Artikel
Jeli mengambil peluang di tengah tantangan Presidensi G20 2022
Oleh Desca Lidya Natalia  Sabtu, 18 Desember 2021 08:54 WIB
 
Presiden Joko Widodo (kedua) menerima keketuaan atau Presidensi KTT G20 dari 
Perdana Menteri Italia Mario Draghi (kanan) pada sesi penutupan KTT G20 di 
Roma, Italia, Minggu (31/10/2021). Presidensi KTT G20 ini merupakan yang 
pertama bagi Indonesia dan akan dimulai 1 Desember 2021 hingga 30 November 
2022. (ANTARA FOTO/Biro Pers Media Kepresidenan/Laily Rachev/Handout/rwa.)

Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo menerima palu sidang dari Perdana 
Menteri Italia Mario saat penutupan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Roma 
pada 31 Oktober 2021.

Presiden Jokowi lalu mengetukkan palu tersebut untuk menutup sidang. Artinya, 
Indonesia pun memegang tongkat Presidensi G20 mulai 1 Desember 2021 hingga 30 
November 2022.

Presiden Jokowi menjelaskan Presidensi G20 Indonesia akan mendorong upaya 
bersama untuk pemulihan ekonomi dunia dengan tema besar "Recover Together, 
Recover Stronger". Pertumbuhan ekonomi yang inklusif, "people-centered", serta 
ramah lingkungan dan berkelanjutan, menjadi komitmen utama kepemimpinan 
Indonesia di G20.

Dalam pidatonya saat pembukaan Presidensi G20 Indonesia, seperti yang 
ditayangkan pada YouTube Sekretariat Presiden, pada 1 Desember 2021, Presiden 
Jokowi mengatakan ada tiga fokus yang akan Indonesia dorong.

Pertama, penanganan kesehatan yang inklusif. Kedua, transformasi berbasis 
digital, ketiga transisi menuju energi berkelanjutan.

"Saya ingin presidensi Indonesia di G20 tidak sebatas seremonial belaka. 
Indonesia mendorong negara-negara G20 untuk melakukan aksi-aksi nyata. 
Indonesia akan terus mendorong negara-negara g20 menghasilkan 
terobosan-terobosan besar, membangun kolaborasi dan menggalang kekuatan untuk 
memastikan masyarakat dunia dapat merasakan dampak positif dari kerja sama 
ini," kata Presiden Jokowi dalam pidatonya.

Presiden Jokowi berjanji menggunakan tampuk Presidensi G20 untuk memperjuangkan 
aspirasi dan kepentingan negara-negara berkembang.

"Indonesia berupaya memperkuat solidaritas dunia mengatasi perubahan iklim dan 
pembangunan berkelanjutan dan menggalang komitmen negara maju membantu negara 
berkembang. Negara kaya membantu negara miskin. Kebersamaan adalah jawaban atas 
masa depan dengan semangat solidaritas," ungkap Presiden.

Nantinya akan dilangsungkan 150 pertemuan tingkat pimpinan, menteri, deputi, 
hingga "working group". Pertemuan-pertemuan tersebut akan terbagi ke dalam dua 
"track" yaitu "finance track" (isu ekonomi dan keuangan) maupun "sherpa track" 
(meliputi isu yang lebih luas di luar ekonomi dan keuangan: energi, 
pembangunan, ekonomi digital, pendidikan, tenaga kerja, perubahan iklim, dan 
lain-lain), serta dapat diselaraskan dengan kerja sama multilateral lainnya.

Kelompok 20 (G20) yang berisi 19 negara dengan 1 organisasi regional (Uni 
Eropa) memang pertama terbentuk pada 1999 di Jerman sebagai respon atas krisis 
Asia 1997-1998.

Saat dunia kembali menghadapi krisis keuangan global pada 2008, level pertemuan 
yang tadinya hanya sampai pada tingkat menteri keuangan ditingkatkan menjadi 
pertemuan kepala pemerintah mulai 2008 di Washington, Amerika Serikat.

G20 pun menjadi bentuk kesadaran aksioma "mencegah lebih baik dari pada 
mengobati" negara-negara maju yang tergabung dalam G7 --Amerika Serikat, 
Inggris, Prancis, Kanada, Jerman, Italia, dan Jepang-- bahwa krisis keuangan 
tidak dapat mereka selesaikan sendiri dan membutuhkan kerja sama dengan negara 
lain seperti negara-negara berkembang.

Interdependensi sektor keuangan membuat negara-negara maju dalam G7 (dan UE) 
melihat perlunya aktor lain seperti Rusia, China, Korea Selatan, Australia, 
Indonesia, India, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Argentina, Brazil, dan 
Meksiko diikutsertakan untuk memperbaiki arsitektur keuangan nasional.

G20 menjadi suatu klub eksekutif yang memegang sekitar lebih dari 60 populasi 
global, 75 persen perdagangan dunia, dan lebih dari 80 persen perekonomian 
dunia, logikanya bila perekonomian anggota G20 sehat, kondisi perekonomian 
dunia pun terjaga.

Keunggulan lain G20 adalah partisipasi institusi finansial global seperti Dana 
Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, maupun bank regional seperti Bank 
Pembangunan Asia (ADB) dalam pertemuannya sehingga lebih mudah mengordinasikan 
kebijakan keuangan negara dengan kebijakan lembaga-lembaga tersebut.

Baca juga: Presiden Jokowi: Indonesia fokus tiga hal sebagai Presidensi G20

Memimpin dalam tantangan
Namun kepemimpinan Indonesia dalam G20 sepanjang setahun ke depan juga memiliki 
sejumlah tantangan.

Pertama pandemi COVID-19 yang telah berlangsung selama dua tahun yang tidak 
hanya menelan korban hingga lebih dari 5,3 juta orang dan menjangkiti sekitar 
273 juta orang di 222 negara dan teritorial tapi juga berdampak di 
bidang-bidang lain seperti perdagangan dan keuangan.

Hingga pertengahan 2021, negara-negara G20 telah mengeluarkan 21 miliar dollar 
AS untuk mendukung produksi, distribusi, dan akses terhadap diagnosis, terapi, 
dan vaksin. Anggota G20 juga mendukung WHO untuk mengimplementasikan Regulasi 
Kesehatan Internasional 2005, Dana Solidaritas untuk Respons COVID-19 serta 
mendukung inisiatif global untuk "Coalition for Epidemic Preparedness 
Innovations" (CEPI) dan inisiatif akselerator akses peralatan COVID-19 untuk 
menjamin akses terhadap vaksin, pengobatan, dan peralatan lain bagi semua 
negara.

Kedua, tantangan di bidang ekonomi. Ekonomi dunia pada 2020 tercatat mengalami 
kontraksi sebesar 3,2 persen, salah satunya karena pandemi COVID-19 yang hingga 
saat ini juga belum dapat dikendalikan.

Pandemi mengakselerasi gejala proteksionisme karena penutupan jalur distribusi 
utama global. Menurut Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, A 
Prasetyantoko dalam tulisannya, selain meningkatkan biaya logistik, penutupan 
jalur distribusi juga mengubah peta rantai pasok global sehingga meningkatkan 
biaya produksi.

Para investor juga mulai melepas kepemilikan saham perusahaan berbasis 
penerbangan, perhotelan, dan sektor lain terkait dengan pariwisata. Biaya 
logistik juga terus merangkak naik sehingga mendorong kenaikan harga barang 
kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Dalam jangka panjang, perekonomian ke depan akan diwarnai dengan pertumbuhan 
rendah yang disertai kenaikan harga (stagflasi) sehingga tingkat kesejahteraan 
masyarakat menurun.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, di sektor keuangan, negara-negara G20 telah 
mengeluarkan stimulus hingga 11 triliun dollar AS untuk penanganan COVID-19 di 
bidang ekonomi. Salah satunya adalah melalui inisiatif "Debt Service Suspension 
Initiative (DSSI) yaitu penangguhan pembayaran pokok dan bunga utang luar 
negeri bagi negara-negara paling miskin di dunia yang membutuhkan. Dalam jangka 
pendek, skema DSSI membantu perekonomian negara-negara miskin melalui 
penyediaan likuiditas untuk penanggulangan pandemi COVID-19.

Selain itu, G20 juga membuat "common framework" di luar fasilitas DSSI untuk 
membantu restrukturisasi utang bagi negara yang paling membutuhkan, serta 
mendorong keterlibatan kreditor sektor swasta.

Ketiga, semakin jauhnya ketimpangan pemulihan antara negara-negara maju dan 
negara-negara berkembang. Ketimpangan tersebut dapat tampak di bidang kesehatan 
dan ekonomi.

Di bidang kesehatan misalnya adalah akses terhadap vaksinasi. Data menunjukkan 
tingkat vaksinasi di negara-negara maju dan sebagian negara berkembang berkisar 
60-80 persen (negara maju) dan 25-40 persen (negara berkembang). Namun, di 
negara-negara miskin, khususnya di Afrika, tingkat vaksinasi masih di bawah 10 
persen, bahkan ada yang baru 3-5 persen.

Sedangkan di bidang ekonomi, produktivitas yang meningkat akibat digitalisasi 
ekonomi di negara-negara maju akan mendorong realokasi sumber daya pada 
perusahaan atau sektor ekonomi yang mampu beradaptasi, diikuti dengan 
penyesuaian kebutuhan keahlian pekerja.

Negara maju dengan penguasaan teknologi dan infrastrukturnya akan lebih di 
depan dalam proses realokasi ini dibandingkan dengan negara-negara berkembang. 
IMF bahkan menurunkan prakiraan pertumbuhan ekonomi 2021 negara-negara 
berkembang sebesar 0,4 persen dan menaikkan proyeksi negara maju sebesar 0,5 
persen.

Keempat persaingan dua negara besar yang adalah anggota G20 yaitu Amerika 
Serikat dan China.

Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat Jake Sullivan dan Asisten Deputi 
Presiden Biden di Asia Pasifik Kurt Campbell dalam tulisan mereka berjudul 
"Competition Without Catastrophe: How America Can Both Challenge and Coexist 
With China" di Foreign Affairs pada September/Oktober 2019 menganalogikan 
hubungan AS dan China sebagai "Perang Dingin" baru. Seperti Uni Soviet, China 
adalah kompetitor setara dengan sistem politik represif dan ambisi yang besar.

Namun tidak seperti Uni Soviet, China punya peranan besar di dunia dan punya 
irisan dengan ekonomi AS ditambah dengan relasi diplomatik yang lebih rumit dan 
ideologi yang lebih fleksibel dibanding Uni Soviet. Artinya tidak tepat lagi 
menerapkan strategi yang AS lakukan terhadap Uni Soviet kepada China. 
"containment strategy" yang diterapkan AS pada masa Perang Dingin 1950-1970.

Partai Komunis China telah menunjukkan kemampuan menakjubkan untuk beradaptasi 
dengan berbagai perubahan teknologi termasuk pengawasan massal (mass 
surveillance) dan kecerdasan buatan sehingga memiliki pemerintahan otoriter 
digital yang efektif.

Selain itu China adalah kompetitor yang paling sengit untuk AS karena saat ini 
Pendapatan Domestik Bruto (PDB) China bahkan sudah 25 persen lebih besar 
dibanding AS sehingga China. Dengan kondisi tersebut, masalah global akan sulit 
diatasi bila AS dan China tidak bekerja sama termasuk untuk mengatasi perubahan 
iklim dan juga pandemi COVID-19.

Baca juga: Presiden Jokowi harap dukungan Rusia dalam keketuaan G20 Indonesia

Belajar dari Korsel
Pakar Hubungan Internasional dari The Sejong Institute Korea, Woo Jung Yeop 
mengakui bahwa kompetisi antara AS dan China dapat menempatkan Indonesia 
sebagai ketua G20 di posisi yang sulit.

"Presidensi Indonesia di G20 pada 2022 berbeda dengan Presidensi Korea Selatan 
(Korsel) pada 2010 karena saat ini dengan kompetisi yang semakin ketat antara 
AS dan China pertemuan G20 lebih cocok disebut sebagai 'global power 
competition' dibanding 'multilateral discussion on the matters' dan akhirnya 
membatasi ruang bagi ketua G20 untuk melakukan manuver," kata Woo di Jakarta 
pada Senin (13/12).

Woo menyampaikan hal tersebut dalam "workshop" yang berjudul "Security Issues 
on the Korean Peninsula" untuk kegiatan "Indonesian Next Generation Journalist 
Network on Korea" yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of 
Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation.

Menurut Woo, pada 2010 saat Korsel mendapat presidensi G20, AS masih dipimpin 
Presiden Barack Obama yang punya pandangan positif terhadap China sehingga AS 
maupun China dapat bekerja sama dengan anggota-anggota G20 lain untuk mengatasi 
masalah global saat itu.

"Korsel dalam memimpin G20 dapat melakukan lebih banyak manuver misalnya dengan 
mengundang lebih banyak negara, menetapkan agenda diskusi G20 dan lainnya," 
tambah Woo.

Apalagi saat itu Korsel dipimpin oleh Presiden Lee Myung Bak yang lebih pro-AS, 
punya hubungan baik dengan Presiden Obama dan ingin terlibah lebih banyak dalam 
isu-isu global.

"Jadi bukan masalah kapasistas dan kemampuan Indonesia yang berbeda dengan 
Korsel melainkan karena saat ini terjadi kompetisi sengit antara AS dan China 
maka forum multilateral menjadi ajang tarik-menarik kedua negara sehingga 
mungkin peran Indonesia akan terbatas," ungkap Woo.

Namun Woo meyakini Indonesia dapat memainkan peran penting saat memimpin G20 
dengan melakukan diplomasi yang cerdas.

Inisiatif Indonesia khususnya untuk menyatukan negara-negara berkembang dapat 
menjadi kunci agar ada perimbangan kekuatan AS-China.

Belajar dari KTT Seoul (2010) dimana pemimpin-pemimpin G20 memutuskan untuk 
memberikan porsi bobot suara yang lebih besar kepada negara-negara berkembang 
termasuk untuk ikut menentukan pembuatan keputusan-keputusan strategis di IMF 
dan Bank Dunia, Indonesia juga dapat memprioritaskan kepentingan negara-negara 
berkembang.

Para pemimpin G20 di Seoul (2010) sepakat menghasilkan kerangka kerja bagi 
pertumbuhan ekonomi global yang kuat, seimbang, berkelanjutan, serta membentuk 
Global Partnership for Financial Inclusion (GPFI) sebagai "platform" untuk 
mempromosikan inklusi keuangan dan berjanji untuk tidak melanjutkan 
kebijakan-kebijakan proteksionis dan terus bekerja demi putaran Doha tentang 
pembicaraan liberalisasi perdagangan.

Baca juga: Prinsip-prinsip penyelenggaraan KTT dan pertemuan bilateral

Peluang Indonesia
Dapat dikatakan salah satu keunggulan G20 adalah memberikan fleksibilitas dan 
kelenturan dalam merespons berbagai perkembangan ekonomi global karena sifatnya 
yang informal sehingga adaptif untuk membuat agenda pembahasan tata kelola 
ekonomi global berbasis konsensus anggota-anggotanya.

G20 sejak berdiri telah menghasilkan 457 komitmen tata kelola ekonomi global, 
di mana pada setiap KTT dihasilkan 20-40 komitmen.

Dengan melihat tantangan, situasi global dan natur dari G20 maka Indonesia 
diharapkan bisa menjadi pemimpin dan koordinator yang efektif bagi 
anggota-anggota G20 dan pada saat bersamaan menjadi menjadi jembatan penghubung 
antara negara-negara maju anggota G20 serta negara-negara berkembang di G20 
bahkan dengan negara-negara tertinggal di luar G-20.

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh Indonesia adalah pertama, membangun 
soliditas negara-negara berkembang dengan menyuarakan harapan dari 
negara-negara berkembang di luar G20 ke dalam forum G20.

Sejumlah harapan yang wajib disuarakan antara lain adalah akses setara atas 
vaksin COVID-19, bantuan untuk transformasi keuangan berbasis digital serta 
tentu bantuan modal dan teknologi menuju energi berkelanjutan.

Kedua, Indonesia juga bisa mengajak anggota-anggota G20 untuk berkolaborasi dan 
berkontribusi positif dalam menjaga perdamaian, stabilitas kawasan sekaligus 
memajukan kerja sama di Indo-Pasifik serta dunia.

Seperti adagium "global problems need global solutions" mata banyak negara 
menanti kerja nyata di G20 untuk menyelesaikan masalah global. Selamat bekerja. 
Oleh Desca Lidya Natalia
Editor: Joko Susilo

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CB052208677D4E4180A1F70597127AC7%40A10Live.

Reply via email to