Reply via email to