Kenapa Politisi Selalu Berbohong?D74 - Friday, November 26, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-politisi-selalu-berbohong
 
Foto: Medcom.id
7 min read

Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Joe Biden dikritik karena dianggap 
belum lakukan langkah signifikan menepati janji kampanyenya. Di Indonesia, 
pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga kerap melempar pernyataan yang 
tidak konsisten. Apakah kemunafikan telah menjadi hal yang lumrah di kalangan 
politisi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Bagi kalian yang senang memperhatikan dinamika politik Amerika Serikat (AS), 
tentu kalian akan tahu pandangan politik di sana secara garis besar terbagi 
menjadi dua partai. Partai Republik mewakili kelompok konservatif, dan Partai 
Demokrat mewakili kelompok liberal.

Dalam sejarahnya, Presiden yang terpilih di AS hampir selalu silih berganti 
setiap Pemilihan Presiden (Pilpres). Mantan Presiden Donald Trump adalah dari 
Partai Republik dan Presiden AS yang sekarang, Joe Biden, berasal dari Partai 
Demokrat.

Setelah satu tahun berkuasa, kritik terhadap kepemimpinan Biden dan Partai 
Demokrat mulai bermunculan. Salah satunya yang paling menarik adalah video 
berjudul Liberal Hypocrisy is Fueling American Inequality dari kanal YouTube, 
New York Times.

Video tersebut pada dasarnya mengatakan, meskipun Partai Demokrat selalu 
mengkampanyekan aksi progresif seperti reformasi pajak, gerakan ramah 
lingkungan, dan perumahan yang terjangkau untuk semua lapisan masyarakat, 
faktanya sampai saat ini belum ada perubahan yang berarti selama mereka 
berkuasa. Bahkan, wilayah yang didominasi Partai Demokrat justru dinilai 
sebagai sumber kemunafikan pemerintahan Biden karena masalah yang terjadi di 
sana tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan untuk diatasi.

Fenomena ini kemudian disebut dengan istilah liberal hypocrisy atau kemunafikan 
liberal.



Baca Juga: The King of Lip Service, Apa Salahnya?



Di Indonesia sendiri, indikasi tidak konsistenan pernyataan politik bisa 
dilihat dari beberapa hal, contohnya adalah tentang kebebasan berpendapat. 
Pemerintah berkali-kali mengatakan mereka antikritik, bahkan menyebut dalam 
laporan Capaian Kinerja 2021 bahwa indeks kemerdekaan pers membaik, tetapi 
kenyataannya kita bisa lihat banyak lembaga survei yang menilai kualitas 
demokrasi Indonesia menurun dalam beberapa waktu terakhir.

Begitu juga dengan janji meredam tingkat deforestasi pada tahun 2030 yang 
ditandatangani Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada saat menghadiri pertemuan 
COP26. Tidak lama setelahnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), 
Siti Nurbaya Bakar justru membuat pernyataan yang berseberangan dan membuat 
sejumlah aktivis lingkungan kecewa.

Dari beberapa kenyataan di atas, kita bisa melihat bahwa tidak berbeda dengan 
AS, pemerintah Indonesia juga kerap inkonsisten dan “berbohong”.

Lantas, apakah ada politisi yang tidak berbohong?


  
Bohong Jika Tidak Berbohong
Mungkin dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat kebohongan sebagai salah satu 
tindakan yang paling tercela. Umumnya orang beranggapan, siapapun yang 
berbohong, artinya orang tersebut telah mengkhianati kepercayaan kita. Namun, 
apakah asumsi seperti itu juga bisa kita gunakan dalam melihat suatu fenomena 
politik?

David Runciman dalam bukunya yang berjudul Political Hypocrisy:  The Mask of 
Power from Hobbes to Orwell and Beyond, mengatakan dengan jelas bahwa 
kemunafikan adalah sifat yang melekat dengan politik. Bahkan, ia melempar 
sebuah pertanyaan nakal: “hipokrat seperti apa yang akan Anda pilih untuk 
pemilihan selanjutnya?”

Runciman mengatakan, meskipun pada dasarnya para politisi mungkin merasa 
berbohong itu adalah tindakan yang tidak menarik, bahkan mungkin menjijikan, 
tetapi jika ingin terus berkiprah dalam politik, mereka mau tidak mau harus 
berbohong. Runciman juga menambahkan, praktik kebohongan politik akan semakin 
menyebar dan tidak terhindari di suatu negara yang menganut sistem demokrasi.

Berangkat dari situ, Runciman menjelaskan, sebagian besar orang justru malah 
terjebak dalam perangkap kritik hipokrasi. Jika seseorang hanya terfokus pada 
menunjuk-nunjuk politisi mana yang telah melakukan kebohongan, maka 
sesungguhnya ia sendiri telah menjadi hipokrat karena ia tidak mau mengakui 
bahwa dirinya hidup dalam sistem yang memang melanggengkan kebohongan politik.



Baca Juga: Tidak Mungkin Jokowi Tidak Berbohong?



Dalam artikel berjudul Costello, Brown Inspire Political Theory, Runciman 
menyebutkan setidaknya kita bisa melihat motif kebohongan politik dengan lebih 
jelas melalui dua kategori politisi. Yang pertama adalah sincere liars atau 
pembohong yang tulus. Politisi  tipe ini adalah mereka yang mampu bermain-main 
dengan kebenaran, tetapi mereka tetap tampak terbuka, dalam arti bahwa mereka 
memiliki semacam kepribadian politik yang konsisten.

Sederhananya, politisi ini tidak bisa disebut bermuka dua karena mereka tetap 
menyatakan kebenaran, meskipun parsial. Dan mereka yakin mereka benar dengan 
menekankan unsur kebenaran yang hanya menguntungkan posisi mereka setiap kali 
diberi kesempatan untuk mengeluarkan retorika politik.

Kemudian yang kedua adalah truthful hypocrite. Mereka adalah politisi yang 
sering berusaha menampilkan suatu kebenaran, tetapi mereka sendiri kesusahan 
dalam berpegang pada idealismenya. Runciman mencotoh politisi tipe ini seperti 
mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, yang seringkali berkampanye tentang 
pentingnya kesadaran lingkungan dan pemanasan global, tetapi diketahui masih 
menggunakan kendaraan yang mengeluarkan emisi tinggi.

Politisi truthful hypocrite sejalan dengan fenomena liberal hypocrisy yang 
dibahas di awal tulisan. Peter Schweizer dalam bukunya Do As I Say (Not As I 
Do), menyimpulkan mereka yang selalu berusaha menggunakan isu-isu progresif 
sesungguhnya menjebak dirinya sendiri karena ketika ada isu yang mereka koarkan 
mulai mengganggu kepentingan dan kelangsungan hidup pribadinya, hampir setiap 
saat, kata Schweizer, mereka akan meninggalkan idealisme kampanye politiknya.

Sementara itu, para sincere liars juga terrefleksikan melalui sejumlah kasus 
post-truth. Filsuf kelahiran Kolombia, Eduardo Mendieta dalam tulisannya Rorty 
and Post-Post-Truth mengatakan post-truth adalah keadaan di mana fakta-fakta 
obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik, oleh karena itu, 
sejumlah politisi modern lebih memilah sejumlah fakta saja yang sesuai dengan 
kampanyenya agar dapat menarik emosi dan kepercayaan pribadi masyarakat.

Lalu, bagaimana kita harus menyikapi kebohongan politisi? Bukankah secara 
prinsip, berbohong itu salah?

 
  
Dunia Tidak Sesederhana Hitam Putih
Berkaca pada pemaparan sebelumnya dan realita politik saat ini, tampaknya 
sangat naif untuk kemudian mengatakan, bahkan memimpikan, suatu bentuk politik 
yang bisa dijalankan tanpa adanya kebohongan.

Filsuf ternama Niccolò Machiavelli dalam bukunya The Prince mengatakan, seorang 
politisi yang menginginkan kekuatan, memimpikan kekuasaan, dan 
mempertahankannya, harus berani berbuat tidak manusiawi. Dalam mewujudkannya, 
politisi tersebut harus mengesampingkan moral dan mulai berbohong. Apabila 
seorang raja bersikap jujur, ia tidak akan mendapatkan kerajaan.

Machiavelli juga mengatakan, seorang penguasa yang bijaksana tidak dapat, dan 
tidak seharusnya, menepati janjinya ketika situasi dan kondisi untuk melakukan 
hal tersebut justru dapat merugikannya. Begitu juga ketika alasan yang 
membuatnya berjanji sudah tidak lagi penting dan relevan untuk diwujudkan. 
Sederhananya, Machiavelli menyebutkan, seorang penguasa wajib berbohong dalam 
keadaan tertentu demi menjaga kepentingan negara.

Dia juga menyatakan bahwa meskipun penguasa tersebut tidak memiliki kualitas 
positif, seperti kejujuran, kepercayaan, simpati, kasih sayang, atau religius, 
penting baginya untuk terlihat demikian oleh masyarakatnya.

Pandangan Machiavelli tepat untuk kita gunakan dalam mencari jawaban atas 
hiruk-pikuk kebohongan politisi. Suka atau tidak, kebohongan adalah hal yang 
sangat alamiah terjadi dalam lingkungan politik. Bahkan, jika kita mengacu 
kembali pandangan Machiavelli, justru seorang pemimpin harus melakukan 
kebohongan demi menjaga kestabilan kerajaan atau negaranya.



Baca Juga: Noble Lie, Jokowi Pasti Berbohong?



Secara filosofis, kebohongan politik juga justru dijustifikasi jika kita 
melihat kembali buku filsuf ternama Yunani, Plato, yang berjudul Republic. Di 
dalamnya, Plato mengutip perkataan gurunya, Socrates, yang mengatakan alasan 
sesungguhnya dari mitos publik adalah untuk menjaga harmoni sosial. Mitos ini 
menghasilkan efek yang baik, membuat masyarakat lebih peduli terhadap negaranya 
dan satu sama lain. Ini adalah sebuah bentuk noble lie atau kebohongan mulia, 
sebuah kepalsuan yang muncul karena diperlukan.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat biasa?

Kembali mengutip Runciman, ini adalah zaman di mana kita sesungguhnya tidak 
perlu mencari sosok pemimpin ideal yang tidak pernah berbohong, karena 
ketidaktepatan janji politik pasti akan terjadi. Justru sebaliknya, kita harus 
mencoba membedakan antara kebohongan yang berbahaya, dan kebohongan yang justru 
dapat menciptakan keharmonisan sosial.

Pada akhirnya, tujuan tulisan ini adalah untuk berperan sebagai pegangan 
pandangan politik semata. Terlepas dari apakah pemerintah saat ini benar-benar 
melakukan kebohongan berdasarkan tujuan yang mulia atau justru hanya sebagai 
retorika dalam memproses kebijakan yang lebih tepat, kita harus sadar bahwa 
kemunafikan politik adalah hal yang benar-benar lumrah terjadi. (D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D707622FCBAF482B83EBA46F91938F1D%40A10Live.

Reply via email to