https://www.kompas.id/baca/opini/2021/12/11/melihat-inti-mesin-pembangunan-as-dan-china

Melihat Inti Mesin Pembangunan AS dan China
11 Desember 2021  KOMPAS 
Oleh: DATO SRI TAHIR    

Sejak periode menjelang terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika 
Serikat, hingga Joe Biden, saat ini kondisi sosial-politik AS masih mengalami 
polarisasi.

Biden, dalam kampanyenya, berjanji mewujudkan sistem presidensi bagi semua 
warganya. Akan tetapi, sampai saat ini, polarisasi di AS belum mereda, bahkan 
pengamat perpolitikan AS mulai menyebutnya sebagai ”hyperconflict”, di mana 
orang tidak lagi memercayai siapa pun yang datang dari sudut pandang yang 
berbeda.

Di bidang ekonomi, saat ini AS negara paling kaya, dengan produk domestik bruto 
(PDB) 23 triliun dollar AS. Namun, polarisasi yang terjadi tak terlepas dari 
kondisi ekonomi internal AS.

Joseph Stiglitz, pemenang Nobel, mengamati, 1 persen penduduk terkaya AS 
mengontrol paling tidak 40 persen kekayaan AS. Data menunjukkan 17 persen 
anak-anak di AS hidup dalam kemiskinan. Namun, di sisi lain, AS bisa memiliki 
miliuner seperti Elon Musk, satu-satunya swasta yang cukup kaya untuk bersaing 
dengan NASA untuk membangun peradaban di Mars dan, menurut Propublica, tak 
bayar pajak pendapatan.

Oleh karena itu, tokoh-tokoh demokrat AS mengampanyekan ”tax the rich” (pajaki 
orang kaya). Akan tetapi, adanya Pandora Papers, FinCEN Files, dan Mauritius 
Leaks menunjukkan, walau Kementerian Keuangan AS powerful, mengambil manfaat 
pajak dari miliuner AS bukan suatu hal yang mudah.

Joseph Stiglitz, pemenang Nobel, mengamati, 1 persen penduduk terkaya AS 
mengontrol paling tidak 40 persen kekayaan AS.

Di bidang pendidikan, kualitas sekolah dasar dan menengah publik juga semakin 
menurun dan tidak merata. Ada segelintir kecil sekolah publik yang alumninya 
jadi pemenang Nobel, tetapi semakin banyak sekolah publik AS yang kekurangan 
dana, guru, dan hanya menghasilkan berandalan. Meski demikian, sebagai negara 
paling kaya dan pemenang Perang Dunia, AS masih adidaya.

Walaupun pemerintahnya pemegang utang terbesar sedunia (29 triliun dollar AS), 
dollar AS masih menjadi mata uang sentral perdagangan dunia dan salah satu 
fondasi pertumbuhan ekonomi global. Saat ini tak ada mata uang/gabungan mata 
uang alternatif lain yang mampu menantang dominasi dollar AS.
Walaupun kadang risiko pasar berasal dari internal AS sendiri, 
investor-investor tetap memegang dan beli dollar AS. Tergantung kepemimpinan AS 
dalam menggunakan keunggulan strategis ini untuk kembali membangun ekonominya 
dan mempertahankan global order.

Kondisi dan evolusi China

Menyimak evolusi China sangatlah menarik. Setelah Perang Dunia II, China adalah 
negara sangat miskin. Akan tetapi, sejak kepemimpinan Deng Xiaoping, China 
mulai membuka diri dan mereformasi ekonominya, pertumbuhan PDB rata-rata hampir 
selalu 10 persen per tahun.

Saat ini diperkirakan lebih dari 800 juta jiwa telah terangkat dari kemiskinan. 
Pertumbuhan China juga tak hanya bersumber dari industri padat karya bernilai 
tambah rendah (low added value labor intensive), tetapi berangsur-angsur datang 
dari pertumbuhan berbasis inovasi dan teknologi.

Sejak reformasi, China setiap tahun mengirim sekitar 600.000 pelajar ke luar 
negeri. Selama 40 tahun ini sudah ada 24 juta scholars lulusan luar negeri. 
Mereka tak hanya lulus dari Strata 1 (S-1), tapi juga banyak yang mengambil 
doktor dari universitas-universitas terbaik AS. Diperkirakan 10 persen lebih 
kembali, jadi China punya lebih dari 2,4 juta pemegang PhD luar negeri.

Selain itu, setiap tahun di China ada sekitar tujuh juta lulusan S-1, dan 60 
persennya jurusan STEM (science, tech, engineering, and math). Selama masa 
reformasi, terakumulasi 168 juta engineers, tersebar di parpol, pejabat 
eksekutif, BUMN, dan perusahaan swasta.

Akumulasi kapasitas sains dan teknologi ini menunjukkan buahnya. Produksi hak 
paten merupakan salah satu ukuran kemampuan berinovasi. Dulu banyak orang 
percaya China hanya bisa meng-kopi, bukan inovasi, sedangkan AS selalu juara 
sebagai negara produsen paten terbanyak. Namun, tahun lalu, Organisasi Hak atas 
Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) mengumumkan, China juaranya.

Setiap tahun, jumlah paten yang diproduksi China tumbuh 9-10 persen, 75 persen 
lebih pemegang paten bergelar doktor, sehingga hanya dalam 10 tahun China 
menyalip sembilan negara juara bertahan, menjadi negara produsen paten 
terbanyak di dunia.

Pencapaian yang luar biasa ini tak terlepas dari orkestrasi strategi 
pembangunan manusianya yang luar biasa. China memilih 25 universitas terbaik, 
dan tiap universitas ini punya 2-3 core excellences, yang komplementer dengan 
universitas lain. Guru-guru terbaik juga jadi bagian dari sekolah-sekolah ini.
Belajar dari keduanya, China beradaptasi dan mengadopsi sistem sosialis-pasar.

Pada masa kepemimpinannya, Deng Xiaoping secara umum melakukan dua reformasi 
besar. Pertama, reformasi institusi, dari Marxis menjadi sosialis-pasar yang 
memperbolehkan adanya kepemilikan individu, di samping kepemilikan kolektif. 
China melihat keberhasilan konsep laissez faire Adam Smith dan sistem 
persaingan pasar, serta kegagalan Marxisme. Belajar dari keduanya, China 
beradaptasi dan mengadopsi sistem sosialis-pasar.

Indonesia juga sudah mengambil sistem teroptimal, seperti yang dicetuskan dalam 
UUD Pasal 33. Hal-hal yang menguasai hajat hidup orang banyak diatur negara, 
sedangkan aspek-aspek lain dilaksanakan oleh pihak swasta.
Kedua, China melakukan reformasi BUMN. Indonesia juga sudah melakukan ini. 
Pengelolaan BUMN-BUMN di China diserahkan kepada profesional sehingga bisa 
tumbuh menjadi perusahaan modern yang kompetitif. Maka kita bisa lihat 
perusahaan-perusahaan terkuat dunia, seperti perusahaan nikel dan batubara, dan 
juga perusahaan terinovatif, banyak di antaranya adalah perusahaan BUMN China.

Pelajaran dari AS dan China

Aspek-aspek yang membuat AS terhambat dan China berhasil mengatasi 
ketertinggalan inilah yang perlu kita observasi, adopsi, dan adaptasi sesuai 
keperluan dan karakteristik kita.

Pertama, situasi pemilihan pemimpin dengan platform yang sangat berbeda seperti 
Trump, lalu Biden, ternyata tak menyelesaikan polarisasi, bahkan bukan tak 
mungkin ke depan menghasilkan suatu disfungsi sosial-politik. Jika kita 
jalan-jalan ke AS, kita bahkan sering melihat tunawisma ada di 
kompleks-kompleks terelite, seperti Los Angeles dan New York. Walaupun keahlian 
sains dan teknologi AS terdepan, disfungsi sosial-politik bisa menghambat 
pertumbuhan ke depan.

Kedua, China dari dulu sudah membuat perencanaan bagaimana mengadopsi dan 
mengadaptasi sistem sosialis dengan karakteristik pasar, dan merencanakan 
pembangunan SDM-nya supaya ekonomi bisa terus tumbuh tinggi dan berkualitas. 
Rencana pembangunan ini diimplementasikan berkesinambungan walau pemimpin 
negara berganti dan dalam situasi sosial politik yang stabil.

Ketiga, Dani Rodrik, ekonom spesialis pertumbuhan, mengobservasi bahwa modal 
manusia jadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi. AS sendiri dulu berhasil 
menyalip kepemimpinan teknologi Jerman karena reformasi lembaga pendidikan 
tinggi (HEI) dan interaksi HEI dengan pemerintah dan industri yang kolaboratif 
sehingga mampu menghasilkan kawasan seperti Sillicon Valley dan South San 
Francisco (Biotech).

Demikian juga Jepang dan China yang sudah membentuk sistem triplehelix 
(pemerintah, industri, akademisi) untuk terus membangun tingkat national 
innovativeness yang mampu melahirkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Ketika saya bertemu Presiden MIT dan Presiden NUS, interaksi 
akademisi-industri-pemerintah inilah yang jadi kunci peningkatan level national 
innovativeness. Kesuksesan China tak lepas dari kestabilan dan kepemimpinan Xi 
Jinping yang melanjutkan pembangunan pemimpin sebelumnya.

Presiden Jokowi memiliki rekam jejak mengisi pertumbuhan ekonomi, misalnya 
dengan menghapus subsidi yang tak tepat sasaran, membangun infrastruktur, dan 
SDM. Selain itu, penanganan pandemi Indonesia juga dipuji di luar negeri, 
infeksi terkontrol dengan baik, pertumbuhan ekonomi terjaga, serta pengelolaan 
utang dan manajemen keuangan publik tetap kredibel.

Kehadiran Presiden pada COP 26 dan G-20 juga menaikkan peran diplomasi 
Indonesia di tingkat global. Kualitas kepemimpinan dan reputasi di tingkat 
global ini adalah aset yang penting untuk mendukung core pembangunan ekonomi 
yang berkualitas.

Jika kita melihat perkembangan suatu negara, kita tak cukup hanya melihat 
ukuran dan pertumbuhan PDB, tapi juga harus melihat inti mesin atau core-nya. 
Ibarat kita melihat macan, tidak cukup melihat lorengnya. Kita juga harus 
melihat kuku dan taringnya yang, walaupun tak bisa langsung terlihat, tanpa 
kuku dan taring yang sesuai, makhluk itu belum tentu macan riil.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/42159A9D630A4A49AE045CDFEE7D0DC1%40A10Live.

Reply via email to