https://suaraislam.id/suara-radio-butut-mengenai-toleransi/



*Suara Radio Butut Mengenai Toleransi*

18 Desember 2021

Setiap akhir tahun saat umat Kristiani akan memasuki peringatan Natal
selalu saja ribut soal umat Islam dan boleh atau tidaknya mengucapkan
selamat Natal. *Buzzer *dan pendukung “toleransi” bukan saja menyerang
fatwa haram mengucapkan selamat Natal tetapi juga habis habisan
menganjurkan untuk mengucapkan. Kemenag Sulsel demonstratif membuat spanduk
ucapan Natal.

Sekelompok begal agama berpakaian kearab-araban hanya karena MUI
mengharamkan ucapan Natal menuntut pembubaran MUI. Abu Janda lebih gila,
dia bersayembara 50 juta bagi dalil larangan mengucapkan selamat Natal.
Ketika ada netizen yang mengemukakan dalil itu maka dibalas Permadi Arya
dengan kalimat cocokologi dan acungan jari tengah. Parah.

Memang terasa semakin karut marut hubungan beragama di negeri ini. Isu
radikalisme dan intoleransi yang dituduhkan kepada umat Islam membuat umat
semakin terpojok. Program deradikalisasi dan moderasi dicanangkan untuk
mengacak-acak pemaknaan agama. Mendekati sekularisasi dan liberalisasi.

Ketika intens dilakukan pemaksaan pemahaman dalam sikap keagamaan termasuk
“keharusan” mengucapkan selamat Natal, maka wajar jika orang bertanya apa
bedanya kita dengan rezim China ketika melakukan program re-edukasi yang
pada hakekatnya adalah cuci otak dan mengacak-acak makna agama?

Toleransi itu bukan harus memasuki ruang orang lain. Ketika dipahami bahwa
agama Islam melarang memasuki rumah umat Kristen dengan tidak mengucapkan
selamat Natal selesai sebenarnya. Keyakinan masing masing yang harus
dipahami dan dihormati.

Kita yakin umat Kristiani tidak merasa perlu dengan ucapan selamat dari
umat Islam ketika tahu jika ajaran Islam melarangnya. Demikian pula umat
Islam tidak butuh ucapan selamat dari umat lain saat Idulfitri atau
perayaan lainnya. Masing-masing saja yang penting tidak saling mengganggu.

Benar sekali yang diungkapkan tokoh dan aktivis kritis Papua Christ Wamea
bahwa yang dirinya Kristen saja tidak menuntut ucapan Natal dari umat
Islam, lalu mengapa harus diributkan soal boleh tidak mengucapkan Natal?
Christ secara khusus menyindir kwartet nyinyir yang mengaku umat Islam Eko
Kunthadi, Ade Armando, Denny Siregar, dan Abu Janda.

“Kita yang Nasrani saja tidak persoalkan umat agama lain mau ucapkan
selamat natal apa tidak, itu tidak perlu dipaksa. Provokator berbaju
toleransi dan Pancasila”.

Kwartet suara berisik yang selalu mencuit-cuit. Merasa modern berada di
ruang digital padahal yang terdengar itu suara radio atau transistor butut.
Suara Islamophobia.

Bukankah Amerika saja kini sudah meloloskan RUU anti *Islamophobia*, bung? *Ah
loe loe *pada ketinggalan jaman.

*M. Rizal Fadillah, **Pemerhati Politik dan Keagamaan*.
Bandung, 18 Desember 2021

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2COEXKP2wDGWJWrs-ivW2n3b0CheHQLAy%2BDs8u%2BJB-Ugg%40mail.gmail.com.

Reply via email to