Kenapa PAN Nekat Incar Jawa Timur?R53 - Thursday, December 16, 2021 17:33
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-pan-nekat-incar-jawa-timur
 
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan ketika memberikan pidato dalam Musran PAN yang 
digelar di Ponpes Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur pada 10 Desember 2021 
(Foto: detikNews)
6 min read

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan melakukan safari politik menarik dengan 
mengunjungi pondok pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur (Jatim) dan 
bertemu dengan Ketua PWNU Jatim. Apakah PAN tengah menyasar ceruk suara NU di 
Jatim? Jika benar, mampukah PAN yang pemilih tradisionalnya dari Muhammadiyah 
bersaing dengan PKB? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Let your plans be dark and impenetrable as night, and when you move, fall 
like a thunderbolt.” — Sun Tzu, ahli perang Tiongkok

Ada gestur politik menarik yang ditunjukkan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan 
(Zulhas) pada 10 Desember kemarin. Mungkin untuk yang pertama kali, ia 
menghadiri Musyawarah Ranting (Musran) PAN di Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). 
Musran ini juga terbilang menarik karena digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) 
Amanatul Ummah asuhan Kiai Asep Saifuddin Chalim yang merupakan pondok 
Nahdlatul Ulama (NU). Ini menarik karena pemilih tradisional PAN adalah dari 
Muhammadiyah.

Sambutan Kiai Asep Saifuddin Chalim tidak kalah menarik. “Pondok kami terbuka 
untuk kegiatan-kegiatan yang memikirkan agenda kebangsaan. Saya siap membantu 
dan memfasilitasi, termasuk kegiatan-kegiatan PAN, bahkan kalau perlu kami 
biayai. Di sini banyak aula, ruangan dan lainnya,” ungkapnya. Benar-benar 
antusiasme dan dukungan yang tersurat.

Dalam rangkaian safarinya, Zulhas juga mengunjungi Ponpes Syekh Abdul Qodir Al 
Jailani di Kraksaan, Probolinggo dan Ponpes Sidogiri Pasuruan. Tidak lupa pula 
menyambangi tokoh NU sentral di Jatim, yakni Ketua PWNU Jatim KH Marzuki 
Mustamar. 

“PAN dengan NU ini dekat, kecintaan Bang Zul kepada para Kiai juga tak usah 
diragukan. Ahlan wa sahlan, selamat datang di Ponpes Syekh Abdul Qadir Jailani, 
disambut oleh para Kiai dan Habaib,” ungkap KH Abdul Hafidz Aminuddin, pimpinan 
Ponpes Syekh Abdul Qadir Jailani.

Atas rangkaian safari yang dilakukan, khususnya ke Ponpes NU dan Ketua PWNU 
Jatim, berbagai pihak menaruh dugaan, apakah PAN tengah mengincar suara NU? 

Jika benar, ini sangat menarik karena PAN harus bersaing dengan PKB yang telah 
lama menjadikan NU sebagai lumbung suara, khususnya di Jawa Timur. Pada Pemilu 
2019, misalnya, PKB memperoleh 4.198.551 suara di Jatim – hanya dilewati tipis 
oleh PDIP dengan 4.319.666 suara. Dengan total meraih 13.570.097 suara, 
sepertiga suara PKB disumbang oleh satu provinsi.

Lebih menarik lagi, Ketua DPW PAN Jatim Ahmad Rizki Sadig mengeluarkan tagline 
“Jawa Timur Basis PAN”. Melihat statistik yang ada, apakah PAN terbilang nekat 
ingin merebut suara NU di Jawa Timur?


  
Kalkulasi Matematis
Jika benar PAN mengincar suara NU Jatim, maka ini adalah afirmasi atas tulisan 
Alexander R. Arifianto yang berjudul From ideological to political 
sectarianism: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and the state in Indonesia.

Disebutkan, saat ini politik Indonesia bukanlah soal pertarungan ideologi, 
melainkan soal sektarianisme atau pertarungan kelompok masyarakat. Arifianto 
mencontohkannya dengan Pilpres 2019. Ketika Amien Rais yang merupakan tokoh 
senior Muhammadiyah bersikap sebagai oposisi, pemerintah kemudian merapat ke 
NU. Tidak hanya terkait PKB, secara mengejutkan Ma’ruf Amin dipilih sebagai 
cawapres di detik-detik akhir pengumuman.

Cara kerja yang sama juga berlaku di pemilihan legislatif. Strategi perebutan 
suara pada dasarnya tidak bertolak pada kampanye ideologi, melainkan seberapa 
jauh usaha partai dalam mendekati dan beramah-tamah dengan kelompok masyarakat.

Oleh karenanya, meskipun pemilih tradisional PAN disebut dari Muhammadiyah, 
jika partai biru dapat melakukan pendekatan yang strategis, tepat, dan 
proporsional, menggaet suara dari pemilih NU merupakan suatu probabilitas yang 
dapat diraih.

Melihat datanya, tagline “Jawa Timur Basis PAN” sebenarnya adalah kalkulasi 
matematis. Pada Pemilu 2019, PAN meraih 1.209.375 suara di Jatim. Dengan 
perkiraan jumlah warga Muhammadiyah di Jatim sebesar 10 juta jiwa, yang mana 
tentunya tidak semua ke PAN, dapat dikatakan sisanya berasal dari warga NU. 

Simpulan ini misalnya dapat ditarik pada kasus Slamet Ariyadi, anggota DPR 
Komisi IV Fraksi PAN yang berasal dari daerah pilih (Dapil) Jawa Timur IX. 
Ariyadi merupakan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), 
organisasi kemahasiswaan yang disebut punya pertalian dengan NU. Ia juga pernah 
nyantri di Ponpes Nazhatut Thullab Prajjan Sampang yang merupakan pondok NU. 

Sekarang pertanyaannya, dengan background seperti itu, darimana suara Ariyadi? 
Tentu bukan dari warga Muhammadiyah, melainkan warga NU. Faktor penting lainnya 
adalah, seperti yang diungkap Menko Polhukam Mahfud MD, warga NU dibebaskan 
untuk menentukan partai pilihannya. 

Suara NU bukan hanya milik PKB. Ini terbukti dengan perolehan suara partai 
lebah yang hanya menyentuh 13.570.097 suara di Pemilu 2019. Ini jauh dari 
perkiraan jumlah warga NU yang disebut mencapai 60-120 juta jiwa.

Mengutip NU Online, jumlah warga NU Jatim mencapai 24.487.914 jiwa, sekitar 60 
persen penduduk Jawa Timur. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat warga 
Muhammadiyah Jatim. Pertanyaannya, siapa yang tidak ingin mendapat suara 
sebanyak itu? 

Dengan berbagai perhitungan matematis tersebut, dapat dikatakan tagline “Jawa 
Timur Basis PAN” bukanlah mimpi di siang bolong. Lagipula, jika menyebutnya 
terlalu ambisius, menurut Ketua DPW PAN Jatim Ahmad Rizki Sadig, yang dimaksud 
bukan menguasai Jatim dalam artian riil, melainkan memiliki wakil di setiap 
dapil di Jawa Timur. 

Di Jatim ada 11 dapil RI, 14 dapil provinsi, dan 200 dapil kab/kota. Jika 
dihitung, PAN sebenarnya hanya menargetkan total 225 kursi dari 1620 kursi 
kab/kota, 120 kursi provinsi, dan 89 kursi RI dari Jatim. 

 
  
Bergerak dalam Kegelapan
Meskipun terbilang begitu matematis, langkah terbuka Zulhas mengunjungi ponpes 
NU dan Ketua PWNU Jatim masih menyisakan tanda tanya. Mengacu pada ahli 
strategi Tiongkok, Sun Tzu dalam bukunya The Art of War, faktor kerahasiaan 
merupakan syarat mutlak dari keberhasilan strategi perang.

Seperti kutipan Sun Tzu di awal tulisan, serangan harus seperti petir. Ia harus 
mengejutkan, keras, menyambar, dan tak terhentikan. 

Pertanyaannya, bagaimana mungkin elemen kejutan itu berhasil jika strategi 
sudah diketahui oleh pihak musuh?

Jika PAN secara terbuka menunjukkan keinginannya merebut suara NU Jatim, 
bukankah ada peluang sabotase dari partai lain. Tentunya, tidak mungkin partai 
lain seperti PKB membiarkan PAN mengambil ceruk suaranya. Seperti kata Sun Tzu, 
mematahkan strategi musuh adalah cara jitu dalam memenangkan perang.

Atas keganjilan ini, kita dapat menarik satu dugaan. Besar kemungkinan 
kunjungan Zulhas hanyalah etalase. Ini hanyalah pertunjukan panggung 
dramaturgi. Dalam politik, interaksi sebenarnya lebih banyak terjadi di 
panggung belakang (backstage) daripada panggung depan (front stage). Pada 
umumnya, panggung depan hanya ditunjukkan ketika lobi panggung belakang tidak 
berjalan sesuai keinginan, atau ketika sudah mencapai suatu kesepakatan. 

Mungkin dapat dikatakan, PAN sudah memiliki strategi jitu dalam menggaet suara 
NU Jatim, sehingga perlu memainkan panggung depan. Kunjungan Zulhas sebenarnya 
simbol atas kemantapan PAN bergerak di Jawa Timur.

Selain sebagai dramaturgi, kita dapat memahami kunjungan terbuka Zulhas sebagai 
trial balloon. Ini merupakan informasi yang sengaja dilempar ke media untuk 
mengamati reaksi pihak lain. Politisi sering kali sengaja membocorkan informasi 
tentang perubahan kebijakan untuk melihat reaksi masyarakat, apakah diterima 
atau mendapatkan resistensi. 

Jika kunjungan Zulhas merupakan trial balloon, ini jelas merupakan bagian dari 
strategi. Jika mendapat respons positif, PAN akan melakukan eskalasi strategi 
dan semakin mengerahkan pasukan darat untuk mengetuk pintu dan simpul-simpul 
suara NU di Jawa Timur.

Well, kita lihat saja kelanjutan strategi PAN ini. Berhasil tidaknya tagline 
“Jawa Timur Basis PAN” hanya dapat dijawab oleh waktu dan perhitungan terukur 
yang jitu. Mari mengamati. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5AD3E562B92049A19D3C96575B663BCA%40A10Live.

Reply via email to