Sukseskah Anies Letakkan Warisan Politik?I76 - Sunday, December 26, 2021 21:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sukseskah-anies-letakkan-warisan-politik
 
Anies Baswedan resmikan air siap minum di Stasiun MRT Dukuh Atas. (Foto: 
Liputan6.com)
7 min read

Pekan ini sorot media tertuju pada dana hibah Pemprov DKI Jakarta. Dana ini 
diberikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kepada partai politik di 
Jakarta. Seperti diketahui, Anies dalam tahap jelang masa akhir jabatan sebagai 
Gubernur DKI. Apakah yang dilakukan Anies merupakan usaha meletakkan warisan 
politik?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pekan ini terdapat peristiwa menarik dari Balai Kota DKI Jakarta, Gubernur DKI 
Jakarta Anies Baswedan membagikan dana hibah kepada sepuluh partai politik 
untuk tahun anggaran 2021. Total dana hibah yang dianggarkan Pemprov DKI 
sebesar Rp 27,2 miliar.

Anies memberikan pernyataan dalam berbagai media, menyebutkan bahwa bantuan ini 
berasal dari warga Jakarta yang diamanatkan untuk partai politik di DKI 
Jakarta. Besaran dana hibah diberikan sesuai dengan jumlah suara yang diperoleh 
masing-masing partai, dengan hitungan Rp 5.000 per suara.

Dana ini diberikan kepada seluruh parpol tidak terkecuali dengan Partai 
Solidaritas Indonesia (PSI). Terlihat banyak warganet menanggapi sinis karena 
telah lama terlihat PSI selalu bertentangan dengan kebijakan-kebijakan Anies.

Dengan adanya dana hibah ini, Anies mengharapkan pengelolaan Dewan Pimpinan 
Daerah (DPD) atau Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) parpol di Jakarta dapat menjadi 
rujukan bagi DPD/DPW parpol di daerah lainnya.

Anies seolah ingin memberikan pesan kepada parpol agar dapat melakukan 
pengelolaan manajemen keuangan. Seperti yang kita tahu, maraknya kasus korupsi 
disebabkan oleh pengelolaan manajemen keuangan parpol yang buruk, sehingga 
muncul ketidakpercayaan publik tentang parpol yang punya stigma dekat dengan 
tindakan korupsi.

Narasi menarik lainnya, pemberian dana hibah kepada parpol dilekatkan dengan 
narasi bahwa Anies ingin meninggalkan warisan politik atau political legacy di 
akhir kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Lantas, seperti apa warisan 
politik dalam konteks politik kita?



Baca juga: Gabung Demo Buruh, Populisme ala Anies?


  
Memahami Political Legacy
Ekuslie Goestiandi dalam tulisannya Pola Pikir yang Menentukan Legacy Sang 
Pemimpin, mengatakan istilah legacy atau warisan selalu muncul saat seorang 
pemimpin akan mengakhiri masa jabatan kepemimpinannya.

Goestiandi mengandaikan saat seorang pemimpin politik akan berlalu dari tampuk 
kekuasaan, orang akan bertanya, “Apa legacy yang hendak ia tinggalkan selama 
periode kepemimpinannya?”. Karena dengan legacy, pemimpin akan dikenang oleh 
masyarakat yang dipimpinnya.

Kemudian, Goestiandi dengan mengutip kamus Merriam-Webster, mengartikan makna 
legacy dalam dua perspektif. Pertama, legacy sebagai uang atau harta fisik yang 
diwariskan kepada seseorang. Kedua, bersifat lebih luas, yakni legacy sebagai 
sesuatu yang dialihkan oleh generasi pendahulu kepada generasi berikutnya. 
Dalam konteks ini, legacy terutama dilihat sebagai sebuah sifat ataupun kondisi 
yang diwariskan.

Dalam perspektif yang lain, kita juga dapat melihat legacy sebagai upaya 
alamiah manusia. Dalam artian, bahwa manusia dalam menjalani hidup punya 
kecenderungan untuk membuat sebuah legacy. Hal ini tidak luput dari karakter 
pemimpin yang juga punya tuntutan tersebut.

Stephen Covey dalam bukunya The 8th Habit: Melampaui Efektivitas Menggapai 
Keagungan, mengatakan bahwa secara alami, manusia memiliki empat dorongan dalam 
kehidupan, yaitu to live (hidup), to learn (belajar), to love (mencintai), dan 
yang terakhir, to leave a legacy (meninggalkan warisan).

Niat untuk meninggalkan legacy itulah yang seringkali membuat seseorang, 
khususnya para pemimpin, berlomba-lomba melakukan inovasi dan kebijakan yang 
menjadi sorotan banyak orang. Jika bisa, secepat dan sebanyak mungkin, agar 
masyarakat semakin paham akan legacy yang ditinggalkannya. Semakin cepat 
kebijakan itu dilakukan, semakin naik nama baik seorang pemimpin.

Denny JA dalam bukunya Membangun Legacy, mengajukan sebuah tesis bahwa puncak 
menjadi seorang politisi terletak pada legacy yang ditinggalkan dalam sebuah 
masyarakat. Hal ini sangat menarik, mengingat Indonesia saat ini menganut rezim 
pemilihan berkala lima tahunan. Tentunya berpotensi mereduksi kebijakan yang 
akan dibuat karena kebijakan akan perspektif kepentingan jangka pendek atau 
lima tahunan.

Denny JA juga memberikan muatan etis dalam marketing politik soal pencapaian 
kerja seorang politisi. Dia mengatakan, bahwa sukses tidaknya seorang politisi 
bukan berdasarkan klaim politisi, di saat dan pasca menjabat. Sukses seorang 
politisi berada dalam kesan dan image. Yaitu apa yang tertanam dalam benak 
publik pasca sang politisi itu berkuasa.

Tentunya untuk mewujudkan political legacy yang positif bukanlah hal yang 
mudah. Mengingat pasca memimpin atau berkuasa, akan hadir pemimpin baru yang 
tidak jarang berusaha membangun basis reputasi baru. Hal tersebut tidak jarang 
dilakukan dengan menegasikan capaian-capaian dari para pemimpin lama. Ketika 
berhadapan dengan masyarakat yang berkarakter progresif (menatap masa depan) 
dan kurang retrospektif (berkaca pada masa lalu), prestasi pemimpin lama mudah 
terlupakan.

Hal ini yang memperlihatkan bahwa dalam dimensi lain, legacy politik juga 
menjadi alat pembanding kepemimpinan seseorang saat menjabat menjadi pejabat 
publik secara politik.

Lantas, seperti apa legacy politik para pemimpin di Indonesia?



Baca juga: Anies Tengah Dekati Santri?

 
  
Warisan Pemimpin Indonesia
Warisan politik dapat dilihat dari berbagai sektor, apakah itu bersifat hard 
legacy maupun soft legacy, rupanya telah lama dilakukan oleh para pemimpin 
terdahulu. Hard legacy dapat diartikan sebuah warisan dalam bentuk pembangunan 
fisik, seperti infrastruktur dan sebagainya. Kemudian soft legacy dapat 
diartikan warisan yang ditunjukkan dalam bentuk kebijakan atau perubahan 
politik.

Sebelumnya, Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta telah melakukan banyak 
pembenahan dan pembuatan monumen-monumen di DKI Jakarta, mulai dari tata 
transportasi yang terintegrasi dalam Jaklingko dan juga pembangunan instalasi 
bambu Getah Getih, Tugu Sepeda dan Tugu Sepatu. Meski  semua pembangunan 
infrastruktur itu banyak menuai kritik.

Jika dibandingkan, di Era Orde Lama kepemimpinan Presiden Soekarno dan juga era 
Orde Baru kepemimpinan Presiden Soeharto, banyak legacy yang ditinggalkan. 
Soekarno dalam kepemimpinannya mempunyai ambisi besar untuk membangun 
monumen-monumen yang akan dijadikan proyek mercusuar. Misalkan, pembangunan 
Monumen Nasional (Monas) dan juga Gelora Bung Karno (GBK) menjadi  warisan 
politik Soekarno.

Dalam kepemimpinan Presiden Soeharto, selama tiga puluh dua tahun, meski banyak 
kritik dikarenakan sikap kepemimpinan otoriter. Banyak legacy yang telah 
diwariskan, pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Buah 
Mekarsari, dan Satelit Palapa, menjadi deretan dari berbagai warisan Presiden 
Soeharto.

Kebanyakan pembangunan di dua periode ini yang masih berbekas sampai saat ini, 
yaitu pembangunan infrastruktur fisik. Sedangkan untuk soft legacy banyak 
perdebatan dan resistensi, hal ini tidak lepas dari faksionalisasi politik 
akibat belahan politik dua orde tersebut.



Baca juga: Ziarah Anies ke Thamrin, Politik Simbol?



Dua puluh tahun setelah reformasi, Indonesia punya lima presiden. Setelah 
lengsernya Soeharto, digantikan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, yang pada saat 
itu harus bangkit dari krisis moneter, sekaligus memperbaiki segudang masalah 
negeri lewat reformasi.

Tak lama setelah dilantik, iklim kebebasan juga diwujudkan oleh Habibie dengan 
pengesahan UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di 
Muka Umum. Di era Habibie pula UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers disahkan, UU 
ini menjamin kebebasan pers yang manfaatnya kita rasakan saat ini.

Di era Abdurrahman Wahid yang singkat, Gus Dur berperan membubarkan praktik 
dwifungsi ABRI. Ia mengembalikan tentara ke barak. Ia juga yang memisahkan 
angkatan bersenjata menjadi TNI dan Polri.  Berkat Gus Dur, tahun baru Imlek 
yang dilarang pada masa kolonial Belanda dan dipersulit di era Soeharto, 
kembali menjadi hari libur nasional yang dirayakan. Ia juga yang mengakui 
Konghucu sebagai tambahan agama yang diakui di Indonesia.

Warisan di era Megawati adalah lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 
Mega juga dikenal luas karena mengesahkan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang 
Ketenagakerjaan.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden pertama di era pemilu 
demokratis yang berhasil terpilih dua kali. Selama 10 tahun SBY menjabat, 
pertumbuhan ekonomi disebut melesat. Di era kepemimpinannya, SBY terkenal 
dengan berbagai subsidi dan bantuan sosial bagi rakyat, seperti bantuan 
langsung tunai (BLT) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Sedangkan untuk kepemimpinan saat ini, yaitu Presiden Joko Widodo (Jokowi). 
Banyak narasi tentang legacy yang ingin ditinggalkan, mulai dari Mass Rapid 
Transit (MRT) hingga pemindahan Ibu Kota baru, dan pembangunan berbagai 
infrastruktur, seperti jalan tol.

Melihat sejarah dan polanya, dapat dikatakan bahwa legacy adalah sesuatu yang 
lumrah dilakukan. Tidak heran kemudian di akhir jabatannya, banyak pihak 
menilai Anies ingin memberikan legacy politik. Selain dana parpol dan 
pembangunan Jakarta International Stadium (JIS), kenaikan UMP buruh di DKI 
Jakarta baru-baru ini jamak dimaknai sebagai legacy yang ingin diukir oleh 
Anies.

Legacy politik ini mengingatkan kita pada kalimat bijak berbunyi, harimau mati 
meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati 
meninggalkan karya-karyanya. Akibatnya, tanpa disadari orang berlomba dan 
bergegas untuk meninggalkan legacy-nya. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A1C8EB5FCC85401E8ADEDEEC34B7433D%40A10Live.

Reply via email to