Artikel
Baju adat Badui, antara Presiden Jokowi dan bangkitnya UMKM
Oleh Mansyur suryana  Selasa, 24 Agustus 2021 00:42 
WIBhttps://www.antaranews.com/berita/2346270/baju-adat-badui-antara-presiden-jokowi-dan-bangkitnya-umkm?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=terkini

 
Seorang pelaku UMKM Badui memamerkan pakaian kampret yang dikenakan oleh 
Presiden Joko Widodo dengan harga Rp240 ribu.

Lebak (ANTARA) - 
Ada yang menarik perhatian publik ketika Presiden Joko Widodo menghadiri Sidang 
Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR, DPD, Senin, 16 Agustus 2021, di Gedung 
MPR/DPR RI.

Seperti biasanya,  Presiden setiap Sidang Tahunan MPR dalam beberapa tahun 
belakangan ini konsisten mengenakan pakaian adat Nusantara secara bergiliran.

Namun kali ini, Jokowi memakai pakaian adat suku Badui lengkap, pakaian 
berwarna hitam dengan penutup kepala berwarna biru dan tas selempang.

Perhatian publik pun terpincut karena menggambarkan disain yang sedernana namun 
memiliki makna tersendiri ketika Presiden memakainya pada acara kenegaraan.

"Busana yang saya pakai ini adalah pakaian adat suku Badui. Saya suka karena 
desainnya yang sederhana, simpel dan nyaman dipakai," kata Jokowi.

Pada kesempatan itu, Jokowi turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada Tetua 
Adat Masyarakat Badui sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija.

Sebenarnya, hampir semua kalangan sudah pasti bisa menduga bahwa setelah 
Presiden Jokowi mengenakan pakaian khas Badui itu, maka segala sesuatu terkait 
pakaian Badui akan menarik untuk dibahas dan menjadi perhatian.

Faktanya, kini pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) masyarakat Badui 
ramai di bale-bale rumah mereka sibuk menenun kain, mewarnai batik, juga 
merajut untaian benang pohon teureup untuk produksi tas koja hingga aneka 
suovenir.

Permintaan kerajinan masyarakat Badui pun mulai meningkat dari berbagai daerah 
di Indonesia hingga mancanegara.

Produksi kerajinan Badui juga dipasarkan melalui galeri-galeri di kawasan 
pemukiman Badui yang mengandalkan kunjungan wisatawan juga ada yang dipasarkan 
secara online.

Produksi kerajinan Badui juga bergabung dengan aplikasi marketplace.

Bahkan akibat tingginya permintaan pakaian hingga aneka kerajinan Badui yang 
dijual melalui aplikasi marketplace dan Plaza Komoditi Lebak habis terjual.

Pengenaan busana Badui oleh Presiden Jokowi sebagai tokoh yang mencintai budaya 
sendiri kontan berdampak postif bagi kehidupan pengrajin di wilayah itu.

"Kami berterima kasih kepada Bapak Jokowi karena pengenaan busana adat Badui 
itu dapat membangkitkan kembali usaha masyarakat Badui yang tinggal di 
pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, " kata Kubil (40) seorang pelaku UMKMBadui 
di Lebak, Senin.

Sempat Terpuruk

Kubil mengatakan, sebelumnya akibat pandemi COVID-19 pelaku UMKM masyarakat 
Badui terpuruk selama setahun lebih. Akibatnya, pelaku UMKM menghentikan 
kegiatan produksi, sebab tidak ada permintaan pasar.

Biasanya, wisatawan yang diandalkan dari pengunjung wisatawan, sama sekali 
tidak ada wisatawan yang mengunjungi kawasan pemukiman Badui.

Bahkan, banyak UMKM terpuruk hingga sebagian besar gulung tikar dan 
menghentikan kegiatan produksi, karena minimnya permintaan pasar baik dari 
pengunjung wisatawan maupun pesanan secara online.

Pelaku usaha di pemukiman Badui putus asa, sebab pandemi COVID-19 tidak ada 
kepastian berakhir, apalagi ditambah pemerintah menerbitkan kebijakan 
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan 
Masyarakat (PPKM).

Kebijakan itu, mengakibatkan pendapatan pelaku UMKM nol persen, karena tidak 
adanya kunjungan wisatawan.

"Kami saat itu paling bantar pendapatan Rp 300 ribu juga terkadang 
kosong/bulan, " kata Kubil.

Namun, kini berbeda. Semarak aktivitas penenunan di Badui kembali terlihat.

Tetua adat Badui yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten 
Lebak Jaro Saija mengaku bangga terhadap Presiden Jokowi yang mengenakan 
pakaian busana Badui dalam Sidang Kenegaraan.

Pengenaan busana adat Badui oleh Presiden Jokowi kemungkinan besar dapat 
membangkitkan kembali setidaknya sekitar 2.000 pengrajin.

Produksi kerajinan masyarakat Badui itu di antaranya kain tenun, batik Badui, 
pakaian kampret atau pangsi, selendang, suvenir atau cenderamata, kain pengikat 
kepala atau lomar, minuman madu dan golok.

"Kami yakin pelaku UMKM akan dibanjiri permintaan pasar maupun pesanan secara 
online," katanya.

Begitu juga tetua adat masyarakat Badui lainnya, Saidi Yunior mengaku dirinya 
bangga Presiden Jokowi memakai busana adat Badui, sehingga akan berdampak 
terhadap pendapatan pelaku UMKM.

Selama ini, perekonomian masyarakat Badui, selain dari sektor pertanian ladang 
juga kerajinan dan pedagang.

"Kami optimistis dampak pengenaan busana Badui oleh Presiden Jokowi bisa 
kembali bangkitnya pelaku UMKM Badui yang sebelumnya terpuruk akibat pandemi 
itu, " katanya.

Promosi

Anggota DPRD Lebak Musa Weliansyah mengatakan kehadiran Presiden Jokowi yang 
mengenakan pakaian khas suku Badui itu bagian dari pada promosi dan berdampak 
positif terhadap bisnis UMKM Badui.

Menurutnya, Presiden Jokowi masuk kategori kepala negara yang merakyat dan 
kesederhanaan.

Sebab, figur Jokowi mau mengenakan pakaian kampret atau baju jamang sangsang 
yang sehari-hari dipakai oleh masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak.

Saat ini, permintaan pakaian busana masyarakat adat Badui meningkat drastis.

Bahkan, permintaan pesanan datang dari berbagai daerah di Tanah Air dan juga 
dari negara tetangga.

"Kami menerima laporan pelaku UMKM masyarakat Badui kini kebanjiran pesanan 
setelah Bapak Presiden Jokowi mengenakan busana Badui itu," kata politisi PPP 
Lebak.

Meningkatnya permintaan busana Badui maka omzet pendapatan pelaku UMKM setempat 
cukup membaik.

Sebelumnya, omzet penjualan produk kerajinan Badui relatif kecil, bahkan banyak 
pelaku UMKM menghentikan kegiatannya, seperti menenun.

Pihaknya optimistis produk kerajinan Badui bisa bersaing pasar domestik hingga 
mancanegara.

Kain Badui mendunia

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Yudawati mengatakan pemerintah 
daerah juga memberikan pembinaan dan pelatihan kepada UMKM masyarakat Badui 
guna meningkatkan diversifikasi produksi agar memiliki mutu dan kualitas.

Saat ini, jumlah pelaku UMKM Badui sebanyak 2.000 unit usaha.

Pemerintah daerah terus meningkatkan kualitas kain dan batik Badui baik motif 
maupun warna, sebab batik Badui didominasi warna biru dan hitam dan perlu 
dilakukan perubahan motif.

Namun, keaslian warna asli Badui tetap dipertahankan, tetapi perlu 
dikolaborasikan dengan batik lain di Tanah Air.

Jika warna batik Badui dikolaborasikan dengan batik lain dipastikan bisa 
memiliki nilai jual tinggi.

Kini, tidak tanggung-tanggung, produksi kain tenun yang diproduksi secara 
tradisional oleh pelaku UMKM Badui telah dikenal hingga mancanegara.

Beberapa negara Eropa, seperti Inggris, Rusia, Italia dan Jerman juga mulai 
melirik tenun yang diproduksi oleh warga yang sampai sekarang masih 
mempertahankan cara hidup tradisional dan menolak modernisasi itu.

Pembuatan kain tenun dilakukan oleh perempuan Suku Badui.

Keunggulan tenun Badui memiliki corak warna dan motif berbeda, di antaranya 
poleng hideung, poleng paul, mursadam, pepetikan, kacang herang, maghrib, capit 
hurang, susuatan, suat songket dan smata (girid manggu, kembang gedang, kembang 
saka).

Selain itu juga motif adu mancung, serta motif aros yang terdiri dari aros awi 
gede, kembang saka, kembang cikur, dan aros anggeus.

Perbedaan warna dan motif itu lah yang menjadi keunggulan sehingga menembus 
pasar dunia.

Ketua UKM Daarul Qoriin Baraya, Endoh Mahfudoh bahkan mengatakan selama ini 
produk kain tenun masyarakat Badui ternyata diminati warga Vietnam.

Tingginya permintaan pasar di negara Vietnam setelah mengisi kegiatan pameran 
melalui promosi yang dilakukan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Provinsi 
Banten.

"Kami hampir setiap pekan memasok kain tenun Badui ke pasar Vietnam itu," 
katanya.

Sejatinya, di balik bangkitnya kembali UMKM Badui saat ini, ada pesan yang 
disampaikan Presiden Jokowi bahwa budaya, tanah adat dan wilayah kawasan dan 
konservasi merupakan satu nilai yang harus diperjuangkan.

Pakaian adat yang dikenakan Jokowi tersebut justru menunjukkan kepedulian 
tehadap rakyat kecil termasuk warga pedalaman seperti masyarakat Badui, 
memberikan keberpihakan dan melindungi masyarakat adat.

Yang pasti, kini tidak saja suku Badui yang merasakan bangkitnya kerajinan 
tangan warganya karena banyak mendapat pesanan, namun juga dalam jangka panjang 
bisa membangkitkan sisi ekonomi wilayah yang lebih luas, Pemprov Banten dan 
Indonesia hingga ke mancanegara.
Baca juga: Tetua Badui ajak warganya sukseskan program vaksinasi
Baca juga: Baju adat Badui dan diplomasi kultural ala Jokowi
Baca juga: Busana adat Badui yang dikenakan Presiden Jokowi senilai Rp240 ribu
 


Oleh Mansyur suryana
Editor: Royke Sinaga

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/55BCFA38CD594D12B9E15475264E8826%40A10Live.

Reply via email to