Kaum neo-Mojopahit saling bercecok untuk menguasai tahta kekuasaan kerajaan.

On Thu, Jan 6, 2022 at 1:22 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Koalisi Dini, Strategi Kepung PDIP?
> *G69 * <https://www.pinterpolitik.com/author/g69>*- Wednesday, January 5,
> 2022 14:52*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/koalisi-dini-strategi-kepung-pdip
> *Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (Foto: Liputan6.com)*
>
> *6 min read*
>
> *Sejumlah partai politik menyerukan pembentukan koalisi sejak dini dengan
> alasan menyatukan visi dan misi menjelang kontestasi politik tahun 2024.
> Lantas, bagaimana peluang terjadinya koalisi partai sejak dini? Apa motif
> sebenarnya dari wacana ini?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com <https://www.pinterpolitik.com/>*
>
> Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), serta
> Partai Golkar tampaknya sepakat untuk membentuk koalisi sejak dini.
> Beberapa tokoh dari masing-masing partainya sudah mengemukakan hal
> tersebut. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menegaskan jika pihaknya tertarik
> untuk membentuk koalisi partai nasionalis-Islamis untuk Pemilu 2024.
>
> Hal serupa juga dinyatakan oleh Wakil Ketua Umum PKB dan Golkar, yaitu
> Jazilul Fawaid dan Ahmad Doli Kurnia. Mereka menilai koalisi sudah
> sepatutnya dibentuk sejak dini agar partai-partai tersebut bisa menyatukan
> visi dan misi.
>
> Satu partai lain juga mengakui pembentukan koalisi sejak dini diperlukan
> untuk membangun kesamaan visi dan misi. Seperti yang dikemukakan oleh Ketua
> DPP Partai NasDem Atang Irawan, upaya pencalonan capres sejak dini penting
> mengingat ambang batas presiden menjadi syarat mutlak harus dipenuhi.
>
> Namun lain halnya dengan beberapa partai lain, seperti PPP dan PAN yang
> masih belum yakin untuk membentuk koalisi sejak dini. Kondisi ini
> memperlihatkan masih ada sejumlah partai yang belum sepakat terkait usulan
> tersebut.
>
> Adapun hal ini tidak lepas dari isu yang berhembus kencang terkait koalisi
> antara PDIP dan Gerindra. Terlebih dengan adanya wacana atau peluang dari
> kedua partai untuk mengusung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto
> untuk bertarung di Pilpres 2024. Prediksi ini diperkuat dengan pernyataan
> Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya yang tidak mempersoalkan jika PDIP dan
> Gerindra sudah membicarakan koalisi untuk tahun 2024 mendatang.
>
> Namun jika melihat realita di lapangan, strategi pembentukan koalisi
> partai bukanlah sebuah hal yang mudah. Mengingat ongkos politik yang
> digunakan tentu tidak akan sedikit atau akan memakan biaya besar. Mengacu
> pada buku berjudul *The Cost of Democracy: Essay on Political Finance in
> Latin America *karya Kevin Casas-Zamora dan Daniel Zovatto, ditegaskan
> jika partai politik membutuhkan uang untuk memperkuat struktur partainya.
>
> Hal ini menegasikan faktor uang tidak bisa lepas dari aktivitas politik.
> Maka partai politik pun penuh pertimbangan jika melakukan aktivitas politik
> yang membutuhkan ongkos yang besar.
>
> Melihat potensi keluarnya ‘ongkos politik’, maka partai politik sudah
> sepatutnya mempertimbangkan strategi politik dengan matang. Lantas
> bagaimana dengan wacana pembentukan koalisi sejak dini?  Apa sebenarnya
> motif dari beberapa partai politik tersebut?
>   *Meraba Kemungkinan Koalisi*
>
> Seperti halnya perang, arena politik juga diibaratkan sebagai medan perang
> bagi para partai politik. Hal ini sesuai dengan penjelasan di sebuah jurnal
> berjudul *Politics and War: Clausewitz’s Paradoxical Equation *karya
> Thomas Waldman, yaitu perang merupakan sebuah wujud dari kontestasi
> politik. Intinya adalah alasan setiap terjadinya perang selalu disebabkan
> oleh motif politik. Berdasarkan perspektif inilah maka bisa ditarik
> kesimpulan bahwa motif politik tidak bisa lepas dari perang.
>
> Demikian halnya dengan fenomena yang terjadi pada dinamika kontestasi
> politik di Indonesia. Persaingan antar partai politik untuk meraih tampuk
> kekuasaan juga diibaratkan seperti berperang antar satu dengan yang lain.
> Masing-masing partai politik berusaha untuk mengalahkan lawannya dengan
> menggunakan cara apapun termasuk beraliansi.
>
> Dalam sebuah peperangan, aliansi memiliki peran penting dalam studi
> keamanan karena bisa mendorong terciptanya rasa aman. Maka tidak heran bila
> beberapa aktor, baik negara maupun non-negara membentuk aliansi untuk
> menangkal ancaman dari luar.
>
> Sama halnya dalam kontestasi politik menjelang Pemilu 2024, di mana
> partai-parta politik mulai mewacanakan untuk membentuk koalisi sejak dini.
> Meski demikian, hal ini tentu akan memakan biaya yang tidak kecil karena
> politik uang masih belum bisa lepas dari dinamika politik Indonesia.
>
> Hal ini dinyatakan dalam jurnal berjudul *Politik Uang dan Dinamika
> Elektoral di Indonesia: Sebuah Kajian Awal Interaksi* *antara ‘Party-ID’
> dan Patron Klien* karya Burhanuddin Muhtadi. Disebutkan bahwa rezim
> demokrasi di negara-negara berkembang masih erat dengan politik uang,
> bahkan masih menjadi kunci mobilisasi elektoral.
>
> Kondisi ini memperlihatkan bahwa faktor uang masih memiliki pengaruh besar
> untuk menentukan peta politik. Maka tidak heran jika membahas perihal
> koalisi, setiap partai politik memiliki pertimbangan yang matang supaya
> perhitungannya tidak meleset. Salah satu tokoh politik sekaligus Wakil
> Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah pun menegaskan jika kekuatan
> finansial masih menjadi faktor penting untuk menentukan arah koalisi atau
> sosok yang akan didukung pada kontesasi politik.
>
> Kemudian, sangat penting pula untuk membentuk kesamaan visi. Jika dalam
> membentuk suatu koalisi terjadi ketidaksepahaman visi dan misi, maka
> koalisi yang terbangun akan berpotensi pecah. Seperti Koalisi Merah-Putih
> (KMP) yang terbentuk ketika mengusung Prabowo-Hatta di Pilpres 2014 lalu.
>
> Koalisi ini diisi oleh 6 partai, yaitu Gerindra, PAN, PPP, PKS, Golkar,
> dan PBB sehingga mampu mendominasi keputusan di DPR. Meski terlihat kuat,
> namun soliditas KMP akhirnya rontok karena satu per satu partai di dalamnya
> beralih dan merapat ke pemerintahan, seperti Gokar, PAN dan PPP.
>
> Fenomena ini memperlihatkan jika dinamika politik Indonesia tidak ada yang
> permanen. Lantas, dengan kesusahan menjadi soliditas koalisi, mengapa ada
> wacana pembentukan koalisi sejak dini?
> *Strategi ‘Gertak’ PDIP?*
>
> Secara hitung-hitungan di atas kertas, saat ini partai politik yang
> cenderung berada di atas angin adalah PDIP. Beberapa hasil survei
> menunjukkan partai berlambang banteng ini masih menempati posisi teratas.
> Tidak hanya itu, PDIP juga telah melebihi ambang batas pencalonan presiden
> atau *presidential threshold* sebesar 20 persen. Hal ini membuat PDIP
> menjadi satu-satunya partai yang mampu mencalonkan presiden atau calon
> wakil presiden tanpa harus berkoalisi dengan partai lain.
>
> Maka tidak heran jika peluang PDIP untuk kembali mendominasi Pemilu 2024
> mendatang bukan sekadar isapan jempol. Konteks ini mungkin dapat dibaca
> sebagai alasan, mengapa beberapa partai politik berupaya menolak ambang 
> *presidential
> threshold* sebesar 20 persen, seperti PKS, PKB, dan Demokrat. Selain
> karena menciderai demokrasi, juga karena menghambat partai-partai lain
> untuk mencalonkan kandidat pilihannya di Pilpres 2024.
>
> Melihat peta politik yang diprediksi bakal dikuasai PDIP, tidak heran jika
> beberapa partai mewacanakan untuk membentuk koalisi sejak dini. Dalam
> jurnal berjudul *How to Be Sophisticated, Lie, Cheat, Bluff and Win at
> Politics *karya Michael Laver, dijelaskan jika ada hubungannya antara
> strategi dalam berinteraksi dengan dinamika politik.
>
> Adapun strategi interaksinya meliputi kecurangan, kebohongan, hingga
> *bluffing*. Khusus dalam fenomena wacana pembentukan koalisi sejak dini,
> tampaknya tergolong cara *bluffing*. Dalam jurnal yang sama, dijelaskan
> jika *bluffing* bertujuan untuk memanipulasi lawan hingga akhirnya lawan
> mengambil langkah yang salah. Selain itu, sebelum melakukan *bluffing* 
> politik,
> sepatutnya dipetakan ancaman terlebih dahulu sehingga cara ini bisa ampuh
> untuk memanipulasi lawan.
>
> Pada konteks wacana koalisi dini, mungkin dapat dikatakan itu adalah
> strategi *bluffing* atau gertakan politik. Tujuannya sederhana, yakni
> dengan melemparkan wacana koalisi, diharapkan PDIP terpancing untuk segera
> menentukan kandidat untuk diusung di Pilpres 2024. Jika berhasil, itu akan
> dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menyerang kandidat yang diusung PDIP.
>
> Namun sampai sejauh ini, PDIP tampaknya tidak terkena gertakan. Partai
> banteng terlihat konsisten untuk menahan diri membahas kandidat untuk 2024.
> Seperti pola-pola sebelumnya, PDIP tampaknya akan mengusung kandidat di
> akhir-akhir waktu. (G69)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B079A8B565F94F519FDC65DF02BF5857%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B079A8B565F94F519FDC65DF02BF5857%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BqDiSUVsttwFZKtjtxiPn-OL08US9mcKhuxA5xHgjVbQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to