Menkeu Sri Mulyani jelaskan tiga tantangan pemulihan ekonomi global
 Minggu, 31 Oktober 2021 06:41 WIB
 
Keterangan Pers Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Roma, Italia, Sabtu 
(30/10/2021). ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati 
mengungkapkan pemulihan ekonomi global akibat pandemi COVID-19 di seluruh dunia 
saat ini tengah terjadi meski tidak merata, salah satunya karena akses vaksin 
yang tidak merata di seluruh dunia.

"Ada negara-negara yang sampai hari ini bahkan jumlah vaksinasinya dari 
penduduknya kurang dari 3 persen, di negara-negara Afrika. Rata-rata yang di 
negara-negara miskin baru 6 persen dari penduduknya, sementara negara-negara 
maju sudah melakukan vaksinasi di atas 70 persen atau bahkan mendekati 100 
persen dan mereka sudah melakukan boosting," kata Sri Mulyani dalam 
keterangannya di Hotel Splendide Royal, Roma, Italia, Sabtu (30/10), seusai 
mendampingi Presiden Joko Widodo dalam KTT G20 di La Nuvola.

Selain akses vaksin yang tidak merata, kata dia, pemulihan ekonomi dunia juga 
terancam oleh dua hal lain, yaitu terjadinya inflasi kenaikan energi dan 
disrupsi dari suplai.

Menurut Menkeu Sri Mulyani, hal tersebut terjadi di seluruh negara yang 
pemulihan ekonominya sangat cepat meski mengalami komplikasi dalam bentuk 
kenaikan harga energi dan disrupsi suplai.

"Artinya apa? Waktu permintaan pulih dengan cepat dan kuat, ternyata suplainya 
tidak mengikuti," kata Sri Mulyani

Lebih lanjut, Menkeu menjelaskan bahwa kenaikan energi yang terjadi sangat 
cepat karena investasi di bidang energi, terutama yang non-renewable itu sudah 
merosot tajam dihadapkan pada permintaan energi yang melonjak akibat pemulihan 
ekonomi. Hal tersebut mendorong inflasi yang tinggi di berbagai negara.

"Ini menjadi ancaman pemulihan ekonomi global. Indonesia perlu juga tetap 
waspada terhadap kemungkinan terjadinya rembesan hal tersebut," kata Sri 
Mulyani.

Karena Covid ini adalah ancaman nyata terhadap perekonomian dunia, lanjut 
Menkeu, di dalam pembahasan antara menteri keuangan dan menteri kesehatan 
negara-negara G20 disepakati untuk membangun membangun sebuah mekanisme yang 
disebut pencegahan pandemi (pandemic preparedness).

"Hari ini dunia tidak siap menghadapi pandemi. Nyatanya (pandemi) telah 
menyebabkan biaya sampai 12 triliun dolar AS, 5 juta orang meninggal, dan lebih 
dari 250 juta orang yang terkena pandemi ini. Maka, dunia harus menyiapkan 
lebih baik," ujar Sri Mulyani.

Dalam KTT G20 kali ini disepakati akan ada joint finance health task force atau 
satuan kerja antara menteri keuangan dan menteri kesehatan di bawah G20 yang 
tujuannya adalah untuk menyiapkan prevention, preparedness, and response (PPR) 
dari pandemi.

Task force tersebut akan dipimpin oleh Menteri Keuangan Indonesia dan Italia.

"Indonesia sebagai tuan rumah atau presidensi mulai Desember dan Italia yang 
sekarang ini menjadi presidensi. Tentu peran Indonesia menjadi penting karena 
Indonesia adalah negara yang besar dan kita juga punya komitmen terhadap 
vaksinasi kita," kata Menkeu.

Baca juga: Sri Mulyani: Kebijakan pemulihan ekonomi terapkan prinsip Islam

Baca juga: Sri Mulyani sebut realisasi PEN capai 58,3 persen 
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: D.Dj. Kliwantoro

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/64F83733D7A54857B0CC61C5CAFE9AD7%40A10Live.

Reply via email to