Kekuasaan negara di Negara Kleptokrasi RI adalah hak turun temurun klik
elit neo-Mojopahit. Pemilihan umum dan debat-debat adalah sendiwara
pengesahan kekuasaan, kata ahli ilmu nujum abakadabra. hehehehehe

On Sun, Nov 7, 2021 at 2:54 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Puan, Angela Merkel-nya Indonesia?
> *I76 * <https://www.pinterpolitik.com/author/i76>*- Saturday, November 6,
> 2021 19:43*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-angela-merkel-nya-indonesia
> *Ketua DPR Puan Maharani (Foto: Tribun)*
>
> *6 min read*
>
> *Sejauh ini Puan adalah satu-satunya kandidat perempuan di Pilpres 2024.
> Apakah Puan mampu menunjukkan kepemimpinan perempuan seperti Angela Merkel
> di Jerman? Lalu, apakah ia mampu menjadi presiden perempuan seperti ibunya,
> Megawati?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com <https://www.pinterpolitik.com/>*
>
> Peran perempuan mempunyai pemaknaan yang beragam dalam lintas sejarah,
> dalam literatur ilmiah maupun populer, diskusi santai dan pembicaraan
> sehari-hari, selalu ditemukan pemaknaan peran perempuan dengan *tone *yang
> peyoratif. Seakan peran perempuan hanya berada pada posisi kedua, sebagai
> pendamping hidup laki-laki.
>
> Dalam tradisi Jawa, misalnya, sering kali muncul istilah yang sudah cukup
> mapan seperti perempuan Jawa sebagai *konco wingking*, yang cukup
> mengurusi urusan dapur (memasak), sumur (mencuci), dan kasur (melayani
> suami). Pada umumnya, persepsi yang muncul ketika membicarakan perempuan
> Jawa adalah perempuan yang lemah lembut, teratur tutur bahasanya, mengalah,
> sabar, dapat mengontrol perilakunya, sebagaimana ditunjukkan oleh para
> perempuan priyayi Jawa.
>
> Perempuan modern mengalami banyak perubahan, masyarakat telah banyak
> merevisi makna tentang peran perempuan. Tidak lagi dianggap hanya berurusan
> dengan pekerjaan rumah tangga, perempuan diberikan ruang untuk mampu
> berkreasi layaknya laki-laki. Bahkan saat ini banyak wacana tentang
> pemimpin perempuan.
>
>
>
> *Baca Juga: Pemerkosaan dalam Cengkeraman Negara Laki-Laki
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pemerkosaan-dalam-cengkeraman-negara-laki-laki>*
>
>
>
> Azzahra Fanny Nurhaliza dalam tulisannya yang berjudul *Kepemimpinan
> Perempuan dan Keunggulannya di Masa Pandemi* mengatakan pemimpin
> perempuan cenderung memiliki gaya transformasional karena melalui gaya ini
> mereka dapat menggunakan kemampuan relasional dan interpersonal mereka
> untuk memperoleh legitimasi maupun memotivasi pengikutnya dalam menghadapi
> proses perubahan.
>
> Nurhaliza ingin menggambarkan bahwa perempuan dalam memimpin mampu
> menghadirkan perubahan, hal ini disebabkan kemampuan dasar yang
> dimilikinya, seperti mampu membanggun relasi dan berinteraksi, tentunya
> juga, perempuan bisa menjadi motivator bagi pengikutnya.
>
> Berangkat dari wacana tentang pemimpin perempuan, kita disajikan banyak
> berita tentang pencalonan Puan Maharani sebagai salah satu kandidat di
> Pilpres 2024 mendatang. Lantas, apakah pencalonan Puan yang jamak
> diberitakan dapat dimaknai sebagai perjuangan untuk menghadirkan seorang
> pemimpin perempuan?
>   *Tampil di Bursa Capres*
>
> Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi
> Chaniago mengungkapkan ramai-ramai deklarasi capres di dalam pendekatan
> ilmu politik merupakan bentuk *social movement* atau gerakan sosial untuk
> mencari pemimpin yang ideal berdasarkan akar rumput atau suara rakyat.
>
> Deklarasi Relawan Puan Maharani For Presiden 2024 atau RPM 2024 beberapa
> waktu lalu misalnya mendapat atensi publik. Ketua Umum RPM 2024, Budi
> Santoso dalam deklarasinya mengungkap bahwa sosok negarawan Taufik Kiemas,
> juga ada pada diri Puan Maharani. Tangan dingin Taufik Kiemas disebut
> sangat mempengaruhi karakter Ketua DPR tersebut.
>
> Narasi Puan adalah representasi dari gaya kepemimpinan Taufik Kiemas
> menjadi nilai jual tersendiri. Tentunya pemilih nantinya yang menjawab,
> apakah narasi itu mampu memikat atau diacuhkan para pemilih.
>
> Meskipun secara elektabilitas Puan masih tertinggal dibanding tokoh lain
> seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil,
> berbagai pihak meyakini Puan Maharani akan tetap diusung PDI Perjuangan
> (PDIP).
>
> Ini disampaikan Direktur Eksekutif Veritas Data, Iqbal Themi yang menilai
> diusungnya Puan di Pilpres 2024 dapat menjadi solusi jalan tengah bagi
> soliditas mesin politik PDIP. Puan juga dinilai akan mendapatkan *coattail
> effect* atau efek ekor jas karena asosiasi Puan terhadap PDIP sangatlah
> kuat.
>
> Jika alasan pengusungan didasarkan sebagai upaya membangun jalan tengah
> untuk membentuk soliditas internal, hal ini lumrah diterima. Tapi, jika
> dianggap ada faktor efek ekor jas dalam pencalonan maka sulit diterima,
> dikarenakan efek ekor jas sejauh fenemona empiris saat ini hanya berlaku
> bagi calon dengan popularitas yang tinggi bukan sebaliknya.
>
>
>
> *Baca Juga: Prabowo-Puan Lebih Realistis?
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/prabowo-puan-lebih-realistis>*
>
>
>
> Djayadi Hanan dalam tulisannya *Efek Ekor Jas* mengatakan kajian ilmiah
> mengenai efek ekor jas umumnya didasarkan pada penelitian pemilu serentak
> dalam sistem presidensial dua partai seperti di Amerika Serikat (AS).
> Kesimpulan umumnya, terdapat hubungan yang positif antara kekuatan
> elektoral seorang calon presiden dan partai yang mengusungnya. Artinya,
> seorang calon presiden atau presiden yang populer dengan tingkat
> elektabilitas yang tinggi akan memberikan keuntungan positif secara
> elektoral kepada partai yang mengusungnya sebagai calon.
>
> Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review,
> Ujang Komarudin, PDIP hingga kini terus berupaya menaikkan elektabilitas
> Puan Maharani sampai benar-benar siap berkompetisi di Pilpres 2024.
> Menurutnya, sudah ada bocoran dari internal PDIP, mereka akan mengajukan
> Puan untuk maju sebagai kandidat calon presiden 2024. Kata mereka, “menang
> bersama dan kalah juga bersama”. Kalaupun kalah, itu adalah risiko karena
> mendorong figur yang elektabilitasnya rendah.
>
> *Well*, jika memang saat ini elektabilitas Puan rendah, apakah akan sirna
> harapan untuk berkompetisi?
>   *Kepemimpinan Perempuan*
>
> Winston S. Churchill, mantan Perdana Menteri Britania Raya pernah
> mengatakan kesuksesan adalah perjuangan dari kegagalan demi kegagalan tanpa
> kehilangan antusiasme. Setidaknya motivasi ini dapat menjadi harapan agar
> antusiasme kita bisa terjaga.
>
> Cerita tentang antusiasme perempuan dalam politik tergambar pada
> perjalanan politik Kanselir Jerman, Angela Merkel. Dianggap sebagai contoh
> politisi yang berangkat dari nol, Merkel menunjukkan dirinya sebagai
> perempuan kuat dan kini diakui sebagai salah satu politisi paling
> berpengaruh di Eropa. Menjadi ciri khas darinya,  ia adalah pendengar yang
> baik. Banyak orang mengakui kemampuan komunikasinya dalam menyelesaikan
> masalah.
>
> Sekar Kinasih dalam tulisannya *Warisan Kanselir Angela Merkel Untuk
> Jerman* mengatakan Merkel juga dipuji karena welas asihnya ketika
> menangani krisis kemanusiaan. Saat Eropa menghadapi gelombang pengungsi
> dari Timur Tengah, ia memerintahkan perbatasan Jerman dibuka. Sepanjang
> 2015-2016, jutaan pengungsi mengajukan suaka ke Uni Eropa. Sampai hari ini,
> Jerman merupakan negara penampung pengungsi terbanyak di Eropa, yakni 1,2
> juta jiwa.
>
> Konsep welas asih dapat kita temukan dalam banyak literatur tentang
> *ethic*s* of care *(etika kepedulian)*. *Carol Gilligan dalam bukunya *In
> a Different Voice: Psychological Theory and Women's Development* mengatakan
> tolak ukur perkembangan moral laki-laki dan perempuan pada dasarnya
> berbeda. Perbedaan tersebut antara lain, landasan moralitas perempuan
> didasarkan pada prinsip penyatuan, yaitu keberadaan relasi dengan orang
> lain, dapat diumpakan secara sederhana layaknya seorang ibu yang lebih
> mementingkan welas asih.
>
> Sementara laki-laki menekankan prinsip pemisahan, yang artinya laki-laki
> akan berusaha menjaga jarak dengan lingkungannya. Laki-laki lebih
> menekankan keadilan, memperlakukan orang lain secara objektif dan terbuka.
> Sedangkan perempuan lebih menekankan pada kepedulian dan akan lebih
> bersifat peduli terhadap penderitaan orang lain. Kepedulian itu
> didemonstrasikan melalui cinta kepada sesama.
>
>
>
> *Baca Juga: Andika Lawan Mitos Keperawanan?
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/andika-lawan-mitos-keperawanan>*
>
>
>
> Gilligan menggambarkan bahwa dalam mengambil keputusan, pemimpin juga
> harus mengindahkan prinsip-prinsip etika. Prinsip etika kepedulian yang di
> promosikan Gilligan dapat menjadi variabel penting dalam menyelesaikan
> permasalahan mengenai pengambilan keputusan seorang pemimpin. Gaya
> kepemimpinan Merker sekiranya dapat dikatakan sebagi perwujudan dari etika
> kepedulian yang dijelaskan Gilligan.
>
> Pengalaman Angela Merkel dan konsep etika Gilligan mencerahkan pemahaman
> kita, bahwa perempuan dan prinsip etika kepedulian menjadi narasi politik
> yang menarik. Ini menjadi modal politik untuk memperkenalkan nilai autentik
> yang dimiliki oleh perempuan.
>
> Sebagai penutup, untuk meningkatkan elektabilitas, kepemimpinan Merkel
> dapat menjadi opsi yang dipertimbangkan Puan Maharani. Itu akan menjadi
> *branding *yang khas dan membedakannya dari kandidat yang lain. Puan
> harus menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang welas asih dan memiliki
> kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat Indonesia. (I76)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C8A15EB070934404B542BCB7B4C50A07%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C8A15EB070934404B542BCB7B4C50A07%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AChD-cYx_K-5LDpLvfUk6cXJhLSYU8wMvNn9qeCprP3A%40mail.gmail.com.

Reply via email to