Semeru Meletus, Politik Bencana?I76 - Thursday, December 9, 2021 22:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/semeru-meletus-politik-bencana
 
Foto: Antaranews
6 min read

Meletusnya Semeru menjadi bagian dari rentetan bencana alam yang melanda 
berbagai wilayah di Indonesia. Jamak diketahui, partai dan elite politik 
melakukan kunjungan ke berbagai lokasi guna menyalurkan bantuan. Apakah  ini 
menjadi momentum politik jelang 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Empat Desember di Sabtu sore, Gunung Semeru yang berada di wilayah Provinsi 
Jawa Timur mengalami guguran awan panas. Material vulkanik yang terpantau pada 
pukul 15.20 WIB ini mengarah ke Lumajang.

Semeru memiliki catatan panjang sejarah erupsi yang terekam pada 1818. Menurut 
data yang diberikan oleh BNPB, catatan letusan yang terekam pada 1818 hingga 
1913 tidak banyak informasi yang terdokumentasikan.

Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang. Pusat 
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan leleran lava 
terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942.

Bencana demi bencana masih melanda Indonesia. Meminjam istilah Azumardi Azra 
dalam tulisannya  Bencana dan Politik, julukan Indonesia sebagai ring of fire 
(cincin api) mungkin tidak memadai lagi, julukan Tanah Air kita harus diganti 
jadi ring of disasters (lingkaran bencana).

Bencana-bencana itu sekilas memiliki pola yang hampir mirip, yakni disebabkan 
oleh kondisi lingkungan. Lebih jauh lagi, ada kesan kuat lingkungan yang 
terjadi berhubungan dengan keadaan alami dari lingkungan itu, meski ada pula 
yang melihat adanya penyebab tangan manusia yang merusak lingkungan.

Sejumlah analis bahkan menyebut permasalahan laten ini terjadi bukan hanya 
karena faktor lingkungan semata, melainkan juga hasil dari kesalahan mitigasi 
bencana yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Kita memerlukan cara pandang lain dalam melihat bencana terutama yang terkait 
dengan dimensi politik. Lantas, bagaimana implikasi politik dapat membantu 
memberikan penjelasan alternatif tentang bencana?


  
Pisau Bermata Dua
Bencana alam juga berhubungan dengan politik. Gempa dan gelombang tsunami yang 
terjadi di Aceh dan Sumatra Utara merupakan salah satu dari bencana alam yang 
memakan korban sangat banyak dalam sejarah Nusantara. Di antara musibah besar 
lainnya adalah letusan Gunung Krakatau (1883) dan Tambora (1815).

Pengaruh politik dalam bencana dapat ditafsirkan sebagai bencana demokrasi pada 
satu sisi, tapi pada sisi lain juga menjadi lahan bagi para tokoh dan partai 
politik untuk mengambiil kesempatan di tengah bencana untuk mendompleng 
popularitas.

Terkait bencana alam, sebuah tulisan dari Alejandro Quiroz Flores yang berjudul 
Indonesia’s Disaster Politics, memberikan ulasan yang sangat menarik. Menurut 
Flores, bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan lain sebagainya 
tidak hanya memberikan kerusakan fisik ataupun ekonomi, namun juga dapat 
merusak institusi demokrasi – alias dapat memberikan kerusakan secara politik.

Menurut Flores, suatu bencana alam yang tentunya dapat memberikan daya rusak 
yang besar, apabila tidak dapat ditanggulangi dengan baik oleh pemerintah 
terkait, maka akan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. 
Imbasnya, ini dapat menjadi preseden buruk seperti mendiskreditkan institusi 
demokrasi.

Pasalnya, menurut Flores, dalam negara demokrasi, seorang pemimpin akan dapat 
menjaga kekuasaannya apabila dapat menjaga kepercayaan dari masyarakat. Pada 
konteks ini, bencana bisa menjadi musibah politik bagi para pejabat publik di 
sekitar bencana.

Hal berbeda akan terlihat pada penjelasan David R. Weise, Tom Pyszczynski dan 
kawan-kawan dalam tulisan mereka yang berjudul The Role of Terror Management 
and Attachment Processes in Shaping Political Preferences menemukan bahwa 
secara psikologis ancaman kematian dapat menentukan preferensi dan orientasi 
politik seseorang.

Hal tersebut memungkinkan politisi, pemangku kebijakan, hingga pemimpin dapat 
menggunakan taktik persuasif dengan memaksimalkan pemaknaan psikologis, 
termasuk ketakutan maupun ancaman akan kematian, untuk meraih dukungan publik 
dan kepentingannya.

Layaknya pisau bermata dua, konteks dari penjelasan Weise memperlihatkan kepada 
kita, bahwa para elite politik bisa menggunakan bencana untuk mendompleng 
popularitas. Mungkin ada yang berpikir ini sah sah saja, alasannya karena 
berangkat dari pemikiran bahwa politik dapat menggunakan apa saja untuk menjadi 
sebuah alat atau komoditas politik.

Scott London dalam How the Media Frames Political Issues menyebut framing 
effect dari media berperan besar dalam terbentuknya berbagai interpretasi dan 
agenda politik yang terjadi. Media juga dikatakan mendorong reasoning atau 
penalaran atas berbagai pemberitaan yang beredar, baik berdampak positif maupun 
negatif terhadap persepsi publik.

Indikasi adanya peran media tersebut kiranya juga dapat dijadikan penjelasan 
terkait mengapa pemberitaan dapat menjadi katalisator untuk para elite dapat 
meraih atensi publik dalam sebuah bencana. Aktor atau elite politik yang lihai 
pasti menggunakan kekuatan media untuk membangun persepsi yang baik untuknya.

Well, muncul pertanyaan apakah yang dilakukan oleh aktor politik itu wajar, 
bagaimana jika dibandingkan dengan politik bencana di Amerika Serikat?

 
  
Melihat Paman Sam
Indonesia beruntung karena solidaritas masyarakat masih kuat untuk meringankan 
beban warga. Banyak warga spontan turun tangan membantu. Selain itu, organisasi 
dan kelompok filantropi yang bergerak dalam penyantunan korban bencana juga 
terlihat cepat bergerak memberikan berbagai bentuk kontribusi sumbangan. Kelas 
menengah yang terus bertumbuh menjadi tulang punggung (backbone) filantropi 
Indonesia memungkinkan mereka bergerak lebih aktif dan lebih cepat.

Bencana demi bencana di Tanah Air juga mengundang parpol atau elite politik 
”turun tangan”. Gejala ini tidak unik di Indonesia, tetapi juga di Amerika 
Serikat (AS). David G Twigg dalam The Politics of Disaster: Tracking the Impact 
of Hurricane Andrew, menyimpulkan, bencana alam sejak dari gempa sampai tornado 
dapat meninggalkan bekas tidak terhapuskan dalam karier politik seseorang.

Presiden AS George W. Bush adalah salah satu pemimpin yang dinilai berhasil 
menggunakan strategi tersebut. Hal ini terlihat dari cara Bush dalam 
mengakomodasi kekhawatiran dan ancaman terhadap keselamatan jiwa rakyat negeri 
Paman Sam pasca teror 11 September 2001. Langkah ini bahkan dinilai berhasil 
menarik simpati dan dukungan publik yang turut berkontribusi pada terpilih 
kembali dirinya pada Pilpres AS 2004.

Tak hanya Bush, penerusnya, Barack Obama pun disebut memanfaatkan situasi 
darurat seperti bencana untuk mendulang dukungan politik. Menariknya, Obama 
disebut memanfaatkan kesalahan pemerintahan Bush dalam penanganan Badai Katrina.

Tom McCarthy dalam tulisannya di The Guardian membahas bagaimana Obama 
menggunakan peringatan 10 tahun bencana Badai Katrina di New Orleans untuk 
mendapatkan momentum politik. Dalam pidatonya, Obama menyebut kegagalan 
pemerintah dalam melindungi warganya kala itu telah membuat Badai Katrina yang 
merupakan bencana alam menjadi bencana buatan manusia.

Saat Badai Katrina terjadi pada 2005 lalu, memang sempat bocor percakapan dari 
Gedung Putih yang menyatakan tak perlu ada upaya evakuasi besar-besaran di New 
Orleans – daerah paling terdampak – karena populasi Afrika-Amerika alias kulit 
hitam terbanyak berada di sana. Beredarnya rekaman ini pun langsung memantik 
kemarahan publik AS.

Buruknya mitigasi pemerintahan Bush dalam bencana Katrina merupakan titik awal 
dari kejatuhannya. Isu ini pun kerap jadi andalan Obama untuk mengkritik Partai 
Republik dan mendulang dukungan, dari sejak Ia belum menjabat sebagai Presiden 
bahkan hingga akhirnya berhasil menduduki Gedung Putih.

Kecepatan figur politik dalam menangani korban bencana dapat memberikan manfaat 
baginya sebab dengan begitu ia telah melakukan ”kampanye tanpa kampanye”. 
Keterlibatan elite politik dan parpol di Tanah Air mewujud dalam pemberian 
bantuan berbarengan dengan pemasangan bendera parpol masing-masing di wilayah 
terlanda dan terdampak bencana. Keadaan ini kadang-kadang mengesankan adanya 
”perang bendera” di antara parpol berbeda. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/73921E0EB7BE453780D544A6D4BAD670%40A10Live.

Reply via email to