Megawati Takut Kehilangan Jokowi?R53 - Wednesday, August 25, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/megawati-takut-kehilangan-jokowi
 
Presiden Joko Widodo bersama dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri 
(Foto: FAJAR)
7 min read

Selepas berbagai elite PDIP melayangkan kritik terhadap Presiden Jokowi, 
Mewagati justru menegaskan akan membela mantan Wali Kota Solo tersebut. Apakah 
itu mengindikasikan Megawati khawatir terhadap hubungannya dengan Presiden 
Jokowi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Politics is activity in relation to power.” – Francis Parker Yockey, filsuf 
Amerika Serikat

Ada komentar menarik dari Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and 
Consulting, Pangi Syarwi Chaniago terkait gestur PDIP akhir-akhir ini yang 
aktif melayangkan kritik terhadap pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Seperti yang diketahui, di tengah kritik-kritik tersebut, Megawati 
Soekarnoputri justru menegaskan siap “pasang badan” untuk Presiden Jokowi. 
Ketua Umum (Ketum) PDIP ini juga melayangkan kritik terhadap pihak-pihak yang 
mengkritik RI-1.

Menurut Pangi, gestur tersebut menunjukkan Megawati tengah memainkan strategi 
politik “tegang, tegang, kendur”. Pernyataan terbaru adalah strategi dalam 
mengendurkan situasi. Menurutnya, jika ketegangan terus diberikan, ada 
kekhawatiran Presiden Jokowi akan diakuisisi oleh Partai Golkar.

Melihat hubungan Presiden Jokowi dengan partai beringin, asumsi tersebut 
terbilang wajar. Leo Suryadinata dalam tulisannya Golkar’s Leadership and the 
Indonesian President, menyebutkan pada Pilpres 2014 berbagai petinggi PDIP 
sebenarnya tidak begitu menyukai Presiden Jokowi. Namun karena elektabilitasnya 
tinggi, Megawati “terpaksa” memilihnya sebagai calon presiden.

Baca Juga: Golkar, Partai Jokowi Selanjutnya?

Menurut Suryadinata, Presiden Jokowi sadar akan persoalan tersebut. Mantan Wali 
Kota Solo ini disebut memainkan strategi cerdas dengan memberikan penghormatan 
kepada Megawati dengan tidak secara terbuka menantangnya. Namun, secara 
diam-diam sadar mengandalkan PDIP saja tidaklah cukup. Ini kemudian membuatnya 
mengandeng Partai Golkar yang memang bersedia mendukungnya.

Kembali pada analisis Pangi. Jika itu tepat, maka dapat dikatakan terdapat 
kekhawatiran bahwa Presiden Jokowi dapat saja meninggalkan PDIP. Terlebih lagi, 
akhir-akhir ini terbaca gestur terdapat usaha untuk mempersepsikan pendukung 
Presiden Jokowi ke kandidat tertentu. Ini jelas menunjukkan betapa besarnya 
pengaruh dukungan politik sang RI-1.

Lantas, mungkinkah Megawati takut kehilangan Jokowi?

 
PDIP Partai Rasional
Terkait polemik antara Ganjar Pranowo dengan Puan Maharani, Pangi Syarwi 
Chaniago memberikan tanggapan menarik. Menurutnya, PDIP merupakan partai 
rasional yang melihat dan membaca realitas elektabilitas, tren, dan kemungkinan 
terbesar kemenangan. Oleh karenanya, Pangi menilai pilihan PDIP tidak akan 
terkurung pada Puan jika realitas berkata sebaliknya. Poin partai rasional ini 
sangat menarik.

Alex Kacelnik dari University of Oxford dalam tulisannya Meanings of 
Rationality menyebut rasionalitas (rationality) dimaknai berbeda oleh psikolog, 
filsuf, ekonom, dan biolog. Bagi psikolog dan filsuf, penekanannya pada proses 
pengambilan keputusan. Rasionalitas dipercaya dicapai dengan penalaran 
(reasoning), dan dikontraskan dengan keputusan yang diperoleh melalui emosi, 
keyakinan, otoritas, atau pilihan yang sewenang-wenang.

Sedangkan ekonom menekankan rasionalitas pada konsistensi pilihan, terlepas 
dari proses dan tujuannya. Sementara ahli biologi menggunakan konsep 
rasionalitas untuk menghubungkan kedua ide tersebut, yakni penalaran dan 
konsistensi pilihan. Dalam artikel ini, definisi dari biolog tampaknya lebih 
tepat untuk digunakan.

Kembali pada Presiden Jokowi, penegasan Pangi soal PDIP adalah partai rasional 
merupakan key point yang penting. Pada 2014 lalu, dikenal istilah “Jokowi 
Effect” yang disebut mendongkrak suara PDIP sebesar 30 persen di Pemilu 2014.

Partai-partai pengusung utama Presiden Jokowi di Pilpres 2019 juga disebut 
mendapatkan keuntungan dari coat-tail effect atau efek ekor jas. Menariknya, 
Partai Nasdem justru yang dinilai paling diuntungkan dari efek ini karena 
mengalami kenaikan suara sebesar 2,33 persen dibanding Pemilu 2014. Ini jauh di 
atas PDIP yang hanya 0,38 persen.

Baca Juga: Puan Tidak Serius Kritik Jokowi?

Mengacu pada definisi rasionalitas, PDIP mestilah memiliki pertimbangan yang 
konsisten berdasarkan penalaran terkait putusan yang akan diambil. Oleh 
karenanya, alih-alih membiarkan Presiden Jokowi berpindah haluan ke partai 
lain, tentu lebih rasional dan menguntungkan apabila memanfaatkan pengaruhnya 
untuk tujuan partai, seperti memberi dukungan terbuka terhadap kandidat pilihan 
PDIP.

Selain itu, Pilpres 2024 juga masih tiga tahun lagi sehingga sulit membayangkan 
PDIP akan menjadi aktor utama atas pergolakan di tubuh pemerintahan. Dugaan ini 
juga sejalan dengan instruksi Nomor 3134/IN/DPP/VIII/2021 yang dikeluarkan 
Megawati baru-baru ini.

Di dalamnya ditegaskan agar semua kader disiplin untuk tidak memberikan 
tanggapan terkait capres dan cawapres, serta pelanggaran terhadap instruksi 
akan diberi sanksi disiplin partai.

Nah, di luar persoalan PDIP, khususnya Megawati yang berlaku rasional, strategi 
“tegang, tegang, kendur” ini juga mengindikasikan fenomena politik lain.



Idealnya Ketua Partai?
Seperti yang ditegaskan dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Gantikan PDIP, 
Demokrat Dukung Jokowi?, tingkah laku partai politik di Indonesia ibaratnya 
seperti perilaku kerajaan-kerajaan zaman dahulu.

Ketika partai berkuasa berganti, ada kebiasaan untuk “membersihkan” orang-orang 
yang dinilai berafiliasi dengan partai sebelumnya. Ini berimbas pula pada 
kebiasaan partai oposisi yang seolah memiliki template “kata tidak” terhadap 
setiap kebijakan pemerintah.

Kebiasaan tersebut persis seperti cara kerja kerajaan pada abad ke-16 yang 
ditulis oleh Niccolò Machiavelli dalam bukunya yang terkenal, Il Principe.

Nah, sama halnya dengan kerajaan-kerajaan, faktor kemampuan konsolidasi partai 
menjadi begitu penting di Indonesia. Suka atau tidak, relasi “panas dingin” 
Presiden Jokowi dengan PDIP selama ini tampaknya menunjukkan betapa pentingnya 
faktor tersebut.

Seperti yang diketahui, Megawati beberapa kali mengeluarkan istilah “petugas 
partai”. Secara semantik, ini dapat dimaknai bahwa posisi Jokowi, sekalipun 
merupakan Presiden, tetaplah subordinat terhadap partai.

Profesor ilmu politik di University of Connecticut, Howard L. Reiter dalam 
tulisannya Power: President As Party Leader juga menegaskan bahwa kemampuan 
konsolidasi partai adalah faktor penting yang harus dimiliki oleh Presiden 
Amerika Serikat (AS).

Persoalan ini kemudian melahirkan pertanyaan, apakah idealnya Presiden di 
Indonesia harus berasal dari ketua umum partai, atau setidaknya memiliki 
pengaruh yang begitu kuat di partai?

 
Namun, menimbang pada kasus-kasus Presiden sebelumnya, seperti Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY), nyatanya SBY tidak harus menjadi Ketua Umum Partai Demokrat 
untuk mendapatkan dukungan dari partai mercedes. Tidak ada pula istilah 
“petugas partai” seperti yang kita lihat saat ini.

Dengan demikian, mungkinkah persoalannya pada PDIP, khususnya Megawati?



Ada pada Megawati?
Terkait hal ini, kita perlu membuat satu lagi perbandingan, yakni dengan Partai 
Golkar. Partai yang sekarang diketuai oleh Airlangga Hartarto ini terbilang 
sangat menarik karena dijuluki memiliki “DNA kekuasaan”. Pelabelan itu bertolak 
dari habituasi partai yang tidak pernah menjadi oposisi atau selalu merapat 
pada kekuasaan.

Kasus paling kentara mungkin pada 2004 lalu, ketika Akbar Tanjung yang saat itu 
menjadi Ketua Umum mendukung Wiranto sebagai calon presiden. Di sisi berbeda, 
Jusuf Kalla (JK) justru maju bersama SBY sebagai calon wakil presiden. Karena 
tidak sejalan dengan pimpinan, JK kemudian diberhentikan sebagai penasihat 
partai.

Namun, kemenangan SBY-JK di Pilpres 2004 mengubah seketika konstelasi partai 
beringin yang kemudian memenangkan JK sebagai Ketua Umum Partai Golkar 
menggantikan Akbar Tanjung.

Suka atau tidak, peristiwa itu menunjukkan bagaimana solidnya Partai Golkar 
mengedepankan kepentingan partai di atas kepentingan segelintir pihak. Ya, 
memang itu pragmatis dan oportunis, tapi jika ingin terus berkuasa, begitulah 
caranya.

Kembali pada kasus Megawati, terkait apa yang terjadi, kita tampaknya dapat 
menggunakan tulisan Kendra Cherry yang berjudul Autocratic Leadership: Key 
Characteristics, Strengths, and Weaknesses. Megawati tampaknya memiliki gaya 
kepemimpinan otokratis, yang mana ini ditandai dengan sosok pemimpin yang 
mengontrol semua keputusan tanpa dipengaruhi anggota kelompok yang lain.

Baca Juga: Ganjar “Bunuh Diri” Jika Tetap di PDIP?

Melihat pada pengalaman hidup Megawati yang menyaksikan ayahnya, Soekarno 
direpresi oleh rezim Soeharto, serta partainya mendapat hantaman bertubi-tubi, 
seperti peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996, sangat wajar sebenarnya jika 
Megawati menjadi pemimpin otokratis yang disebut-sebut punya trust issue.

Megawati disebut sulit percaya dengan orang lain, khususnya orang baru. 
Persoalan ini dapat dipahami melalui personal construct theory.

Nah, jika benar Megawati merupakan pemimpin bergaya otokratis, itu jelas 
menjadi jawaban mengapa Presiden ke-5 ini beberapa kali menggunakan istilah 
petugas partai. Ini mungkin menegaskan bahwa jabatan tidak berpengaruh terhadap 
struktur kekuasaan di PDIP.

Well, pada akhirnya, seperti penegasan Pangi Syarwi Chaniago, jangan sampai 
gaya kepemimpinan otokratis menghambat Megawati untuk mengambil keputusan 
rasional. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0C4E2E97CEC04034A49A940F2B228E8A%40A10Live.

Reply via email to