*KENAPA TIDAK ?* Pada tanggal Jum, 17 Des 2021 pukul 07.52 Chan CT <[email protected]> menulis:
> Kenapa PAN Nekat Incar Jawa Timur? > *R53 * <https://www.pinterpolitik.com/author/r53-203>*- Thursday, > December 16, 2021 17:33* > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-pan-nekat-incar-jawa-timur > *Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan ketika memberikan pidato dalam Musran PAN > yang digelar di Ponpes Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur pada 10 > Desember 2021 (Foto: detikNews)* > > *6 min read* > > *Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan melakukan safari politik menarik dengan > mengunjungi pondok pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur (Jatim) dan > bertemu dengan Ketua PWNU Jatim. Apakah PAN tengah menyasar ceruk suara NU > di Jatim? Jika benar, mampukah PAN yang pemilih tradisionalnya dari > Muhammadiyah bersaing dengan PKB? * > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/> > > *“Let your plans be dark and impenetrable as night, and when you move, > fall like a thunderbolt.” — Sun Tzu, ahli perang Tiongkok* > > Ada gestur politik menarik yang ditunjukkan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan > (Zulhas) pada 10 Desember kemarin. Mungkin untuk yang pertama kali, ia > menghadiri Musyawarah Ranting (Musran) PAN di Mojokerto, Jawa Timur > (Jatim). Musran ini juga terbilang menarik karena digelar di Pondok > Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah asuhan Kiai Asep Saifuddin Chalim yang > merupakan pondok Nahdlatul Ulama (NU). Ini menarik karena pemilih > tradisional PAN adalah dari Muhammadiyah. > > Sambutan Kiai Asep Saifuddin Chalim tidak kalah menarik. “Pondok kami > terbuka untuk kegiatan-kegiatan yang memikirkan agenda kebangsaan. Saya > siap membantu dan memfasilitasi, termasuk kegiatan-kegiatan PAN, bahkan > kalau perlu kami biayai. Di sini banyak aula, ruangan dan lainnya,” > ungkapnya. Benar-benar antusiasme dan dukungan yang tersurat. > > Dalam rangkaian safarinya, Zulhas juga mengunjungi Ponpes Syekh Abdul > Qodir Al Jailani di Kraksaan, Probolinggo dan Ponpes Sidogiri Pasuruan. > Tidak lupa pula menyambangi tokoh NU sentral di Jatim, yakni Ketua PWNU > Jatim KH Marzuki Mustamar. > > “PAN dengan NU ini dekat, kecintaan Bang Zul kepada para Kiai juga tak > usah diragukan. *Ahlan wa sahlan*, selamat datang di Ponpes Syekh Abdul > Qadir Jailani, disambut oleh para Kiai dan Habaib,” ungkap KH Abdul Hafidz > Aminuddin, pimpinan Ponpes Syekh Abdul Qadir Jailani. > > Atas rangkaian safari yang dilakukan, khususnya ke Ponpes NU dan Ketua > PWNU Jatim, berbagai pihak menaruh dugaan, apakah PAN tengah mengincar > suara NU? > > Jika benar, ini sangat menarik karena PAN harus bersaing dengan PKB yang > telah lama menjadikan NU sebagai lumbung suara, khususnya di Jawa Timur. > Pada Pemilu 2019, misalnya, PKB memperoleh 4.198.551 suara di Jatim – hanya > dilewati tipis oleh PDIP dengan 4.319.666 suara. Dengan total meraih > 13.570.097 suara, sepertiga suara PKB disumbang oleh satu provinsi. > > Lebih menarik lagi, Ketua DPW PAN Jatim Ahmad Rizki Sadig mengeluarkan > *tagline* “Jawa Timur Basis PAN”. Melihat statistik yang ada, apakah PAN > terbilang *nekat* ingin merebut suara NU di Jawa Timur? > *Kalkulasi Matematis* > > Jika benar PAN mengincar suara NU Jatim, maka ini adalah afirmasi atas > tulisan Alexander R. Arifianto yang berjudul *From ideological to > political sectarianism: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and the state in > Indonesia*. > > Disebutkan, saat ini politik Indonesia bukanlah soal pertarungan ideologi, > melainkan soal sektarianisme atau pertarungan kelompok masyarakat. > Arifianto mencontohkannya dengan Pilpres 2019. Ketika Amien Rais yang > merupakan tokoh senior Muhammadiyah bersikap sebagai oposisi, pemerintah > kemudian merapat ke NU. Tidak hanya terkait PKB, secara mengejutkan Ma’ruf > Amin dipilih sebagai cawapres di detik-detik akhir pengumuman. > > Cara kerja yang sama juga berlaku di pemilihan legislatif. Strategi > perebutan suara pada dasarnya tidak bertolak pada kampanye ideologi, > melainkan seberapa jauh usaha partai dalam mendekati dan beramah-tamah > dengan kelompok masyarakat. > > Oleh karenanya, meskipun pemilih tradisional PAN disebut dari > Muhammadiyah, jika partai biru dapat melakukan pendekatan yang strategis, > tepat, dan proporsional, menggaet suara dari pemilih NU merupakan suatu > probabilitas yang dapat diraih. > > Melihat datanya, *tagline* “Jawa Timur Basis PAN” sebenarnya adalah > kalkulasi matematis. Pada Pemilu 2019, PAN meraih 1.209.375 suara di Jatim. > Dengan perkiraan jumlah warga Muhammadiyah di Jatim sebesar 10 juta jiwa, > yang mana tentunya tidak semua ke PAN, dapat dikatakan sisanya berasal dari > warga NU. > > Simpulan ini misalnya dapat ditarik pada kasus Slamet Ariyadi, anggota DPR > Komisi IV Fraksi PAN yang berasal dari daerah pilih (Dapil) Jawa Timur IX. > Ariyadi merupakan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), > organisasi kemahasiswaan yang disebut punya pertalian dengan NU. Ia juga > pernah nyantri di Ponpes Nazhatut Thullab Prajjan Sampang yang merupakan > pondok NU. > > Sekarang pertanyaannya, dengan *background* seperti itu, darimana suara > Ariyadi? Tentu bukan dari warga Muhammadiyah, melainkan warga NU. Faktor > penting lainnya adalah, seperti yang diungkap Menko Polhukam Mahfud MD, > warga NU dibebaskan untuk menentukan partai pilihannya. > > Suara NU bukan hanya milik PKB. Ini terbukti dengan perolehan suara partai > lebah yang hanya menyentuh 13.570.097 suara di Pemilu 2019. Ini jauh dari > perkiraan jumlah warga NU yang disebut mencapai 60-120 juta jiwa. > > Mengutip *NU Online* > <https://nu.or.id/nasional/nahdliyin-jatim-inginkan-gubernur-nu-fgWsE>, > jumlah warga NU Jatim mencapai 24.487.914 jiwa, sekitar 60 persen penduduk > Jawa Timur. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat warga Muhammadiyah Jatim. > Pertanyaannya, siapa yang tidak ingin mendapat suara sebanyak itu? > > Dengan berbagai perhitungan matematis tersebut, dapat dikatakan *tagline* > “Jawa > Timur Basis PAN” bukanlah mimpi di siang bolong. Lagipula, jika menyebutnya > terlalu ambisius, menurut Ketua DPW PAN Jatim Ahmad Rizki Sadig, yang > dimaksud bukan menguasai Jatim dalam artian riil, melainkan memiliki wakil > di setiap dapil di Jawa Timur. > > Di Jatim ada 11 dapil RI, 14 dapil provinsi, dan 200 dapil kab/kota. Jika > dihitung, PAN sebenarnya hanya menargetkan total 225 kursi dari 1620 kursi > kab/kota, 120 kursi provinsi, dan 89 kursi RI dari Jatim. > *Bergerak dalam Kegelapan* > > Meskipun terbilang begitu matematis, langkah terbuka Zulhas mengunjungi > ponpes NU dan Ketua PWNU Jatim masih menyisakan tanda tanya. Mengacu pada > ahli strategi Tiongkok, Sun Tzu dalam bukunya *The Art of War*, faktor > kerahasiaan merupakan syarat mutlak dari keberhasilan strategi perang. > > Seperti kutipan Sun Tzu di awal tulisan, serangan harus seperti petir. Ia > harus mengejutkan, keras, menyambar, dan tak terhentikan. > > Pertanyaannya, bagaimana mungkin elemen kejutan itu berhasil jika strategi > sudah diketahui oleh pihak musuh? > > Jika PAN secara terbuka menunjukkan keinginannya merebut suara NU Jatim, > bukankah ada peluang sabotase dari partai lain. Tentunya, tidak mungkin > partai lain seperti PKB membiarkan PAN mengambil ceruk suaranya. Seperti > kata Sun Tzu, mematahkan strategi musuh adalah cara jitu dalam memenangkan > perang. > > Atas keganjilan ini, kita dapat menarik satu dugaan. Besar kemungkinan > kunjungan Zulhas hanyalah etalase. Ini hanyalah pertunjukan panggung > dramaturgi. Dalam politik, interaksi sebenarnya lebih banyak terjadi di > panggung belakang (*backstage*) daripada panggung depan (*front stage*). > Pada umumnya, panggung depan hanya ditunjukkan ketika lobi panggung > belakang tidak berjalan sesuai keinginan, atau ketika sudah mencapai suatu > kesepakatan. > > Mungkin dapat dikatakan, PAN sudah memiliki strategi jitu dalam menggaet > suara NU Jatim, sehingga perlu memainkan panggung depan. Kunjungan Zulhas > sebenarnya simbol atas kemantapan PAN bergerak di Jawa Timur. > > Selain sebagai dramaturgi, kita dapat memahami kunjungan terbuka Zulhas > sebagai *trial balloon*. Ini merupakan informasi yang sengaja dilempar ke > media untuk mengamati reaksi pihak lain. Politisi sering kali sengaja > membocorkan informasi tentang perubahan kebijakan untuk melihat reaksi > masyarakat, apakah diterima atau mendapatkan resistensi. > > Jika kunjungan Zulhas merupakan *trial balloon, *ini jelas merupakan > bagian dari strategi. Jika mendapat respons positif, PAN akan melakukan > eskalasi strategi dan semakin mengerahkan pasukan darat untuk mengetuk > pintu dan simpul-simpul suara NU di Jawa Timur. > > *Well*, kita lihat saja kelanjutan strategi PAN ini. Berhasil tidaknya > *tagline* “Jawa Timur Basis PAN” hanya dapat dijawab oleh waktu dan > perhitungan terukur yang jitu. Mari mengamati. (R53) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5AD3E562B92049A19D3C96575B663BCA%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5AD3E562B92049A19D3C96575B663BCA%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CALcuTPTKUJi9YnF2pONZZXN4-dBzyaaaP7nw63L2NLP5qhC%2BAQ%40mail.gmail.com.
