Sutan Sjahrir, Korban Kuasa Soekarno?Pinter Politik - Sunday, November 21, 2021 
12:00
https://www.pinterpolitik.com/sejarah/sutan-sjahrir-korban-kuasa-soekarno
 
Dari kiri, tiga sahabat duduk bersama: Sutan Sjahrir, Soekarno, dan Mohammad 
Hatta. (Foto: Life)
7 min read

Sutan Sjahrir memiliki andil yang penting dalam perjuangan kemerdekaan Republik 
Indonesia. Sayangnya, Sjahrir harus berakhir sakit dan meninggal dunia ketika 
Soekarno berkuasa. Bagaimana sejarah dan jasa dari Sjahrir terhadap Indonesia?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Dengan penandatanganan Persetujuan Linggarjati ini sekarang, berlaku suatu 
kejadian yang besar artinya serta akan besar pula akibatnya” – Sutan Sjahrir, 
Ketua Delegasi Perjanjian Linggarjati 1947

Ini adalah pernyataan Sutan Sjahrir saat menjadi Ketua Delegasi Indonesia dalam 
Perjanjian Linggarjati pada 25 Maret 1947. Sjahrir memang menjadi kunci dari 
pertemuan yang hasilnya adalah pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) 
dengan Indonesia menjadi bagian dari negara-negara persemakmuran Belanda.

Yang jelas, peristiwa ini adalah simpul posisi Sjahrir sebagai Perdana Menteri 
(PM) pertama Indonesia dan termuda di dunia kala itu karena usianya masih 36 
tahun, serta sumbangsihnya yang besar untuk perjalanan negara ini sebelum 
akhirnya diberikan status sebagai Pahlawan Nasional.

Namun, selalu banyak cerita menarik di belakangnya – terutama bagaimana 
peliknya hubungannya dengan Soekarno di akhir masa hidupnya, di mana Sang Bung 
Besar itu menuduh Sang Bung Kecil Sjahrir sebagai salah satu dalang di balik 
upaya pembunuhannya lewat bom di Jalan Cendrawasih, Makassar, pada tahun 1962. 
Penasaran bagaimana kisahnya?



Mengenal Sutan Sjahrir
Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909. 
Ayahnya bernama Mohammad Rasad yang bergelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman 
dan ibunya bernama Puti Siti Rabiah yang berasal dari Koto Gadang, Agam, 
Sumatera Barat.

Ayahnya adalah seorang penasihat Sultan Deli dan kepala jaksa di Medan. Sjahrir 
bersaudara seayah dengan Rohana Kudus (Roehana Koeddoes) – aktivis serta 
wartawan wanita yang terkemuka.

Sjahrir kecil memulai pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) atau 
setingkat sekolah dasar, kemudian masuk di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs 
(MULO) yang setingkat dengan SMP.

Tamat dari MULO pada tahun 1926, ia kemudian pindah ke Bandung dan bersekolah 
di Algemeene Middelbare School (AMS). Ia disebut aktif dan ikut mendirikan Jong 
Indonesie yang menjadi salah satu kelompok yang berperan besar dalam Sumpah 
Pemuda 1928.

Setamat dari AMS, ia kemudian berangkat ke Belanda pada tahun 1929 dan 
melanjutkan kuliahnya di fakultas hukum Universitas Amsterdam – sebelum 
akhirnya pindah ke Universitas Leiden.



Baca Juga: Pelopor Feminis Eksistensialis Bangsa

 
Di Belanda, Sjahrir berteman dengan Salomon Tas, seorang Ketua Klub Mahasiswa 
Sosial Demokrat. Dalam catatannya Souvenirs of Sjahrir yang diterjemahkan Ruth 
McVey, Sal Tas – demikian ia dipanggil – menyebutkan bahwa Sjarir tertarik 
dengan pemikiran sayap kiri karena kubu ini di Belanda kala itu adalah kelompok 
yang mendukung kaum nasionalis Indonesia, terutama dalam tujuan melepaskan diri 
dari kolonialisme.

Kisah tentang persahabatan Sal Tas dan Sjahrir ini juga menarik karena 
melibatkan romansa dengan seorang perempuan bernama Maria Duchateau yang kelak 
sempat menjadi istri Sjahrir di kemudian hari, walaupun saat itu si Maria ini 
adalah istri dari Sal Tas.

Di Belanda, Sjahrir juga bekerja di Sekretariat Federasi Buruh Transportasi 
Internasional. Ia juga bergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang dipimpin 
oleh Mohammad Hatta.

Kisah Sjahrir dan Hatta adalah beberapa contoh pemimpin Indonesia yang punya 
latar belakang pendidikan Barat, sehingga wawasan mereka tentang bernegara 
sedikit berbeda dibandingkan tokoh-tokoh yang hanya mengenyam pendidikan di 
Indonesia, misalnya Soekarno. Sal Tas menyebut Sjahrir tertarik pada sains dan 
sangat antusias dalam belajar dan berdiskusi – yang mana Soekarno sempat 
“mengkritik” kebiasaan diskusi Hatta dan Sjahrir ini.

Hatta dan Sjahrir sempat mengundurkan diri dari Perhimpunan Indonesia karena 
menganggap organisasi tersebut sudah terlalu banyak dipengaruhi oleh kelompok 
kiri komunis. Pada tahun 1931, Hatta meminta Syahrir pulang lebih dulu ke 
Indonesia untuk mengembangkan Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI-baru, 
sekalipun ia sebetulnya belum selesai kuliah. Sjahrir kemudian banyak terlibat 
di surat kabar Daulat Rakyat yang menjadi media PNI-baru.

Akibat aktivitas nasionalisnya, ia sempat ditangkap dan dibuang ke Boven Digul 
kemudian Banda Neira dan akhirnya ke Sukabumi oleh pemerintah Hindia Belanda, 
sebelum akhirnya Indonesia dikuasai oleh Jepang.

Saat masa kekuasaan Jepang, beberapa sumber menyebutkan bahwa Soekarno, Hatta, 
dan Sjahrir berbagi peran dalam mengupayakan kemerdekaan Indonesia. Sjahrir 
disebut bergerak di bawah tanah dan cenderung resistan terhadap kekuasaan 
Jepang. Sementara, Soekarno dan Hatta cenderung kooperatif.

Ini salah satunya ditulis oleh Rudolf Mrazek dalam bukunya Sjahrir: Politics 
and Exile in Indonesia. Sikap Sjahrir yang anti-Jepang membuatnya bisa lebih 
diterima oleh Belanda ketika masuk dalam perundingan-perundingan.



Baca Juga: Soekarno, Poliglot Musuh Belanda


  
Singkat cerita, Indonesia berhasil merdeka dan Sjahrir ditunjuk sebagai PM. Ia 
mengupayakan diplomasi dengan Belanda agar mengakui kedaulatan Indonesia secara 
de facto. Namun, mispersepsi muncul karena pemberitaan media-media kala itu – 
utamanya media Belanda – yang menyebut Sjahrir “menjual” Indonesia kepada 
Belanda.

Hal ini menimbulkan penolakan dari kelompok oposisi yang berujung pada 
penculikan Sjahrir pada 26 Juni 1946 di Solo. Kelompok yang tergabung dalam 
Persatuan Perdjuangan ini menginginkan Tan Malaka untuk memimpin perjuangan 
Indonesia. Sjahrir kemudian dibebaskan setelah Soekarno membuat pidato lewat 
siaran radio.

Dinamika dan tekanan politik yang ada kala itu pada akhirnya membuat posisi 
Sjahrir sebagai PM berakhir pada tahun 1947. Ia kemudian lebih banyak terlibat 
dalam Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dibentuk untuk menjadi oposisi dari 
PKI.

Kebiasaan Sjahrir yang tertarik pada pengetahuan dan ruang diskusi pada 
akhirnya mempengaruhi cara pandang dan pendekatan politiknya. PSI yang 
dipimpinnya, misalnya, adalah partai kader yang bertumpu pada ruang-ruang 
diskusi. Pendekatan ini berbeda, misalnya, dengan PKI yang merupakan partai 
massa yang fokus kegiatannya adalah berbasis agitasi.

Banyak intelektual muda dan cendekiawan yang lebih tertarik pada gagasan 
Sjahrir. Anggota PSI juga merupakan keturunan keluarga berada dengan tingkat 
pendidikan yang tinggi. Namun, PSI tak bisa menjadi besar karena seret dalam 
merekrut anggota. Ini juga dapat terjadi karena ide tentang sosial demokrasi 
yang dibawa Sjahrir gagal ditransfer ke masyarakat bawah.



Senjakala Sang Perdana Menteri
PSI pada akhirnya dibubarkan Soekarno pada tahun 1960 akibat dituduh terlibat 
dalam pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di 
Sumatera. Pada tahun 1962, Sjahrir ditangkap atas tuduhan sebagai dalang 
percobaan pembunuhan terhadap Soekarno dalam aksi pelemparan granat di Jalan 
Cendrawasih, Makassar. Tuduhan langsung dilontarkan kepada orang-orang Republik 
Persatuan Indonesia (RPI), yang merupakan terusan dari pemberontakan PRRI, dan 
berujung pada penangkapan tokoh-tokoh PSI dan Masyumi.

Rudolf Mrazek menyebutkan bahwa ada desas desus tentang “Bali connection” – 
sebutan yang diberikan oleh Soebandrio, Kepala Badan Poesat Intelijen (BPI) 
terhadap kelompok rahasia yang merencanakan pembunuhan Soekarno dengan Sjahrir 
sebagai salah satu anggotanya. Lebih jauh, tuduhan kemudian mengarah kepada 
pimpinan-pimpinan PSI dan Masyumi, termasuk Sutan Sjahrir.

Baca Juga: Bila Indonesia Jadi Negara Serikat

 
Soekarno sendiri disebut percaya terhadap informasi dari BPI tersebut dan 
diungkapkan dalam otobiografinya yang disusun oleh penulis Amerika Serikat, 
Cindy Adams. Sjahrir ditangkap dan dipenjara tanpa diadili.

Ia ditahan dan kondisi stres dalam penjara membuat tekanan darah tingginya 
memburuk. Ia akhirnya kena stroke saat ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) 
Budi Utomo, Jakarta. Apalagi, di sana, Sjahrir ditempatkan pada sebuah kamar 
yang lembap yang persis di sebelah kamar mandi/toilet.

Hatta sebagai kawan lama Soekarno dan Sjahrir sempat meyakinkan sang presiden 
lewat sepucuk surat bahwa kepercayaannya pada dugaan BPI adalah salah. Hatta 
menyebut bahwa Sjahrir memang tidak segan menjadi oposisi yang keras dalam 
berpolitik tetapi, untuk mengikuti cara teror, itu adalah hal yang tak mungkin. 
Walaupun demikian, Soekarno tampaknya lebih mempercayai informasi intelnya.

Dalam penjara, kesehatan Sjahrir terus memburuk dan bahkan kiriman makanan 
dietnya dari rumah tidak boleh masuk sama sekali, demikian ditulis Rosihan 
Anwar dalam Perdjalanan Terachir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir. Beberapa 
sumber menyebut dirinya pernah jatuh pingsan pada suatu malam dan para tentara 
penjaga tak kunjung memberikan bantuan medis karena harus memerlukan izin dari 
Jaksa Agung.

Barulah di pagi harinya ia dibawa ke dokter tetapi putra Minang itu tak lagi 
bisa bicara. Hasjim Ning – pengusaha dan sahabat Sjahrir dan Soekarno menemui 
sang presiden dan memintanya untuk mengizinkan Sjahrir berobat keluar negeri. 
Meskipun awalnya ditolak, Soekarno akhirnya mengizinkannya berobat dengan 
catatan: “Jangan ke Belanda dan tetap sebagai tahanan politik.”

Istri Sjahrir, Siti Wahjunah alias Poppy, membawanya berobat pada 21 Juli 1965 
ke Zurich, Swiss. Semua biaya pengobatan ditanggung oleh negara.

Sjahrir berada di Swiss hingga meninggal dunia pada 9 April 1966. Meski begitu, 
di hari meninggalnya, Soekarno meneken SK Presiden RI No. 76 Tahun 1966 yang 
isinya menyatakan Sutan Sjahrir sebagai Pahlawan Nasional.

Kisah Sjahrir adalah perjalanan panjang seorang pejuang bangsa yang tak takut 
mengeluarkan ide-idenya. Ini juga menggambarkan sengitnya politik kekuasaan di 
era-era awal kemerdekaan Indonesia.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/00E1AEE4C5724CE89911370873C36CAD%40A10Live.

Reply via email to