Apanya pepesan kosong??? Nenek yang betul-betul hidup dalam tempurung, TIDAK berhasil melihat kenyataan didunia sekarang ini hanya RRT lah yang berkemampuan TEGAK BERDIRI menantang dan melawan imperialisme AS! Dan, ... membuat Amerika cukup kewalahan menghadapi perlawanan gigih Tiongkok!
Dan, ... tidak berhasil melihat kenyataan bahwa KEMAJUAN DAHSYAT yang dicapai Deng dengan menempuh Jalan Sosialisme Berkarakter Tiongkok 40 tahun terakhir ini, merupakan kelanjutan dari KEBERHASILAN masa Mao membebaskan rakyat dari penindasan feodalisme dan imperialisme kemudian berlanjut dengan KEBERHASILAN membangun dasar ekonomi dan didemonstrasikan dengan keberhasilan meledakkan bom-atom, bom-nuklir dan, ... tahun 1971 dipuncak kerusuhan RBKP masih juga BERHASIL meluncurkan satelite pertama yang mengkumandangkan lagu “Dong Fang Hong” (= Merah Diufuk Timur) diangkasa raya! Tanpa mengakui dan adanya kenyataan keberhasilan Mao membangun DASAR Ekonomi yang cukup kuat, bagaimana mungkin ada landasan kuat bagi Deng meluncur terbang yang digunakan bagi pertumbuhan ekonomi yang dahsyat itu!!! Sedang sikap PKT terhadap partai komunis didunia tentu juga harus disesuaikan dengan perubahan situasi internasional yang dihadapi, TIDAK BISA dan TIDAK lagi mungkin meneruskan saat PERANG DINGIN, dimana AS menjalankan politik blokade sejagad terhadap RRT! Ucapan dan pernyataan nenek yang satu ini, lagi-lagi membuktikan sikap seorang nenek yang sudah keenakkan mendapatkan BANTUAN diatas kesulitan dan penderitaan 700 juta rakyat Tiongkok! Lalu, berteriak maki-maki Tiongkok begitu bantuan dicabut, ... seperti seeeiiitan gila yang tidak tahu diri! From: Tatiana Lukman Sent: Monday, December 27, 2021 12:48 AM To: Chan CT ; GELORA45_In Subject: RE: [GELORA45] the biggest losers Masih mau bantah pepesan kosong??!! Lihatlah BARU paragraph pertama saja sdh pepesan kosong!!! MENCATUT perjuangan rakyat Tiongkok di bawah pimpinan Mao…JANGAN mencampur aduk perjuangan rakyat Tiongkok sebelum pembebasan sampai tahun 1976 dengan reformasi kapitalis setelah Deng Xiaoping melakukan kudeta dengan menangkap dan menindas orang-orang pendukung Mao!!! Dan ingat dalam periode Mao, Tiongkok TIDAK MENGKHIANATI PKI DAN RAKYAT INDONESIA. HANYA DALAM PERIODE SOSIALIS MAO YANG ENGKAU HUJAT SEBAGAI PERATAAN KEMISKINAN PEMBANGUNAN TIONGKOK TIDAK LAHIR DARI PENGHISAPAN DAN PENINDASAN RAKYAT TKK DAN BANGSA LAIN!! TETAPI SETELAH TIONGKOK BERUBAH MENJADI KAPITALISME DAN IMPERIALISME, BARULAH PEMBANGUNAN DIDASARKAN PADA PENGHISAPAN, PEMERASAN KAUM BURUH MIGRAN DAN KELAS PEKERJA TIONGKOK SERTA KAUM BURUH NEGERI-NEGERI DUNIA KETIGA. DAN UNTUK INI SUDAH BERKALI-KALI SAYA POSTINGKAN BUKTINYA, SEPERTI DI NEGERI-NEGERI AFRIKA!! DAN JUGA DALAM PERIODE DENG XIAOPING INILAH TIONGKOK MENGKHIANATI PKI!! JELAS PERBEDAAN YANG MENDASAR DALAM SIKAP MAO DAN DENG TERJADAP PKI!!! Tak perlu baca ocehan alias pepesan kosong agen remo selanjutnya!!! Dasar remo kepala batu dan munafik!!!! Sent from Mail for Windows From: Chan CT Sent: Sunday, December 26, 2021 2:59 AM To: Tatiana Lukman; GELORA45_In Subject: Re: [GELORA45] the biggest losers Apanya pepesan kosong??? Hasil perjuangan keras rakyat Tiongkok selama 100 tahun terakhir ini, sepenuhnya HASIL perjuangan rakyat Tiongkok sendiri, adalah hasil kerja keras, peras keringat dan kecerdasan rakyat Tiongkok sendiri, ...! Bukan dari penghisapan dan penindasa terhadap rakyat dan bangsa lain! Bukankah KEBERHASILAN Tiongkok disegala bidang, khususnya dibidang ekonomi, teknologi dan militer inilah yang memaksa AS mengangkat RRT menjadi ANCAMAN Terberat dan mutlak harus digebuk dan dicekik mati dengan berbagai cara keji dan fitnah, ...! Kalau saja keberhasilan gemilang RRT ini hanyalah pepesan kosong, TENTU dan PASTI, musuh utamanya imperialisme AS tidak perlu menjadikan Tiongkok ancaman berat! Dibiarkan saja juga akan ROBOH dengan sendirinya seperti USSR/PKUS itu! Perjuangan klas dan akhirnya lenyapnya klas dalam masyarakat, sepenuhnya adalah HUKUM perkembangan masyarakat yang TIDAK BISA diatur menurut kehendak subjektif seseorang! Coba saja perhatikan, bagaimana perkembangan dari jalam Primitif menjadi jaman budak dan kemudian menjadi jaman feodal dan jaman kapitalis yang kita lalui sekarang ini. TIDAK ada satu jaman yang dilalui hanya puluhan atau ratusan tahun, tapi semua juga dilalui sepanjang ribuan tahun! Bagaimana mungkin dijaman kapitalis sekarang ini menghendaki selesaikan, melenyapkan klas dalam hitungan 40an tahun saja, dalam puluhan atau seratus, dua ratus tahun saja mungkin bisa dikatakan terlalu cepat? Pemikiran begitu hanyalah muncul dibenak nenek yang hidup dalam mimpi didalam tempurung saja, ... Ditingkat perjuangan rakyat sekarang didunia ini, hanya sebatas MEMBATASI penghisapan kapitalis dan meningkatkan kesejahteraan rakyat baik lebih baik dari tahun ketahun saja, jangan sampai ada warga yang hidup dalam segala kekurangan dan penderitaan apalagi sampai terjadi mati kelaparan dan kedinginan lagi! Jadi, yang digunakan RRT bukan lebih dahulu membabat kapitalis yang sudah kaya, tapi lebih dahulu melepaskan seluruh rakyat dari kemiskinan-absolut dan di tahun 2020 yl. telah berhasil meembebaskan lebih 700 juta rakyat Tiongkok dari kemiskinan absolut, ...! Lalu, bagaimana cara Tiongkok membatasi penghisapan kapitalis di Tiongkok? Disamping gunakan penarikkan pajak penghasilan dan keuntungan yang selama ini dijalankan, juga diperlukan ada pengontrolan dan pengawasan pelaksanaan ketat, jangan sampai terjadi kebocoran pajak dan sekian tahun tidak bayar pajak, ...! Dan, ternyata semua ketentuan bisa berlangsung baik, sangat tergantung dari pejabat dan orang yang menjalankan. Nampaknya Pemerintah Tiongkok sekarang gunakan teknologi, DATA-BESAR yang canggih dan berhasil mengejar kealpaan bayar pajak selama ini yang terjadi, ...! Begitu juga nampak usaha Pemerintah Tiongkok sejak tahun 2017 berusaha keras menekan harga rumah/flat yang terus saja membumbung tinggi, ... sampai-sampai membuat begitu tinggi dan mahalnya rumah/flat tidak lagi terjangkau oleh penghasilan pemuda-pemudi yang sudah bekerja belasan tahun. Membuat banyak anak-anak muda tidak berani kawin dan punya anak, ....! Rumah bukan untuk spekulasi, digoreng jual-belikan makelar-makelar untuk meraih keuntungan lebih besar! Akhirnya terjadi disitu begitu banyak rumah kosong bertahun-tahun, disini banyak orang tidak ada rumah layak untuk dihuni, ... banyak pemuda tidak berani berkeluarga hanya karena tidak mampu beli rumah! Caranya? Pemerintah buatkan ketentuan agar TIDAK mematikan kapitalis properti jual-beli rumah dipasar, ... diberlakukan pajak progresif bagi pemilik rumah ke-2, ke-3, dst., ... itulah yang membuat harga rumah dibanyak kota besar di Tiongkok 5 tahun terakhir ini berangsur-angsur turun sampai lebih 16%! Itu pula sebab utama terjadi Evergrand terakhir ini kelimpungan menghadapi krisis keuangan diperusahaannya dengan bludag nya hutang tidak terbayar, karena merosotnya dan melambatnya penjualan rumah yang sudah jadi, ... Tapi, yaaa begitulah Pemerintah Rakyat yang benar, harus mendahulukan dan utamakan kepentingan rakyat banyak! Membuka jalan agar pemuda bisa beli rumah, dan biarkan segelintir kapitalis properti kelimpungan bayar hutangnya dahulu! TIDAK dimatikan, tapi memaksa mereka menjual rumah yang sudah jadi dengan harga lebih murah! Begitulah mungkin cara yang lebih bijaksana dalam usaha melenyapkan klas-klas dalam masyarakat, tidak dengan membabat mati kapitalis, tapi cukup membatasi keserakahan kapitalis menghisap rakyat dengan berusaha keras mengangkat kesejahteraan rakyat banyak lebih cepat dan lebih baik! Lalu, bagaimana langkah selanjutnya? Saya BELUM menemukan dan melihat ketentuan yang akan dijalankan, tapi dari beberapa gejala yang ada ditengah masyarakat Tiongkok, mungkin saja langkah selanjutnya membatasi hak kepemilikkan SAHAM perseorangan, ... Mungkin saja nantinya seluruh kepemilikkan, termasuk BUMN menjadi kepemilikkan kolektif, ... menjadi kepemilikkan publik dimana semua SAHAM menjadi milik massa dan tidak seorangpun yang boleh lebih sekian % dari total SAHAM Perusahaan! Saya tertarik dengan kenyataan Jack Ma yang pernah dinobatkan bilyuner terkaya di Tiongkok ternyata hanya menguasai 18% SAHAM Grup Alibaba, dimana saham G. Alibaba lebih banyak dikuasai asing itu! Sedang yang lebih dahsyat, ternyata bossnya, Ren Zhengfei juga hanya 1,8% SAHAM Huawei dimana seluruh SAHAM Huawei dikuasai seluruh karyawan yang berjumlah lebih 180 ribu orang itu, ... Jadi, ternyata pikiran selama ini terbalik! BUKAN dan TIDAK PERLU segera membabat klas kapitalis, menjadikan kapitalis-kapitalis juga proletariat yang tidak punya apa-apa kecuali menjual tenaga kerjanya, ... dan kenyataan yang terjadi akhirnya hanya meratakan kemiskinan yang ada! Tapi, pemerintah rakyat yang berkuasa cukup mengendalikan dan berusaha keras menggunakan kapitalis-kapiatalis yang kaya lebih dahulu itu untuk menarik gerbong kereta kemiskinan. Ikut dalam barisan meningkatkan kesejahteraan rakyat, membangun masyarakat makmur! Yang harus dan mutlak diratakan adalah kemakmuran masyarakat yang telah tercapai! Kalau saja usaha pemerintah terlalu keras/berat melakukan kebijakan menahan, mengganjal kapitalis mendapat keuntungan tentu akan menahan dan mengganjal kelajuan mencapai kemakmuran masyarakat, ...! Bagaimanapun juga setiap saat pemerintah harus membuat KESEIMBANGAN yang baik, disatu pihak tetap memberi keuntungan bagi kapitalis untuk terus hidup dan rumbuh berkembang dengan baik, dipihak lain juga TETAP harus menjamin kesejahteraan rakyat banyak maju lebih cepat dan lebih baik! Bukankah klas itu akan menghilang dengan sendirinya setelah SELURUH RAKYAT, BURUH di kota menjadi pemilik saham pabrik/industri sedang PETANI di desa juga sudah menjadi pemilik SAHAM koperasi-desa, ... Jadi, SELURUH RAKYAT bukan menjadi proletariat yang tidak punya apa-apa kecuali tenaga kerja, tapi sebaliknya SELURUH RAKYAT menjadi kapitalis-kapitalis pemilik SAHAM yang punya segalanya! From: 'Tatiana Lukman' via GELORA45 Sent: Saturday, December 25, 2021 10:46 PM To: 'Jonathan Goeij' via GELORA45 Subject: [GELORA45] the biggest losers Mengapa selalu saya katakan ocehan agen remo Chan pepesan kosong? Tidak mampu membantah to the point argumentasi dan fakta yang saya ajukan berkali-kali selama bertahun-tahun, maka selalu berdebat kusir, mengalihkan isi tema dan membelokkannya ke tema lain yang tidak berhubungan langsung dengan tema yang menjadi perdebatan. Pepesan kosong baru yang diajukan sekarang berkaitan dengan bagaimana dan kapan melenyapkan kelas….Seolah-olah reformasi kapitalis Deng akan membawa China menuju pelenyapan kelas. Sejak berkuasanya kaum revisionis 1978, kurang lebih 43 tahun, jadi jauh lebih panjang dari periode kekuasaan Mao (hanya 27 tahun), adakah kelihatan arah pelenyapan kelas? Baca saja laporan Forbes di bawah, dari mana dan kapan lahir serta berkembangnya kelas bilyuner China seperti tiga tokoh yang ditayangkan ini???? Bandingkan kehidupan kaum bilyuner dengan ratusan juta kaum buruh migran, kaum tani, dan kelas pekerja lainnya…Sudah menjadi pengetahuan umum, hanya agen remo dkk yang tidak mau mengakuinya, kesenjangan antara kelas di china semakin melebar. Dari kenyataan ini, kalau pakai common sens, orang akan bilang, justru reformasi kapitalis Deng telah melahirkan kelas baru, alias oligarki yang menguasai Partai dan Negara. Jangan lupa banyak diantara para bilyuner ini adalah anggota Partai dan/atau anggota Kongres Rakyat. Dalam arti ini, apa bedanya dengan Indonesia yang juga dikuasai oleh kaum oligarki?? Maka bicara tentang pelenyapan kelas sekarang, untuk kesekian kalinya hanyalah pepesan kosong!!! Jawablah argumentasi ini secara langsung/to the point!!! Sudah 43 tahun, di mana arah pelenyapan kelas? Agen remo Chan menghujat Mao yang dituduh membabat kaum kapitalis terlalu cepat. Tuduhan ini sudah cukup untuk meletakkan chan sebagai anti-Mao dan anti-sosialis. Ironisnya, rezim kekaisaran Xi Jin-ping, juga membabat kaum kapitalis besar melalui berbagai macam peraturan. Sudah tentu latar belakang pembabatan kaum kapitalis Mao sepenuhnya berbeda dengan yang dilakukan kaisar Xi. Xi tidak mengijinkan kekuasaan finans kaum bilyuner ini akan melampaui dan membahayakan kedudukan kaum kapitalis monopoli yang bersarang di PKT dan Negara. Logis, bukan??? a.. The biggest Losers: These Billionaires’Fortunes Fell $152 Billion in 2021 >From left to right: Alibaba Group cofounder Jack Ma, Pinduoduo founder Colin >Zheng Huang and SoftBank Group founder Masayoshi Son. FORBES It was a dramatic year for the world’s richest people. As a group, the 2,660 billionaires got an estimated $1.6 trillion wealthier from January through early December. Though the bounties got bigger, so did the losses. This year’s biggest billionaire losers–the 10 tycoons who shed the most wealth in 2021–saw their net worths drop by a collective $152 billion. By far the most damage was felt by China’s super-rich, who make up six of the ten billionaires with the largest net worth declines of the year. An escalating regulatory crackdown by the Chinese government on industries ranging from e-commerce to after-school tutoring prompted steep stock sell-offs that wiped hundreds of billions of dollars in value from Chinese companies. Internet giant Pinduoduo shares lost nearly two-thirds of their value so far this year through Friday, December 10, while Alibaba Group shares plummeted nearly 50% over the same period. Those firms and others are contending with a slate of strict new Chinese laws and fines linked to data security and monopolistic practices. The founders of these two companies lost more wealth than anyone else on the planet over the course of 2021, with Pinduoduo’s Colin Zheng Huang down $40.2 billion through December 10 and Alibaba’s former Jack Ma down $21.4 billion. Chinese billionaires–who led the world in wealth growth in 2020–are just 4% richer than a year ago as a whole, compared to a 60% gain last year. Another concern for Chinese investors: the ballooning crisis at real estate developer China Evergrande Group, which is threatening a broader fallout as it struggles to get out from more than $300 billion in liabilities. Evergrande founder Hui Ka Yan lost $18 billion in 2021, ranking among the world’s biggest billionaire losers for the second year in a row. He was worth an estimated $9.1 billion as of December 10, down from $36 billion in March 2019. Also down: Zhang Yong, a Singapore-based hotpot tycoon who lost 68% of his wealth after a coronavirus miscalculation; Anthony Hsieh, an American mortgage mogul who was (very) briefly one of the top 10 richest people on the planet before losing $13.2 billion, and Japanese clothing retail billionaire Tadashi Yanai, whose Uniqlo business landed itself in the middle of multiple global scandals. This year’s losers eclipsed the losses of last year’s cohort, who fell a combined $41.6 billion, by a factor of three. The biggest loser of 2020 was Carlos Slim Hélu, the Mexican mogul whose family controls América Móvil, Latin America’s biggest mobile telecom firm, with $5 billion gone from his fortune. That’s less than half of the drop tallied by the tenth billionaire loser of 2021, Hansoh Pharmaceutical chairwoman Zhong Huijuan, and seven times less than the No. 1 spot holder, Colin Zheng Huang of Pinduoduo. To measure fortunes for this article, Forbes assessed the changes in the net worths of 2,660 billionaires between December 31, 2020 and December 10, 2021. We then calculated the biggest losers in dollar terms, taking into consideration only those with investments in publicly traded companies. © 2017 BLOOMBERG FINANCE LP 1. Colin Zheng Huang Citizenship: China Drop: $40.2 billion Net worth: $22.4 billion China’s regulatory crackdown has hit no fortune harder than that of Huang, the founder of e-commerce platform Pinduoduo. The billionaire lost 64% of his fortune this year as Pinduoduo’s shares fell by about the same amount. Already deflated by the broad antitrust probes threatening China’s internet giants, the six-year-old company was further rocked by Huang’s abrupt resignation as chairman in March, just as Pinduoduo overtook Alibaba as the country’s largest ecommerce company, measured by annual active buyers. Its stock fell 21% after missing quarterly revenue expectations in November. GETTY IMAGES 2. Jack Ma Citizenship: China Drop: $21.4 billion Net worth: $37 billion Ma, who was once China’s richest person and one of its most outspoken tycoons, spent much of 2021 out of the public eye after government regulators took harsh action against his companies. Chinese regulators first quashed Alibaba fintech arm Ant Group’s planned $35 billion IPO in November 2020. Then they hit Alibaba, the e-commerce giant cofounded by Ma, with a $2.8 billion fine in April—the highest-ever antitrust penalty imposed in China—alleging that Alibaba violated anti-monopoly rules. Alibaba's market capitalization is down more than 46% so far this year, shaving $37 billion off his fortune, a 37% drop. © 2019 BLOOMBERG FINANCE LP 3. Hui Ka Yan Citizenship: China Drop: $18 billion Net worth: $9.1 billion Hui is one of the biggest billionaire losers for the second year in a row. He has bled billions amid the ongoing financial crisis at China Evergrande Group. The real estate giant, which he founded and chairs, defaulted on its debt to global investors for the first time in December and as of December 15 was trading on the Hong Kong Stock Exchange at the equivalent of $0.19 per share. Scrambling to keep the company alive, Hui reportedly recently injected $1 billion of his personal fortune into the embattled developer and was also forced to sell shares that he had pledged. He is under new pressure to accelerate a restructuring of Evergrande’s $300 billion in liabilities as worries bubble about the potential of a larger debt crisis in China’s real estate market. Forbes calculated that Hui was paid $8 billion in Evergrande dividends from 2009 (when it went public) through 2020. © 2018 BLOOMBERG FINANCE LP 4. Zhang Yong Citizenship: Singapore Drop: $15.9 billion Net worth: $7.6 billion Zhang is the founder and chairman of Haidilao, China’s biggest hotpot chain, which also has locations around the world. Emboldened by years of fast growth, the restaurant giant made the risky bet of undergoing its most dramatic expansion to date during the pandemic, doubling its number of locations to almost 1,600. But with fresh waves of Covid-19 and consumer wariness about Haidilao’s communal dining experience, there hasn’t been the demand to match. In November, the company announced it would suspend or shut down 300 stores by the end of the year. Shares are down 71% in the year through December 15, leaving Zhang–who was worth $23 billion in April–68% poorer. SOUTH CHINA MORNING POST VIA GETTY IMAGES 5. Tadashi Yanai Citizenship: Japan Drop: $14 billion Net worth: $30.4 billion Yanai lost about a third of his fortune this year after shares of his Tokyo-based clothing empire Fast Retailing, the owner of popular brands Uniqlo and Theory, dropped about 34%. Though revenues for the year through August 2021 grew 6% and pretax profits soared more than 70% from 2020, the retailer was still heavily impacted by on-and-off Covid-19 restrictions and lockdowns this year, including at its factories in Vietnam. It also battled issues with its suppliers’ facilities in Myanmar, where a military coup sparked violent unrest, and claims of human rights abuses over allegations it relied on the forced labor of minorities in China’s Xinjiang region. Fast Retailing has denied these claims. © 2019 BLOOMBERG FINANCE LP 6. Lei Jun Citizenship: China Drop: $14 billion Net worth: $16.3 billion The fortune of Lei, the founder and chairman of Xiaomi, one of the world’s most popular smartphone brands, was nearly halved this year. Though it avoided the regulatory scrutiny that damaged other Chinese tech giants, Xiaomi struggled with supply chain issues–namely a global chip shortage—along with tough competition that shrunk its market share. It posted its slowest pace of sales growth since early 2020 in its third quarter earnings in November, citing the chip deficits which it projected will continue well into 2022. GETTY IMAGES 7. Masayoshi Son Citizenship: Japan Drop: $13.6 billion Net worth: $25.1 billion The uncertainty troubling Chinese firms also had a big impact on Masayoshi Son, the founder and CEO of Japanese investment giant Softbank Group. Softbank counts numerous Chinese tech companies among its key investments, such as Alibaba, its most valuable company, and ride-hailing app Didi Global. The Chinese government offensive against these companies, coupled with the tumbling value of some of Softbank’s most high-profile IPOs, led to a record loss of $7.3 billion for Softbank’s Vision Fund in the three months ending September 30. Slumping shares have shaved 35% from the fortune of Son, who has been replaced by Takemitsu Takizaki, the founder of electronic sensor-maker Keyence Corp., as Japan’s richest person. ASSOCIATED PRESS 8. Daniel Gilbert Citizenship: U.S.A. Drop: $13.2 billion Net worth: $29.6 billion It was a tumultuous year for the stock price of Dan Gilbert’s mortgage firm Rocket Companies. The mortgage billionaire briefly became one of the top 10 richest people in the world when his fortune spiked to $80 billion during a short squeeze in March. But the online lender’s shares had fallen 62% since that peak as of December 15 amid a slowdown in revenues and profits from the booming business of cycle 2020, when mortgage refinancing surged. Rocket reported $1.4 billion in net income on $3.1 billion in revenues from July through September of this year, compared to $3 billion in net income and $4.6 billion in revenue during the same period in 2020. VCG VIA GETTY IMAGES 9. Zhang Bangxin Citizenship: China Drop: $11.3 billion Net worth: $1.2 billion It’s not a great time to be in the tutoring business in China. Zhang, the cofounder and chairman of education services firm TAL Education can attest to that. The Chinese government ramped up its offensive against after-school tutoring companies this year, arguing the industry—which boomed during the pandemic—was putting too much pressure on children and parents, and had been “severely hijacked by capital.” The stock of companies like TAL Education plummeted as regulators unveiled strict new rules, including a ban on raising capital from overseas investors and through public listings and a requirement for tutoring companies teaching school subjects to register as nonprofits. While Zhang’s net worth crashed by 90%, some tutoring entrepreneurs fared even worse, such as Larry Xiangdong Chen, the CEO of education firm GSX Techedu, whose fortune has dropped to $250 million from a peak of $15.8 billion. VISUAL CHINA GROUP VIA GETTY IMAGES 10. Zhong Huijuan Citizenship: China Drop: $10.4 billion Net worth: $10 billion Zhong is the founder, chairwoman and CEO of the Chinese drugmaker Hansoh Pharmaceutical. She became one of the richest women in the world after guiding the company through its 2019 IPO, after which its stock rose more than 130%. (Zhong and her daughter together own more than three quarters of the company.) But shares have fallen more than 50% in 2021 and are now below the IPO listing price of HK$14.26 ($1.82) per share. As a result, Zhong’s wealth has dropped 51% this year. She is married to Chinese billionaire Sun Piaoyang, who runs pharmaceutical firm Jiangsu. Follow me on Twitter. Send me a secure tip. Jemima McEvoy Follow I’m a wealth reporter covering the world’s richest people for Forbes. I was previously a reporter on Forbes’ breaking news desk, and have also done stints at CBS News and Inc. Magazine. ... Read More a.. Print b.. Reprints & Permissions Cookies on Forbes Sent from Mail for Windows -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/306475108.63475.1640443594740%40yahoo.com. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B6C6934CB61C4344A7F529553B68AF6A%40A10Live.
