Populisme, Batu Ganjalan Prabowo?A72 - Friday, October 15, 2021 16:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/populisme-batu-ganjalan-prabowo
 
Prabowo Subianto (tengah) menyapa para pendukungnya setelah memilih di tempat 
pemungutan suara (TPS) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang dilaksanakan 
pada 17 April 2019 lalu. (Foto: EPA)
8 min read

Partai Gerindra memastikan akan kembali mengusung Prabowo Subianto menjadi 
calon presiden (capres) di tahun 2024. Beberapa pengamat menganalisis peluang 
Prabowo untuk memenangi kontestasi pemilihan presiden (pilpres) justru 
mengecil. Apa penyebabnya?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Partai Gerindra melalui pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ahmad Muzani 
memastikan akan kembali mengusung sang Ketua Umum (Ketum) Prabowo Subianto 
menjadi calon presiden (capres) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Sekilas, 
pencalonan Prabowo untuk kembali maju dalam kontestasi Pilpres tampak sah-sah 
saja.

Prabowo sebagai Ketum jelas punya privilese untuk mencalonkan diri sebagai 
kandidat. Ditambah, rentetan hasil survei menempatkan namanya di jajaran 
teratas kandidat capres dengan elektabilitas tertinggi.

Namun, kondisi tersebut diyakini tidak serta merta membuat langkah sang 
jenderal menjadi mulus. Beberapa pengamat justru menilai peluang mantan 
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) itu mengecil di 
tahun 2024.

Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yuda memaparkan Prabowo akan menghadapi 
banyak tantangan untuk mencalonkan diri di 2024. Pertama, meski 
elektabilitasnya relatif tinggi tetapi kondisi ini diyakini belum aman. Jika 
dilakukan simulasi head-to-head dengan kandidat kuat lain – seperti  Anies 
Baswedan, Prabowo diyakini akan kesulitan untuk menang.

Baca Juga: Prancis Pilihan Terbaik Prabowo?

 
Kedua, preferensi politik masyarakat dinilai sudah berubah karena masyarakat 
saat ini diyakini menginginkan sosok baru. Terkait hal ini, peneliti Lembaga 
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, menambahkan saat ini 
publik mendambakan regenerasi kepemimpinan di 2024.

Wasisto juga menyebut publik sedang mencari pemimpin yang mengusung narasi 
populis yang mampu menarik perhatian publik dengan gaya kerakyatan, adaptif, 
dan membuka diri. Menariknya, narasi populisme seperti ini dinilai berlawanan 
dengan karakter Prabowo dan justru dimiliki oleh beberapa sosok potensial 
lainnya, seperti Ganjar Pranowo dan Anies.

Hal tersebut tentu menjadi menarik untuk dianalisis. Mengapa narasi populisme 
seperti ini dapat menjadi ganjalan Prabowo? Kemudian, faktor-faktor apa saja 
yang menyebabkannya menjadi ganjalan?



Mengenal Populisme
Populisme mungkin menjadi salah satu istilah politik yang paling populer 
beberapa tahun belakangan. Kemenangan Donald Trump pada Pilpres Amerika Serikat 
(AS) tahun 2016 menjadi salah satu tonggak naiknya popularitas gerakan politik 
yang satu ini.

Populisme sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai gerakan politik yang 
mengkapitalisasi suara mayoritas masyarakat dan membenturkannya dengan 
sekelompok elite atau penguasa.

Memang masih banyak perdebatan tentang pengertiannya. Namun, kebanyakan ahli 
sepakat bahwa gerakan mengkapitalisasi suara mayoritas secara politik untuk 
melawan kelompok tertentu dan memenangkan pemilu merupakan bagian dari 
populisme.

Secara spesifik, beberapa pemikir menyebut populisme lebih tepat disebut 
sebagai strategi politik ketimbang ideologi politik atau ekonomi. Kurt Weyland 
– seperti dikutip dari tulisan Edward Aspinall – menyebut populisme sebagai 
strategi politik ketika seorang politisi dengan karakter personal tertentu 
membangun kekuatan dan dukungan secara langsung tanpa terikat institusi dari 
sejumlah besar masyarakat yang mayoritas adalah pengikut yang tidak 
terorganisir. Pada titik ini, populisme memang melewati batasan institusi – 
entah itu partai politik maupun yang sejenisnya.

Menariknya, jika melihat pada dua kontestasi Pilpres terakhir, baik Jokowi dan 
Prabowo dianggap sama-sama mengusung narasi populisme – sekalipun di spektrum 
yang berbeda. Jokowi memang dikenal sebagai tokoh yang populis sejak menjabat 
sebagai Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Sementara, Prabowo juga 
belakangan diduga “mencoba” menggunakan strategi yang sama saat 
mengkapitalisasi dukungan politik – misalnya ketika ia bicara tentang 
“pencurian” kekayaan nasional.

Terkait hal ini, Aspinall dalam Oligharcic Populism: Prabowo Subianto Challenge 
to Indonesian Democracy memaparkan berbeda dengan Jokowi yang dianggap 
memainkan narasi populisme di spektrum kiri. Populisme yang dimainkan Prabowo 
menurut Aspinall cenderung ada di spektrum kanan.

Dua spektrum politik ini memang masih menjadi perdebatan – khususnya apabila 
berbicara dalam konteks Indonesia. Berbeda dengan AS, misalnya, yang jelas 
secara kepartaian sudah memberikan distingsi antara Partai Demokrat yang 
liberal-progresif dengan Partai Republik yang konservatif.



Baca Juga: Prabowo Tak Sayang Sandiaga?


Secara garis besar, spektrum politik kiri memang dicirikan oleh adanya pasar 
yang adil (fair trade), egalitarianisme, gerakan yang progresif, sosialisme, 
equality (persamaan), serta keberpihakan pada kelompok pekerja dan rakyat 
kecil. Sementara, spektrum politik kanan dicirikan oleh pasar bebas (free 
trade), kondisi masyarakat yang tradisionalis-elitis, adanya status quo, 
konservatisme, equity (keadilan), meritokrasi, dan cenderung berpihak pada 
pengusaha.

Menurut Aspinall, Prabowo mengambil spektrum populisme yang cenderung kanan – 
seperti Thaksin Shinawatra, Hugo Chavez, bahkan Donald Trump. Populisme Prabowo 
juga bisa disebut sebagai pluto populism, yakni populisme yang berasal dari 
pemikiran orang kaya dan berharta.

Kebangkitan populisme kanan memang sedang terjadi di banyak negara di dunia. AS 
dengan Trump yang tentu saja kanan dan Amerika Latin dengan para pemimpin ultra 
kanan-nya, telah menjadi barometer kebangkitan gerakan politik kanan itu.

Lantas, jika dianggap memiliki karakteristik narasi populisme yang sama dengan 
Thaksin, Chavez, dan Trump, mengapa dalam penerapannya konsep populisme Prabowo 
ini bisa dinilai gagal?



Mengapa Prabowo Mungkin Gagal?
Aspinal seperti yang sempat disinggung di atas, menyebut populisme Prabowo ini 
sebagai oligarch populism atau populisme oligarkis, yakni populisme yang 
berasal dari pemikiran orang kaya dan berharta. Hal ini merujuk pada latar 
belakangnya yang memang berasal dari kalangan pebisnis dan orang kaya.

Total kekayaan Prabowo mencapai Rp 1,67 triliun dan US$7,5 juta. Jumlah 
tersebut belum termasuk sokongan dana dari saudaranya, Hashim Djojohadikusumo.

Aspinall sempat menyebutkan bahwa Hashim menghabiskan sekitar US$ 100 juta atau 
sekitar Rp 1,4 triliun jika dihitung berdasarkan kurs hari ini, untuk mendanai 
pendirian Partai Gerindra pada 2008-2009.

Jika merujuk pada hasil pilpres 2014 dan 2019, tentu sah saja untuk mengatakan 
bahwa narasi populisme yang dibawa Prabowo sejauh ini belum berhasil untuk 
diterapkan. Aspinall memaparkan Prabowo memang kerap mengritik para elite. 
Namun, latar belakang dirinya yang nyatanya berasal dari kelompok elite mau 
tidak mau membuat sudut pandang Prabowo menjadi bias.

Hal ini berbeda dengan Jokowi yang relatif berhasil menyamakan dirinya dengan 
rakyat biasa. Ini disebabkan narasi populisme spektrum kiri Jokowi juga 
diperkuat dari latar belakangnya yang bukan berasal dari kelompok elite. Ia 
juga lebih dekat dengan kelompok-kelompok masyarakat yang ingin menyuarakan 
perubahan, progresif, dan terpinggirkan.

Lalu, apakah faktor latar belakangnya yang berasal dari keluarga elite 
menyebabkan narasi populisme yang dibawa Prabowo berulang kali gagal? 
Jawabannya mungkin iya tetapi diyakini bukan faktor satu-satunya.



Baca Juga: Prabowo-Puan Lebih Realistis?

 
Di sini, kita coba melihat contoh kasus lain. Dari ciri-ciri tersebut, narasi 
populisme Prabowo bisa dibilang mirip dengan Thaksin Shinawatra yang juga 
adalah pebisnis dan mantan Perdana Menteri (PM) Thailand. Sama seperti Prabowo, 
Thaksin sendiri berasal dari kelompok elite pebisnis, yang membuatnya juga bisa 
disebut sebagai oligarch populist dan pluto populist. Aspinall juga menyebut 
baik Prabowo maupun Thaksin sebagai populis otoritarian klasik.

Thaksin disinyalir sangat kuat dalam retorika populisme terkait elite korup, 
kebocoran kekayaan negara. dan lain sebagainya – narasi-narasi populisme yang 
sangat mirip dengan yang dibawa Prabowo dalam dua pemilu terakhir. Namun, 
berbeda dengan Prabowo, ia terbukti berhasil menggalang dukungan masyarakat 
hingga mengantarnya ke kursi PM.

Grigoris Markou dan Phanuwat Lasote dalam tulisannya untuk Populismus menyebut 
salah satu kunci keberhasilan Thaksin adalah menciptakan diskursus “us” yang 
mewakili orang-orang miskin dengan dirinya di dalam kelompok tersebut, melawan 
kelompok “them” yang mewakili kelompok elit koruptif, pebisnis, aristokrat, 
militer, bahkan hingga keluarga kerajaan.

Griforis Markou lebih lanjut menjelaskan sosok yang elitis seperti Thaksin bisa 
menjadi tokoh populis yang diterima masyarakat dan berhasil karena dia tak 
hanya menganggap populisme sebagai narasi tetapi ia juga menjalankan konsep 
tersebut di kehidupan sehari-hari.

Thaksin pada masa-masa tertentu berani turun langsung ke masyarakat dengan 
memperkenalkan konsepnya. Ia dengan menggunakan setelan khas masyarakat biasa, 
turun langsung mengenalkan doktrin “Thaksinomics” untuk mengambil hati 
masyarakat kelas bawah dalam rangka memperbaiki Thailand pasca-Krisis 1998 itu. 
Dengan perlahan, ia menjadi sangat populis dan dapat diterima masyarakat

Jika berkaca pada kasus Thaksin, walau berasal dari keluarga elite tetapi 
nyatanya narasi populismenya cukup berhasil. Keberhasilan Thaksin ini sekaligus 
mematahkan asumsi bahwa sosok elitis bahkan yang berasal langsung dari keluarga 
elite tidak bisa menjadi sosok yang populis.

Mungkin, ini adalah alasan lain mengapa narasi populisme yang dibawa Prabowo 
gagal, terlepas dia mempunyai latar belakang elite sehingga narasi populismenya 
terkesan bias tetapi ia juga diyakini tak menjalankan konsep populisme tersebut 
di kehidupan sehari-hari – setidaknya seperti apa yang dilakukan Thaksin, yaitu 
turun langsung ke masyarakat dan mengambil simpati mereka.

Padahal, berdasar temuan LIPI, saat ini masyarakat cenderung menginginkan 
pemimpin yang mengusung narasi populis yang mampu menarik perhatian publik 
dengan gaya kerakyatan, adaptif, dan membuka diri. Narasi yang cenderung masuk 
ke dalam narasi populisme spektrum kiri menurut Aspinall. Tentu, hal ini 
bertolak belakang dengan narasi yang dibawa Prabowo.

Menyikapi hal ini, Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yuda menyarankan sang 
jenderal untuk melakukan rebranding sosok dalam rangka menghadapi Pilpres 2024. 
 Namun, hal ini diyakini sulit bagi sosok seperti Prabowo yang dinilai 
mempunyai karakteristik yang kuat untuk begitu saja mengubah narasi dan model 
kampanyenya menjadi lebih populis seperti yang disukai masyarakat.

Ditambah, posisi Prabowo saat ini sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) tidak 
mendukung untuk memakai gaya populisme tersebut dibandingkan dengan Gubernur 
atau Menteri yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Pada akhirnya, 
berdasarkan pada beberapa faktor di atas, bukan tidak mungkin narasi populisme 
lagi-lagi bisa menjadi ganjalan utama bagi Prabowo untuk memenangi kontestasi 
Pilpres pada tahun 2024 nanti. (A72)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/9402AEAA764746958EC390F7BD22BF53%40A10Live.

Reply via email to