Ahok dan “Mata-mata” PertaminaA43 - Tuesday, January 4, 2022 19:30
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ahok-dan-mata-mata-pertamina
 
Komisaris Utama (Komut) Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok 
(tengah). (Foto: Dok. Pertamina)
6 min read

Komisaris Utama (Komut) Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok 
akhir-akhir ini kembali berkoar mengenai persoalan-persoalan yang ada di 
internal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut. Peran apakah yang sebenarnya 
tengah dimainkan oleh Ahok?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Britania Raya – atau juga dikenal sebagai Inggris – merupakan sebuah negara di 
Eropa yang dahulu kala pernah menguasai hampir seluruh dunia. Bagaimana tidak? 
Wilayah koloninya dulu membentang di hampir setiap benua yang ada.

Namun, kejayaan negara ini terancam pada pertengahan abad ke-20 – yakni ketika 
Jerman Nazi muncul sebagai negara yang siap menantang hegemoni Britania Raya. 
Alhasil, perang besar yang melibatkan banyak negara pun meletus pada tahun 1939.

Agar bisa selangkah lebih maju dibandingkan musuh-musuhnya, Jerman Nazi pun 
menggunakan kode-kode rahasia – bukan kode unik – dalam melakukan komunikasi 
strategis. Negara yang kala itu dipimpin oleh Adolf Hitler tersebut menggunakan 
sebuah mesin Enigma untuk menutupi isi komunikasi mereka.

Di sisi lain, Britania Raya dan Blok Sekutu tidak kehabisan akal. Pemerintah 
Britania Raya kala itu akhirnya menggandeng seorang ilmuwan yang bernama Alan 
Turing.

Turing bersama timnya akhirnya berusaha memecahkan kode-kode Enigma milik 
Jerman Nazi. Alhasil, Britania Raya pun memiliki keuntungan lebih ketika 
menghadapi Jerman Nazi karena bisa mengetahui informasi yang digunakan oleh 
lawannya itu.



Baca Juga: Ahok “Ingin” Bisa Seperti Luhut?

 
Mungkin, dari sejarah Turing ini, dapat dimaknai bahwa informasi merupakan hal 
yang penting dalam suatu konflik – baik dengan menjaganya atau dengan mencari 
tahu soal informasi itu sendiri. Siapa sangka bahwa informasi menjadi penentu 
dalam situasi seperti ini?

Pentingnya informasi ini bisa jadi juga berlaku apabila informasi yang 
seharusnya dirahasiakan dibuka ke hadapan publik. Bagaimana pun juga, isu 
sensitif bisa saja menjadi senjata yang berbahaya.

Ini mengapa kepanikan timbul ketika Komisaris Utama (Komut) Pertamina Basuki 
Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok membuka informasi terkait bagaimana banyaknya 
kontrak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang justru merugikan Pertamina 
sendiri. Bahkan, Ahok pun menyebutkan bahwa ada intensi (mens rea) jahat di 
balik kontrak-kontrak itu.

Sontak saja, Menteri BUMN Erick Thohir dan Staf Khusus-nya, Arya Sinulingga, 
langsung menanggapi pernyataan Ahok. Erick, misalnya, meminta Ahok untuk 
meninjau kembali kontrak-kontrak tersebut – bila ada. 

Bukan tidak mungkin, terdapat konsekuensi strategis di balik ucapan Ahok 
tersebut. Mungkinkah Ahok ingin bertindak bak Turing yang siap siaga membongkar 
informasi-informasi yang “tersembunyi”? Lantas, bila kini dinilai “meresahkan”, 
mengapa justru Ahok yang diangkat menjadi Komut Pertamina?



Mengapa Harus Ahok?
Bila bicara soal Ahok, tentu berbagai kontroversi turut mengikuti. Bagaimana 
tidak? Sosok mantan Gubernur DKI Jakarta ini dinilai telah menistakan agama 
tertentu dalam kontestasi politik Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 
2017.

Tidak hanya soal isu penistaan agama, Ahok juga dikenal memiliki gaya “unik” 
dalam memimpin, yakni kebiasaannya yang suka meluapkan emosi. Bisa dibilang, 
Ahok memiliki cara memimpin (leadership) yang dinilai agresif.



Baca Juga: Mungkinkah Jokowi Tersandera Ahok?

 
Gaya ala Ahok inilah yang dibahas oleh Michael Hatherell dan Alistair Welsh 
dalam tulisan mereka yang berjudul Rebel with a Cause. Dengan menggunakan 
konsep charismatic leadership (kepemimpinan karismatik) dari ahli sosiologi 
asal Jerman, Max Weber, Hatherell dan Welsh menjelaskan bahwa Ahok merupakan 
seorang politikus yang menciptakan keunikan tersendiri (distinction) dengan 
politikus dan pejabat lainnya.

Distinction ini dapat diamati dari gaya berbahasa dan berkomunikasi Ahok yang 
dinilai membangun citra yang terbuka, bersih, dan transparan – tidak seperti 
asumsi soal bagaimana politisi-politisi yang bertutur manis tetapi malah 
bertindak koruptif. Ahok dinilai memiliki gaya komunikasi dan kepemimpinan yang 
agresif.

Mungkin, inilah mengapa nama Ahok selalu dimunculkan dalam berbagai posisi yang 
dianggap cocok dengannya. Kala Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyongsong masa 
pemerintahan keduanya, misalnya, nama Ahok selalu dimunculkan di media dan 
publik untuk bisa masuk dalam kabinet baru Jokowi.

Tidak hanya soal posisi menteri, nama Ahok pun ramai dibicarakan ketika 
akhirnya Erick mengangkatnya menjadi Komut Pertamina. Bahkan, Ahok seakan-akan 
menjadi jawaban utama atas persoalan-persoalan yang ada di Pertamina – seperti 
mafia minyak dan gas (migas).

Namun, terlepas dari gaya komunikasinya, bukan tidak mungkin ada konsekuensi 
strategis lain di balik dipilihnya Ahok untuk menjadi Komut Pertamina. Mengapa 
Ahok yang dinilai memiliki gaya leadership yang agresif ditempatkan di BUMN 
yang bergerak di bidang migas tersebut?



“Pengawasan” ala Ahok? 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Pertamina merupakan sebuah BUMN yang sejak 
lama telah menjadi cash cow (sapi perah) bagi banyak pihak, khususnya 
partai-partai politik (parpol). Bahkan, pandangan bahwa Pertamina menjadi sapi 
perah ini pernah diungkit oleh seorang politikus PDIP yang bernama Lasarus.



Baca Juga: Ada Apa dengan Erick-Ahok?

 
Pandangan umum ini pun bisa dilacak dalam sejarahnya ketika Indonesia masih 
berada di bawah kekuasaan Presiden Soeharto. Pada era Orde Baru, Francis Pike 
dalam bukunya yang berjudul Empires at War menjelaskan bahwa Pertamina – dengan 
meningkatnya produksi minyak dari 174 juta barel pada tahun 1966 menjadi 476 
juta barel pada 1975 – juga menjadi sapi perah dan sumber dana bagi sejumlah 
institusi yang dekat dengan Soeharto, khususnya bagi Angkatan Bersenjata 
(ABRI). 

Bukan tidak mungkin, ini adalah alasan mengapa peran Ahok menjadi penting, 
karena dengan berada di dalam BUMN tersebut, Ahok bisa saja mengetahui segala 
informasi soal siapa saja yang berusaha menjadikan Pertamina sebagai sapi 
perah. Apalagi, Ahok dinilai memiliki kedekatan tertentu dengan Presiden Jokowi 
yang mana pernah menjadi pasangan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 
tahun 2012-2014.

Dari relasi dekat ini, bukan tidak mungkin, presiden dapat melakukan pengawasan 
lebih mendalam terhadap aktor-aktor politik mana yang berusaha menjadikan BUMN 
tersebut sebagai sapi perah. Pasalnya, bila mengacu pada penjelasan George C. 
Edwards III dalam tulisannya yang berjudul Neustadt’s Power Approach to the 
Presidency, presiden bisa meningkatkan kekuatannya (power) dengan menempatkan 
relasi-relasinya di kutub-kutub kekuatan lain.

Bila benar begitu, Ahok bisa jadi memainkan peran yang dalam strategi disebut 
sebagai surveillance atau pengawasan. Tjerk Timan dan rekan-rekannya dalam 
tulisan mereka yang berjudul Surveillance Theory and Its Implications for Law 
dengan mengutip Haggerty dan Ericson menjelaskan bahwa pengawasan dapat 
dipahami sebagai pengumpulan dan analisis informasi atas sebuah populasi untuk 
mengatur aktivitas mereka.

Boleh jadi, peran inilah yang dilaksanakan oleh Ahok. Dengan gaya 
kepemimpinannya yang agresif dengan citra yang serba “bersih”, Komut Pertamina 
ini bisa saja telah mengumpulkan informasi akan aktivitas-aktivitas yang 
terjadi di BUMN tersebut. 

Pada awal tahun 2021 lalu, misalnya, Ahok menyebutkan tengah melakukan audit 
terhadap sejumlah kontrak terkait perjanjian jual-beli liquefied natural gas 
(LNG) atau gas alam cair. Selain itu, Ahok sebelumnya juga pernah merasa 
geregetan untuk melakukan audit atas kilang perusahaan tersebut.

Bila benar Ahok kini menjalankan peran surveillance seperti penjabaran di atas, 
bukan tidak mungkin kini Ahok menjalankan upaya penggalian informasi bak apa 
yang Turing lakukan. Lagipula, informasi adalah kunci atas kekuatan di era 
kontemporer saat ini. Bukan begitu? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5231003533584590BC03E40641E38467%40A10Live.

Reply via email to