‘Demokrasi ala AS’ yang Berlumuran Darah
2021-12-08 10:08:19  
http://indonesian.cri.cn/20211208/6fd3c8f2-92f5-aa73-3b44-45c7a3e55641.htmlAmerika
 Serikat selalu mendorong demokrasi ala AS dengan kedok ‘melindungi hak asasi 
manusia’. Akan tetapi, membanjirnya senjata di AS dari waktu ke waktu mengancam 
HAM pokok setiap warga AS, dan telah menjadi luka yang tak dapat sembuh di 
bawah sistem demokrasi AS.

Menurut statistik, di dunia, AS adalah negara yang memiliki senjata terbanyak 
dengan jumlah kurang lebih 393 juta pucuk, tapi hingga saat ini, negeri ini 
tetap memberlakukan hukum yang paling lemah terkait kepemilikan senjata. 
Probabilitas warga AS mengalami serangan senjata adalah 25 kali lipat dari 
warga negara lain yang berpenghasilan tinggi. Hampir setiap warga AS mengenal 
sedikitnya satu korban kekerasan senjata di sepanjang hidupnya.



Bukankah AS selalu berlagak seperti ‘pembela HAM’ dan ‘mercusuar demokrasi’? 
Mengapa pemerintah AS terus berpangku tangan melihat begitu banyak nyawa tak 
berdosa direnggut dalam kekerasan senjata itu?

Sulitnya UU Kepemilikan Senjata diluluskan di AS adalah salah satu sebab 
langsungnya, dan hal itu dikarenakan masalah sistem politik dan tata hukum AS 
yang menumpuk sejak lama. Amandemen kedua Konstitusi AS memberikan ketetapan 
yang ambigu terkait kepemilikan senjata, dan dikokohkan oleh para pendukung 
kepemilikan senjata sebagai dasar hukum yang mengizinkan kepemilikan senjata 
oleh warga AS. Hal itu sungguh sulit digoyahkan. Selain itu, pemerintah federal 
dan pemerintah daerah berselisih pendapat mengenai kepemilikan senjata oleh 
warga, bahkan sering kali saling berlawanan. Ditambah lagi pertarungan politik 
antara Partai Demokrasi dan Partai Republik, keadaannya menjadi semakin buruk.



Dalam masalah pengontrolan kepemilikan senjata, politik uang juga berfungsi 
sangat buruk. Asosiasi Senapan Nasional AS alias NRA adalah organisasi 
pendukung kepemilikan senjata terbesar di AS, dengan anggotanya melebihi 5 juta 
orang. Dengan uang yang banyak, NRA selalu memainkan pengaruh yang penting 
dalam pemilihan presiden dan pemilihan umum Kongres, bahkan pengaruhnya juga 
terasa dalam pelantikan Hakim Ketua Mahkamah Agung.

Dari hal itu terjadilah kenyataan yang mengerikan, nyawa tak berdosa terus 
jatuh di bawah todongan senjata, dan seruan masyarakat AS tentang pengontrolan 
senjata semakin gencar, namun para politikus selalu bersikap acuh tak acuh, 
bahkan terus menyulitkan penyelesaian masalah. Dari masalah pengontrolan 
kepemilikan senjata terungkaplah betapa buruknya demokrasi ala AS.


Pertemuan Virtual Pemimpin AS dan Rusia Berfokus pada Masalah Situasi Ukraina
2021-12-08 10:07:06  Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengadakan 
pertemuan virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Selasa kemarin 
(7/12), pertemuan berfokus pada masalah situasi Ukraina serta hubungan 
bilateral.

Menurut informasi dari delegasi wartawan Gedung Putih, pertemuan kemarin 
berlangsung sekitar 2 jam. Pasca pertemuan, Gedung Putih mengeluarkan 
pernyataan bahwa Biden menyatakan, AS dan negara-negara sekutunya Uni Eropa 
sangat mengkhawatirkan penambahan penempatan militer Rusia di kawasan 
perbatasan Rusia dan Ukraina, jika pihak Rusia mengambil kegiatan eskalasi 
militer, maka mereka akan menghadapi sanksi ekonomi dan tindakan balasan 
lainnya yang kuat dari AS dan sekutunya. Biden menegaskan kembali bahwa AS 
mendukung kedaulatan dan keutuhan wilayah Ukraina, mengimbau Rusia dan Ukraina 
meredakan ketegangan situasi, dan memulihkan penyelesaian masalah Ukraina 
dengan cara politik.

Menurut informasi dari situs web Kremlin, dalam pertemuan kemarin, Putin dan 
Biden bertukar pendapat mengenai pelaksanaan hasil pertemuan Jenewa pemimpin 
kedua negara dan hubungan bilateral, juga keadaan Ukraina, masalah nuklir Iran 
dan keamanan informasi internet, dan secara khusus membahas krisis Ukraina dan 
keadaan pelaksanaan Perjanjian Minsk.

Dilaporkan, Putin menyatakan bahwa Rusia tidak bertanggung jawab atas keadaan 
yang semakin serius di bagian Timur Ukraina, karena NATO sedang mencoba 
menaklukkan wilayah Ukraina, serta terus memperluas kekuatan militernya ke 
perbatasan Rusia dan Ukraina. Rusia berharap mendapat jaminan hukum yang dapat 
diandalkan, mencegah NATO lebih lanjut berekspansi ke bagian timur, dan 
menempatkan sistem senjata ofensifnya di negara-negara tetangga Rusia.




 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/98882DA54C264FAEB926CB482AF43E7B%40A10Live.

Reply via email to