“KTT Demokrasi” AS Sangat Ironis
2021-12-07 14:08:42  
http://indonesian.cri.cn/20211207/6460d124-fe7a-8f75-2d7e-daf98123cce9.htmlMenanggapi
 apa yang disebut sebagai “KTT Demokrasi” yang akan diselenggarakan AS, para 
sarjana dari dalam dan luar negeri menyatakan, demokrasi AS mempunyai masalah 
serius, dan dalam menghadapi tantangan yang besar, penyelenggaraan ‘KTT 
Demokrasi’ tersebut sangat ironis. Mereka mengimbau perlunya mengubah dan 
menyempurnakan cara dan standar pengukuran demokrasi dewasa ini.

Di depan ‘Dialog Demokrasi’ yang diadakan di Beijing baru-baru ini, para 
sarjana berpendapat, ‘KTT Demokrasi’ yang akan diselenggarakan oleh pemerintah 
AS ini sangat ironis. Contohnya, kerusuhan di Gedung Capital yang terjadi pada 
awal tahun ini, telah mengungkapkan secara mendalam masalah demokrasi ala AS.



Kishore Mahbubani, Peneliti Institut Riset Asia Universitas Negeri Singapura 
mengatakan, apakah standar dasar untuk mengukur sistem politik? Yaitu 
memperbaiki taraf kehidupan rakyat. Pada masa kini, AS sudah menjadi negara 
yang dikuasai oleh orang kaya dan uang. Pemerintah negara demokrasi seharusnya 
mewujudkan rakyat memiliki, rakyat menikmati dan rakyat menguasai. Namun 
demokrasi ala AS hanya sebatas formal saja, meskipun terdapat apa yang disebut 
dengan kebebasan berbicara dan berpendapat, tetapi kebijakan yang diambil pada 
akhirnya tidak dapat mencerminkan pandangan kebanyakan orang, hanya pandangan 
segelintir orang saja.



Para sarjana menunjukkan, demokrasi Barat kurang memahami dan menghormati 
perselisihan antar budaya. Tetapi ketika melakukan evaluasi demokrasi, badan 
terkait lebih banyak melakukan pengukuran dari prosedur, keadaan ini harus 
diubah. Tiongkok memberikan jalur praktik lain kepada demokrasi, hal ini perlu 
diketahui oleh dunia luar.

Wakil Presiden Forum Tiongkok Pusat Penelitian Strategi dan Keamanan 
Universitas Tsinghua, Li Shimo menyatakan, seharusnya tidak mengukur demokrasi 
dari prosedur, melainkan mengukur berdasarkan hasilnya. Standar pengukuran baru 
ini adalah hal yang baik bagi negara-negara berkembang, karena selama puluhan 
tahun ini, negara tersebut mengalami pembatasan dari liberalisme, tidak bisa 
memainkan potensi demokrasinya sendiri.



Mantan peneliti senior Universitas Cambridge Inggris, Martin Jacques 
mengatakan, yang harus dijelaskan ialah, demokrasi Barat hanya menduduki posisi 
dominannya setelah tahun 1945. Pada dasarnya, tak peduli apa pun sistem politik 
yang diambil, negara ini harus memberikan kesejahteraan kepada rakyat, jika 
tidak akan tergantikan. Inilah masalah paling besar yang dihadapi demokrasi 
Barat, yaitu tidak dapat memberikan kehidupan yang lebih baik kepada rakyatnya. 
Sebaliknya, Tiongkok membuat taraf kehidupan warga negaranya semakin meningkat 
dalam waktu 40 tahun ini.


‘Demokrasi ala AS’ Jauh Berbeda dengan Demokrasi Asli
2021-12-07 11:25:49  “Amerika Serikat adalah sebuah negara yang dikuasai oleh 
miliarder, bukanlah negara yang demokratis,” demikian komentar seorang 
cendekiawan Singapura bernama Kishore Mahbubani. Pada kenyataannya, di AS, 
‘demokrasi’ melayani orang kaya dan uang membajak kekuasaan, bukanlah rahasia 
lagi.

Banyak fakta menunjukkan, uang adalah pangkal atau biang politik, yang 
menjelujuri semua mata rantai dari pemilihan, legislasi hingga administrasi. 
Sebanyak 91 persen pemilihan Kongres AS dimenangkan oleh kandidat yang 
memperoleh dukungan uang terbanyak. Demokrasi ala AS adalah “permainan orang 
kaya” yang dibekali modal. Ketika para politikus AS bertekuk lutut di hadapan 
uang, maka kekuasaan yang dimilikinya pasti akan berorientasi pada sejumlah 
kecil orang kaya, sedangkan rakyat jelata yang tak terhingga banyaknya sudah 
tentu akan diabaikan dengan kepentingan maupun tuntutannya tidak digubris sama 
sekali.

Sebuah laporan yang tertuju pada 163 negara di tahun 2020 menunjukkan, dalam 
hal ‘indeks pembangunan sosial’ pada sepuluh tahun terakhir ini, hanya tiga 
negara termasuk AS yang mengalami penurunan, apalagi AS mengalami keanjlokan 
yang terbanyak. Adapun masyarakat kelas menengah yang selalu dipandang sebagai 
pilar sosial AS juga mengalami kemerosotan dari penghasilannya, tidak hanya 
secara proporsi, tapi juga secara tahunan, jika dihitung dari akumulasi 
kekayaan keluarganya selama 20 tahun terakhir.

Kira-kira pada seratus tahun yang lalu, Hakim Ketua Mahkamah Agung AS, Louis D. 
Brandeis mengatakan, “Di negeri ini hanya ada dua alternatif yang dilematis, 
pertama, negara ini memiliki demokrasi, dan kedua, kekayaan di negeri ini 
dikuasai oleh sejumlah orang kecil, tapi di antara keduanya hanya bisa dipilih 
satu.” Pada saat ini, pemujaan terhadap uang sudah berkembang biak menjadi 
‘tumor’ yang sulit dikikis dari sosial AS, namun pemerintah AS malah berani 
mengadakan apa yang disebut sebagai ‘KTT Demokrasi’, hal ini benar-benar ironis.




 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5979B16D5A5B4F768A1AF32E5103EA55%40A10Live.

Reply via email to