Orang Papua yang buta sejarah dan mereka yang dengan sengaja dan sadar 
membutakan dirinya terhadap praktek kolonial Belanda dalam kaitannya dengan 
Papua, untuk membenarkan separatismenya, mengajukan salah satu dalih yang 
terkenal yaitu tidak adanya partisipasi Papua dalam Konferensi New York. Mereka 
lupa bahwa NIcolaas Jouwe, tokoh OPM dan Ketua Dewan Papua, yang didirikan 
dengan restu Belanda (itulah yang selalu dikoar-koarkan sebagai “kemerdekaan 
Papua” , tapi dari perspektif Indonesia, sudah tentu tidak lebih dari pada 
boneka ciptaan Belanda), turut serta dalam KOnferensi New York karena di 
Belanda Jouwe menjadi penasehat pemerintah Belanda. Jouwe, sebagai wakil Papua, 
sama sekali tidak ada perannya dalam Konferensi itu. Maklumlah kedudukannya 
sebagai boneka Belanda. 

Jadi, kalau orang mau bersikap jujur, koar-koar tentang tidak adanya 
partisipasi Papua dalam Konferensi New York, sepenuhnya bertentangan dengan 
fakta sejarah. Ini hanya satu contoh kecil dari kepalsuan propaganda 
orang-orang Papua separatis. 

Logislah kalua diantara orang Papua separatis ada yang melihat Jouwe sebagai 
pengkhianat, karena akhirnya kembali ke Indonesia.

Cerita Pimpinan OPM soal Percakapan Rahasia dengan JF Kennedy
BACK TO HOME


Nicolaas Jouwe di Amerika Serikat (Koch, Eric/Anefo/Nationaal Archief) Jakarta 
- Nicolaas Jouwe yang sejak era 1960-an berjuang memerdekakan Papua Barat dari 
Indonesia -- yang kemudian berbalik arah mendukung Merah Putih-- memang sudah 
tutup usia. Namun sebelum meninggal dunia, dia sempat mengungkap percakapan 
rahasianya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) John F Kennedy soal Papua. 
"Presiden Kennedy, selama 50 tahun saya tidak akan membuka apa yang kita 
bicarakan ini," kata Nicolaas kepada Kennedy, sebagaimana dia ceritakan dalam 
bukunya, 'Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran, dan Keinginan'. 
Buku ini dia tulis usai dirinya berubah sikap dari yang tadinya mendukung Papua 
Merdeka menjadi mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dia bahkan 
membatalkan sumpahnya untuk tak lagi menginjakkan kaki di Papua yang telah 
dikuasai Indonesia, dengan cara mencium Bumi Cenderawasih pada 22 Maret 2009, 
saat usianya menginjak 85 tahun. Dia meninggal dunia pada 2017 lalu. 
Adapun buku yang memuat curhat rahasia dengan JF Kennedy itu terbit tahun 2013. 
Pertemuan dengan Kennedy itu bakal membuat Jouwe goyah dalam berjuang 
memerdekakan Papua dari Indonesia. Namun kegundahan itu dia simpan hingga 
setengah abad, sampai dia memutuskan untuk pulang ke Tanah Air.
Pertemuan ini sangat -sangat rahasia, karena pada tahun itu Nicolaas masih 
menjadi Penasihat dan Anggota Kerajaan Belanda dan dipercaya 100% menjalankan 
politik Kerajaan Belanda dalam Perundingan Belanda-Indonesia. Bila saja saat 
itu ada yang tahu dirinya menemui Kennedy, maka risikonya dia dicap sebagai 
pengkhianat oleh Negeri Kincir Angin itu. "Secara sembunyi-sembunyi saya datang 
berbicara dengan Kennedy," kata Nicolaas. Pertemuan digelar pada 16 September 
1962 sesudah Perjanjian New York yang dilakukan pihak Belanda dengan Indonesia 
pada 15 Agustus 1962. 
Foto ilustrasi: Presiden Sukarno dan John F Kennedy (Dokumentasi jfklibrary.org)
Sebenarnya ada tiga orang yang menjadi calon Papua untuk ditemui Kennedy, yakni 
Frans Kasiepo seorang pro-Indonesia, anak muda Papua didikan AS bernama Herman 
Wonsur, dan Nicolaas sendiri. Dari ketiga orang itu, ternyata Nicolaas yang 
dipilih Duta Besar AS untuk dipertemukan dengan Kennedy langsung, soalnya 
Nicolaas merupakan penasihat Belanda. Dia ingat betul hal pertama yang 
ditanyakan Kennedy, yakni soal sejarah Papua dan sejarah kolonial Belanda di 
Papua."Saya mengatakan bahwa kami sendiri tidak tahu-menahu tentang sejarah 
bangsa kami sendiri. Tetapi kalau mengenai Belanda kami tahu banyak," kata 
Nicolaas meneritakan soal jawabannya untuk Kennedy saat itu. Nicolaas memang 
didikan Belanda. Dia merupakan satu dari segelintir elite terpelajar Papua yang 
muncul di pertengahan Abad 20. Namun pendidikan yang diterimanya tak 
mengajarkan soal tanahnya sendiri, melainkan tanah sang pendidik. Dia lebih 
tahu soal Negeri Belanda ketimbang Papua. Dia hafal soal sungai-sungai dan 
gunung di Belanda, namun cuma tahu soal satu gunung di Papua yakni Gunung 
Cartenz. Itu saja yang dia tahu soal Papua.
"Presiden Kennedy mengatakan bahwa itu adalah politik kolonial Belanda," 
lanjutnya. Belanda sengaja mengasingkan orang Papua dari dirinya sendiri, 
menceraikan orang Papua dari tanahnya sendiri. Gunanya untuk menjaga Papua dari 
siapapun pihak yang ingin mengeksplorasi kekayaan pulau ini, kecuali pihak 
kolonial Belanda. Ini karena Papua terlalu berharga untuk dibagi ke pihak lain, 
bahkan untuk putra-putri Papua sendiri. "Beliau tahu kenapa Belanda berbuat 
demikian. Belanda tahu sangat baik bahwa Papua adalah pulau yang sangat kaya 
akan emas, perak, dan tembaga. Belanda tidak mau orang dari luar masuk ke 
situ," kata Nicolaas.Untuk orang luar, Belanda membuat propaganda yang berisi 
citra bahwa Papua adalah pulau berbahaya, dipenuhi banyak penyakit berbahaya 
seperti malaria. Siapapun yang datang ke Papua pasti bakal meregang nyawa. 
Akibatnya, relatif jarang orang biasa yang mengunjungi Papua. Namun semua itu 
berubah sejak Sukarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 
Agustus 1945. Sejak saat itu, Papua muncul ke permukaan dan menjadi rebutan 
pelbagai pihak. Perbincangan semakin hangat, Kennedy mulai bertanya perkara 
pribadi. Maklum saja, ini adalah kali pertama dalam hidup Kennedy bertemu 
dengan orang asli Papua. Dia gunakan kesempatan ini untuk bertanya apa saja. 
Namun kali ini, pertanyaan Kennedy membuat Nicolaas sedih."Presiden Kennedy 
menanyakan bagaimana keadaan orang tua saya. Pada saat beliau menanyakan itu 
saya katakan sambil berlinang air mata," kata Nicolaas. Dia menjawab, orang 
tuanya masih sehat dan tinggal di Papua. Meski Nicolaas merupakan pejabat 
Kerajaan Belanda yang melanglang buana sampai bicara dengan pemimpin negara 
pemenang Perang Dunia II, namun kedua orang tua Nicolaas masih buta huruf dan 
hidup sangat tradisional. Nicolaas adalah anak pertama dari keluarganya yang 
bisa baca-tulis. Dia berpikir, sia-sia saja menjelaskan pertemuan dengan 
Kennedy ini ke orang tuanya sendiri, soalnya orang tuanya tak tahu siapa itu 
Kennedy."
Lalu saya lanjutkan bahwa saat bom atom meletus pada 6 Agustus 1945 di 
Hiroshima, pada hari itu sejarah telah meloncatkan kami orang Papua dari zaman 
batu ke zaman atom," tuturnya. "Saya dari sini (AS) pulang ke kampung. Saya 
pergi ke orang tua saya, tuan Presiden tahu saya membawa apa kepada orang tua 
saya? Buat Bapa dan Mama saya, saya akan bawa bukan shag tobacco (tembakau 
untuk dilinting), atau cigarette, tetapi saya bawa sirih-pinang yang saya beli 
di Pasar Hollandia (nama lawas Jayapura)."Wakil Presiden Dewan Nugini 
(Nederland Nieuw Guinea Raad) ini mengaku harus melintasi batas peradaban bila 
pulang menemui orang tuanya sendiri. Dia harus kembali turun ke zaman batu, 
saking kontrasnya kehidupan orang Papua saat itu. Nicolaas ingin semua itu 
berubah ke arah yang lebih baik. Di akhir perbincangan, Kennedy menyampaikan 
niatnya untuk berkunjung ke Indonesia sembari mempertemukan Nicolaas ke hadapan 
Presiden Sukarno. Nicolaas yang saat itu nampak sebagai musuh paling nyata di 
mata Sukarno, akan diperkenalkan oleh Kennedy sebagai Nicolaas yang 
pro-Indonesia. Itu bakal menjadi hadiah yang paling menggembirakan untuk 
Sukarno. 
Sedianya, Kennedy akan berkunjung ke Indonesia pada setahun setelah 
pertemuannya dengan Nicolaas saat itu."Sayang sekali beliau sudah terbunuh di 
tanggal 22 November 1963," kata Nicolaas. Kennedy-pun tak bisa lagi dimintai 
konfirmasi soal kebenaran kisah ini. Namun yang jelas, Perjanjian New York 
tahun 15 Agustus 1962 memang ada dan merupakan peristiwa yang penting dalam 
sejarah Indonesia. Perjanjian itu dimakelari oleh AS, perwakilannya adalah 
diplomat Ellsworth Bunker. Dari pihak Belanda diwakili oleh Van Roijen. 
Indonesia diwakili oleh Ketua Delegasi RI Adam Malik Batubara. Hasil perjanjian 
itu, Papua diserahkan dari Belanda ke Indonesia lewat perantara lembaga PBB 
bernama UNTEA (Otoritas Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa/United 
Nations Temporary Executive Authority). 
Foto: Nicolaas Jouwe di Bukunya, 'Kembali ke Indonesia' (Danu 
Damarjati/detikcom)
Tak lama setelah Perjanjian New York itu, Nicolaas lebih memilih untuk 
meninggalkan Papua dan bermukin di Belanda. Dia menjadi salah satu sosok 
pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di perantauan. OPM sendiri merupakan 
istilah yang mulai sering digunakan sejak 1965, untuk menunjuk kelompok 
separatisme yang ingin memerdekakan Papua dari Indonesia. Namun pada 2009, 
Nicolaas kembali ke Tanah Air dan menjadi Warga Negara Indonesia. (dnu/fjp) opm 
organisasi papua merdeka john f kennedy papua separatisme belanda sejarah




Tokoh Papua: Kami Masih Canggung dan Sedikit Asing
Selasa , 13 May 2014, 07:33 WIB
• Komentar 0
• 
• 
•  
• 

Location of Sentani (in black), Papua
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Tokoh rakyat Papua, Nicolaas Jouwe, menegaskan 
para serdadu atau opsir Belanda membentuk Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 
1965 untuk memusuhi Indonesia dan mengganggu keamanan di wilayah paling timur 
NKRI itu.
 
"Saya adalah ketua 'National Liberation Council of West Papua' (Dewan 
Pembebasan Nasional Papua Barat). Saya bukan OPM. OPM itu justru didirikan 
opsir-opsir Belanda pada 1965 bersamaan dengan pecahnya G-30 S PKI," katanya di 
Jakarta Selasa (13/5).
Dalam bagian lain penjelasannya, Nicolaas juga menyinggung tentang kondisi 
Papua setelah lebih dari 50 tahun bersama NKRI sejak PBB (UNTEA) menyerahkan 
pemerintahan Irian Barat kepada Indonesia pada 1 Mei 1963.  Menurut dia, rakyat 
Papua masih harus membiasakan dirinya sebagai bagian dari warga negara 
Indonesia.
"Mereka masih canggung dan sedikit asing," katanya.
Namun kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari perlakuan Belanda yang 
mengisolasi dan melarang rakyat Papua untuk bersekolah sejak negeri itu 
menjajah Tanah Papua pada 1828 hingga Soekarno dan Hatta memproklamasikan 
Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
"Selama 117 tahun itu, kami (rakyat Papua) praktis hidup di zaman batu," 
katanya.
Obsesi perjuangan Nicolaas Jouwe bagi kemajuan rakyatnya di Tanah Papua telah 
pun tertuang dalam buku berjudul "Nicolaas Jouwe Back to Indonesia: Step, 
Thought and Desire" (2014).
Dalam buku itu, tokoh yang pernah berseberangan dengan Indonesia ini mengatakan 
kembalinya dirinya ke NKRI ditandai dengan kunjungannya ke Jayapura pada 2009 
setelah puluhan tahun menetap di Belanda dimaksudkan untuk "membantu rakyat 
Papua maju".

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/242085754.301444.1640539924073%40yahoo.com.

Reply via email to