Saatnya Mematikan Ideologi Partai?R53 - Sunday, December 12, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saatnya-mematikan-ideologi-partai
 
Foto: Kompas.com
6 min read

Terdapat berbagai partai dengan bermacam ideologi di Indonesia, yang umumnya 
terbagi dalam partai agama, khususnya Islam dan partai nasionalis. Namun, dalam 
kritik berbagai pihak, ideologi partai di Indonesia hanya terlihat di atas 
kertas. Apakah partai harus menunjukkan diferensiasi ideologinya, atau justru 
duel ideologi sudah bukan zamannya?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “No democracy without politics, and no politics without parties,” – Clinton 
Rossiter, sejarawan Amerika Serikat

Lengsernya Soeharto pada 1998 membawa angin segar bagi perpolitikan nasional. 
Setelah sebelumnya dikekang, berbagai partai baru bermunculan menyambut 
Reformasi. Pada Pemilu 1977-1997, dengan adanya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 
1975 tentang Partai Politik, kontestasi hanya diikuti oleh Partai Persatuan 
Pembangunan (PPP), Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan Partai Golkar. Pada 
Pemilu 1999, yang merupakan pemilu pertama sejak Soeharto tumbang, jumlahnya 
meningkat drastis menjadi 48 partai.  

Namun, setelah menjalani lima pemilu, euforia kebangkitan partai baru tampaknya 
menjadi sinisme. Dalam berbagai diskursus ringan di warung kopi, lumrah 
ditemukan ungkapan, “partai sekarang sama aja”. Meskipun di atas kertas 
memiliki ideologi berbeda, umumnya partai agama dan nasionalis, tidak 
menunjukkan diferensiasi di tataran praktisnya. 

Dian Dwi Jayanto dalam tulisannya Pragmatisme Sebagai Ideologi Partai Politik, 
menyebut saat ini semua partai yang ada hampir seragam dalam pola kecenderungan 
ideologinya. Mereka menawarkan narasi yang sama, seperti membela rakyat kecil. 
Menurutnya, situasi ini kontras dengan zaman Orde Baru yang memperlihatkan 
demarkasi tegas ideologi tiap partai.

Suka atau tidak, penjelasan Jayanto adalah realitas politik kita saat ini. 
Pasalnya, ketika berkuasa, partai Islam – seperti PPP dan PKB, nyatanya tidak 
memiliki perbedaan eksekusi program yang berarti dengan partai nasionalis – 
seperti PDIP dan Gerindra. Kedua kutub ini terlihat memiliki corak yang sama, 
baik di kampanye maupun di parlemen, yakni memperjuangkan hak rakyat.

Merefleksikan fenomena ini membuat kita menarik pertanyaan, apakah partai 
politik harus menunjukkan demarkasi ideologi? Atau mungkin saat ini bukan lagi 
eranya menjual narasi ideologi?


  
Deideologisasi
Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 2000-2011, As’ad Said Ali dalam 
bukunya Perjalanan Intelijen Santri menceritakan kisah menarik di balik 
ketertarikannya masuk ke lembaga telik sandi. Ketika masih menempuh semester IV 
studi Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada (UGM), As’ad mendengar 
pidato Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) Ali Moertopo yang 
berjudul Akselerasi Pembangunan dan Modernisasi 25 Tahun. 

Meskipun pada awalnya kurang memahami, muncul ketertarikan dalam hati As’ad. 
Poin yang disampaikan Ali Moertopo adalah, untuk melakukan modernisasi, partai 
politik harus berorientasi pada program, bukannya ideologi. Menurut As’ad, saat 
itu Orde Baru sedang melakukan deideologisasi, di mana ini bertolak pada rezim 
Orde Lama yang mengalami instabilitas politik tak berkesudahan karena tingginya 
tensi ideologi partai.

Untuk kepentingan deideologisasi dan merampingkan partai politik, Orde Baru 
melakukan berbagai rekayasa politik yang dilakukan oleh Operasi Khusus (Opsus) 
di bawah komando Ali Moertopo. Menurut As'ad, dalam roadmap Orde Baru, secara 
bertahap posisi yang ditempati oleh ABRI akan diberikan ke sipil. Namun, 
roadmap tersebut berubah setelah Opsus dibubarkan pada 1983 dan fungsinya 
diambil alih oleh Kasospol ABRI. Pembubaran ini menjadi awal penyimpangan, 
hingga lahirnya sentimen keras dwifungsi ABRI.

Terlepas dari rasa ketidaksukaan terhadap rezim Orde Baru, roadmap yang 
disebutkan As’ad sangatlah menarik. Difusi partai politik yang dilakukan 
selaras dengan maksim pragmatisme (pragmatic maxim) dari filsuf Charles Sanders 
Peirce. Konsep ini menerangkan, dua buah teori – atau lebih – yang tidak 
memiliki perbedaan secara praktis, sejatinya tidak memiliki perbedaan filosofis.

Konteksnya semakin menarik, karena pragmatisme adalah isme yang berkembang 
pesat di Amerika Serikat (AS). Mengutip buku Greg Barton, Kelly Bird, dan Susan 
Blackburn yang berjudul Indonesia Today: Challenges of History, pada tahun 
1970-an, Ali Moertopo menginisiasi pembentukan Centre for Strategic and 
International Studies (CSIS) dan membawa mereka yang belajar di AS, khususnya 
dari Seymour Martin Lipset dan Samuel Huntington, guna melakukan akselerasi 
modernisasi dan menduplikasi demokrasi AS.

Dengan kata lain, mungkin dapat dikatakan, pragmatic maxim berada di balik 
deideologisasi Orde Baru, yakni membuat partai berpusat pada diferensiasi 
praktikal. Daripada bergulat pada perang narasi ideologi yang kerap kali tidak 
menghadirkan perbedaan praktis, lebih baik partai berfokus pada manifestasi 
ideologinya, yakni program yang ditawarkan kepada masyarakat. 



Saatnya Duel Program
Politik di negeri Paman Sam adalah contoh paling gamblang dalam menerangkan 
persoalan tersebut. Seperti yang diketahui, di AS terdapat dua partai dominan, 
yakni Partai Demokrat dan Partai Republik. Yang menarik, keduanya tidak hanya 
kontras di atas kertas (ideologi), melainkan juga kontras di tataran orientasi 
kebijakan publik.

Dalam tatanan politik, Partai Republik mendukung pemerintah federal dengan 
wewenang terbatas dan pemerintah negara bagian yang kuat. Sedangkan Partai 
Demokrat justru percaya pada wewenang pemerintah federal yang lebih besar.

Dalam tatanan ekonomi, Partai Republik percaya pada pertumbuhan ekonomi melalui 
persaingan bebas dan mendorong orang-orang untuk menggunakan ide-ide inovatif 
mereka sendiri. Sedangkan Partai Demokrat justru percaya bahwa ekonomi mungkin 
akan sulit untuk ditangani individu, sehingga keputusan bisnis dinilai lebih 
baik jika dipandu oleh kebijakan pemerintah.

 
  
Kimberly Amadeo dalam tulisannya Democrats or Republicans: Which Is Better for 
the Economy? menyebutkan Partai Demokrat mengarahkan kebijakan ekonomi untuk 
membantu kelompok berpenghasilan rendah dan menengah. Selain untuk mengurangi 
ketimpangan pendapatan, kebijakan tersebut juga dipercaya sebagai cara terbaik 
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Ini bertolak dari temuan bahwa kelompok berpenghasilan rendah lebih cenderung 
menghabiskan uang ekstra untuk kebutuhan sehari-hari daripada menabung atau 
berinvestasi, sehingga dapat meningkatkan permintaan dan memacu pertumbuhan 
ekonomi.

Dalam tulisannya Why Trickle-Down Economics Works in Theory But Not in Fact, 
Amadeo menyebutkan kesimpulan itu bertolak dari evaluasi terhadap mazhab 
trickle-down economics atau trickle-down effect yang terbukti tidak efektif 
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.  

Sedikit konteks, trickle-down effect sendiri adalah mazhab ekonomi yang 
berasumsi bahwa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, maka kebijakan ekonomi 
harus diarahkan kepada pengusaha atau industri besar. 

Amadeo menyebutkan Partai Demokrat juga mendukung teori ekonomi Keynesian. 
Teori tersebut meyakini pemerintah harus meningkatkan permintaan (demand) atau 
keinginan dan kemampuan konsumen untuk membeli barang atau jasa karena 
dipercaya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kontras dengan Partai Demokrat, Partai Republik bertolak dari teori supply-side 
economics, khususnya yang menguntungkan pebisnis dan investor. Teori ini 
menyatakan pemotongan pajak pada bisnis memungkinkan para pengusaha untuk 
mempekerjakan lebih banyak pekerja, yang pada gilirannya meningkatkan 
permintaan dan pertumbuhan. Asumsinya adalah pertumbuhan ekonomi didapatkan 
melalui peningkatan produksi.

Berbeda dengan Partai Demokrat yang menganjurkan intervensi negara dalam 
aktivitas ekonomi, Partai Republik mendorong usaha mengejar kemakmuran tanpa 
adanya campur tangan pemerintah. Menurut mereka, itu dicapai dengan 
meningkatkan kompetensi individual atau mendorong kompetisi.

Nah, bertolak dari yang terjadi di AS, perbedaan kutub ideologi nyatanya juga 
berdampak pada orientasi kebijakan publik yang dianut. Ini membuat pemilih 
memiliki gambaran akan seperti apa kebijakan pemimpin yang dipilihnya. Kembali 
mengutip Jayanto, partai politik harus menunjukkan demarkasi yang jelas terkait 
arah kebijakan yang mereka usung.

Sebagai penutup, judul tulisan ini tidak bermakna denotatif. “Mematikan 
ideologi partai” tidak bermakna partai harus menanggalkan ciri khas 
ideologinya, melainkan harus mematikan praktik perang jargon ideologi. Partai 
harus melakukan duel program agar pemilih memiliki preferensi pilihan yang 
jelas. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/664069DFD7AA492FAEFA058099F23D27%40A10Live.

Reply via email to