Berbohong bukan dosa, sama seperti korupsi, maka oleh sebab itu korupsi hidup segar di kalangan penguasa.
On Sat, Nov 27, 2021 at 9:47 AM BILLY GUNADIE <[email protected]> wrote: > Kenapa Sampai tidak Sadar atas penderitaan Orang lain/Rakyat jelata....... > Sejak Merdeka ....sudah ampir 3 generasi.. > Apakah kejiwaan, defective gene flow... > Kebinatangan..........Human is good comodity to be exploited? > > > > https://www.fridayeveryday.com/2021/11/25/strategists-admit-west-is-goading-china-into-war/ > > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android > <https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature> > > On Sat., Nov. 27, 2021 at 2:01 a.m., Sunny ambon > <[email protected]> wrote: > Polisi harus selalu berbohong, karena tatakrama rezim neo-Mojopahit > berpolitik "kleptokratism!". Dalam sistem negara kleptokrasi, aparat pada > umumnya harus berbohong kepada rakyat. Jadi jangan diharapkan bahwa rezim > akan merubah hidup Anda yang ditimpa kemalangan sosial dan ekonomi, sebab > hanya kaum elit neo-neo-Mojopahit dan para pendukungnya yang berdansa-dansi > di panggung kekuasaan negara yang dipreoritaskan untuk menikmati kehidupan > sejahtera dan aman sentosa. > > On Sat, Nov 27, 2021 at 12:21 AM Chan CT <[email protected]> wrote: > > Kenapa Politisi Selalu Berbohong? > *D74 * <https://www.pinterpolitik.com/author/d74>*- Friday, November 26, > 2021 23:00* > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-politisi-selalu-berbohong > *Foto: Medcom.id* > > *7 min read* > > *Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Joe Biden dikritik karena > dianggap belum lakukan langkah signifikan menepati janji kampanyenya. Di > Indonesia, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga kerap melempar > pernyataan yang tidak konsisten. Apakah kemunafikan telah menjadi hal yang > lumrah di kalangan politisi?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com <http://www.pinterpolitik.com/>* > > Bagi kalian yang senang memperhatikan dinamika politik Amerika Serikat > (AS), tentu kalian akan tahu pandangan politik di sana secara garis besar > terbagi menjadi dua partai. Partai Republik mewakili kelompok konservatif, > dan Partai Demokrat mewakili kelompok liberal. > > Dalam sejarahnya, Presiden yang terpilih di AS hampir selalu silih > berganti setiap Pemilihan Presiden (Pilpres). Mantan Presiden Donald Trump > adalah dari Partai Republik dan Presiden AS yang sekarang, Joe Biden, > berasal dari Partai Demokrat. > > Setelah satu tahun berkuasa, kritik terhadap kepemimpinan Biden dan Partai > Demokrat mulai bermunculan. Salah satunya yang paling menarik adalah video > berjudul* Liberal Hypocrisy is Fueling American Inequality* dari kanal > YouTube, New York Times. > > Video tersebut pada dasarnya mengatakan, meskipun Partai Demokrat selalu > mengkampanyekan aksi progresif seperti reformasi pajak, gerakan ramah > lingkungan, dan perumahan yang terjangkau untuk semua lapisan masyarakat, > faktanya sampai saat ini belum ada perubahan yang berarti selama mereka > berkuasa. Bahkan, wilayah yang didominasi Partai Demokrat justru dinilai > sebagai sumber kemunafikan pemerintahan Biden karena masalah yang terjadi > di sana tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan untuk diatasi. > > Fenomena ini kemudian disebut dengan istilah *liberal hypocrisy* atau > kemunafikan liberal. > > > > *Baca Juga:* *The King of Lip Service, Apa Salahnya? > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/the-king-of-lip-service-apa-salahnya>* > > > > Di Indonesia sendiri, indikasi tidak konsistenan pernyataan politik bisa > dilihat dari beberapa hal, contohnya adalah tentang kebebasan berpendapat. > Pemerintah berkali-kali mengatakan mereka antikritik, bahkan menyebut dalam > laporan Capaian Kinerja 2021 bahwa indeks kemerdekaan pers membaik, tetapi > kenyataannya kita bisa lihat banyak lembaga survei yang menilai kualitas > demokrasi Indonesia menurun dalam beberapa waktu terakhir. > > Begitu juga dengan janji meredam tingkat deforestasi pada tahun 2030 yang > ditandatangani Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada saat menghadiri pertemuan > COP26. Tidak lama setelahnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), > Siti Nurbaya Bakar justru membuat pernyataan yang berseberangan dan membuat > sejumlah aktivis lingkungan kecewa. > > Dari beberapa kenyataan di atas, kita bisa melihat bahwa tidak berbeda > dengan AS, pemerintah Indonesia juga kerap inkonsisten dan “berbohong”. > > Lantas, apakah ada politisi yang tidak berbohong? > *Bohong Jika Tidak Berbohong* > > Mungkin dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat kebohongan sebagai salah > satu tindakan yang paling tercela. Umumnya orang beranggapan, siapapun yang > berbohong, artinya orang tersebut telah mengkhianati kepercayaan kita. > Namun, apakah asumsi seperti itu juga bisa kita gunakan dalam melihat suatu > fenomena politik? > > David Runciman dalam bukunya yang berjudul *Political Hypocrisy: The > Mask of Power from Hobbes to Orwell and Beyond*, mengatakan dengan jelas > bahwa kemunafikan adalah sifat yang melekat dengan politik. Bahkan, ia > melempar sebuah pertanyaan nakal: “hipokrat seperti apa yang akan Anda > pilih untuk pemilihan selanjutnya?” > > Runciman mengatakan, meskipun pada dasarnya para politisi mungkin merasa > berbohong itu adalah tindakan yang tidak menarik, bahkan mungkin > menjijikan, tetapi jika ingin terus berkiprah dalam politik, mereka mau > tidak mau harus berbohong. Runciman juga menambahkan, praktik kebohongan > politik akan semakin menyebar dan tidak terhindari di suatu negara yang > menganut sistem demokrasi. > > Berangkat dari situ, Runciman menjelaskan, sebagian besar orang justru > malah terjebak dalam perangkap kritik hipokrasi. Jika seseorang hanya > terfokus pada menunjuk-nunjuk politisi mana yang telah melakukan > kebohongan, maka sesungguhnya ia sendiri telah menjadi hipokrat karena ia > tidak mau mengakui bahwa dirinya hidup dalam sistem yang memang > melanggengkan kebohongan politik. > > > > *Baca Juga:* *Tidak Mungkin Jokowi Tidak Berbohong?* > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tidak-mungkin-jokowi-tidak-berbohong> > > > > Dalam artikel berjudul* Costello, Brown Inspire Political Theory,* Runciman > menyebutkan setidaknya kita bisa melihat motif kebohongan politik dengan > lebih jelas melalui dua kategori politisi. Yang pertama adalah *sincere > liars* atau pembohong yang tulus. Politisi tipe ini adalah mereka yang > mampu bermain-main dengan kebenaran, tetapi mereka tetap tampak terbuka, > dalam arti bahwa mereka memiliki semacam kepribadian politik yang konsisten. > > Sederhananya, politisi ini tidak bisa disebut bermuka dua karena mereka > tetap menyatakan kebenaran, meskipun parsial. Dan mereka yakin mereka benar > dengan menekankan unsur kebenaran yang hanya menguntungkan posisi mereka > setiap kali diberi kesempatan untuk mengeluarkan retorika politik. > > Kemudian yang kedua adalah *truthful hypocrite*. Mereka adalah politisi > yang sering berusaha menampilkan suatu kebenaran, tetapi mereka sendiri > kesusahan dalam berpegang pada idealismenya. Runciman mencotoh politisi > tipe ini seperti mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, yang seringkali > berkampanye tentang pentingnya kesadaran lingkungan dan pemanasan global, > tetapi diketahui masih menggunakan kendaraan yang mengeluarkan emisi tinggi. > > Politisi *truthful hypocrite *sejalan dengan fenomena *liberal hypocrisy* yang > dibahas di awal tulisan. Peter Schweizer dalam bukunya *Do As I Say (Not > As I Do), *menyimpulkan mereka yang selalu berusaha menggunakan isu-isu > progresif sesungguhnya menjebak dirinya sendiri karena ketika ada isu yang > mereka koarkan mulai mengganggu kepentingan dan kelangsungan hidup > pribadinya, hampir setiap saat, kata Schweizer, mereka akan meninggalkan > idealisme kampanye politiknya. > > Sementara itu, para *sincere liars *juga terrefleksikan melalui sejumlah > kasus* post-truth. *Filsuf kelahiran Kolombia, Eduardo Mendieta dalam > tulisannya* Rorty and Post-Post-Truth *mengatakan *post-truth* adalah > keadaan di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk > opini publik, oleh karena itu, sejumlah politisi modern lebih memilah > sejumlah fakta saja yang sesuai dengan kampanyenya agar dapat menarik emosi > dan kepercayaan pribadi masyarakat. > > Lalu, bagaimana kita harus menyikapi kebohongan politisi? Bukankah secara > prinsip, berbohong itu salah? > *Dunia Tidak Sesederhana Hitam Putih* > > Berkaca pada pemaparan sebelumnya dan realita politik saat ini, tampaknya > sangat naif untuk kemudian mengatakan, bahkan memimpikan, suatu bentuk > politik yang bisa dijalankan tanpa adanya kebohongan. > > Filsuf ternama Niccolò Machiavelli dalam bukunya *The Prince* mengatakan, > seorang politisi yang menginginkan kekuatan, memimpikan kekuasaan, dan > mempertahankannya, harus berani berbuat tidak manusiawi. Dalam > mewujudkannya, politisi tersebut harus mengesampingkan moral dan mulai > berbohong. Apabila seorang raja bersikap jujur, ia tidak akan mendapatkan > kerajaan. > > Machiavelli juga mengatakan, seorang penguasa yang bijaksana tidak dapat, > dan tidak seharusnya, menepati janjinya ketika situasi dan kondisi untuk > melakukan hal tersebut justru dapat merugikannya. Begitu juga ketika alasan > yang membuatnya berjanji sudah tidak lagi penting dan relevan untuk > diwujudkan. Sederhananya, Machiavelli menyebutkan, seorang penguasa wajib > berbohong dalam keadaan tertentu demi menjaga kepentingan negara. > > Dia juga menyatakan bahwa meskipun penguasa tersebut tidak memiliki > kualitas positif, seperti kejujuran, kepercayaan, simpati, kasih sayang, > atau religius, penting baginya untuk terlihat demikian oleh masyarakatnya. > > Pandangan Machiavelli tepat untuk kita gunakan dalam mencari jawaban atas > hiruk-pikuk kebohongan politisi. Suka atau tidak, kebohongan adalah hal > yang sangat alamiah terjadi dalam lingkungan politik. Bahkan, jika kita > mengacu kembali pandangan Machiavelli, justru seorang pemimpin harus > melakukan kebohongan demi menjaga kestabilan kerajaan atau negaranya. > > > > *Baca Juga:* *Noble Lie, Jokowi Pasti Berbohong? > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/noble-lie-jokowi-pasti-berbohong>* > > > > Secara filosofis, kebohongan politik juga justru dijustifikasi jika kita > melihat kembali buku filsuf ternama Yunani, Plato, yang berjudul > *Republic. *Di dalamnya, Plato mengutip perkataan gurunya, Socrates, yang > mengatakan alasan sesungguhnya dari mitos publik adalah untuk menjaga > harmoni sosial. Mitos ini menghasilkan efek yang baik, membuat masyarakat > lebih peduli terhadap negaranya dan satu sama lain. Ini adalah sebuah bentuk > *noble lie* atau kebohongan mulia, sebuah kepalsuan yang muncul karena > diperlukan. > > Lantas, apa yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat biasa? > > Kembali mengutip Runciman, ini adalah zaman di mana kita sesungguhnya > tidak perlu mencari sosok pemimpin ideal yang tidak pernah berbohong, > karena ketidaktepatan janji politik pasti akan terjadi. Justru sebaliknya, > kita harus mencoba membedakan antara kebohongan yang berbahaya, dan > kebohongan yang justru dapat menciptakan keharmonisan sosial. > > Pada akhirnya, tujuan tulisan ini adalah untuk berperan sebagai pegangan > pandangan politik semata. Terlepas dari apakah pemerintah saat ini > benar-benar melakukan kebohongan berdasarkan tujuan yang mulia atau justru > hanya sebagai retorika dalam memproses kebijakan yang lebih tepat, kita > harus sadar bahwa kemunafikan politik adalah hal yang benar-benar lumrah > terjadi. (D74) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D707622FCBAF482B83EBA46F91938F1D%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D707622FCBAF482B83EBA46F91938F1D%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AA_-tceNG02ywbx%2BfPC3wrhown7ab1-aBCL2%3DNmzb4KQ%40mail.gmail.com > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AA_-tceNG02ywbx%2BfPC3wrhown7ab1-aBCL2%3DNmzb4KQ%40mail.gmail.com?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CvSB24pW4JUmrq904qx%3Duu2KqfEGGTYOxH8h7%3D0nHyug%40mail.gmail.com.
