Uighur dan Pemboikotan Olimpiade Beijing
2021-12-21 10:32:39  
http://indonesian.cri.cn/20211221/78386a33-8678-35a9-aa4d-7d782d23ba77.html

Novi Basuki*

*Penulis buku “Islam di China: Dulu dan Kini” (Penerbit Buku Kompas, 2020)

Olimpiade Musim Dingin di Beijing yang akan digelar pada 4 Februari 2022, 
diboikot Amerika Serikat (AS), Inggris, Australia, dan Kanada. Alasan 
pemboikotannya adalah karena empat negara tersebut menengarai pemerintah China 
telah melakukan pelanggaran HAM berupa genosida terhadap muslim Uighur di 
Xinjiang. Bila benar demikian, bagaimana menjelaskan data-data berikut?



Keterkaitan dengan CIA dan NED

Sandaran utama negara-negara yang menuding China melakukan genosida terhadap 
muslim Uighur ialah Uyghur Tribunal yang dihelat di Inggris belum lama ini. 
Pengadilan yang digagas Dolkun Isa, ketua World Uyghur Congress (WUC), sejak 
2020 itu mendaku diri sebagai pengadilan yang independen.

Walakin, jika ditelaah lebih dalam, independensi Uyghur Tribunal agaknya masih 
layak dipertanyakan. Pasalnya, selama sekian tahun, WUC mendapatkan dana yang 
lumayan besar dari National Endowment for Democracy (NED).

Mengutip laman NED (25/2/2021), pada 2020, NED menggelontorkan USD 400 ribu 
kepada WUC untuk digunakan “melakukan advokasi regional dan internasional 
tentang isu-isu Uighur.” Juga untuk dipakai “memonitor, mendokumentasikan, dan 
menyoroti pelanggaran HAM yang tengah terjadi di Turkistan Timur [Xinjiang].” 
Sejak 2016 hingga 2019, NED paling tidak telah menyuntikkan dana sebesar USD 
1,284 juta kepada WUC. Ini belum termasuk yang diberikan kepada lembaga-lembaga 
diaspora Uighur lainnya semisal Uyghur Human Rights Project, Uyghur Refugee 
Relief Fund, Campaign for Uyghurs Incorporated, dll.

Kita tahu, NED merupakan lembaga yang diinisiasi pemerintah AS untuk 
mempromosikan demokrasi ke seluruh dunia. Tapi, alih-alih mempromosikan 
demokrasi, yang dipromosikan AS lewat NED itu lebih tepat disebut sebagai 
“polyarchy”, kata William I. Robinson, profesor sosiologi pada University of 
California. Yakni, proyek pendirian rezim neoliberal yang memungkinkan semakin 
terintegrasinya suatu negara ke dalam sistem kapitalisme global dan 
menyingkirkan yang berpotensi mengancam stabilitas dominasi AS (Pax Americaca) 
di dunia.

Dengan kata lain, negara demokratis menurut AS adalah negara yang 
pro-neoliberalisme sekaligus berpihak kepada kepentingan AS di manapun dan 
kapanpun. Yang tidak begini, tulis Robinson dalam makalahnya yang bertajuk 
Democracy or Polyarchy? (25/9/2007), akan dicap sebagai negara “bidʻah yang 
antidemokrasi” (antidemocratic heresy). Sekali AS melabeli suatu negara sebagai 
“bidʻah yang antidemokrasi”, maka AS tidak akan segan-segan melancarkan program 
destabilisasi untuk merongrong mereka dengan beragam dalih --termasuk dengan 
menggunakan isu pelanggaran HAM.



Robinson memerinci, ada setidaknya tiga tingkatan lembaga yang dipakai AS untuk 
mempromosikan “polyarchy”-nya. Pertama, yang paling tinggi, adalah alat negara 
seperti Gedung Putih, Departemen Luar Negeri, Pentagon, dan badan intelijen 
CIA. Kedua, agen pembangunan internasional AS (USAID) dan beberapa cabang 
Departemen Luar Negeri yang kemudian mengucurkan bejibun dananya kepada lembaga 
semacam NED. Ketiga, lembaga-lembaga AS, seperti NED, yang menyalurkan dananya 
kepada lembaga-lembaga yang bisa digunakan untuk mendiskreditkan negara yang 
sedang dibidik.

Dalam mengorkestrasikan isu Uighur, tiga level lembaga AS yang disebut Robinson 
itu terlihat kompak sekali memainkan perannya. Ambil contoh CIA. Pada Agustus 
2018 silam, Lawrence Wilkerson, pensiunan kolonel Angkatan Darat yang notabene 
kepala staf Kantor Menteri Luar Negeri Amerika Colin Powell, pernah mengatakan, 
“CIA ingin menggoyahkan stabilitas China, dan cara terbaik untuk melakukannya 
adalah dengan menciptakan kekacauan di China. Kalau CIA bisa memanfaatkan 
orang-orang Uighur ini, dan bergabung dengan mereka untuk memprovokasi Beijing, 
maka itu bisa menggoyang China dari dalam, tanpa perlu menggunakan kekuatan 
dari luar.”

Kalaupun CIA tidak ikut-ikutan, dengan adanya NED --yang menjadi penyokong dana 
andal WUC itu-- sebenarnya sudah cukup untuk menjadi peran pengganti. Sebab, 
sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Allen Weinstein, co-founder NED, kepada The 
Washington Post (22/9/1991), “Banyak hal yang dilakukan NED hari ini, dulu 
dilakukan oleh CIA secara sembunyi-sembunyi.” Dan, untuk menyukseskan misinya, 
“kita berbohong, kita curang, kita mencuri,” tegas Mike Pompeo, bekas menteri 
luar negeri AS era Trump yang sebelumnya menjadi direktur CIA.



Populasi Uighur Menaik

Kesimpulan Uyghur Tribunal bahwa telah terjadi genosida terhadap Uighur di 
Xinjiang utamanya didasarkan pada penelitian Adrian Zenz yang bekerja di Victim 
of Communism Memorial, lembaga yang punya andil besar dalam pengejawantahan 
kebijakan pembendungan (containment) AS terhadap Soviet semasa Perang Dingin.

Zenz menemukan, berdasar data-data kependudukan pemerintah Xinjiang yang 
ditelitinya, penduduk Uighur mengalami penurunan drastis sejak 2018. Penyebab 
penurunan itu, menurut Zenz, adalah kebijakan pengendalian kelahiran pemerintah 
China yang diterapkan secara terstruktur, masif, dan sistemis kepada Uighur 
sehingga bisa dikategorikan sebagai genosida.

Namun, agaknya Zenz terlalu hiperbolis. Sebab, tidak hanya minoritas Uighur, 
jumlah kelahiran Han sebagai suku mayoritas pun menurun lantaran pengetatan 
kebijakan KB (jihua shengyu) sejak 2017. Tetapi, dibandingkan dengan jumlah 
kelahiran Han, jumlah kelahiran Uighur tetap lebih tinggi. Pada 2018, misalnya, 
persentase kelahiran Uighur adalah 11,9‰, sedangkan Han cuma 9,42‰. Secara 
keseluruhan, total populasi Uighur di Xinjiang naik dari yang sekitar 8,346 
juta pada 2000, ke 11,624 juta lebih pada 2020. Alias rata-rata naik 1,71% tiap 
tahunnya. Jauh lebih tinggi ketimbang populasi suku minoritas lain di seluruh 
China yang saban warsa hanya naik 0,83%.

Kalau begitu, laiknya independensi Uyghur Tribunal, penelitian Zenz yang 
dijadikan alat bukti untuk mendakwa China telah melakukan genosida terhadap 
Uighur juga patut dikritisi. Tapi akan runyam kalau para pendakwanya hendak 
mengamalkan apa yang disampaikan Xu Youzhen kepada kaisar dinasti Ming agar 
mengeksekusi Yu Qian, kawannya yang ia fitnah akan melakukan makar, ini: 
“Sekalipun buktinya tidak ada, tapi siapa tahu niatnya ada” (sui wu xian ji, yi 
you zhi).



Menyalahi Spirit Olimpiade

Terlepas dari itu semua, pemboikotan olimpiade yang diselenggarakan China 
tersebut bisa dibilang telah mengingkari apa yang oleh Pierre de Coubertin 
sebut sebagai “olimpisme” (olympism). Istilah yang kemudian tertuang dalam 
Piagam Olimpiade (Olympic Charter) ini, menjadi spirit fundamental 
penyelenggaraan olimpiade yang di antaranya berupa tidak adanya diskriminasi 
dalam bentuk apapun sebab olah raga juga merupakan hak asasi manusia. “The 
practice of sport is a human right.”

Tetapi, masih mengutip Piagam Olimpiade, untuk bisa berbuat begitu, 
“membutuhkan kesalingpahaman dengan spirit persahabatan, solidaritas, dan 
sportivitas.”

Makanya, meminjam petuah Pram, sulit diterima akal kalau negara sekelas AS, 
Inggris, Australia, dan Kanada sebagai pembela HAM terdepan di dunia tidak bisa 
“berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.”


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/27778F8ED4394C0599CBEDC04A0A28CD%40A10Live.

Reply via email to