*NKRI miliki mereka jadi tidak perlu diherankan jika ada yang
dichawatirkan sebab masalah intern kaum neo-mojopahit berdarah hijau.
hehehehehehe*

On Thu, Aug 26, 2021 at 2:38 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Megawati Takut Kehilangan Jokowi?
> *R53 * <https://www.pinterpolitik.com/author/r53-203>*- Wednesday, August
> 25, 2021 23:00*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/megawati-takut-kehilangan-jokowi
> *Presiden Joko Widodo bersama dengan Ketua Umum PDIP Megawati
> Soekarnoputri (Foto: FAJAR)*
>
> *7 min read*
>
> *Selepas berbagai elite PDIP melayangkan kritik terhadap Presiden Jokowi,
> Mewagati justru menegaskan akan membela mantan Wali Kota Solo tersebut.
> Apakah itu mengindikasikan Megawati khawatir terhadap hubungannya dengan
> Presiden Jokowi?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/>
>
> *“Politics is activity in relation to power.” – Francis Parker Yockey,
> filsuf Amerika Serikat*
>
> Ada komentar menarik dari Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and
> Consulting, Pangi Syarwi Chaniago terkait gestur PDIP akhir-akhir ini yang
> aktif melayangkan kritik terhadap pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).
>
> Seperti yang diketahui, di tengah kritik-kritik tersebut, Megawati
> Soekarnoputri justru menegaskan siap “pasang badan” untuk Presiden Jokowi.
> Ketua Umum (Ketum) PDIP ini juga melayangkan kritik terhadap pihak-pihak
> yang mengkritik RI-1.
>
> Menurut Pangi, gestur tersebut menunjukkan Megawati tengah memainkan
> strategi politik “tegang, tegang, kendur”. Pernyataan terbaru adalah
> strategi dalam mengendurkan situasi. Menurutnya, jika ketegangan terus
> diberikan, ada kekhawatiran Presiden Jokowi akan diakuisisi oleh Partai
> Golkar.
>
> Melihat hubungan Presiden Jokowi dengan partai beringin, asumsi tersebut
> terbilang wajar. Leo Suryadinata dalam tulisannya *Golkar’s Leadership
> and the Indonesian President*, menyebutkan pada Pilpres 2014 berbagai
> petinggi PDIP sebenarnya tidak begitu menyukai Presiden Jokowi. Namun
> karena elektabilitasnya tinggi, Megawati “terpaksa” memilihnya sebagai
> calon presiden.
>
> *Baca Juga: **Golkar, Partai Jokowi Selanjutnya?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/golkar-partai-jokowi-selanjutnya>
>
> Menurut Suryadinata, Presiden Jokowi sadar akan persoalan tersebut. Mantan
> Wali Kota Solo ini disebut memainkan strategi cerdas dengan memberikan
> penghormatan kepada Megawati dengan tidak secara terbuka menantangnya.
> Namun, secara diam-diam sadar mengandalkan PDIP saja tidaklah cukup. Ini
> kemudian membuatnya mengandeng Partai Golkar yang memang bersedia
> mendukungnya.
>
> Kembali pada analisis Pangi. Jika itu tepat, maka dapat dikatakan terdapat
> kekhawatiran bahwa Presiden Jokowi dapat saja meninggalkan PDIP. Terlebih
> lagi, akhir-akhir ini terbaca gestur terdapat usaha untuk mempersepsikan
> pendukung Presiden Jokowi ke kandidat tertentu. Ini jelas menunjukkan
> betapa besarnya pengaruh dukungan politik sang RI-1.
>
> Lantas, mungkinkah Megawati takut kehilangan Jokowi?
> *PDIP Partai Rasional*
>
> Terkait polemik antara Ganjar Pranowo dengan Puan Maharani, Pangi Syarwi
> Chaniago memberikan tanggapan menarik. Menurutnya, PDIP merupakan partai
> rasional yang melihat dan membaca realitas elektabilitas, tren, dan
> kemungkinan terbesar kemenangan. Oleh karenanya, Pangi menilai pilihan PDIP
> tidak akan terkurung pada Puan jika realitas berkata sebaliknya. Poin
> partai rasional ini sangat menarik.
>
> Alex Kacelnik dari University of Oxford dalam tulisannya* Meanings of
> Rationality* menyebut rasionalitas (*rationality*) dimaknai berbeda oleh
> psikolog, filsuf, ekonom, dan biolog. Bagi psikolog dan filsuf,
> penekanannya pada proses pengambilan keputusan. Rasionalitas dipercaya
> dicapai dengan penalaran (*reasoning*), dan dikontraskan dengan keputusan
> yang diperoleh melalui emosi, keyakinan, otoritas, atau pilihan yang
> sewenang-wenang.
>
> Sedangkan ekonom menekankan rasionalitas pada konsistensi pilihan,
> terlepas dari proses dan tujuannya. Sementara ahli biologi menggunakan
> konsep rasionalitas untuk menghubungkan kedua ide tersebut, yakni penalaran
> dan konsistensi pilihan. Dalam artikel ini, definisi dari biolog tampaknya
> lebih tepat untuk digunakan.
>
> Kembali pada Presiden Jokowi, penegasan Pangi soal PDIP adalah partai
> rasional merupakan *key point* yang penting. Pada 2014 lalu, dikenal
> istilah “Jokowi *Effect” *yang disebut mendongkrak suara PDIP sebesar 30
> persen di Pemilu 2014.
>
> Partai-partai pengusung utama Presiden Jokowi di Pilpres 2019 juga disebut
> mendapatkan keuntungan dari *coat-tail effect* atau efek ekor jas.
> Menariknya, Partai Nasdem justru yang dinilai paling diuntungkan dari efek
> ini karena mengalami kenaikan suara sebesar 2,33 persen dibanding Pemilu
> 2014. Ini jauh di atas PDIP yang hanya 0,38 persen.
>
> *Baca Juga: **Puan Tidak Serius Kritik Jokowi?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-tidak-serius-kritik-jokowi>
>
> Mengacu pada definisi rasionalitas, PDIP mestilah memiliki pertimbangan
> yang konsisten berdasarkan penalaran terkait putusan yang akan diambil.
> Oleh karenanya, alih-alih membiarkan Presiden Jokowi berpindah haluan ke
> partai lain, tentu lebih rasional dan menguntungkan apabila memanfaatkan
> pengaruhnya untuk tujuan partai, seperti memberi dukungan terbuka terhadap
> kandidat pilihan PDIP.
>
> Selain itu, Pilpres 2024 juga masih tiga tahun lagi sehingga sulit
> membayangkan PDIP akan menjadi aktor utama atas pergolakan di tubuh
> pemerintahan. Dugaan ini juga sejalan dengan instruksi Nomor
> 3134/IN/DPP/VIII/2021 yang dikeluarkan Megawati baru-baru ini.
>
> Di dalamnya ditegaskan agar semua kader disiplin untuk tidak memberikan
> tanggapan terkait capres dan cawapres, serta pelanggaran terhadap instruksi
> akan diberi sanksi disiplin partai.
>
> Nah, di luar persoalan PDIP, khususnya Megawati yang berlaku rasional,
> strategi “tegang, tegang, kendur” ini juga mengindikasikan fenomena politik
> lain.
>
>
> *Idealnya Ketua Partai?*
>
> Seperti yang ditegaskan dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, *Gantikan
> PDIP, Demokrat Dukung Jokowi?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/gantikan-pdip-demokrat-dukung-jokowi>,
> tingkah laku partai politik di Indonesia ibaratnya seperti perilaku
> kerajaan-kerajaan zaman dahulu.
>
> Ketika partai berkuasa berganti, ada kebiasaan untuk “membersihkan”
> orang-orang yang dinilai berafiliasi dengan partai sebelumnya. Ini berimbas
> pula pada kebiasaan partai oposisi yang seolah memiliki template “kata
> tidak” terhadap setiap kebijakan pemerintah.
>
> Kebiasaan tersebut persis seperti cara kerja kerajaan pada abad ke-16 yang
> ditulis oleh Niccolò Machiavelli dalam bukunya yang terkenal, *Il
> Principe*.
>
> Nah, sama halnya dengan kerajaan-kerajaan, faktor kemampuan konsolidasi
> partai menjadi begitu penting di Indonesia. Suka atau tidak, relasi “panas
> dingin” Presiden Jokowi dengan PDIP selama ini tampaknya menunjukkan betapa
> pentingnya faktor tersebut.
>
> Seperti yang diketahui, Megawati beberapa kali mengeluarkan istilah
> “petugas partai”. Secara semantik, ini dapat dimaknai bahwa posisi Jokowi,
> sekalipun merupakan Presiden, tetaplah subordinat terhadap partai.
>
> Profesor ilmu politik di University of Connecticut, Howard L. Reiter dalam
> tulisannya *Power: President As Party Leader* juga menegaskan bahwa
> kemampuan konsolidasi partai adalah faktor penting yang harus dimiliki oleh
> Presiden Amerika Serikat (AS).
>
> Persoalan ini kemudian melahirkan pertanyaan, apakah idealnya Presiden di
> Indonesia harus berasal dari ketua umum partai, atau setidaknya memiliki
> pengaruh yang begitu kuat di partai?
>
> Namun, menimbang pada kasus-kasus Presiden sebelumnya, seperti Susilo
> Bambang Yudhoyono (SBY), nyatanya SBY tidak harus menjadi Ketua Umum Partai
> Demokrat untuk mendapatkan dukungan dari partai mercedes. Tidak ada pula
> istilah “petugas partai” seperti yang kita lihat saat ini.
>
> Dengan demikian, mungkinkah persoalannya pada PDIP, khususnya Megawati?
>
>
> *Ada pada Megawati?*
>
> Terkait hal ini, kita perlu membuat satu lagi perbandingan, yakni dengan
> Partai Golkar. Partai yang sekarang diketuai oleh Airlangga Hartarto ini
> terbilang sangat menarik karena dijuluki memiliki “DNA kekuasaan”.
> Pelabelan itu bertolak dari habituasi partai yang tidak pernah menjadi
> oposisi atau selalu merapat pada kekuasaan.
>
> Kasus paling kentara mungkin pada 2004 lalu, ketika Akbar Tanjung yang
> saat itu menjadi Ketua Umum mendukung Wiranto sebagai calon presiden. Di
> sisi berbeda, Jusuf Kalla (JK) justru maju bersama SBY sebagai calon wakil
> presiden. Karena tidak sejalan dengan pimpinan, JK kemudian diberhentikan
> sebagai penasihat partai.
>
> Namun, kemenangan SBY-JK di Pilpres 2004 mengubah seketika konstelasi
> partai beringin yang kemudian memenangkan JK sebagai Ketua Umum Partai
> Golkar menggantikan Akbar Tanjung.
>
> Suka atau tidak, peristiwa itu menunjukkan bagaimana solidnya Partai
> Golkar mengedepankan kepentingan partai di atas kepentingan segelintir
> pihak. Ya, memang itu pragmatis dan oportunis, tapi jika ingin terus
> berkuasa, begitulah caranya.
>
> Kembali pada kasus Megawati, terkait apa yang terjadi, kita tampaknya
> dapat menggunakan tulisan Kendra Cherry yang berjudul *Autocratic
> Leadership: Key Characteristics, Strengths, and Weaknesses*. Megawati
> tampaknya memiliki gaya kepemimpinan otokratis, yang mana ini ditandai
> dengan sosok pemimpin yang mengontrol semua keputusan tanpa dipengaruhi
> anggota kelompok yang lain.
>
> *Baca Juga: **Ganjar “Bunuh Diri” Jika Tetap di PDIP?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ganjar-bunuh-diri-jika-tetap-di-pdip>
>
> Melihat pada pengalaman hidup Megawati yang menyaksikan ayahnya, Soekarno
> direpresi oleh rezim Soeharto, serta partainya mendapat hantaman
> bertubi-tubi, seperti peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996, sangat wajar
> sebenarnya jika Megawati menjadi pemimpin otokratis yang disebut-sebut punya
>  *trust issue*.
>
> Megawati disebut sulit percaya dengan orang lain, khususnya orang baru.
> Persoalan ini dapat dipahami melalui *personal construct theory*.
>
> Nah, jika benar Megawati merupakan pemimpin bergaya otokratis, itu jelas
> menjadi jawaban mengapa Presiden ke-5 ini beberapa kali menggunakan istilah
> petugas partai. Ini mungkin menegaskan bahwa jabatan tidak berpengaruh
> terhadap struktur kekuasaan di PDIP.
>
> *Well*, pada akhirnya, seperti penegasan Pangi Syarwi Chaniago, jangan
> sampai gaya kepemimpinan otokratis menghambat Megawati untuk mengambil
> keputusan rasional. (R53)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0C4E2E97CEC04034A49A940F2B228E8A%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0C4E2E97CEC04034A49A940F2B228E8A%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DQ%3DvniD_bvjANogZ-4VMtu0e_ysGR%3D-kHiQRuhS8xbrg%40mail.gmail.com.

Reply via email to