https://suaraislam.id/pki-yang-selalu-membuat-kacau-negeri-ini/

*PKI yang Selalu Membuat Kacau Negeri Ini*

12 Agustus 2021

Seiring dengan bergulirnya demokrasi terpimpin tahun 1959, pelan tapi pasti
Partai Komunis Indonesia (PKI) akhirnya memang mampu menjadi partai politik
yang ditakuti lawan. Apalagi PKI kian agresif melakukan *build up *mental
simpatisan, sekaligus memperhebat persatuan dan aksi massa mengganyang
kapitalis birokrat, pencoleng dan koruptor melawan tuan tuan tanah jahat
dan imperialisme AS.

Lebih hebat lagi PKI akhirnya berani menyerang Badan Pendukung Sukarnoisme
(BPS). Padahal seorang anggota BPS, wartawan dan tokoh kemerdekaan Sayuti
Malik, misalnya justru berusaha menggali lagi ajaran Soekarnoisme dalam
rangkaian tulisan di beberapa surat kabar. PKI ternyata tidak senang karena
BPS dianggap anti PKI. Anehnya BPS akhirnya dilarang justru atas perintah
Soekarno. Menteri Penerangan Achmadi pun mencabut izin terbit 21 harian dan
mingguan yang menjadi anggota BPS.

Jika BPS yang pro Soekarno saja akhirnya dibredel akibat tuduhan anti PKI,
maka kelompok anti PKI yang tidak pro Soekarno tentu mengalami peristiwa
lebih tragis, seperti dialami Masyumi.

Rezim demokrasi terpimpin menggelorakan politik anti Barat dan logika
revolusioner. Hanya saja realitas  politik itu akhirnya menjadi sangat
sangat problematik ketika saat itu PKI disatulinikan dengan membangun
jargon-jargon kebencian kepada sesama anak bangsa, khususnya kepada kaum
agama. Target pertama dari agitasi PKI terhadap kelompok yang disebut
kontra revolusi itu adalah kaum santri dari partai-partai yang mewakilinya,
seperti: Partai Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Syarikat Islam
Indonesia dan Partai Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Semula konsentrasi PKI diarahkan pada Masyumi, sebab partai ini kebetulan
juga berseberangan dengan Soekarno, sehingga lebih mudah jadi sasaran
tembak. PKI mempopulerkan sebutan Masyumi sebagai golongan kepala batu yang
berbahaya. Oleh Soekarno Masyumi dinilai kontra revolusi  dan oleh sebab
itu partai ini dibubarkan berdasar Keppres No. 200/1960, pada 17 Agustus
1960.

Setelah Masyumi dikorbankan demi revolusi, maka satu musuh terbesar telah
tumbang, sehingga peta politik utama tinggal memperhadapkan PKI vs NU. Bagi
NU, situasi ini sangat mengkhawatirkan karena harus sendiri menghadapi PKI
meskipun sedikit dibantu partai kecil semisal PSII dan Perti. Padahal
kondisi pasca bubarnya Masyumi telah membuka peluang bagi PKI untuk
berperan besar dalam pemerintahan. Artinya masuknya PKI dalam Kabinet sudah
tak terbendung lagi. Terbukti dalam Kabinet Kerja II 1962, DN Aidit menjadi
Wakil Ketua MPRS dan Lukman sebagai Wakil Ketua DPRGR dengan kedudukan
sebagai menteri. PKI pun makin intensif mengadakan berbagai pertemuan
besar, memobilisasi massa sekaligus *show of force*, memanaskan kampanye
politik melalui berbagai slogan, serta memilitansi simpatisan dengan
menjadikan “Genjer-Genjer” sebagai lagu andalannya.

Buku *“Politik Kaum Santri dan Abangan; Refleksi Historis Perseteruan
NU-PKI”* karya peneliti LIPI Dhurorudin Mashad ini memang menarik untuk
ditelaah. Dhurorudin banyak menampilkan fakta-fakta sejarah yang patut
disimak oleh generasi muda saat ini.

“Peristiwa sejarah itu kini terulang kembali,” kata peneliti LIPI itu dalam
bedah bukunya, Rabu kemarin (11/8/2021). Ia menyatakan bahwa dulu PKI
memusuhi agama, kini kaum agama juga dimusuhi. Dulu Masyumi dianggap kepala
batu, sekarang kelompok Islam dianggap radikal.

Jadi, setelah Masyumi bubar, fokus penyerangan PKI diarahkan pada NU. Hal
ini bukan saja dilakukan pengurus level lokal, tetapi bahkan oleh pemimpin
PKI level puncak. Dewan Pertimbangan Agung misalnya, lembaga yang idealnya
diisi figur yang telah matang secara emosi, namun Ketua CC PKI DN Aidit
justru menggunakannya sebagai forum untuk menyerang lawan politiknya.
Seperti dilakukannya kepada Menteri Agama asal NU, Kiai Syaifuddin Zuhri
yang digugat karena mengharamkan umat Islam memakan daging tikus.

PKI Setelah 1948

Pemberontakan PKI Madiun memang berhasil digagalkan (diumumkan resmi
melalui RRI, 30 September 1948), namun partai ini tidak dilarang bahkan
akhirnya diberikan amnesti. Hanya pimpinan teras PKI yang ditangkap,
diadili dan sebagian dibunuh. Setelah keadaan dipulihkan, pengejaran
terhadap PKI dihentikan, karena beberapa alasan:

a. Kekuatan PKI telah sedemikian menyebar meliputi Jawa Timur dan Jawa
Tengah, sehingga meskipun PKI hanya menguasai keadaan sekitar 13 hari
(Revolusi Madiun), namun korban nyawa dan harta luar biasa besar.
b. Negara juga dihadapkan pada Agresi Belanda ke II, sehingga tentara perlu
menghemat tenaga untuk menghadapi Belanda.
c. Untuk menjaga keutuhan pasukan dan persatuan, pemerintah mengambil sikap
tak melakukan pengejaran secara tuntas. Pemerintah justru menawarkan
amnesti bagi para pemberontak yang mau kembali ke pangkuan NKRI.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BUMd49Go2e5%2BeBTqYV1pPsd8pz-8Lj2BBMsTAUNpitug%40mail.gmail.com.

Reply via email to