https://www.cnbcindonesia.com/news/20211105132834-4-289286/sri-mulyani-bakal-lelang-aset-tommy-soeharto-ini-daftarnya

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Sun., Nov. 7, 2021 at 6:29 a.m., BILLY GUNADIE<[email protected]> 
wrote:   Sangat betul.....mulai Dari kesultanan...KNIL...oligarki.....

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Sun., Nov. 7, 2021 at 4:31 a.m., Sunny ambon<[email protected]> wrote: 
  Kekuasaan negara di Negara Kleptokrasi RI adalah hak turun temurun klik elit 
neo-Mojopahit. Pemilihan umum dan debat-debat adalah sendiwara pengesahan 
kekuasaan, kata ahli ilmu nujum abakadabra. hehehehehe
On Sun, Nov 7, 2021 at 2:54 AM Chan CT <[email protected]> wrote:


Puan, Angela Merkel-nya Indonesia?
I76 - Saturday, November 6, 2021 19:43 
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-angela-merkel-nya-indonesia Ketua 
DPR Puan Maharani (Foto: Tribun)
6 min read

Sejauh ini Puan adalah satu-satunya kandidat perempuan di Pilpres 2024. Apakah 
Puan mampu menunjukkan kepemimpinan perempuan seperti Angela Merkel di Jerman? 
Lalu, apakah ia mampu menjadi presiden perempuan seperti ibunya, Megawati?

PinterPolitik.com

Peran perempuan mempunyai pemaknaan yang beragam dalam lintas sejarah, dalam 
literatur ilmiah maupun populer, diskusi santai dan pembicaraan sehari-hari, 
selalu ditemukan pemaknaan peran perempuan dengan tone yang peyoratif. Seakan 
peran perempuan hanya berada pada posisi kedua, sebagai pendamping hidup 
laki-laki.

Dalam tradisi Jawa, misalnya, sering kali muncul istilah yang sudah cukup mapan 
seperti perempuan Jawa sebagai konco wingking, yang cukup mengurusi urusan 
dapur (memasak), sumur (mencuci), dan kasur (melayani suami). Pada umumnya, 
persepsi yang muncul ketika membicarakan perempuan Jawa adalah perempuan yang 
lemah lembut, teratur tutur bahasanya, mengalah, sabar, dapat mengontrol 
perilakunya, sebagaimana ditunjukkan oleh para perempuan priyayi Jawa.

Perempuan modern mengalami banyak perubahan, masyarakat telah banyak merevisi 
makna tentang peran perempuan. Tidak lagi dianggap hanya berurusan dengan 
pekerjaan rumah tangga, perempuan diberikan ruang untuk mampu berkreasi 
layaknya laki-laki. Bahkan saat ini banyak wacana tentang pemimpin perempuan.

 

Baca Juga: Pemerkosaan dalam Cengkeraman Negara Laki-Laki

 

Azzahra Fanny Nurhaliza dalam tulisannya yang berjudul Kepemimpinan Perempuan 
dan Keunggulannya di Masa Pandemi mengatakan pemimpin perempuan cenderung 
memiliki gaya transformasional karena melalui gaya ini mereka dapat menggunakan 
kemampuan relasional dan interpersonal mereka untuk memperoleh legitimasi 
maupun memotivasi pengikutnya dalam menghadapi proses perubahan.

Nurhaliza ingin menggambarkan bahwa perempuan dalam memimpin mampu menghadirkan 
perubahan, hal ini disebabkan kemampuan dasar yang dimilikinya, seperti mampu 
membanggun relasi dan berinteraksi, tentunya juga, perempuan bisa menjadi 
motivator bagi pengikutnya.

Berangkat dari wacana tentang pemimpin perempuan, kita disajikan banyak berita 
tentang pencalonan Puan Maharani sebagai salah satu kandidat di Pilpres 2024 
mendatang. Lantas, apakah pencalonan Puan yang jamak diberitakan dapat dimaknai 
sebagai perjuangan untuk menghadirkan seorang pemimpin perempuan?
  
Tampil di Bursa Capres

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago 
mengungkapkan ramai-ramai deklarasi capres di dalam pendekatan ilmu politik 
merupakan bentuk social movement atau gerakan sosial untuk mencari pemimpin 
yang ideal berdasarkan akar rumput atau suara rakyat.

Deklarasi Relawan Puan Maharani For Presiden 2024 atau RPM 2024 beberapa waktu 
lalu misalnya mendapat atensi publik. Ketua Umum RPM 2024, Budi Santoso dalam 
deklarasinya mengungkap bahwa sosok negarawan Taufik Kiemas, juga ada pada diri 
Puan Maharani. Tangan dingin Taufik Kiemas disebut sangat mempengaruhi karakter 
Ketua DPR tersebut.

Narasi Puan adalah representasi dari gaya kepemimpinan Taufik Kiemas menjadi 
nilai jual tersendiri. Tentunya pemilih nantinya yang menjawab, apakah narasi 
itu mampu memikat atau diacuhkan para pemilih.

Meskipun secara elektabilitas Puan masih tertinggal dibanding tokoh lain 
seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil, 
berbagai pihak meyakini Puan Maharani akan tetap diusung PDI Perjuangan (PDIP).

Ini disampaikan Direktur Eksekutif Veritas Data, Iqbal Themi yang menilai 
diusungnya Puan di Pilpres 2024 dapat menjadi solusi jalan tengah bagi 
soliditas mesin politik PDIP. Puan juga dinilai akan mendapatkan coattail 
effect atau efek ekor jas karena asosiasi Puan terhadap PDIP sangatlah kuat.

Jika alasan pengusungan didasarkan sebagai upaya membangun jalan tengah untuk 
membentuk soliditas internal, hal ini lumrah diterima. Tapi, jika dianggap ada 
faktor efek ekor jas dalam pencalonan maka sulit diterima, dikarenakan efek 
ekor jas sejauh fenemona empiris saat ini hanya berlaku bagi calon dengan 
popularitas yang tinggi bukan sebaliknya.

 

Baca Juga: Prabowo-Puan Lebih Realistis?

 

Djayadi Hanan dalam tulisannya Efek Ekor Jas mengatakan kajian ilmiah mengenai 
efek ekor jas umumnya didasarkan pada penelitian pemilu serentak dalam sistem 
presidensial dua partai seperti di Amerika Serikat (AS). Kesimpulan umumnya, 
terdapat hubungan yang positif antara kekuatan elektoral seorang calon presiden 
dan partai yang mengusungnya. Artinya, seorang calon presiden atau presiden 
yang populer dengan tingkat elektabilitas yang tinggi akan memberikan 
keuntungan positif secara elektoral kepada partai yang mengusungnya sebagai 
calon.

Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang 
Komarudin, PDIP hingga kini terus berupaya menaikkan elektabilitas Puan 
Maharani sampai benar-benar siap berkompetisi di Pilpres 2024. Menurutnya, 
sudah ada bocoran dari internal PDIP, mereka akan mengajukan Puan untuk maju 
sebagai kandidat calon presiden 2024. Kata mereka, “menang bersama dan kalah 
juga bersama”. Kalaupun kalah, itu adalah risiko karena mendorong figur yang 
elektabilitasnya rendah.

Well, jika memang saat ini elektabilitas Puan rendah, apakah akan sirna harapan 
untuk berkompetisi?
   
Kepemimpinan Perempuan

Winston S. Churchill, mantan Perdana Menteri Britania Raya pernah mengatakan 
kesuksesan adalah perjuangan dari kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan 
antusiasme. Setidaknya motivasi ini dapat menjadi harapan agar antusiasme kita 
bisa terjaga.

Cerita tentang antusiasme perempuan dalam politik tergambar pada perjalanan 
politik Kanselir Jerman, Angela Merkel. Dianggap sebagai contoh politisi yang 
berangkat dari nol, Merkel menunjukkan dirinya sebagai perempuan kuat dan kini 
diakui sebagai salah satu politisi paling berpengaruh di Eropa. Menjadi ciri 
khas darinya,  ia adalah pendengar yang baik. Banyak orang mengakui kemampuan 
komunikasinya dalam menyelesaikan masalah.

Sekar Kinasih dalam tulisannya Warisan Kanselir Angela Merkel Untuk Jerman 
mengatakan Merkel juga dipuji karena welas asihnya ketika menangani krisis 
kemanusiaan. Saat Eropa menghadapi gelombang pengungsi dari Timur Tengah, ia 
memerintahkan perbatasan Jerman dibuka. Sepanjang 2015-2016, jutaan pengungsi 
mengajukan suaka ke Uni Eropa. Sampai hari ini, Jerman merupakan negara 
penampung pengungsi terbanyak di Eropa, yakni 1,2 juta jiwa.

Konsep welas asih dapat kita temukan dalam banyak literatur tentang ethics of 
care (etika kepedulian). Carol Gilligan dalam bukunya In a Different Voice: 
Psychological Theory and Women's Development mengatakan tolak ukur perkembangan 
moral laki-laki dan perempuan pada dasarnya berbeda. Perbedaan tersebut antara 
lain, landasan moralitas perempuan didasarkan pada prinsip penyatuan, yaitu 
keberadaan relasi dengan orang lain, dapat diumpakan secara sederhana layaknya 
seorang ibu yang lebih mementingkan welas asih.

Sementara laki-laki menekankan prinsip pemisahan, yang artinya laki-laki akan 
berusaha menjaga jarak dengan lingkungannya. Laki-laki lebih menekankan 
keadilan, memperlakukan orang lain secara objektif dan terbuka. Sedangkan 
perempuan lebih menekankan pada kepedulian dan akan lebih bersifat peduli 
terhadap penderitaan orang lain. Kepedulian itu didemonstrasikan melalui cinta 
kepada sesama.

 

Baca Juga: Andika Lawan Mitos Keperawanan?

 

Gilligan menggambarkan bahwa dalam mengambil keputusan, pemimpin juga harus 
mengindahkan prinsip-prinsip etika. Prinsip etika kepedulian yang di promosikan 
Gilligan dapat menjadi variabel penting dalam menyelesaikan permasalahan 
mengenai pengambilan keputusan seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan Merker 
sekiranya dapat dikatakan sebagi perwujudan dari etika kepedulian yang 
dijelaskan Gilligan.

Pengalaman Angela Merkel dan konsep etika Gilligan mencerahkan pemahaman kita, 
bahwa perempuan dan prinsip etika kepedulian menjadi narasi politik yang 
menarik. Ini menjadi modal politik untuk memperkenalkan nilai autentik yang 
dimiliki oleh perempuan.

Sebagai penutup, untuk meningkatkan elektabilitas, kepemimpinan Merkel dapat 
menjadi opsi yang dipertimbangkan Puan Maharani. Itu akan menjadi branding yang 
khas dan membedakannya dari kandidat yang lain. Puan harus menunjukkan dirinya 
sebagai pemimpin yang welas asih dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap 
masyarakat Indonesia. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C8A15EB070934404B542BCB7B4C50A07%40A10Live.



-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AChD-cYx_K-5LDpLvfUk6cXJhLSYU8wMvNn9qeCprP3A%40mail.gmail.com.
  
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1675202318.845471.1636285809045%40mail.yahoo.com.

Reply via email to